Menembus Indonesia Timur (Part 2) " 9 HARI MENUJU MERAUKE "



Ketika mengarungi lautan dan berjumpa daratan dari yang terkecil hingga daratan terbesar kini dapat diwujudkan selama 9 Hari dalam perjalanan Mencoba mengelilingi Indonesia

Menuju perbatasan di Indonesia Timur apakah mungkin? seperti mimpi yang melayang layang tanpa kepastian.Namun apakah semua itu tidak mungkin terjadi jika sebuah keberuntungan selalu menghampiri dalam pengembaraan yang ingin mewujudkan mengelilingi Indonesia


Hari Pertama Detik detik yang menegangkan saat mengawali langkah kaki memulai perjalanan mengarungi lautan Indonesia bagian timur.Hari pertama Perjalanan di mulai dari Labuan bajo menggunakan KM.Sirimau dengan biaya Rp699.000 menuju Merauke.Kejutan dengan ajakan bang Hardi untuk menemaninya menembus perbatasan adalah kejutan dari perjalanan mencoba mengelilingi Indonesia di bulan kelima.Kejutan itu berawal pertemuan di Sumba dan berkat uang Rp20.000 untuk membeli kopi dan tercetuslah ide gila menjadi keberuntungan ini.

Setelah menemani bang Hardi mengelili kepulauan Komodo kami kembali ke Labuan bajo jam 5 sore setelah dari pulau Kelor dan segera membeli tiket kapal di loket pelabuhan.Akhirnya tiket sudah di genggaman tangan,kami berlari lari menuju dermaga karena bunyi bel kapal sudah 3 kali.Pertanda kapal akan segera meninggalkan pelabuhan dan segera berlayar mengarungi lautan Indonesia.Langkah kaki semakin tak beratur,nafas tersengal sengal beradu dengan detik detik terakhir mengejar tangga yang akan di naikan merapat ke badan kapal.

Aku mulai bisa bernafas lega saat kaki mulai mendapati tangga menuju ke atas ke deck kapal.Pelan pelan kami mulai berjalan masuk ke deck dan mencari tempat kosong untuk tempat peristirahatan kami selama perjalanan 9 hari menuju Merauke.Tepat jam 18:30 WITA kapal bergerak menjauh meninggalkan Labuan bajo dan berlayar menuju perairan utara pulau Flores.Hari semakin gelap,dan sinar lampu semakin tak terlihat.Hanya meninggalkan bintang dan bulan yang menemani kami berlayar.Cukup lelah berputar mencari tempat yang tepat dan nyaman.

Akhirnya kami mendapat tempat di deck 5 bagian tengah yang dekat dengan kamar mandi umum,serta kami memilih bagian ujung dekat dengan jendela agar kami tidak bosan untuk sesekali menjenguk keluar dan melihat lautan yang luas.Kondisi kapal waktu itu cukup ramai,penumpang dari pelabuhan sebelumnya seperti Makassar,Bima,dan Labuan bajo cukup banyak.Rata rata banyak yang mudik karena ingin mengikuti acara Paskah waktu itu.Malam semakin larut dan mata tak kunjung padam,sesekali aku keluar untuk menghirup udara dingin dari malam pertama perjalananku yang lama menggunakan transportasi laut.Sempat bertanya dalam hati,apakah aku kuat? selama 9 hari apa saja yang akan aku lakukan? karena aku belum pernah merasakan pengalaman seperti ini.

Gumamku dalam hati yang bergejolak dan ada sedikit ketakutan dan rasa jenuh mulai menggerogoti benakku.Aku mencoba menepis semua dengan cara duduk berdiam diri di bagian luar kapal sembari menikmati rokok berbatang batang.Terjebak dalam besi baja yang mengapung berlayar di lautan lepas selama berhari hari memberi tantangan tersendiri bagiku dalam perjalanan bulan kelima waktu lalu.Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12 malam,aku mulai masuk dan mencoba tidur di tempat tidur dan menikmati ayunan gelombang yang menimangku memasuki mimpi.Memaksa mata untuk terlelap sangatlah susah,ada rasa gelisah namun tak mengerti kenapa.Aku mencoba menenangkan diri dan membuat merasa senyaman mungkin diantara hening didalam deck.

Hari kedua dimana hari yang paling menyedihkan dan hal cukup memukulku dengan telak.Salah satu benda berharga raip di ambil pencuri yang biasa berkeliaran di kapal kala aku sudah tertidur pulas.Satu satunya benda berhargaku menjadi cara aku berkomunikasi dengan banyak orang,dan aku sebut handphone telah pergi dengan terpaksa dariku.Sebenarnya aku masih terbalut dari mimpi,setengah sadar dan tidak sadar aku mencoba memeriksa dan mencari di sekliling bagian aku tidur.Tapi aku tak kunjung menemukan handphone semata wayang itu.Aku sempat bertanya ke penumpang sekitar dan mereka menjawab tidak ada.

Aku tidak bisa menuduh sembarang orang karena banyak penumpang dan tak mungkin aku memeriksa satu persatu.Segera aku menuju kamar mandi dengan mencuci muka,lalu melapor ke kantor security dan mengadukan musibah yang sedang mengunjungiku.Setelah berbicara panjang lebar dan menceritakan kronologisnya kepada mereka,aku sedikit merasa lega.walau kepastian handphoneku sangat sulit untuk di ketemukan,ya harapan sekecil apapun ku harapkan.Ada rasa berat mencoba mengikhlaskan.sebab,disanalah aku sering menghubungi banyak orang serta disanalah aku terkadang melepas rindu dengan melihat foto nostalgia di iringi musik kesukaan.

Namun,sekarang hanya ada kehampaan yang di terlantarkan oleh cobaan untuk mengikhlaskan sesuatu pergi entah datang atau kembali lagi kepadaku.Kepalaku terasa berat memikirkan cobaan kali ini,tak ingin aku berlama lama di kantor security dan berjalan kebawah menuju deck yang aku tempati sembari memikirkan musibah telak menimpaku hari ini.Aku hanya termangu diam dengan tatapan kosong melihat langit langit deck kapal dan memikirkan perjalanan kali akan seperti apa jadinya.
Gunung Api yang berada dekat dengan pelabuhan Larantuka

Tepat jam 9 pagi kapal mulai mendekat ke sebuah dermaga yang berada di bawah kaki gunung.Pemberhentian pertamaku dalam perjalanan kali adalah Larantuka,Banyak penumpang yang turun dan naik disini.Kapal tidak terlalu lama bersandar lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.Waktu makan siang telah tiba,setelah salah seorang awak kapal memberi informasi untuk mengambil makanan di pantry dan mengantri dengan rapi.Aku mengabaikan suara itu dan tetap memikirkan dan bercerita dengan bang Hardi atas musibah yang datang menghampiriku.Mungkin karena melihatku agak murung,bang Hardi  berjalan untuk mengantri mengambil jatah makan siang kami yang di sediakan oleh kapal.

Tak berapa lama bang Hardi datang dengan membawa 2 kotak nasi dan 2 botol air mineral kemasan kapal.Aku diajak untuk makan bersama.Awal mulanya aku menolak karena belum lapar,tapi bang Hardi mengajakku untuk makan bersama dan mencoba melupakan sedikit permasalahan yang ada.Akhirnya kami berdua makan dengan menu nasi,ikan rebus dan sayur ya walau rasanya bisa dibilang "maaf" tidak ada rasa alias hambar.Tetapi aku tetap mencoba memakan dan menghabiskan nya.

Tak mungkin aku memilih menu makanan apa yang enak hari ini.karena ini sudah pelayanan yang di berikan oleh kapal,aku hendak membeli makanan yang sedikit berasa jelas tak mungkin.Aku tak mempunyai uang sepeserpun kecuali uang Rp20.000 jaman dulu yang sobek,serta uang logam Rp500 yang menjadi penunggu di dalam dompetku.Aku hanya sanggup mengelus dada sekaligus berdoa kepada Tuhan "Ya Tuhan semoga ini adalah perjalanan yang Engkau berkati,amin".Detik terus berganti,namun aku terus terhanyut dalam lamunan.
Kondisi pelabuhan Kupang saat malam hari
Tapi aku mencoba untuk mengikhlaskan semua menjadi penghias perjalanan dan menganggap bahwa perjalanan kali ini sebanding dengan nominal barangku yang hilang meninggalkanku terombang ambing dilautan.Waktu lebih banyak kuhabiskan dengan membaca buku di dalam ataupun di luar deck.Aku mencoba membangun komunikasi dengan beberapa orang yang kujumpai.Saling melempar pertanyaan dan mencari tau cerita cerita mitos yang ada di tempat tinggal mereka ternyata sangat mengasyikkan.Banyak waktukku terbuang dengan cepat dan tak terasa hari semakin gelap dan kapal mulai mendekat di pelabuhan Kupang tepat jam 10 malam.

Suasana pelabuhan Kupang saat malam hari terlihat ramai sekali dengan penumpang yang akan naik maupun turun.Di  kejauhan bergemerlap lampu lampu kota.ah sangat menyayangkan tidak bisa menjelajah di pulau Timor ini.Lagi lagi aku mencoba mengikhlaskan dan masih mempunyai alasan untuk kembali ke Kupang untuk mencari tau semua yang ingin kudapatkan.Kapal bersandar sekitar 3 jam dan akan melanjutkan perjalanan saat dini hari.Penumpang dari pelabuhan Kupang cukup banyak dan hampir mengisi penuh di seluruh deck yang ada.Kondisi di dalam kapal mulai tak terkendali,suara musik yang keras saling beradu,asap rokok mengepul menyelimuti setiap jengkal deck tanpa ampun dan paling klimaks adalah seluruh bau tercampur menjadi satu kesatuan hingga tak mampu ku gambarkan lagi seperti apa kekacauan perjalanan kali ini.

Hari ketiga perjalanan menuju pulau Alor dengan tenang dan kurang ada guncangan dari gelombang.Waktu yang kami tempuh cukup cepat sekitar 14 jam sampai di pelabuhan.Sesekali aku mencoba berjalan menghampiri kerumunan dan ikut bergabung bercerita,walau aku lebih banyak mendengarkan mereka bercerita dengan logat tak kumengerti tetapi aku  ikut tertawa juga bila mereka tertawa.Sesekali aku juga mencoba mereka mencicipi sirih pinang,bibir merah berwarna darah dengan rasa yang cukup aneh tapi aku suka mencoba sesuatu yang baru.Waktu tak terasa berjalan dengan cepat dan tiba tiba kapal masuk ke teluk yang sangat dalam.Semula aku tak pernah tahu bagaimana bentuk pulau Alor sebelumnya.hanya cerita tentang legenda dan mitos disana yang kental yang dulu mejadi dongengku kala masih kecil.Maklum dulu aku mempunya tetangga orang NTT dan meceritakan tentang mitos yang tersebar disana.Kapal mulai memperlambat kecepatan nya seiring memasuki teluk lebih dalam.
Perairan teluk Kalabahi Alor yang begitu sunyi

Di kejauhan terlihat sosok yang keluar dari air bergerak bergerombol.Suasana sepi dan agak berbeda langsung menjadi salam pembuka selamat datang di pulau Alor.Aku merasa penasaran dan mulai memperhatikan dengan seksama.Ternyata semakin lama semakin jelas.Aku mengetahui yang sebenarnya sosok yang mulai mendekat.Beberapa gerombolan Lumba-lumba datang mengantar kami menuju pelabuhan.Sore yang begitu indah kala gerombolan Lumba-lumba lain hadir mengiri kami di sebelah kiri dan kanan.Pengalaman yang luar biasa untuk pertama kalinya saat berlayar mendapat kejadian seperti ini.Semua hal yang terjadi seperti sebagai obat penawar lara akibat musibah yang melanda.

Dekat dan terus mendekat,pelabuhan Kalabahi di Alor yang tampak sangat sunyi mendadak berderet orang menunggu kedatangan kapal.Perlahan dengan sedikit arahan dari Captain para ABK mulai mengatur kapal sebaik mungki.Ada rasa aneh yang mengeluarkan aura sedikit berbeda dengan tempat lainya.Ya Alor begitu sangat sunyi dan jarang terjamah oleh wisatan Lokal maupun Internasional,ada beberapa orang untuk pergi diving tapi untuk menjelajah sepertinya masih sedikit.Waktu sandar yang cukup lama membuat rasa penasaran ingin di lampiaskan.Ketika kaki pertama menginjakan di daratan Alor ada rasa kagum dan tidak percaya,karena untuk menuju pulau ini hanya impian semata dan di bentuk indah dalam mimpi dan cita cita.namun,sekarang angan angan itu terbukti nyata dan sangat sulit untuk memepercayainya semua ini benar benar teradi.perlahan aku mulai beranjak dari are pelabuhan dan menuju di sudut jalan di Kalabahi.

Mata mulai menerawang setiap sudut jalan,disana banyak terdapat bangunan bangunan tua yang kosong dan sedikit sekali aktivitas warga sekitar.aku terus berjalan menuju ke sisi lain jalan sekaligus mencari beberapa perbekalan berlayar selanjutnya.Hanya ada beberapa toko yang buka dan itu pun tidak lengkap,ditambah aku cuma menemukan 1 kantor bank yang sedang tutup.semua terasa seprti kota mati waktu itu.Cukup puas menikmati setiap sudut jalan dan loron di dekat pelabuhan,aku segera menuju kembali ke pelabuhan dan naik lagi ke atas kapal.Malam mulai datang,dan kapal belum juga meninggalkan pulau Alor yang bersinar redup dengan cahaya minim dari setiap bangunan.

Akhirnya jam menunjukan pukul setengah 9 malam Wita kapal mulai berjalan pelan menuju pemberhentian selanjutnya.Lega rasanya mendengar pengumuman kapal akan segera berjalan kembali karena aku mulai merasa sedikit jenuh dengan kondisi sekarang dengan segala keterbatasan.

Hari keempat saat matahari sudah merangksek naik ke permukaan aku mulai bangkit dari tidur yang nyenyak.Segera aku berjalan menuju kamar mandi umum dan membasuh muka dan menggosok gigi.Usai dari kamar mandi aku mengambil jatah makan pagi yang sedari tadi bang hardi ambil.Lagi lagi makanan khas kapal yang hambar sepetak nasi putih,sebutir telur dan secolet sambal ala kadarnya menjadi santapan pagi.

Aku mulai terbiasa dengan kudapan ala kapal ini yang semua serba ada dan sangat sederhana.setelah menghajar habis makanan,aku mencoba berjalan keluar deck untuk menikmati kopi dan merokok.sesampainya diatas aku melihat sekeliling,yang aku tangkap oleh mata hanya air dan langit semakin jauh mereka semakin dekat dan menyatu.

Tak nampak tanda tanda daratan yang akan kujumpai hari ini.Aku mencoba bertanya kesalah satu penumpang yang ada di deck atas,ia bernama pak Cahyo seorang bapak yang membawa ayam jago banyak dan sekaligus mencoba menjual ayamnya diatas kapal.ternyata perjalanan kali ini lumayan lama,yaitu 1 hari lebih dari Alor menuju Saumlaki.Ditengah tengah cerita dengan pak Cahyo aku juga ikut memberi makan ayam dan memandikan nya,karena tidak ada kesibukan lagi dimana aku telah kehilangan barang berhargaku Handphone jadi cara mengatasi kekosongan waktu dengan bercengkrama dan bersosialisasi dengan mereka.Setelah selesai memandikan ayam,aku berpamitan dan berjalan masuk untuk mencoba istirahat.Ditengah tengah jalan aku melihat orang yang sedang main catur.Aku mencoba melihat lebih dekat.ternyata pertanrugan sengit dari bapak bapak itu.

Disebelah mereka ada juga yang sedang mencermati dan memakan sirih pinang dengan lahap.Aku tertarik dengan warna ciri khasnya merah darah membukungkus mulut dan senyum ketika mulut terbuka.Kuberanikan diri untuk mendekat dan mencoba meminta untuk merasakan nya sensasi sirih pinang di kapal.Ternyata aku di sodorkan sebuah kotak yang berisi sirih dan pinang muda.Dengan sigap aku mengambil satu persatu dan ku telan dengan lahap.tak lupa aku mengambil kapur yang kutuang di tangan kiriku.

Sembari melihat permainan catur dan menikmati sirih pinang bersama orang oranga dari Kupang dan Alor membuat aku merasa semakin dekat warga lokal.Tak ada beda dan batas antara suku satu dan yang lain.Sesekali kami tertawa terbahak bahak karena mereka melontarkan kata kata konyol dan lelucon yang kadang menggelitik perut dengan aksen mereka.Hari hari di perjalan sekarang bisa aku nikmati dengan santai.
Sunset indah saat Perjalanan  menuju Saumlaki melintasi laut Banda


Perjalanan mengarungi laut semakin kunikmati setiap detiknya.Dan tak terasa hari sudah mulai menggelap,aku mengundurkan diri dan pamit menuju ke atas untuk menikmati pemandangan sunset di lautan.Akhirnya aku bisa menikmati sunset yang  begitu indah diatas laut Banda.tak ada tanda tanda buruk atau gelombang akan terjadi hari ini dengan sajian indah pengantar malam menuju kepualuan Maluku Tenggara Barat.Malam yang tenang dan aku sudah semakin terbiasa dengan kehidupan baruku dalam besi baja mengapung dilautan ini.Sesekali aku main kartu,catur,mendengarkan lagu,bercerita dengan berbagai orang yang baru naik dari setiap pelabuhan dan terkadang juga aku tak lepas dari lamunan,sedang melakukan perjalanan apakah aku ini.Hari kelima tepat sesudah sarapan kami bersandar di Saumlaki,pertama kalinya aku menginjakan kaki di tanah kepulauan Maluku ini.

Di sekitar pelabuhan tidak terlalu ramai,melihat kondisi pelabuhan yang sedang mengalami renovasi lebih besar serta jalan menuju keluar pelabuhan tidak jauh membuat saya tertarik untuk melihat sejenak pesisir pulau ini.Kali ini kami berjalan langsung menuju ke pasar yang tidak jauh dari pelabuhan.Pasar ini tidaklah terlalu besar,hanya ada beberapa toko sembako yang buka dan dimoninasi oleh para penjula ikan hasil tangkapan mereka sendiri.Kami tidak berlama lama karena barang yang kami cari sudah terbeli dan bergegas menuju ke salah satu rumah makan untuk membeli makanan,ajakan bang Hardi yang "sudah rindu masakan nyata di darat" begitu bunyinya sembari tawa yang menghiasi raut mukanya.Menu siang itu kami putuskan untuk menikmati sajian nasi campur,ya meskipun hanya nasi campur sudah cukup menjadi penawar rindu akan aroma daratan bagi kami walau harga nya cukup mahal kami memaklumi semua.

Perut sudah terisi penuh dan kami kembali menuju kapal dan beristirahat menikmati kepuasan sajian di Saumlaki.Rasa jenuh semakin lama semakin hilang,yang ada hanya ada rasa penasaran dan kepastian sampai kapan aku terombang ambing lautan Indonesia Timur ini.Semua kunikmati dengan bergumam ini adalah cobaan dan tantangan tersendiri bagimu,jadi kau harus melewatinya.Tak ingin berlarut dalam menunggu perjalanan ini usai,aku terus mengisi waktu kosong dengan tidur sepanjang perjalanan.

Ketika bangun selalu berjalan keluar untuk menghirup udara yang bersih setelah udara yang pengap dan tidak sehat yang terkumpul di dalam deck kapal.Sesekali aku terpaku mengamati sekitar,melihat orang berkeliling berjualan menjajakan barang dagangan nya tanpa bosan,ada yang suka bergaya layaknya kapal ini tempat saling unjuk gaya,ada yang suka diam duduk di bangku sembari menulis,ada yang melamun dan masih banyak aktivitas yang kuamati dan terus terjadi berulang kali setiap harinya.

Terkadang aku berfikir,jika kehidupan dunia kita hanya sebatas kapal layar ini bagaimana? apakah orang akan tetap bertahan? atau semakin hari banyak yang frustasi lalu saling menghakimi? sekilas pikiran yang aneh masuk dalam lamunanku saat menatap kosong laut yang terpecah oleh kapal.Senja semakin lama semakin dekat,terlihat saat guratan awan perlahan merubah bentuk dan warnanya.Sunset yang tak pernah bosan menghiburku kali ini.Matahari terbenam di perairan laut Banda menjadi saksi perjalanan menuju Tual Kei hari ini.
Sunset saat perjalanan menuju Tual,Kei di laut Banda

kami tiba di pelabuhan Tual,Kei tengah malam,sekitar jam 11 malam kami merapat di pelabuhan yang sangat bersih dan rapi bagiku,Selama mengunjungi beberapa pelabuhan,disinilah menurutku paling bagus pelabuhannya.ya walau tak sebesar kota lain,tapi Tual mempunyai cara tersendiri untuk menunjukan keberadaan kota kecil ini.Kondisi malam memaksakan aku tidak bisa melihat keindahan di Tual ini,tetapi bagiku Kei menyimpan banyak cerita yang harus kucari tahu.sebab konon Kei mempunyai leluhur dari Bali yang semakin membuat aku penasaran.

Tak berlama lama kami berada di pelabuhan Tual,Kei.Hari keenam Malam membuat perjalanan terasa semakin cepat dan tak terasa kapal sudah berada di tengah tengah lautan Papua Barat menuju Timika.perjalanan menuju Timika sekitar 1 hari lebih jarak yang cukup jauh yang kami tempuh keluar dari perairan laut Banda.Banyak penumbang yang akan turun di Timika,sebagian orang asli sana,dan sebagian lagi banyak juga yang merantau mengadu nasib di tanah Papua.

Saat perjalanan menuju Timika aku mencoba mencari teman baru untuk mencari tau tentang Papua lebih banyak lagi,sembari mengisi kekosongan waktu sebelum sampai disana.Banyak sekali cerita tentang mereka yang jarang disorot oleh media,seperti perang antar desa yang hampir setiap minggu terjadi dan suasana yang kurang kondusif sering terjadi di Timika membuat saya cukup takut mendengar sekaligus membayangkan apabila berada disana saat itu semua terjadi dengan keadaan rusuh.

Mungkin tak akan aku ceritakan lengkap karena cerita mereka sedikit tabu dan tidak untuk konsumsi orang banyak maka aku berkenan menyimpan cerita detailnya untuk diriku pribadi.Hari ketuju Kami sampai di pelabuhan Timika sempat mengalami kendala sedikit,jika air laut surut maka kapal tidak bisa sandar dan harus menunggu beberapa jam hingga air naik kembali.kapal masih memasang jangkar di tengah tengah laut untuk beberapa jam.

Kejadian ini baru aku pertama kali saat melakukan perjalanan.Hampir kurang lebih 3 jam kami menanti air pasang akhirnya bisa bernafas lega.captain mendapat kabar dari pelabuhan dan kapal sudah bisa sandar merapat dengan perlahan melewati perairan.Suara dari operator menandakan bahwa kapal berhasil sandar dan siap menurunkan dan menaikan kapal.banyak sekali yang turun di Pelabuhan Timika,orang mudik,orang yang berjualan tumpah ruah menghiasi pelabuhan.

Kapal menginfokan bahwa tidak sandar lama lama,karena takut air surut kembali dan terjebak lama maka aku tidak turun dan hanya mengamati dari atas kapal saja.Hanya waktu 2 jam kami berada di Timika dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Agats yang jarak tempuhnya hampir sama kurang lebih  1 hari mengarungi laut Arafuru.Disini lagi lagi aku menemukan fakta yang cukup unik,banyak orang baik muda atau sudah tua naik tanpa membeli tiket menuju Agats ataupun ke Merauke.Mereka kadang bersembunyi di Sekoci atau tempat tempat yang cukup berbahaya,hanya untuk menyelamatkan diri mereka dari pemeriksaan tiket atau denda di atas kapal yang cukup mahal jika mereka tertangkap oleh petugas.Perjalanan aku bunuh dengan tidur dan berharap terbangun sudah sampai di pelabuhan berikutnya.Rasa was was dan rasa akan bau tanah sudah akut menyelimuti pikiranku.Seperti inikah rasanya menjadi pelaut yang setiap hari hanya air sejauh memata memandang serta terpaan gelombang yang sangat kuat dan bisa membunuhmu kapanpun ia mau.Bayang bayang seperti itu yang sering terlintas di dalam kepalaku dan mengantar diriku masuk alam tidurku.
Kondisi di dalam deck kapal saat menuju Merauke
Hari kedelapan kami sampai di Agats sekitar jam 10 malam,Kondisi pelabuhan sekaligus kota yang unik.Kenapa aku bilang unik,karena di kota ini adalah kota terapung,seluruh aktivitas masyarakat disini menggunakan kapal kecil atau ketinting karena kota Agats sendiri berada ditengah tengah rawa yang sangat luas.Maka dari itu kenapa kota ini sangat unik dengan bangunanya menggantung diatas rawa dan hanya ada jalan papan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lainya.Kapal merapat dengan mulus dan sekejap tangga turun menghubungkan kapal dan sisi dermaga.

Banyak sekali penumpang yang turun sama halnya di Timika waktu lalu.Tapi ada satu tragedi dan kebiasan yang cukup mengerikan,karena jika kalian pernah melintasi di kawasan Timika menuju ke Merauke akan mendapati sedikit keributan di Agats.Saat kapal mulai menurunkan tangga,banyak sekali penumpang turun malam itu dengan berbagai macam bentuk bawaan yang mereka.Sesaat semua penumpang turun dan naik,pemberitahuan kapal akan berangkat dengan tanda bel berbunyi 3 kali beberapa orang merapat ketepi anjungan untuk mengucapkan salam dan melambaikan tangan untuk berpamitan.Lalu kejadian yang langka sangat mengejutkanku saat detik detik kapal mulai menjauh dari pelabuhan.Dari bermula lambaian berubah jadi lemparan lemparan beringas tak terkendali.Mulai batu,botol,kayu sampai kotoran muncul dari bawa dilempar ke arah kapal secara acak mengenai para penumpang yang tak mengetahui kejadian itu.Ada beberapa yang memar,ada yang jatuh mengenai pagar pembatas dan ada juga menunduk menghindar secara spontan.

Melihat serangan dari bawah,orang orang diatas kapal balik menyerang dengan barang seadanya saja.Kejadian ini berlangsung begitu mencekam karena seperti ada dendam pribadi dari masing masing orang.Kapal akhirnya berhasil menjauh dan peperangan ini berakhir meninggalkan dendam bagi para masing masing yang terlibat tragedi perang.Karena ternyata dendam mereka sudah terjadi sejak lama dan terus berlanjut jika ada kapal yang melintas maka mereka akan memulai pertempuran mereka kembali.Akhirnya kapal bergerak menuju titik akhir perjalanan melintasi lautan Indonesia Timur yaitu Merauke.Perjalanan dari Agats menuju Merauke kurang lebih sama,sekitar 1 hari lebih memutari pulau Yos Sudarso.Malam malam terakhir kunikmati dengan mata tetap terjaga,kubuat segelas kopi dari air panas yang kuambil di dekat pantry yang disediakan oleh kapal.Segelas kopi dan beberapa rokok menikmati cuaca cerah penuh bintang menghiasi perjalanan ini.Kira kira waktu sudah mulai beranjak pagi,aku masuk dan mencoba meluruskan badan dan berharap ketika bangun kapal sudah sampai dan sandar di pelabuhan Merauke.

Ternyata benar,doaku terkabul dan bangun sudah sangat siang dan cuaca cerah sekali.Aku melihat jam sudah menunjukan jam 1 siang,dan beberapa jam lagi kami akan tiba di pelabuhan.Aku segera mandi dan mulai merapikan barang bawaanku dan memastikan bahwa tidak barang bawaanku yang hilang lagi untuk kesekian kalinya.Daratan mulai terlihat,aku terus berdoa agar kapal berjalan secepa mungkin dan semua menjadi lega.Kapal mulai dekat dan kami akhirnya sandar sekitar jam 4 sore.

Kami mulai mengantri dan berjalan menuju pintu keluar mengikuti para penumpang lain yang juga turun.Lagi lagi sebuah kejutan kami dapatkan setalah sampai di darat,kami mendapat ajakan dari teman yang kenal sewaktu di atas kapal bernama Irma.Ia menawari kami untuk menumpang kerumahnya sebelum menuju Sota di perbatasan Merauke-Papua Nugini.TAk butuh waktu lama kami untuk memutuskan dan segera ikut dengan Irma yang sudah sedari tadi ditunggu oleh ayah dan adiknya yang menjemput menggunakan mobil pick up.Semua barang kami naikan dan mulai meninggalkan pelabuhan dan menuju rumah Irma di kawasan kota.Ternyata kota Merauke kecil dan menenangkan,berbeda sekali dengan bayanganku yang pelosok dan masih sepi.

Perjalanan menuju rumah irma sekitar 15 menit,dan tak terasa kami sampai dirumah dan dipersilahkan masuk sekaligus diperbolehkan menginap di rumah keluarga Irma.Rumah yang begitu sederhana dan begitu ramah,saat malam hari kami diajak makan bersama sambil bercerita tentang kota Merauke yang begitu tenang danak pernah tersorot media bagaimana keindahanya.Kami tertawa dan bercerita panjang lebar melewati malam pertama di darat dan di tujuan yang tak direncanakan ini.Malam semakin larut,kami pamit mengundurkan diri dan segera beristirahat karena besok pagi kami akan ditemani Irma menuju perbatasan Sota menggunakan motor.Keesokan paginya kami bangun dan mempersiapkan segala kebutuhan yang kami perlukan dan tak lupa sarapan terlebih dahulu dengan masakan khas mama.Memakai 2 motor kami bertiga bergerak menuju Sota sekitar jam 9 pagi,dan keunikan yang kami temui adalah jalan lurus sangat panjang seperti tak berujung.Perjalanan kami menuju Sota sekitar 45 menit,kami melewati taman nasional yang banyak ditumbuhi pohon kayu putih.
Jalan menuju perbatasan Sota seperti tak berujung
Pintu gerbang sebelum memasuki tugu perbatasan

alat traditional masyarakat untuk berburu kanguru dan hewan liar lainya

Sesampainya di Sota,kami di pertemukan simpang tiga dan ada berdiri tugu yang menandakan perbatasan.
Di tugu itu ada sebuah tulisan tapi karena sudah tidak terlalu jelas maka aku tidak terlalu bisa mengingatnya.Dari simpang tiga itu kami masuk menuju perbatasan sekitar 3KM menuju pos yang dijaga tentara,setelah mengisi buku tamu kami di persilahkan menuju perbatasan.Sebelum memasuki perbatasan kami mendapati tugu yang bertuliskan "IZAKOD BEKAI IZAKOD KAI" selogan kota Merauke tertera di tengah tengah tugu tersebut.Disamping ada beberapa pondok mama mama yang menjual berbagai cindera mata khas perbatasan seperti alat berburu,kuku kanguru dan beberapa pernak pernik khas sana.

Kaki mulai melangkah menuju tugu perbatasan,jalan lurus sekitar 50M kami lewati,ada beberapa tempat duduk,ada juga pengunjung lain yang sedang kesana.Aku mulai berjalan memisah diri dan menuju ke salah satu titik dimana ujung sebelah timur Indonesia di depan mata.Aku menghela nafas pelan pelan,dan membayangkan semua kejadian ini begitu cepat dan seperti mimpi melihat langsung perbatasan.Tanganku mulai memegang tugu sembari memejamkan mata menikmati setiap hela nafas yang kupanjatkan rasa syukur yang teramat dalam atas kejutan yang begitu besar dalam perjalananku di bulan ke 5 ini.Tak kuasa aku menahan air mata yang mengalir membasahi pipi.Aku bukan nya malu tetapi air mata ini sebuah ungkapan jujur perasaanku kala itu.
Tugu perbatasan Merauke - PNG

Kawasan perbatasan di Sota


Bercanda bersama adik adik Perbatasan Sota

aku sempat menangis tersedu sedu atas perjalanku kali ini,tapi tak perlu waktu berlama lama karena aku ingin merayakan bersama bang Hardi dan juga Irma.Banyak yang kami ceritakan dan tertawa karena melihat kanguru yang tak sengaja melintas di dekat perbatasan yang mencoba bersembunyi diantara sela sela pohon.1 hingga 2 jam kami habiskan waktu di perbatasan,mulai dari berfoto sampai bercerita dengan warga setempat mengenai kehidupan mereka yang rukun dan damai.Meskipun mereka berbeda negara tapi mereka bisa hidup akur dan saling menjaga pada saat berjual beli barang sembako atau ada acara acara tertentu.

Walau sudah pasti kehidupan mereka serba keterbatasan,tetapi mereka tetap semangat dan rasa nasionalismenya sangat tinggi.Aku bisa merasakan semua itu dari sepasang mata mereka seolah olah berbicara ku seperti itu.Aku yakin kelak kalian akan mendapatkan kehidupan yang layak dan bisa setara dengan mereka yang hidup di belahan bagian barat sana yang selalu berkecukupan dan mendapat bantuan.Akhirnya cukup banyak yang kami dapat di perbatasan,mulai cerita pak polisi disana yang ingin memajukan masyarakat,para tentara yang mempunyai rasa patriotisme tinggi hingga warga yang setia dengan tanah air menjadi titik klimaks dalam cerita perjalananku kali ini.

Kami sudah merasa cukup dan segera berpamitan dan kembali menuju kota Merauke.Sesampainya di Merauke kami masih menginap 1 malam lagi di kediaman keluarga Irma dan keesokan harinya kami berpamitan dan memberitahu akan melanjutkan perjalanan menuju ke Jayapura.lagi lagi keberuntungan menaungiku,aku di ajak bang Hardi menuju Jayapura dengan pesawat.(cerita Jayapura tidak terlalu banyak karena hanya beberapa hari disana dan langsung menuju Ternate)

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.