8 hari Pertempuran Raga,Batin,dan Mental di Gunung BINAIYA



Perjalanan penutup akhir tahun yang klimaks adalah kejutan paling indah dalam cerita mencoba mengelilingi Indonesia

Saat memasuki bulan penghujung tahun saya sedang menikmati rehat sejenak dalam perjalanan kali ini,tak tau mau melakukan apa dan dimana akan menikmatinya.Bermula dari tiket pesawat gratis yang diberi oleh salah seorang sahabat dari Lombok menuju Surabaya yang saya terima.10 hari di Surabaya kuhabiskan waktu membersihkan beberapa lembar baju dan membaca buku saja,tidak ada rutinitas yang berat untuk dilakukan.Saat hal mengejutkanpun tiba,melihat pembaruan salah satu seorang sahabat pejalanan juga bernama mukhlas akan melanjutkan ke Ambon untuk mencoba peruntungan dia menuju Binaiya. Aku tercengang dan mengucapkan "hati hati saat menuju ke Ambon".

baca juga : 12 Punggawa Gunung Rinjani


Tak selang beberapa lama saya mengetahui bahwa sahabat saya yang lain yaitu Sena ingin berangkat menyusul membuat saya kaget,saya memastikan apakah benar akan ikut ke ambon bersama muklas?setelah berbincang melalui chatting ternyata 2 hari ke depan ada kapal pelni yang kebetulan ada yang menuju Ambon.Entahlah pikiran apa pada waktu itu yang membuat saya terhipnotis untuk mengikuti mereka.Setelah diskusi yang alot dengan sena maka kami memutuskan menyusul dari pelabuhan tanjung perak Surabaya.

1 hari sebelum keberangkatan kami mempersiapkan semua peralatan yang akan kami bawa mulai dari sepatu,jaket hingga penunjang pendakian lainya.Keesokan harinya sena yang sudah berada di Semarang berangkat dengan kereta menuju Surabaya malam hari.Tetapi,ada satu kendala yang membuat jantung berdegub kencang tak karuan.karena kami memikirkan biaya akomodasi yaitu tiket kapal yang lumayan menghambat perjalanan kami.Hingga saat saat detik detik terakhir barulah masalah terpecahkan.Di 1 jam terakhir sebelum keberangkatan kapal kami mendapatkan uang untuk membeli tiket seharga Rp550.000/orang.kami sangat lega bisa berangkat dalam kondisi tertekan.
Akhirnya kami menaiki kapal pelni Leuser dan melakukan perjalanan selama 3 hari menuju Ambon.
 perjalanan terasa amat cepat hingga kami tiba di pelabuhan Ambon sekitar jam 10 malam.Ternyata di pelabuhan kami sudah di tunggu oleh teman teman dari KPA Lestari yang diberitahu oleh mukhlas akan kedatangan kami.kondisi pelabuhan sangat ramai di padati oleh penumpang turun dan naik.kaki kami mulai melangkah keluar menuju jalan dan menenemui bang Ilo dan bang Eko yang sudah sedari tadi menunggu.kami berkenalan lalu bergegas meninggalkan area pelabuhan.Disepanjang perjalanan bang Ilho bercerita tentang ambon dan cerita teman teman yang pernah singgah disini.jalan yang nampak lengang hanya sinar lampu lampu di seberang membuat seperti bintang berkerlap kerlip di daratan.sungguh pemandangan yang indah jika kalian nikmati saat malam hari di kota Ambon.setelah berjalan menyebrangi jembatan merah putih dan sampai didaerah poka kami sampai di sekretariat KPA Lestari.disana sudah ada mukhlas dan teman teman lestari sendiri yang menunggu kedatangan kami.Ucapan hangat untuk selamat datang membuat kami terkesima.malam kala itu ada ketua umum ifa,bang eky,bang imen,bang putra dan dayat yang menyambut kami.malam kami habiskan dengan perkenalan dan cerita tentang ambon dan binaiya.sungguh obrolan pembuka yang sangat berkesan sebelum tragedy tumbangnya kami di antara gelap malam
Keesokan harinya kami terbangung pagi sekali dengan menikmati udara pagi ambon yang segar namun lumayan terasa panas.kami bertiga berdiskusi untuk kelanjutan pendakian binaiya yang akan kami ikuti dengan kegiatan teman teman ambon yang tergabung dalam komunitas MDPL atau "maluku peduli pendidikan dan lingkungan".ternyata kami mendapat keberuntungan kembali untuk melakukan pendakian binaiya dengan biaya minim dari biaya pada umumnya.karena ini sebagai awal kegiatan dari komunitas dan juga ingin menampik persepsi orang bahwa binaiya itu mahal.waktu itu kami iuran untuk biaya logistik dan simaksi saja.untuk transport kami mendapat keberuntungan dengan menggunakan mobil dari Bekangdam milik TNI angakatan darat.sebuah keberuntungan yang tidak henti hentinya menaungi kami.Keesokan harinya kami berangkat mengikuti rombongan pertama yang membawa buku bantuan donasi dan beberapa bibit yang akan kami sebar di beberapa desa sebelum jalur pendakian binaiya.perjalan dari poka sekitar jam 12 siang menuju pelabuhan yang berada di liang menyebrang ke pulau seram.kami menempuh perjalanan sekitar 9 jam dengan jalan santai menuju desa Tehoru di seram maluku tengah.tim pertama yang berangkat terdiri dari bang amin,bang runner,ucil,gita,rasya mengawal buku dan tanaman serta melakukan kegiatan selama kurang lebih 4 hari.
POKA SAAT HARI PERTAMA BERANGKAT


SELFIE BERSAMA BAPAK RAJA DESA PILIANA
Setelah selesai kegiatan tim kedua datang dengan membawa logistik pendakian dan beberapa peralatan yang belum ada untuk dilengkapi.kami melakukan pendakian dengan jumlah lumayan banyak,total 30 orang termasuk teman teman dari desa tehoru yang ingin ikut menemani pendakian kami saat itu.karena pendakian kali dengan banyak orang,maka kami benar benar mempersiapkan semua dengan teliti dan matang.kami tidak ingin hal hal yang tidak inginkan terjadi.mulai dari peralatan pendakian hingga logistik dan logistik cadangan kami benar hitung teliti.Setelah semua lengkap,kami segera beristirahat secepatnya karena kami akan berangkat menuju desa terakhir pagi sekali.

pagi setelah sholat subuh kami mulai bersiap siap untuk menuju desa Piliana.dengan mata yang masih berat dan badan lumayan sakit setelah kegiatan tidak membuat saya dan teman teman menunda pendakian.satu persatu barang bawaan kami sudah berada di atas truk dan kami menyempatkan sarapan dengan sajian ketupat,embal,pelni dan beberapa kue untuk mengganjal perut.perjalanan dari desa Tehoru menuju desa Pilianan membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan melintasi pesisir pantai dan tentunya melintasi sungai sungai besar yang mempunyai debit air yang deras sebelum mencapai desa terakhir Piliana.
Akhirnya kami sampai di desa Piliana,semua barang kami turunkan lalu berjalan bersama menuju ke rumah adat untuk melakukan upacara pemberiaan doa sebelum pendakian.Prosesi ritual upacara terasa sakral oleh bapak ketua adat kepada kami satu persatu.
Pagi sebelum pendakian mengisi tenaga di rumah abang Dino

Acara penyambutan bapak ketua adat sebelum upacara


Pembacaan doa selamat sebelum Pendakian


Upacara telah selesai,kami bergeser menuju rumah kediaman bapak raja untuk melakukan ijin serta mengisi buku tamu.sedikit berbincang dan menikmati jamuan teh bercampur kopi serta hidangan sukun goreng dan ubi menjadi menu sarapan kami selanjutnya di Piliana.Semua sudah kami lahap habis,sampai sampai kami lupa waktu yang molor beberapa jam.

Hari pertama kami memulai pendakian  pada jam 10:30 WIT.waktu itu saya bang ficky,bang nyonyo,bang raven berposisi menjadi sweeper.Selain itu logistik juga lumayan banyak yang kami bawa membuat kami memilih posisi itu dalam tim karena takut tidak bisa mengimbangi ritme jalan dihari pertama yang biasanya membuat kami sedikit kualahan.perjalanan kami nikmati dengan cuaca matahari tepat berada diatas ubun ubun.bergerak lambat seperti keong,asap yang menghiasi kepala kami tercipta dari setiap isapan tembakau seolah olah memberi tenaga tambahan di bawah terik yang membakar seluruh badan dan mental kami.baru berjalan sekitar 30 menit kejadian yang tak mengenakan kami alami,tiba tiba kami tersesat keluar dari jalur pendakian menuju area pertanian warga.

Sempat terjadi kebingungan karena banyak cabang baru dan pohon yang tumbang menyamarkan jalur didaerah ladang warga.kami mulai tenang dan mencoba mencari kembali jalur.tiba tiba dari arah atas terdengar suara yang sedang meneriaki kami untuk memutar.suara itu tidak lain adalah suara dari bang Janter yang berjalan kebelakang yang melihat ada keganjilan karena kami tak kunjung muncul.setelah mencari cari cabang jalan akhirnya kami menemukan jalur,kami berjalan beriringan menuju lokasi bang janter menunggu.dibawah pohon kami kembali berkumpul untuk rehat sejenak,sedangkan teman teman yang lain tetap berjalan konstan menuju pos pertama.wajah pucat pasi,dehidrasi,pusing seperti itulah yang kami alami dalam pendakian di hari pertama.

Setelah cukup beristirahat kami berjalan kembali menyisir ladang dan mulai memasuki vegetasi hutan yang sangat rapat dan lebat.sekitar 1 jam berjalan akhirnya kami menemukan setangah dari tim yang istirahat menyantap makan siang di sungai bernama air tempayang.kami segera ikut bergabung dalam makan siang ala kadarnya yang lumayan mengganjal perut kami.
Satu cangkit kopi dan satu batang rokok menjadi penawar sebelum mencapai Yahe



waktu makan siang kami tidaklah lama,sekitar 45 menit yang kami habiskan untuk beristirahat dan mengisi tenaga kembali.pelan pelan kami beranjak meninggalkan lokasi makan siang.baru berjalan sebentar sajian trek curam menanjak menyambut untuk dilewati.dengan posisi perut cukup kenyang membuat kami terasa berat untuk berjalan melalui tanjakan terjal itu.pelan tapi pasti semua bisa melewatinya.trek menanjak terjal dan patahan patahan sungai kecil banyak kami lewati.tak sempat lagi saya mencoba menghitungnya.kondisi vegetasi yang rapat membuat cahaya matahari sedikit susah untuk masuk lumayan menguntungkan kami.

Trek yang membuat tenaga dan mental menguji kami di hari pertama ini.perjalanan menuju shelter pertama begitu sangat terasa,sampai akhirnya kami masuk di sungai yahe saat matahari tinggal menyisakan sinar terakhir sebelum gelap mulai menguasai pendakian hari pertama.kami membersihkan diri lalu berjalan menanjak sekali lagi dan tiba di pos pertama yang bernama Yamitala.di pos teman teman sudah berbenah dan ada beberapa yang mulai menyiapkan hidangan makan malam.Setelah berganti pakaian kami mulai bergotong royong menyiapkan semua makanan dan minuman hangat sembari bercerita tentang perjalanan hari pertama ini.

Setelah selesai kami evaluasi untuk besok dan mulai beristirahat.Pagi datang begitu cepat,tak terasa lelah mengantarkan kami tidur sangat pulas di dalam shelter dan tenda.Hari kedua kami mulai sibuk menyiapkan sarapan dan berkemas.sekitar 1 jam kami sarapan dan berkemas kami melanjutkan perjalanan menuju shelter kedua.Trek yang kami lewati masih sama,vegetasi lebat,patahan dan tanjakan terjal yang seakan akan tidak ada habisnya untuk diterjang menjadi makanan kaki kami waktu itu.kami yang bertugas menjadi sweeper lagi lagi berjalan dengan santai dan ritme lambat,sambil menikmati setiap jengkal tanjakan dengan cerita dan tawa.kami menyebut diri kami sebagai Power Rangers karena terdapat banyak logistik dan peralatan cadangan lainya.Melelahkan? pasti sudah sangat jelas tertanam dalam perjalanan,karena tidak ada yang bisa kami nikmati kecuali candaan konyol yang keluar spontan dari mulut teman teman.kami berjalan terus dengan ritme pelan,jika sesekali merasa capek kami beristirahat mencari tempat datar untuk membuat secangkir kopi sembari menikmati rokok berkeliling untuk memangkas waktu.
Menyusuri air tempayang


Bukit terakhir telah kami jumpai didepan,dengan hujan rintik rintik membasahi jalur membuat badan kami sedikit kedinginan.dengan tenaga terakhir kami memaksa menabrak hujan dan jalan yang basah dan becek.Sebelum matahari terbenam akhirnya kami sampai di shelter kedua bernama Aimoto.hujan lebat mengguyur shelter dan dingin datang tanpa ampun menyerang.kami mulai merapatkan badan untuk mendapatkan kehangatan.sembari beberapa teman teman perempuan membantu menyiapkan hidangan makan malam dan membuat minuman hangat.

Waktu cepat berlalu dan gelap datang dengan sisa sisa hujan.kami menikmati makan malam sebembari bercanda atas kejadian kejadian lucu tadi.mata mulai mengantuk dan malam semakin larut,akhirnya kami tidur dalam dingin menjadi obat bius.Hari ketiga pendakian kami memutuskan untuk tetap bertahan 1 hari di shelter Aimoto karena ada beberapa teman kondisinya kurang fit,ada yang datang bulan membuat mereka merasakan lelah yang begitu luar biasa.dengan penuh pertimbangan dan kami berjalan sebagai tim maka semua menyetujui untuk tetap camp di shelter Aimoto 1 malam lagi.Dihari ketiga kami hanya melakukan kegiatan ringan seperti membersihkan sepatu,mengatur kembali logistik dan meyusun rencana perjalanan yang berubah.berbagi cerita,tertawa,kopi yang tak pernah putus,asap yang mengepul layaknya kabut menyelimuti di shelter.kami benar benar menikmati pendakian begitu santai tanpa ada beban yang seperti dibayangkan,ya walau sebenarnya sedikit mengalami ketidaknyamanan dengan kondisi trek yang basah karena hujan dan kondisi yang mulai kurang fit.tapi semua tidak menjadi penghalang untuk bisa menempuh jalur binaiya yang tergolong menyiksa MENTAL.
Makan malam di shelter Aimoto

Saat beristirahat 1 hari di shelter Aimoto dan sedikit berdiskusi perjalan

Hari keempat kami bergerak cukup pagi setelah satu hari full beristirahat dan bermalas malasan sekaligus mengisi tenaga di shelter Aimoto.Semua perlengkapan sudah kami packing dan makanan sudah cukup mengganjal perut tak luput dari ingatan kami membawa persediaan air yang cukup menyiksa seperti beberapa jerigen air yang masing masing dibawa oleh bang Janter,Sena dan Muklas serta air sisa dibagi keseluruh tim untuk memenuhi persediaan air shelter berikutnya.karena diatas persediaan air sangat minim dan kubangan air yang terkadang sangat kotor.maka kami harus memuat air dalam jumlah banyak.semua sudah aman,kami bersiap menghajar trek menuju shelter camp berikutnya sesuai rencana yang akan menuju langsung ke shelter Isilali.

Kami mulai bergerak serentak jam 8 pagi dengan kondisi beban lumayan menguras tenaga.walau sebenarnya beban sudah banyak berkurang karena logistik kami tanam saat perjalanan kembali nanti.namun,sama saja tak ada bedanya bahkan beratnya semakin bertambah dan kondisi tidak padat saat packing membuat kami cukup bersusah payah.Langkah kaki bergerak begitu lambat,mengatur ritme nafas dan tenaga sebelum mencapai di puncak Teleuna.Tiba tiba hujan lebat menerjang saat kami akan melewati tanjakan terjal.Kejadian ini begitu sangat menguras tenaga dan menyiksa.bagaimana tidak? beban yang berat sekaligus tidak padat ditambah trek yang licin akibat hujan yang disuguhkan untuk menguji kesabaran siapapun yang melawan.Lalu dingin mulai menyerang saat kondisi kami sudah basah kuyup ditambah jarak masih lumayan jauh sebelum memasuki shelter Highcamp.

Kami sempat istirahat di puncak Teleuna dengan sajian kopi dirintik hujan untuk menghilangkan dingin dan mengisi tenaga kembali sebelum melewati trek berbatu tajam dan lumut lapuk jika salah injak kita bisa terperosok masuk dan bisa membuat luka.Mata kami pasang jeli melihat setiap jengkal yang kami pijak.kabut dan hujan kecil menemani dalam perjalanan melewati hutan lumut.Sesekali kami menyalakan rokok beristirahat sejenak berharap badan terhindar dari dingin.Tak terasa hari sudah sore dan matahari tiba tiba berada di barat yang menghitung mundur akan kepergiaanya.
Berteduh di Aiulanusalai saat menunggu hujan reda

Saat bejemur dibawah sinar matahari yang malu



pemandangan desa pesisir di selatan

Tapi,kami masih belum juga sampai di shelter dan malah menikmati sinar matahari terakhir di bukit terakhir sekaligus menikmati desa pesisir yang indah dari sudut yang tinggi ini.Karena terhanyut matahari dengan hangat memanjakan tubuh tak terasa hari semakin meredup.kami bergegas turun kebawah untuk segera beristirahat dan mengganti pakaian basah kami agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.Tepat jam setengah 7 malam kami masuk shelter Highcamp.dengan sigap headlamp kami kenakan dan mulai memasan flysheet untuk menyimpan barang yang tidak muat di dalam shelter yang ukurannya cukup kecil.

Semua sudah terpasang dan tersusun rapi,dengan sekejap badan juga sudah terbungkus dengan jacket dan pakaian kering.kami segera masuk ke shelter dan membantu memasak makanan serta minuman hangat.Malam keempat di selimuti dingin yang hebat.Seperti itulah kondisi cuacanya.sampai sampai kami memasak begitu terasa amat lama sekali.sebagian teman teman sudah mulai beristirahat di tenda dan sebagainya berada di dalam shelter dengan posisi berdesakan tanpa ada celah sedikitpun.Dibawah malam diselimuti kabut dingin yang luar biasa akhirnya kami terlelap dengan cepat setelah perjalanan yang begitu menguras tenaga dengan trek terus menanjak ditambah berbahaya apabila salah melangkahkan kaki.

Hari kelima Matahari tak disangka sudah mulai merangsek naik melewati pohon pohon besar.kami sedikit terlambat bangun dan tergesa gesa mempersiapkan diri untuk menghadapi trek berat dari Highcamp menuju camp Nasapeha.Sarapan praktis serta ala kadarnya untuk mempersingkat waktu yang telah terbuang,Jam 9 pagi kami mulai bergerak dengan trek lagi lagi menanjak menuju Manukupa.Sebagian teman teman pria berjalan beriringan bersama teman teman wanita dan tersisa kami bersebelas dibelakang yang sedang merapikan barang bawaan.Tiba tiba celetukan dari teman teman ingin memotong jalur baru dan memutar menuju Isilali karena trek yang cukup berat dan ingin mencoba sesuatu yang baru.Walau tindakan kami sebenarnya memang salah dan tidak patut untuk ditiru.tetapi,semua ini hanya rasa kepuasan yang mengusai kami.Sedikit kenekatan dan kegilaan untuk melakukannya.Bermodalkan satu kompas,satu parang dan beberapa pisau dan tali untuk membuat string apabila hal terburuk kami tersesat dan bisa kembali titik semula.
Melewati hutan lumut dan melintasi jalan hewan

Jalan licin ditumbuhi akar besar
2 jam perjalanan kami menyusuri hutan lumut yang begitu rapat.tak ada satupun tanda tanda kehidupan kecuali jejak jejak kotoran hewan seperti rusa.Melihat posisi terakhir kami lumayan jauh melenceng dari trek pendakian.Sejenak kami rehat untuk berdiskusi mengambil keputusan apakah tetap terus membuka jalan atau berjalan menuju trek normal agar bisa sampai di cam Nasapeha tepat waktu.Kecemasan mulai muncul dari wajah satu persatu ditambah dengan posisi wanita di depan membuat kami juga khawatir dan takut terjadi apa apa di depan.Setelah cukup alot kami berdiskusi dan mencari jalan terbaik akhirnya kami berjalan menuju jalur pendakian.

Kami cukup jauh berjalan berkeliling hingga tak terasa kami sudah sampai dipuncak Manukupa.Sesampainya diatas kami berjalan menuruni puncak hingga sampai di shelter Isilali.Posisi saat itu sudah jam 4 sore.Rasa lapar menyerang dan kami rasa tidak kuat untuk terus melanjutkan perjalanan melewati puncak Bintang.akhirnya beberapa ransum kami buat ditambah sisa roti sehabis sarapan tadi untuk mengganjal perut.

30 menit telah berlalu,perut sudah terisi dan kami sudah mempunyai tenaga tambahan untuk melanjutkan perjalanan melewati trek berbatu menuju puncang Bintang.Sebelum bergerak,kami segera merapikan pakaian dan memakai  jacket serta jas hujan untuk persiapan terpaan angin atau hal terburuk badai.Karena di Bintang sendiri kondisinya lapang serta berpotensi badai kala itu.Semua sudah siap kami berdoa dan berjalan serentak menanjak menuju jalur ke puncak Bintang.Cuaca sepertinya sedang berpihak kepada kami,tidak ada mendung dan cahaya matahari terlihat samar samar dibalik awan putih membayangi.Hampir 1 jam berjalan kami menaiki bukit dan menuruni bukit tak melihat dimana kami sampai melewatinya.Pandangan kami tampak sama setiap kali berhasil melewati bukit menuju puncak Bintang.
Jalur berbatu seperti tak berujung menuju Puncak Bintang
Rintangan menuju puncak Bintang menguji mental

Tak beberapa lama suara gemuruh datang bak mobil yang melesat kencang menabrak kami.Badan kokoh menahan pijakan kaki yang membawa carrier tak luput dari sapuan angin kencang.Badan kami bergoyang mengikuti angin berhembus.Sontak kami terkejut,yang lewat tadi bukanlah angin melainkan badai yang segera datang lebih awal.Langkah kaki kami percepat agar bisa lolos dari badai yang datang.Hari semakin gelap dan badai telah datang serta guyuran hujan.Jarak pandang yang mulai berkurang,badan menggigil kedinginan,dan kecemasan mulai datang saat harapan kami ingin segera sampai di camp Nasapeha.

Akhirnya kami sampai di puncak Bintang dan pelan pelan berjalan turun menuruni jalur menuju camp.Saat turun badai masih tak segan segan menghajar kami.Headlamp yang redup dikarenakan kabut membuat mata kami kesusahan untuk melihat pijakan.Pelan tapi pasti kami sudah dekat dengan camp dengan tanda pohon pohon yang mulai melindungi kami dari terpan badai.sekitar 10 menit kami berjalan,sinar remang remang dikejauhan menandakan tenda di camp sudah dekat.Perasaan kami sangat lega ketika menginjakan kaki di camp dan melihat teman teman semua ada lengkap.Ya walau beberapa teman wanita mengalami kedinginan akibat badai tapi tidak sampai serius karena cepat di tolong oleh yang lain.Kami segera berbagi tugas,ada yang mendirikan tenda,mengambil air di kubangan dan ada yang menyimpan dan membuat jalur genangan air.

Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan dan semua sudah berganti baju kering dan hangat dan masuk ketenda masing masing.saya bersama bang dino dan bang ficky memasak sayur dan nasi,sebagian juga memasak seperti membuat minuman hangat dan menanak nasi.

Memasak dibawah gerimis dan dingin di camp Nasapeha



 Memasak soup dan ikan kering menjadi menu penutup setelah pertempuran hebat melewati puncak bintang terbayar lunas di camp Nasapeha.Masakan telah siap dan kami makan bersama walau posisinya tidak menjadi satu alias di tenda masing masing.Karena diluar hujan jadi tidak bisa memaksakan untuk berkumpul dan bercerita.Perut sudah terisi penuh,kami mulai masuk kedalam tenda masing masing untuk beristirahat setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan.

Hari keenam lagi lagi kami terbangun agak siang sekitar jam 8 pagi.Kami sempat bingung akan berjalan menuju puncak atau beristirahat mengisi tenaga lagi dan keesokan harinya akan melakukan summit.Akhirnya kami berunding kembali untuk mengambil keputusan apa yang akan kami lakukan di hari yang semakin siang ini.Cukup lama kami berdiskusi dengan alot untuk mencari keputusan terbaik agar semua bisa merasa tidak ada yang di rugikan.
Berlindung di antara pohon tumbang di camp Nasapeha

Suasana camp Nasapeha saat pagi
Keputusan telah dapat kami satukan dengan melihat segala pertimbangan untuk bersama,kami akan menuju puncak tepat jam 11 siang setelah sarapan dengan melihat cuaca sedikit berkabut agak riskan untuk memaksakan menuju puncak.Waktu sudah menunjukan tepat jam 11 siang,kami bergegas berjalan menuju puncak dengan membawa air secukupnya dari kubangan di sekitar camp.Langkah yang ringan,namun begitu berat untuk berjalan dengan cepat akibat perjalanan yang sangat melelahkan.Jalan yang cukup menanjak tetapi tidak terlalu tinggi kami sudah keluar dari lokasi camp dan mendapati batuan tajam yang terhampar di jalur menuju puncak.

Kabut yang semakin tebal membuat kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar dengan baik.Langkah kami atur dengan seksama,karena takut salah tumpuan bisa mengakibatkan cidera.Jalan tidak terlalu sulit,trek landai lumayan panjang yang pertama menyambut kami.Walau cuaca agak redup tapi begitu semangat perjalanan menuju puncak.berjalan tanpa beban sekaligus menikmati lanskap yang sungguh berbeda.Batu batu tersebar dimana mana,pohon pakis gunung yang menjadi endemic binaya mulai terlihat.Sesekali kami melewati bukit dan kanan kiri jurang tapi tidak membuat kami takut.karena benar benar sangat berbeda dari gunung gunung yang lain.
Jalur berbatu dan di temani kabut mengantarkan kami menuju puncak
Perjalanan santai dan sangat menikmati

Pakis Binaiya yang menjadi ciri khas sebelum mencapai puncak

Pemandangan yang indah melihat gugusan Pakis Binaiya yang berada di kejauhan
perjalananan menuju puncak kurang lebih kami tempuh sekitar 2 jam.pelan pelan kami mulai terpecah menuju puncak tapi semua keadaan baik baik saja.saat sebelum memasuki Waifuku saya sempat menikmati pemandangan sekitar.tempat yang unik dan biasanya menjadi tempat camp terakhir jika saat musim baik.

Karena disana terdapat kubangan air yang sering kali dipakai untuk memasak atau minum.disana juga terkadang saat pagi pagi ada beberapa rusa yang meminum disana.ah begitu kesempatan langka apabila bertemu langsung dengan rusa binaiya di alam bebas.saya,sena,mukhlas berjalan beriringan dan sesekali kami beristirahat dengan bercerita tentang keindahan Binaiya.Ada satu sisi yang sangat unik dan saya sukai.ada sebuah batu berdiri sejajar seperti pintu gerbang di jalur menuju puncak.Lalu disebelahnya ada susunuan batu apabila dilihat seperti di dunia lain.
Muklas bergaya diatas batu seperti ingin menuju ke negeri lain

 Dari waifuku jarak menuju puncak tidaklah jauh,tinggal beberapa menit lagi bisa di jumpai dengan tanda ada bendera yang berkibar disana.Langkah kami bertiga mulai semakin cepat karena mendapat semangat hampir mencapai di tempat tujuan.jantung mulai berdetak tak teratur,karena merasa tidak percaya bahwa bisa sampai di Binaiya.Rasa sedih,haru,bahagia,capek,senang semua menjadi satu saat langkah terakhir sampai di puncak.

Kami bertiga langsung bersujud dan mengucapkan rasa syukur karena telah diberi keselamatan dan keberhasilan bisa menginjakan kaki dibinaiya tanpa ada kekurangan satupun.Setelah merayakan euforia masing masing dengan tangis serta kepuasan tersendiri.kami langsung bergabung dengan teman teman yang lain seperti bang eko,bang raven,cicil yang telah sampai duluan dengan berjabat dan berpelukan.Tak lupa kami mengabadikan momen langka ini bertiga,karena selama ini berteman baru kali ini kami bisa melakukan pendakian bersama.
Moment kebersamaan saat bisa sampai di 3027MDPL
Akhirnya dari kejauhan teman teman yang lain sampai juga dengan lengkap.kami merasa bahagia bisa berkumpul semua diatas bersama tanpa kekurangan satu orang.Kami menikmati waktu tersisa di puncak karena cuaca sudah semakin gelap dan akan turun hujan.Akhirnya kami bergegas turun kembali ke camp.perjalanan lebih cepat sekitar 1 jam menuju camp.Sesampainya di camp kami langsung memasak untuk makan malam dan beristirahat 1 malam lagi karena kondisi dan waktu yang sudah sore dan tidak di paksakan untuk langsung turun menuju shelter Aimoto.

Malam mulai datang dan kami sudah selesai makan dan menikmati secangkir kopi.Kami segera beristirahat dan kami memilih untuk tdur berlima karena cuaca malam itu sangat dingin sekali.dengan tenda yang ukuran 3 orang kita buat menjadi 5 orang sungguh kejadian yang konyol tapi seru.Tidur berhimpitan dan tertawa akibat saling berbalas kentut membuat kami semakin dekat dan menikmati pendakian kali ini.
Malam ke-6 tidur berlima dalam satu tenda di Camp Nasapeha
perjalanan panjang membuat kami semakin dekat satu sama lain dan mempunyai ikatan batin yang kuat.Mata semakin lelah seiring malam yang sunyi mengantar kami tertidur pulas penuh kebahagiaan. Hari ketuju saat matahari sudah mulai menerangi lokasi camp kami sudah terbangun dan mempersiapkan diri untuk turun menuju shelter Aimoto.Dengan sisa logisitik yang minim itulah alasan kami harus bisa sampai di shelter Aimoto karena disana kami telah menanam logistik untuk persediaan pulang.kami keluar dari camp Nasapeha sekitar jam 10 pagi bergerak pelan dengan sisa sisa tenaga terakhir.Kami berjalan melewati jalur kemarin saat berangkat kemarin.menanjak menuju puncak Bintang.Pertama kami kembali melewati hutan lumut sebagai pemanasan.Bulir bulir embun yang masih teringgal menempel di daun dan di ujung lumut.Tangan dengan pelan memegang dingin embun sembari berjalan perlahan.dengan raut muka masih mengantuk tiba tiba langsung menjadi sangat sadar ketika dingin menyentuh tangan.
Hutan lumut saat perjalanan turun

Pagi itu kami mendapat keberuntungan hari yang cerah dan bisa menikmati lanskap binaiya keselurahan.Tak ingin kehilangan momen yang datang,kami mulai melihat sekitar dengan seksama dan sangat fokus.dengan posisi 360 derajat mengamati sekitar dan mulai memejamkan mata.Sekejap indra pendengaran mulai mengusai keadaan dan semakin jelas suara suara alam berbunyi.dari yang berbisik hingga berteriak jelas masuk ke dalam telinga.Suara gesekan pohon,suara kicauan burung berirama,suara embun jatuh ke tanah,dan suara ranting seakan berbisik kepada kami "sampai jumpa kembali di lain waktu,kami tetap menungu disini".Kenikmatan yang tiada duanya bisa sedekat ini dengan alam yang begitu baik menyambut kami.Karena sangat asyiknya kami berjalan dengan amat lambat sekali.Dalam pikiran kami saat itu adalah pejalanan kembali pulang dengan santai tanpa terpikirkan beban apapun.Rokok,kopi dengan seketika menjadi pelengkap kenikmatan perjalanan turun pagi itu.isapan demi isapan,berbatang rokok mulai membuat cerobong asap diketinggian dan entahlah beberapa batang rokok kami habiskan terhipnotis semuanya seakan enggan untuk bangkit dan turun berjalanan.
Menikmati Keindahan di Puncak Bintang

Kami sudah merasa cukup dan bergegas turun kebawah.Tak lama trek khas berbatu tajam di Bintang mulai menyambut kami dengan gahar.langkah waspada dan perhatian extra melihat batu tajam kami lakukan.Perlahan tapi pasti kami mulai mendapati trek menanjak hingga sampai di Puncak bintang.Diatas kami tidak berlama lama karena ingin cepat dan beristirahat di shelter Highcamp untuk makan siang.Kaki mulai sedikit kencang saat menuruni puncak Bintang yang lebih ketimbang berangkat kemarin.Jadi kami tidak terlalu merasa capek.Tiba tiba kami melihat pemandangan kebawah dan takjub dengan keindahan nya.lagi lagi kami mencoba mengabadikan momen dengan beberapa kali mengambil foto.tak henti hentinya terkesima dengan lanskap yang sangat berbeda dari gunung gunung yang laim mebuat kami sangat betah berlama lama.


Kami segera menghentikan berfoto dan berselfie ria.lalu berjalan kebawah menuju shelter Isilali.Di tengah perjalanan ada salah satu teman wanita kami bernama Gita yang cidera jatuh saat menuruni puncak Bintang dan kakinya sedikit terkilir.karena kondisinya lumayan parah jadi kami berjalan pelan menuju shleter Isilali.sesampainya shelter Isilali kami beristirahat sekaligus mengecek kondisi kaki dari Gita apakah parah atau baik baik saja.Setelah memeriksa ternyata kondisinya tidak dapat kami paksakan untuk turun dan harus beristirahat di shelter Isilali dan keesokan harinya jika sedikit membaik barulah turun menuju shelter Aimoto.

Sebenarnya kami juga ingin menemani Gita di shelter Isilali tapi didepan juga ada beberapa teman perempuan yang menuju shelter Highcamp dan kami tidak tau kondisinya.Dengan diskusi dan penuh pertimbangan akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Shelter Highcamp untuk mengejar teman teman yang lain dan Gita ditemani oleh bang Elud.kami berjanji bahwa akan menunggu mereka di Shelter Highcamp atau di shelter Aimoto dan akan turun kebawah bersama sama.Akhirnya kami berjalan meninggalkan mereka dan beberapa teman pendaki lain beristirahat.lalu,kami melanjutkan perjalanan menuju shelter Highcamp karena takut terjadi kenapa kenapa terhadap mereka.kondisi cuaca seketika berubah menjadi gelap dan tak lama hujan turun begitu lebat.jalan menukik curam dan jalan becek sekaligus licin membuat kami beberapa kali mengikhlaskan badan kami tersungkur ketanah.

Perjalanan turun menuju shelter Highcamp kurang lebih 2 jam yang bisa kami tempuh.Tak terasa senja tiba begitu cepat akibat hujan membuat badan kami basah kuyup dan kotor.Dari kejauhan suara suara teman teman di Shelter mulai samar terdengar dari sela sela pohon yang rapat.Sesampainya di shelter Highcamp kami mendapati teman teman perempuan sudah mengalami kecapean serta dingin yang luar biasa.Kami tidak bisa memaksakan untuk tetap terus jalan menuju shelter Aimoto karena benar benar parah.Jadi kami memutuskan menginap 1 malam di shelter Highcamp dan ada beberapa teman lainya sudah tiba dan menginap di shelter Aimoto.Malam itu kami memasak ala kadarnya,karena logistik yang ada adalah sisa dari pagi tadi.kami salah memprediksi ada hal terjadi diluar dugaan dan syukurnya kami masih bisa bertahan dengan jumlah orang 15 orang.

Kami saling membagi makanan sisa,ya walau tidak membuat kenyang tetapi sedikit membantu memulihkan tenaga.Seusai makan malam kami langsung tertidur pulas dan berdoa besok kami bisa sehat dan bisa berkumpul kembali dengan teman teman lainya.Hari kedelapan Mata terbuka dengan sendirinya saat pagi masih malu untuk bertemu dengan kami.Pagi sekali kami bangun,mungkin karena istirahat dengan cepat membuat kami mempunyai tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Bertahan dengan sisa logistik seadanya

Setelah selesai sarapan, beberapa dari kami segera berjalanan menuju shelter Aimoto teman teman perempuan ditemani beberapa teman laki laki.Tersisa kami yang menjadi Sweeper masih menunggu kedatangan Gita dan bang Elud yang kemarin terpaksa camp di Shelter Isilali dan pagi ini mereka mencoba turun dan bergabung bersama kami.Lumayan juga waktu kami menunggu mereka.memanfaatkan kekosongan waktu,sembari menunggu aku mencoba berjemur matahari sekedar menghangatkan badan yang masih terasa dingin.Setelah menunggu sekitar 1 jam lamanya,akhirnya sosok yang kami tunggu akhirnya muncul dari balik pohon.Mereka kami persilahkan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan turun bersama kami.

Tak perlu berlama lama,kami segera berangkat dengan tempo lambat,mengingat kaki gita belum pulih seperti semula.Tepat jam 10 siang kami keluar dari shelter Highcamp.waktu itu perjalanan kami lumayan cepat saat sampai di shelter Aimoto sekitar jam 12:30 bertepatan makan siang yang sudah disiapkan oleh teman teman yang kemarin sampai seperti bang Jan,Muklas,Sena dan beberapa teman lainya.Akhirya setelah 1 hari kami terpecah dari rombongan,maka siang ini kami bisa berkumpul kembali makan siang bersama.Lumayan banyak waktu yang kami buang saat makan siang.bagaimana tidak? Bang Janter bersama teman teman memasak hampir semua logistik yang kami tanam waktu berangkat."Mau menyebutnya penyiksaan? benar juga,mau menyebut hari pembalasan? iya juga? mau di bilang Homesick? sudah pasti".

Makan siang yang mempunyai porsi benar benar gila!.Piring menggunung dan mempunyai porsi yang sama,dibagi rata jadi semua merasakan makanan benar benar tumpah siang itu.Dengan usaha extra kami menghabiskan nya.hampir 3 jam kami habiskan untuk makan dan beristirahat akibat kenyang yang luar biasa.Kami takut gelap menemani perjalanan turun menuju desa Piliana,maka kami segera berbenah sekaligus merapikan dan memungut sampah kami.jam 4 sore kami bergerak meninggalkan shelter Aimoto dan berpamitan.Kali ini aku bergeser ke posisi depan bersama Muklas,Sena dan dayat pendaki dari tim lain yang berjalan dengan tempo lumayan cepat.Kami berempat ingin menghindari malam saat menuju desa Piliana.langkah kaki mulai tak terkendali,rela menabrak apapun yang ada didepan.sesekali terjerungkup karena jalan yang licin,terkadang tersayat daun daun tumbuhan yang tajam.Kami sudah tidak memperdulikan rasa sakit yang datang.kami mempersikat jeda waktu istirahat dijalan hanya untuk menghela nafas dan mengatur kembali hingga normal.

Selanjutnya kami berjalan kembali dengan tempo cepat.Malam mulai menguasai perjalanan.Masing masing dari kami mulai memasang headlamp.Kejadian yang tidak mengenakan saat kami berempat memasuki air Tempayang dengan trek menukik dan licin sekali.Sesampainya di bawah kaki kami tak luput dari serangan dinginya air yang merendam seluruh sepatu kami.Arah ke kanan mengikuti arus sungai waktu itu yang kami pilih.Dengan kondisi gelap dan dari kami berempat belum ada yang pernah mendaki di gunung Binaiya sedikit was was dengan jalan yang kami pilih.Karena kami tidak bisa begitu melihat dengan jelas jalan yang harus kami lewati.Susah sekali mencari jejak tau bekas kaki yang pernah dilewati.Kami sudah mondar mandir mencari jalan keluar tapi tidak ketemu juga.Kami mencoba beristirahat sejenak dan mencoba menenangkan diri dengan duduk diatas batu sungai.

Tapi semakin lama Dayat semakin panik karena tak kunjung mendapatkan jala.ia berteriak,mencaci maki dan sesekali melempar batu ke sembarang arah.Kami mencoba untuk menenangkan dia dan sesekali mencoba berjalan mencari jalan keluar yang benar.Dari kejauhan tepatnya dibagian atas kami melihat sekelibat cahaya senter.entah itu siapa kami langsung berteriak ke mereka.Sontak mereka juga membalas teriakan kami dan memberi arahan untuk tetap disana menunggu mereka turun.Tak beberapa lama cahaya senter bergerak turun perlahan mendekati kami.Ternyata benar,mereka adalah teman teman yang berjalan di belakang kami.Musibah selanjutnya adalah Headlamp dalam tim ternyata tidak semuanya memiliki headlamp.ada yang habis batrai dan ada yag entah ilaang kemana saat pendakian kemarin.Jadi diantara 30 orang hanya ada setengah dari tim headlamp yang ada,kami mengatasi pencahayaan dengan berlapis.Posisi setiap orang memback up satu orang yang tidak memakai headlamp.akhirnya kami berjalan keluar dari Air Tempayang menuju keataas melintasi ladang masyarakat.

Perjalanan menuju ke desa Piliana begitu sangat lambat.seperti merayap karena beberapa dari teman teman sudah sangat kelelahan dan juga ada yang cidera.Ditambah penerangan kami begitu kurang ,jadi kami berjalan tidak bisa melihat dengan jelas dan hanya memakai perasaan saja untuk setiap menginjakan kaki saat melangkah kedepan.Sesekali dari kami tak luput dari terpeleset karena tanah licin atau sesekali tersandung batu besar yang tertanam di jalur pendakian dan tersandung akar akar yang melintang bebas mencoba menjebak kami.Tak luput dari beberapa teman melihat ada penampakan di beberapa titik perjalanan pulang membuat perjalanan ini sangat lama dan begitu menyiksa raga dan batin.Kami semua terus berdoa agar rintangan terakhir ini segera usai.

Akhirnya perjalanan selama kurang lebih 2 setengah jam kami tempuh dengan berjalan merayap tiba di desa Piliana.alhamdulillah kami lengkap satu tim tanpa ada kekurangan sedikitpun.ya walau cidera kami sudah sangat bersyukur bisa kembali dengan selamat.Sesampainya di rumah bapa Raja Piliana kami mendengar suara musik yang besar.Ternyata disana ada sebuah pesta yang meramaikan malam itu.Kami tak ingin melewatkan kemeriahan di desa,dengan segera kami satu persatu membersihkan diri lalu ikut berbaur bersuka cita berdansa dengan seluruh teman teman dan warga disana.Pesta ini kami manfaatkan juga sebagai keberhasilan kami turun dengan selamat.malam itu kami makan besar beserta minum lokal khas daerah sana yaitu kopi teh dan minuman sofi.malam berjalan begitu cepat hingga kami beristirahat di rumah bapak raja.dan keesokan nya kami menuju ke aer jodoh ninifala sebelum kembali menuju desa Tehoru dan kembali ke Ambon.


Aer Jodh Ninifala

Sesampai di Ambon kami bertiga singgah kembali di sekret KPA LESTARI dan bertahan kurang lebih 1 bulan sebelum melanjutkan perjalanan kembali meninggalkan Ambon.Seperti inilah kisah perjalanan pendakian selama 8 hari berjumpa puncak para raja.Semoga kisah ini akan tetap terus terkenang di hati setiap orang yang berjalan bersamaku .

No comments:

Powered by Blogger.