Menemukan RUMAH selalu Singgah di Perjalananku (Rumah Singgah Lombok)


Cerita kali ini adalah ringkasan bagaimana aku "terjerat" sebuah "rumah" di dalam perjalananku mencoba mengelilingi Indonesia.Sebuah "rumah" bisa membuatmu kembali walau kau sudah jauh pergi meninggalkanya.tetapi ada daya tarik sendiri untukmu terus mengingat bahkan ingin menetap disana.semua cerita perjalananku sering ku bagikan melalui isntagram lihat disini



Entah bagaimana semua ini dimulai,tapi aku yakin sudah menjadi garisan Tuhan untuk masuk ke dalam cerita perjalananku.Sejak Desember 2015 hingga sekarang aku sering berkunjung dalam perjalananku memasuki bulan ke-17.Semua akan kurangkum menjadi satu cerita berisikan bagian bagian yang sulit untuk di lupakan dan menghiasi kisahku selama ini.


Malam pertama kali singgah di rumah ini



Cerita pertama saat memilih Singgah
Saat kedatanganku untuk pertama kali bersama teman temanku mas della,doni,bang michael,vera,steven(keduanya bertemu dikapal) hingga saat ini aku kerap menyempatkan untuk pulang ke rumah itu.Awal mulanya aku sempat berfikir "apakah benar ada rumah seperti itu? yang bisa dikunjungi siapa saja dan di tumpangi siapa saja dengan gratis".Tapi,aku bersama teman teman mencoba untuk membuktikannya sendiri tentang kebenaran tersebut.Aku disambut Bapak dan Mamak pemilik rumah tersebut Pak ikhsan dan mamak dengan sambutan sangat ramah.Aku langsung berjabat tangan dengan beliau,daan kami di persilahkan masuk untuk menyimpan barang bawaan kami di ruang tamu.Sempat berfikir sejenak.Sempat terbesit di dalam hatiku,Ah aku tak menyangka rumah sebesar ini di relakan untuk kami tumpangi dan tak ragu untuk di porak poranda oleh setiap gerombolan yang senantiasa masuk.


Di kedatanganku yang pertama,aku sempat tinggal untuk beberapa bulan.Selama beberpa bulan itu banyak kejadian yang senang,sedih sampai kocak aku alami.Misalnya dari aku yang terkadang bengal masih suka seenaknya seperti bangun siang,terkadang sering berbuat ulah sehingga mamak marah,terkadang juga aku senantiasa setia mendengar cerita mamak di kala malam malam kami sepi tidak ada orang yang berkunjung atau singgah.Aku sadar banyak yang kutemukan dirumah ini,ya walau belum semua bisa ku praktekan dalam kehidupanku,aku tetap berusaha ingin mewujudkan nya.Kebiasaanku jika dirumah ini yang sulit hilang adalah bangun kadang jam 9 pagi atau jam 10 pagi bahkan pernah menyentuh di angka 2 siang,di kala orang orang sudah beraktivitas dan ada yang sedang jalan aku baru hidup kembali dari tidurku.

Aktivitas yang sering kulakukan adalah mulai menyapu dan membereskan sisa kopi dan sampah semalam jika ada yang masih tertinggal,terkadang mamak sudah membereskannya apabila aku masih tertidur.Yang aku suka adalah jika mamak memarahiku mengingatkanku kepada ibuku dirumah yang berperilaku sama.Hal itulah mengapa rasa rinduku terhadap rumah sedikit terobati dan kadang hilang dalam ingatanku.Biasanya ketika siang menjelang mamak sering mengajakku untuk membeli Es campur dan Es kelapa di depan luar kompleks dan makan siang bersama.Jujur dari dulu dirumahku sendiri aku jarang melakukan hal itu,makan bersama di iringi cerita dan obrolan obrolan ringan dan terkadang tidak penting tapi itu berarti bagiku.





Hari hari pertamaku tidak terlalu merasakan kedekatan dirumah,karena setiap harinya aku berjalan mengunjungi setiap tempat bersama teman teman,dan barulah malam aku bisa berkumpul dengan Bapak dan Mamak serta kerabat dan teman teman yang singgah lain nya.Tempat favoritku adalah di teras rumah,tepatnya di salah satu sudut didekat pintu masuk aku menyisihkan ruang untuk menyisipkan badanku untuk tidur.aku tak mengerti kenapa teras rumah begitu memikatku syahdu.Hal yang tak kulupa saat pertama kali aku datang adalah Donor darah di Rumah Singgah Lombok.bagaimana tidak ingat,sebelum hari H aku bersama teman teman terjaga mata hingga adzan subuh bersua,kami hanya tertidur sekejap dan terbangun oleh keramaian penyelenggara Donor darah.

Ketika medapat formulir Donor aku sempat berfikir apakah aku bisa mendonorkan darahku dengan segala kondisi badanku yang tidak cukup fit.Menampik segala keraguan aku megisi formulir itu dengan teliti.Aku mengantri dan menunggu untuk dipersilahkan duduk,akhirnya aku medapat giliran dengan sambutan raut wajah datar disuguhkan ujung jarum tajam yang siap menghujam lengan kiriku.Seluruh badanku tersa kelu saat darah terasa mengalir keluar melewati selang panjang yang mulai berubah warna dari bening menuju merah dan diujungnya tempat penyimpanan mulai terisi sedikit demi sedikit.Akhirnya selesai sudah aku mendonor darah dengan sedikit agak goyang dan berkunang kunang mataku.
Saat Donor darah
Begibung bersama mamak dan keluarga lain


Makan plecing kangkung,sayur lebui dan sambal khas mamak selalu memanjakan lidahku.Bagaimana rasa rumah tidak menempel kuat di dalam hatiku jika rutinitasku seperti ini,gumamku didalam hati.Ditambah lagi kebiasaan mamak yang suka meminta tolong kepadaku untuk membeli obat generik di apotik yang sampai sekarang masih sering ku jalani.Beberapa kali aku pergi besama anak anak mamak untuk pergi berlibur di tahun baru camping ceria di salah satu bukit di sembalun dan itu adalah pengalaman pertamaku bisa berada diluar rumah bersama keluargaku di Lombok.Aku merasa kenikmatan berbeda dan pernah aku dapatkan sepanjang hidupku.Mempunyai keluarga tapi itu bukan keluargaku,aku benar benar dianggap menjadi anaknya sendiri tak beda jauh dengan perlakuan kepadaku atau kepada anaknya.
Suasana ketika camping ceria






 Cerita aku bisa mengahdiri prosesi acara adat di desa Bayan


Acara Maulid Nabi di Masjid Bayan

Aku juga bersyukur hari hariku banyak kejadian menarik,seperti menghadiri acara maulid Nabi di desa Bayan dan bisa mengikuti prosesi acara dan mengetahui sejarahnya masjid yang konon disebut masjid tertua di Lombok.Bersama anak anak mamak dan beberapa teman lainya yang sedang singgah dirumah.Kami berangkat menuju desa Bayan menggunakan mobil.Hal yang tak pernah kutemukan sebelumnya ketika mengunjungi Lombok,rasa senang akan hal baru mulai menyeruak keluara ke bibir yang terus tertawa di sepanjang perjalanan menuju desa Bayan.

Sesampainya di Bayan,kami langsung di sungguhi minuman traditional yang cukup membuat kepala berputar alias mabuk.Ya,Brem minuman traditional yang sering di konsumsi oleh warga Bayan sendiri atau orang luar sekalipun saat mengunjungi desan Bayan.Setelah menikmati minuman khas disana,aku dipersilahkan untukn berganti pakaian adat dengan menggunakan kain dan ikat kepala serta tidak dianjurkan memakai pakaian dalam.Aku mengikuti semua yang di instruksikan oleh bapak ketua adat.
Selfie acara maulid Nabi di desa Bayan
Beberapa dari kami telah selesai berganti dengan pakaian adat,selanjutnya kami di persilahkan menuju ke Masjid yang ada di belakang.Kami berjalan tanpa memakai alas kaki karena kami melintasi konon di sana tanah yang sakral jadi kita masuk dengan kaki telanjang.Kami berjalan memasuki sebuah pintu kecil yang mempunyai anak tangga batu batu yang disusun rapi hingga menyerupai anak tangga.Kaki terasa kasar saat berjalan tanpa alas kaki yang langsung bersentuhan dengan tanah.Perlahan kami telah memasuki pintu dan melewati beberapa bale yang disana ada bapak bapak dan ibu ibu yang sedang memasak untuk acara ini.Semua berpakaian sama,hanya memakai kain dan ikat kepala untuk laki laki dan perempuan memakai kain yang membungkus seluruh badan.Setelah melewati bale bale kami di hadapkan pintu keluar dan langsung berjalan ke atas menuju masjid.Disana ternyata sudah banyak orang yang berkumpul,aku tidak mengetahuinya karena mereka masuk tidak melewati kampung melainkan dari jalan yang berada di belakang kampung.

Perlahan kami menaiki anak tangga dan tiba di sisi luar Masjid.Aku tak melihat jika acara sudah di mulai,dengan sekejap para Pengiring rombongan yang membawa sesajian telah melintas di depan kami.Aku langsung mengamati dengan seksama dan sesekali aku abadikan poto rangkaian acara ini.Semua rombongan telah masuk di dalam Masjid.Aku berusaha mengintip dari sela sela dinding yang terbuat dari Bambu sehingga mataku sanggup melihat jelas seluruh isi di dalam Masjid yang beralaskan tanah dan ada sebuah Gendang besar yang tergantung tepat di tengah tengah di antara Pilar Masjid.

Konon Mitos yang beredar untuk masjid ini adalah bisa menampung seluruh warga yang ada di kawasan Bayan,dengan kondisi dan ukuran Masjid tidak terlalu besar,pasti tidak akan masuk akal jika memikir dengan logika.Tapi semua itu ada benarnya juga,entah percaya atau tidak aku juga belum membuktikanya sendiri.Tapi aku tetap menjaga mitos itu agar bisa diketahui orang banyak.Setelah mengikuti prosesi ritual,kami bergegas kembali ke kampung dan berganti pakaian.kami mengundurkan diri dari rangkaian acara karena beberapa dari kami akan pulang malam itu juga.Akhirnya aku melewatkan acara keseleruhan di Desa Bayan Lombok Utara.Tapi aku tidak kecewa karena aku masih mempunyai alasan untuk kembali berkunjung dalam acara adat yang sama di tahun depan.


baca juga : Tips Memilih Teman Perjalanan


Cerita ketika bertahan dengan Rp1.500




Kala itu kondisi keuanganku sedang kritis alias hampir dikatakan tidak memiliki uang sama sekali.Di beberapa minggu terakhir saat kedatanganku pertama mulai menemukan permasalahan baru,saat itu uang yang tersisa adalah Rp1.500 didalam dompet lusuhku yang kemudian aku belanjakan untuk membeli sebatang rokok eceran yang di jual di warung tak jauh dari Rumah Singgah.Aku mulai memikirkan cara bagaimana aku menyambung hidup dan mempunyai bekal untuk menyambung perjalanan kembali.Aku terus menikmati kopi dan beberapa batang rokok di sudut teras yang menjadi tempat favoritku.Sampai beberapa hari aku terhanyut dalam lamunan kosongku begitu dalam.Suatu pagi ketika aku baru terbangun tak langsung beranjak dari tempat tidurku,melainkan aku melihat tumpukan oleh oleh yang di jual mamak dengan seksama.Entah pikiran itu datang dari mana tiba tiba aku menepuk kepala dengan keras dan berucap "astaga,aku bisa menjual oleh oleh ini secara online" .Tanpa berfikir panjang aku mulai foto satu persatu contoh oleh oleh dan segera ku posting dan bagikan di Media Sosial.Memang,menjadi penjual online dadakan tidak terlalu mudah untuk dicoba dan dijalani.

Tapi,aku tak menyerah begitu saja dengan hasil kosong.2 sampai 3 hari memang belum ada tanda tanda yang memihakku,baru di hari ke 5 aku mendapat pelanggan yang awal mulanya bertanya dan aku coba merayunya untuk membeli.Dari pelanggan pertamalah aku terus mendapat pesanan dari teman teman dari dari orang lainya.berkat setiap hari aku menyebar lapak jualanku di semua media sosial yang aku punya dengan terus menerus.Lama kelamaan semakin membanjir pesanan yang kuterima,sampai sampai tanganku hampir tak pernah jauh dari handphone dan alaat pembungkus.Setiap hari aku bisa mengirim 5 sampai 10 pesanan,dan setiap hari pula aku mengantar paket pesanan ke tempat ekspedisi terdekat menggunakan sepeda.Sangking seringnya aku mengirim barang,jadi aku mulai kenal orang orang yang bekerja disana.Tak jarang juga aku mengobrol dengan tukang parkir,satpam atau para pegawainya sendiri.mereka menanyakan jika usaha yang ku jalankan sedang laris manis.

Aku merasa senang bisa mendapatkan rejeki tak terduga seperti ini,jawabku ke pada mereka.Hampir selama 10 hari berturut turut aku menjual oleh oleh mamak dan aku rasa cukup aku mendapat uang untuk menyambung perjalananku menuju Bima dan Labuan Bajo kala itu.Sebenarnya aku sempat di himbau jangan jalan dulu,nanti tidak bisa puasa sama sama,ucap salah seorang menantu mamak kepadaku.Tapi mau dikata apa,aku harus melanjutkan peralananku.Akhirnya pada tanggal 3 februari 2016 aku diantar oleh bang dhan menuju Narmada,disana aku bisa mencari tumpangan menuju Bima atau searah karena disana banyak truk besar melintas.Hampir 4 jam lamanya aku menunggu sembari mencari tumpangan hingga aku mendapatkan tumpangan dari mobil expedisi dan sampai di bima saat pagi hari.
Saat menjadi penjual kain berkat adanya jualan mamak








Cerita Datang tak diundang,Disuruh Pulang tidak mau

Setiap saat aku akan kembali menuju ke Rumah Singgah tanpa ada satupun orang yang tau.Aku selalu datang dengan dadakan dan terkadang pada waktu yang tidak tepat.
Kala itu aku berusaha datang saat keluarga di Rumah Singgah akan melakukan Clean Up di rinjani tetapi aku tak bisa hadir.Aku baru datang ketika 2 minggu setelah mereka melakukan kegiatan Clean up tersebut.kecewa? nyesel? itu sudah pasti.Tapi mau bagaimana lagi,aku sedang melakukan perjalanan dengan kejutan yang besar tak mungkin aku menolaknya.

Tapi aku mempunyai rencana lain,sesampainya di rumah,aku memberitahukan kepada mamak akan melakukan pendakian ke Gunung Rinjani.Karena sudah membuat janji dan mempersiapkan diri untuk mendaki bersama teman teman dari Malang,Jakarta,Surabaya,dan Lombok sendiri tentunya.
Kami sudah merencanakan semua sudah lama,karena beberapa teman belum pernah mendaki di Gunung Rinjani,maka aku memutuskan untuk bergabung menemani mereka.Kami melakukan pendakian dengan jumlah 12 orang selama 5 hari 4 malam.Banyak cerita,sedih,senang,jengkel,takut hingga was was mencekam menghiasi perjalanan kala itu.Syukurlah kami turun dengan selamat tanpa ada satupun yang mengalami cidera parah.

Setelah turun,aku kembali ke rumah singgah dan tak beberapa hari istirahat mengembalikan kondisi tubuh,aku melanjutkan perjalanan kembali menuju Labuan Bajo,karena saat itu aku mendapat ajakan untuk menemani teman teman dari Makassar dan Kaltim yang ingin berlibur mengunjungi Kepulauan Komodo.Aku pergi kurang lebih selama 1 bulan berada di Labuan bajo.Selain menemani teman teman,disana aku juga mencari nafkah untuk menyambung hidupn seperti ikut kapal orang orang disana mengantar tamu,atau mengantar tamuku sendiri yang ingin berlayar mengelilingi kepulauan Komodo.

Tak beberapa lama aku kembali lagi ke Rumah Singgah dengan kondisi badan sangat hitam karena setiap hari terpapar sinar matahari.Sehingga mamak sempat tidak mengenaliku hahahah
Sempat beristirahat 2 minggu dan aku berangkat berjalan lagi bersama arinta kurang lebih selama 1 bulan mengunjungi Ntt.Selesai pergi bersama Arinta aku tinggal cukup lama,kurang lebih selama bulan puasa hingga Lebaran aku berada di Rumah Singgah.




Cerita Rutinitas tak biasa di Rumah Singgah Lombok





Kenapa cerita kali ini aku sebut Rutinitas tak biasa?.
karena cerita ini adalah benar benar keseharianku saat sering mengunjungi Rumah Singgah Lombok.Setiap harinya aku lebih banyak bermalas malasan,kalau tidak membaca buku,mendengarkan music,bercerita dengan teman teman baru singgah atau mendengarkan mamak Bercerita atau gemes melihat kelakuanku yang suka iseng.Setiap harinya aku membantu membersihkan rumah,halaman atau dapur.Itupun tidak setiap hari aku lakukan terus menerus.Jika hati berkata tidak,entah aku jadi malas atau enggan menyentuh apapun.jangankan bersih bersih,terkadang untuk urusan perut saja aku juga lupa kapan terakhir aku makan?.

Kalau kegiatan yang paling aku sukai dengan memakai Hati adalah membuat kopi.Setiap hari setiap waktu kita di Rumah Singgah tak akan ketinggalan dengan namanya kopi yang di buat di teko.Dulu teko berbntuk plastik yang sekarang sudah tidak bisa di pakai lagi maka diganti dengan teko yang terbuat dari kuningan.Ditemani gelas gelas kecil yang mungil,membuat siapa saja akan merindukan kopi yang ada di Rumah singgah.


Terkadang aku menemani Mamak pergi ke Pasar untuk belanja oleh oleh atau untuk pengajian atau masak dirumah.menggunakan sepeda motor kami berangkat menuju Pasar di daerah Cakranegara.Membeli trasi,cumi kering,krupuk kulit sapi,ikan dan mash banyak lagi sampai aku lupa.Tak ketinggalan jika aku berboncengan dengan Mamak sering terjadi perbincangan seru.Kalau aku yang tidak marah marah atas sikap pengendara lain yang sembarangan,tak luput juga aku mendapat marah jika aku sembarangan juga hahahahha.tapi memang benar adanya,momen saat naik motor dengan Mamak adalah yang paling seru melihat Mamak antara sedikit takut dan marah.
menemani mamak pergi ke pasar

Mamak sudah seperti menjadi ibu kandungku sendiri,ia tidak pernah menganggap aku sebagai tamu atau orang lain.Mamak selalu menasehatiku agar bisa menjadi orang yang baik,jujur dan berguna.Walau pada kenyataanya aku masih jauh dari kata itu semua.

Cerita Saat bulan Ramadhan adalah hal yang aku suka,aku bersama mamak dan bapak melakukan kegiatan donasi buku,iqra,baju muslim untuk adik adik di desa Senaru dan Sembalun.Usaha dan kerja kerasku terbayar,apalagi berkat dukungan dan bantuan dari teman teman semua yang bisa mewujudkan semua.






Cerita Segerombolan manusia tersesat di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri




Semua bermula dari kegemaranku yang terkadang membuat mamak kesal atau jengkel.hahahhah tapi ya seperti itulah diriku dengan apa adanya.Kegemaranku adalah menjaga mata di malam hari hingga matahari terbit barulah aku tidur.Dan pernah kejadian paling parah saat bulan Ramadhan,aku sengaja di paksa bangun saat matahari menjadi gelap lagi dan kumandang adzan mulai terdengar.Aku tak sadar bahwa aku tertidur hampir 12 jam lamanya.Sontak aku terbangun dan panik atas apa yang telah terjadi ketika aku tidur semacam Kalelawar.Aku segera mandi dan membatalkan puasa yang kurasa sedikit kurang afdol dalam menjalankanya.

Meminum secangkir teh manis dengan mendengar celetukan mamak yang membuat aku malu dan tertawa sendiri.Ketika Puasa aku tak sendiri,ada beberapa teman teman yang waktu itu sedang singgah juga dalam waktu yang cukup lama seperti Riza(Bandung) seorang mahasiswa sedang melakukan wisata religi yang sempat menjadi Volunteer di desa Bayan.TarPalito(Padang) seorang uda yang berjalan berharap menemukan pekerjaan di suatu tempat dan kini ia sudah mulai menggeluti bisnis travel agen di Labuan Bajo.Aadir(Kaltim) Seorang pejalan yang melankolis karena desakan keluarga untuk segera menikah.Sena(Jambi) Seorang Mahasiswa yang sedang ingin menikmati libur Lebaranya tidak dirumah,Sangat keras kepala dan sering membuat kekonyolan,terkadang mengundang tawa.Mukhlas(Bekasi) Seorang pejalan yang gemar berpuisi,pecinta kopi,tapi suka lambat tangkap.Membuat kami sering tertawa karena dia sering tidak nyambung.Tapi sekarang dia sudah waras dari penyakitnya.terakhir duet maut Berto,Andhara(Jakarta) melakukan pendakian ke Gunung Rinjani ketika bulan Ramadhan dengan gaya konyol yang sangat khas.
Orang sedikit bermimpi banyak menghayalnya
Kami menajalani Bulan Ramadhan penuh kedekatan,ini adalah pertama kali bagi kami menjalani bulan penuh berkah di Rumah Singgah.Kami berbuka puasa bersama,dan hal yang tak bisa kulupa adalah menjadi spesialis koki ketika Sahur.Kadang aku ditemani oleh bapak dan kadang oleh teman teman.Aku benar merasa seperti kembali ke kampung halamanku sendiri,kenapa? sebab disini kehangatan dari keluarga kecil yang tak sengaja bertemu menghilangkan sedikit rasa rindu terhadap rumah.

Sesekali kami bercanda,sesekali kami bertindak sebagai pendengar dan menceritakan keluh kesah kami yang terpendam,dan terkadang kami juga usil membuat mamak memarahi kami atas tindakan kami yang berlebihan.Semua rasa bercampur aduk dalam bulan penuh berkah dalam perjalananku ini.Dan saat menjelang hari terahir puasa,kami menyempatkan membuat ketupat bersama mamak dan kak Pita.Malam malam terakhir kami habiskan dengan tawa canda higga pagi menjelang.Setelah adzan Subuh kami mempersiapkan diri sebelum menuju masjid yang tidak jauh dari komplek Rumah Singgah.

Kami berjalan bersama sambil berfikir kosong yang masuk di setiap pikiran yang kalut ini.Lantaran hari besar seperti ini tidak kami rayakan bersama keluarga sendiri,saat sholat Idul Fitri dimulai aku tak bisa khusyuk seperti biasanya,ada sesuatu yang mengganajal dan itu adalah kerinduan terhadap rumah sangatlah besar.Namun tak sedikitpun rasa kerinduanku terlihat di raut mukaku yang datar seperti tak terjadi apa apa.Setelah selesai melakukan ibadah sholat kami kembali kerumah dan bertemu dengan bapak dan mamak yang sudah pulang terlebih dahulu.

Ritual sungkem kepada bapak dan mamak memint maaf dan meminta ridho atas segala perbuatan kami ketika berada di rumah singgah yang mungkin membuat bapak atau mamak sedikit geram atas tingkah laku kami.Air mata jatuh tak terbendung mengalir jatuh tanpa permisi.Suasana hening mulai pecah dengan suara suara tangisan yang ditahan oleh segerombolan laki laki yang berusaha tegar melewati moment ini.Satu persatu dari kami mulai duduk mematung di teras sambil melihat satu sama lain tanpa ada sepatah katapun.Masih ingat dengan jelas muka muka seperti kami bisa beruntung di pertemukan dan menjadi keluarga baru.
Saat berbuka puasa bersama

Ketika sibuk membuat ketupat di malam Takbir

Malam lebaran kami habiskan bersama







Cerita bertempur dijalanan,memulai dan mengakhiri menjadi kurir Online




Penutup cerita singkatku saat mengunjungi Rumah Singgah adalah saat aku memulai sesuatu yang cukup beresiko.Kenapa aku sebut beresiko? karena usaha yang kumulai bermodal nekat dan kemauan besar semata.Berawal dari obrolan malam bersama om Gun,bang Indra,Adir dan beberapa teman lainya yang tak ingat lagi siapa saja yang berada malam itu.Dari bercerita tentang layanan Ojek Online di Bali mulai beroprasi dan sangat pesat perkembangannya,tutur Om Gun di sela sela kami bercerita tentang spot jalan jalan.Karena ada pembahasan yang baru,maka kami mulai mengikuti cerita om Gun.Obrolan panjang lebar dan kami semua berandai andai jika memulai usaha itu karena kemungkinan bisa bersaing dengan para pendahulu.

Tetapi aku dan Adir berpikir lain,karena sering sekali teman teman yang ingin datang ke Lombok sedikit kesulitan dengan akses transportasi,baik dari bandara atau dari pelabuhan.Berawal dari itulah kami memikirkan bagaimana memulai dan ingin menyediakan layanan jasa Ojek Wisata.Tanggapan dari teman teman yang lain sangat setuju karena dengan adanya Ojek Wisata bisa memudahkan teman teman dari luar daerah untuk mengirit biaya transportasi perjalanan karena adanya Ojek Wisata tersebut.Bertukar pendapat dengan mereka untuk memilih apa yang sebenarnya yang akan kami buat.Sebenarnya aku sedikit ragu karena aku dan Adir sama sama bukan orang lokal,serta kami tidak memiliki kendaraan sendiri yang sedikit membuat kami enggan mencoba.

Cukup lama aku dan Adir berdiskusi memutuskan bagaimana kelanjutan semua yang akan kami mulai.Akhirnya kami berniat membuat dengan cara meminjam atau menyewa motor mamak ketika ada orang yang ingin menggunakan jasa kami.Pertama tama kami membuan brand dan mulai menyebarakan tentang kami di media sosial masing masing,serta di bantu teman teman yang ada di Rumah Singgah yang mendukung apa yang akan kami buat.Semua kandas dalam 2 minggu karena aku dan Adir yang mulai ragu dan tak sependapat lagi untuk membuat keputusan langkah kedepanya.

Akhirnya dari pada ujung ujungnya kami berkelahi,aku segera menyudahi yang kami buat dan aku sendiri menemukan ide baru yaitu menjadi Ojek online Konvensional seperti Ojek Online lainnya.Semua kususun sendiri dan kuurus sendiri segala kebutuhan yang akan kugunakan untuk membangun semua.Tapi lagi lagi kendala di keuangan yang sedikit menghambat.Aku mulai bercerita ke teman teman lainya dengan ide yang baru akan lebih berpeluang jika kubuat sekarang,lantaran di Lombok sendiri Ojek Online masih belum terdengar pergerakannya.Waktu

Akhirnya tepat 10 oktober 2016 aku memulai Ojek Online yang kuberi nama Lojek.Waktu itu aku bermodalkan motor yang dipinjami mamak dan uang pinjaman modal sebesar Rp300.000 oleh bang Eko menantu mamak.Dengan berjalan dan melengkapi semuanya sendiri aku sungguh kualahan.Bagaimana tidak,pagi pagi aku sudah harus bangun dan mulai beraktivitas menjadi Admin sekaligus pengendara mengantarkan orang atau mengantar paket yang sudah di pesan oleh pelanggan.Dari pagi hingal malam jam 11 aku terus berjalan melayani setiap orang yang melakukan pemesanan.Sekitar 2 minggu aku terus berjalan sendirian berkat motor dan uang modal menjadi penyelamat.Disaat aku sedang berjalan terkadang aku rehat di Pos ronda,minimaket,masjid hingga di salah satu rumah teman di lombok yang memulai usaha jus.Disana aku sering bertukar pendapat saat aku mengalami kendala atau sesuatu yang tak bisa ku selesaikan sendiri.Akhirnya di minggu ketiga aku mendapat angin segar saat ada 2 mahasiswa yang melamar dan bergabung bersama Lojek.

Aku sempat tak percaya jika ada orang yang ingin bergabung dan bekerja sama untuk membangun usaha yang sedang kurintis ini.Tak perlu berpikir panjang,di awali pertemuan singkat di salah satu minimarket akhirnya aku memutuskan merekrut mereka.Kami berjalan bersama selama kurang lebih 1 bulan.Di bulan ke-2 ada 2 orang  laki laki dan disusul oleh 1 perempuan yang melamar pekerjaan.Rata rata semua adalah mahasiswa dari universitas besar yang ada di Lombok.Aku semakin bersemangat dan mulai mengurangi aktivitasku di lapangan dan beralih ke balik layar mengurus segala kebutuhan Lojek mulai dari pengiklanan hingga hal hal kecil lain nya.Aku berpikir tak semua bisa ku kerjakan secara bersamaan,aku memutuskan untuk mencari 1 orang lagi yang bisa membantuku menjadi Admin.Agar aku bisa mengerjakan tugas yang lainya agar Ojek Online ini semakin dikenal banyak orang.

Pekerjaanku sekarang mulai berkurang satu persatu.ya terkadang masih saja ada pertanyaan atau kritik dan saran yang masuk di kotak pesan handphoneku,tak membuat aku mundur dari semua ini.Tak terasa 3 bulan berjalan usaha yang aku mulai dan sedikit memberiku sebuah rasa kepuasan.Semua menjadi sempurna karena baru pertama kali ini aku memulai usaha dan bisa membantu orang,seperti teman teman yang bisa mencari penghasilan dari kera paruh waktu menjadi Ojek Online.Di bulan ke-3 juga aku sempat hilang menuju Ambon untuk kegiatan Donasi buku dan pohon serta pendakian ke Gunung Binaiya selama kurang lebih 2 bulan dan 1 bulan lagi aku menyambangi Bima dan Sumba.Untuk Bima sendiri aku ingin langsung melihat bekas musibahBanjir yang menerjang Kota Bima di Akhir tahun kemarin,serta membagikan sedikit buku amanah dari teman teman yang ada di Jawa.Dan di Sumba sendiri aku dan teman teman juga membagikan buku sisa dari Bima sekaligus menghadiri acara festival adat yaitu Pasola(akan ada cerita tentang Pasola di Postingan berikutnya)

Setelah acara di Bima dan Sumba selesai aku kembali menuju Lombok dan lagi lagi aku menuju Rumah Singgah untuk meneruskan semua yang aku mulai.Sekarang aku tidak sendiri,melainkan mendapat teman yang satu pemikiran yaitu Doni (pertama kali bertemu saat perjalananku singgah di Malang).Setiap hari aku dan Doni membahas tentang Lojek.Doni yang begitu antusias atas apa yang sedang berjalan ini membuat aku kagum,karena setelah ia wisuda otomatis tidak langsung bekerja.Sampai sampai kami berdiskusi panjang lebar untuk pemasaran Lojek kedepanya seperti apa dan tindakan bagaimana lagi yang akan kita lakukan.Disaat saat aku dan Doni sedang gencar gencarnya menyusun rencana,musibah lagi datang menghampiriku.Handphone yang ku dapat dari penghasilan menjadi Ojek Online Rusak parah dan mengakibatkan kinerja kami sedikit terhambat.Akhirnya aku menggunakan laptop Doni untuk mengurus segalanya.

Aku dan Doni berdiskusi dan akan mengajak 2 orang teman Doni yang berminat bergabung dan mempunyai misi yang sama yaitu Ivan dan Dhiffa.mereka mempunyai keahlian di bidang masing masing seperti,IT Design Grafis dan strategy Marketing.Kami berempat segera meregenerasi tampilan Lojek menjadi baru dengan mengganti design Logo.Walau sebenarnya aku sedikit untuk berucap menyetujuinya karena dengan logo itu aku bisa mengenang perjuanganku dulu.Tapi keputusan segera dipilih dan aku tetap mecoba meluruskan misi dan menyetujuinya.

Semakin lama semakin terasa perubahan yang di alami Lojek,aku sangat senang sekaligus bangga karena mendapatkan tim yang sesuai.Tapi,di sisi lain aku merasa hanya tinggal ragaku saja yang ada di dalam tim ini dan pikiranku entah melayang layang kemana.Sampai ketika di minggu selanjutnya aku mendengar bahwa mereka bertiga berniat untuk mewujudkan Aplikasi untuk Lojek sendiri.Aku sempat kaget dan bingung harus berucap apa atas kejutan ini.Aku sungguh senang apabila itu bisa diwujudkan,karena sebuah pencapaian besar yang baru pertama kali aku rasakan.Ya walau aku tidak andil semua disana,karena aku sendiri tidak mempunyai modal untuk membuat Aplikasi itu.

"Dari biru bermetamorfosis menjadi merah"
Lojek dengan LOGO yang baru dan sebentar lagi akan mempunyai Aplikasi

Jadi semua yang sedang di susun untuk program Lojek kedepanya adalah dana pribadi dari teman teman.Aku mulai sedikit merasa malu sekaligus minder atas tak berdayanya aku untuk bersumbangsi demi membesarkan Lojek.Sampai sampai aku mendapat pinjaman sebuah Handphone karena aku tidak memiliki Handphone lagi untuk berkomunikasi dengan mereka.Setelah beberapa hari berjalan aku mulai berfikir untuk mundur dari semua yang aku bangun sejak 6 bulan yang lalu.

Dengan pertimbangan yang matang di sela sela aku tetap terjaga di malam hari hingga menuju pagi.Aku sudah mendapat keputusan terbaik dari yang paling baik.Agar semua bisa merasakan tidak ada yang dirugikan aku mengirim sebuah pesan di grup dan bertemu dengan Doni.Lalu aku memberitahu alasan kenapa aku mundur dari tim dan tidak berkecimpung lagi di usaha Ojek Online ini.

Doni sedikit kecewa dan menyayangkan atas keputusanku,tapi sungguh aku sendiri tidak tau kenapa diriku seperti itu.Karena aku hanya mengikuti kata hatiku saja.Akhirnya aku mundur dengan baik baik dan berdoa mereka bisa melanjutkan kerja kerasku saat aku merintisnya dulu.Dan sekarang aku hanya fokus mencari sebuah alasan untuk PULANG.

Seperti itulah rangkaian cerita selama aku datang dan pergi mengunjungi dan tinggal di Rumah Singgah.Banyak suka dan duka yang mengisi drama setiap aku pergi berkunjung

Terima kasih untuk Bapak dan Mamak kak Iwan,kak Pita,bang Eko,bang Yong,kak kustini,bang sobah, yang selalu bersedia menerimaku walau terkadang banyak kekuranganku saat berada di Rumah
Terima kasih atas segala cerita yang pernah terjadi di dalam kehidupanku.

baca juga Tips : 5 Tips Liburan Jangka Panjang

No comments:

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.