Berdamai Hidup Di Ambon,Mereka bukan Preman!


Kisah perjalananku ketika menuju Ambon dengan berbagai pelajaran mengisi setiap detiknya. Banyak di isi drama dan hal hal yang tak terduga sehingga usang bisa Berdamai Hidup Di Ambon, Mereka bukan Preman!. Semua cerita masuk untuk melanjutkan perjalanan mencoba mengelilingi Indonesia.

Semenjak turun dari Gunung Binaya, aku dan teman teman yang lainya sempat menghabiskan waktu sekitar 7 hari di desa Tehoru, Maluku Tengah. Disana kami mendapat tumpangan di rumah sahabat bang Amin dan bang Didin. Kehidupan di Tehoru sendiri ku bilang layaknya tanpa beban dan benar benar menikmati hidup.

Ketika pagi menjelang, kami dibangunkan untuk sarapan dengan makanan khas seperti ikan bakar dan goreng yang segar hasil tangkapan pagi itu, colo - colo yang menggoyang lidah, embal yang sudah beradaptasi dengan mulut, suami makanan bernama aneh tapi yang mampu menjadi pengganti nasi. Menu paket komplit menikmati keindahan serta hidup bak raja.


Seusai makan pagi kami lantas leyeh - leyeh di depan rumah, ya bagian depan rumah berjarak sekitar 7 meter adalah pantai dan dihadapkan lanskap Gunung Binaiya apakah tidak membuat kami betah. Duduk di pembatas jalan, menikmati semilir angin pantai. Jika bosan, kelapa muda telah siap di petik dan kami minum untuk menghilangkan dahaga. Jika siang menjelang, berjalan kebelakang rumah sekitar 30 menit bisa menikmati kolam air panas alami yang bisa membuat siapa saja enggan untuk berpindah tempat. Ketika sore menjelang,biasanya kami tutup dengan acara mandi di pantai sekaligus menikmati sunset yang indah.ah nikmat mana lagi yang kau sia siakan di Maluku ini.heheh



Benar benar bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.Malam menjelang,air tradtional sofi akan berputar memasuki lingkaran keakraban kami.Begitu terus selama 7 hari. Rutinitas seperti ini yang enggan untuk berpindah sekaligus merasa malu karena terus merepoti keluarga bang Amin. Karena waktu cukup lama kami tinggal di tehoru,akhirnya kami memutuskan kembali ke kota Ambon menggunakan mobil travel yang mengantar kami ke pelabuhan Amahai.

Perjalanan Sekitar 2jam dari Tehoru menuju Amahai waktu itu dengan menancap gas mobil sekencang kencanganya melewati jalan lintas kota yang cukup sempit. Sesampainya di Pelabuhan kami mendapat sebuah keberuntungan dengan tiket gratis dari salah seorang senior Pecinta Alam yang dikenal oleh anak anak.Akhirnya kami mendapat tempat untuk menyebrang menggunakan Kapal cepat menuju Tulehu.


Saat perjalanan menggunakan kapal cepat menuju Tulehu kami dihadapkan badai yang cukup menggugah ketakutan kami.bagai mana tidak,kondisi laut yang gelap serta angin berhembus kencang mengingatkan usang akan mati.Tolong jangan mati dulu belum nikah wkwkwk

Tapi setelah perjalanan sekitar 2 jam yang mencekam kami tiba dengan selamat di Tulehu. Kami sempat makan malam di kediaman Mentari serta meneguk air Sofi beberapa botol sebelum kembali ke Ambon. Perjalanan Tulehu ke Ambon tepatnya ke daerah Poka sekitar 30 menit. Kami menggunakan angkot malam itu.

Akhirnya kami sampai di Poka dan berhenti di salah satu café bernama Oe’New. Cafe ini asekarang.Kami masuk dan bertemu dengan teman teman anak Pecinta Alam Ambon yang kebetulan malam itu sedang ramai berkumpul. Malam itu kami habiskan  dengan cerita tentang Ambon dan sekitarnya.

Tak terasa hari telah siang,dengan mata masih setengah sadar usang terbangun dan melihat malam tadi tertidur di café.Segera membangunkan teman teman dan kembali menuju Sekret KPA Lestari untuk memberi kabar kami telah sampai di Ambon.Sesampainya di secret ternyata sepi,tidak ada anak anak disana,hanya ada pace yang sedari tadi menunggu kedatangan kami. Tak berbasa basi kami segera memasukan barang dan bercengkrama di depan secret yang rindang dan sejuk,tapi catatan 24 jam disana tantanganya adalah nyamuk ganas yang terus menyerang hehe.

Di hari hari selanjutnya benar benar menikmati Ambon dengan sepenuhnya Sekaligus menampik kalau orang Ambon atau Maluku adalah preman atau kriminal atau bodygouard atau apalah terserah mereka yang bilang.Kalau usang sendiri menyatakan orang Ambon itu sangat respect dan ramah di balik gaharnya paras tapi mempunyai hati PINK kayak Hello Kitty hahaha



Rutinitas di kawasan Poka didekat Universita Unpati yaitu di Sekret Lestari adalah makan, duduk melamun,tidur di Hammock, bersih bersih,malamnya ceritaa sembari hal wajib adalah minum Sofi dan sesekali aku bersama Muklas dan Sena pergi ke cafe memanfaatkan Wifi gratis serta begadang sampai sampai cafe tutup dan tidur disana. Alih - alih pulang,kadang kadang mandi dan buang air besar pun memanfaatkan fasilitas cafe. Bukan memanfaatkan tapi memang kami di perbolehkan untuk menggunakannya.

Asal kalian tau aktifitas usang dan teman teman disini ya cuma seperti ini tapi terasa sangat menyenangkan. Terkadang ada hal hal yang lucu dan memalukan, sebenarnya ga mau menceritakan tapi kenapa harus malu orang ga nyuri atau korupsi kayak yang berdasi.

 Suatu malam kami berlima aku, Muklas, Sena, bang Amin dan ucil tidak sengaja berada di daerah kota. Lalu kami menuju tempat kost bang Amin untuk mandi dan makan malam. Karena kami ingin kembali ke Poka, dengan segera berjalan keluar untuk menaiki angkot. Dari tempat kos menuju ke jalur utama cukup jauh,dengan menggunakan angkot kami bisa memangkas waktu agar tidak terlalu malam. Sesampainya di jalan utama, ada celetukan dengan nada menantang,yuk cobain jalan kaki melintasi jembatan sembari menikmati pemandangan kota? bermula saling olok akhirnya kami menjalankan tantangan ini,dengan melepas baju dan melepas sendal alias cekeran kami berjalan melintasi pinggiran kota menuju jembatan merah putih.



Tanpa rasa malu kami berjalan menyusuri gelapnya malam dengan kerlap kerlip lampu jalan. Banyak orang yang melihat tapi kami masa bodoh akan hal itu. Toh kami jalan pakai kaki kami sendiri. Sesekali kami mengambil sampah yang ada di pinggiran untuk mengisi kegiatan jalan tanpa baju ini, ya itung itung ikut membantu petugas kebersihan. Eits ini bukan pencitraan yang ditunjukan tetapi kejadian nyata tentang kepedulian kami akan sampah.

Banyak orang yang melihat kami seperti aneh dengan berjalan tanpa baju, memungut sampah sembari menyanyikan Indonesia Raya. Mungkin dianggap orang gila tapi kami tidak memperdulikanya. Akhirnya sampai juga kami di cafe serta membawa sampah yang kami pungut di sepanjang jalan. Anak - anak setelah mengetahui apa yang kami lakukan,mereka salut dan memberi kami hadiah makan dan minum gratis. Sebuah keberuntungan yang tak dikira atas kejadian gila ini.

Hal yang paling ga bisa dilupakan adalah saat pagi pagi terbangun karena rasa sakit perut yang luar biasa,kalian pasti sudah pahamkan bagaimana kalau sakit perut pagi hari? nah disana itu ga ada toilet atau WC. Jadi dengan inisatif dan naluri terlalu pintar aku berjalan keluar menuju semak - semak di daerah belakang untuk membuang hajat itu. Dengan berbekal satu botol besar air yang bekas tampungan hujan kemarin.Bisa dibayanginkan menggali tanah dan bersembunyi diantara semak semak belukar hahaha. Tapi tolong jangan di ikuti kelakuan buruk ini.

satu lagi,karena mau numpang mandi di tempat kost teman teman dan ternyata mereka sedang tidak ada di tempat. Maka dengan inisiatif cepat usang mencoba alternatif lain. Kebetulan diluar sedang hujan lebat,dengan sekejab usang mengambil peralatan mandi dan membuka baju dan berlari keluar menuju ke salah satu lubang pembuangan air dari atap disalah satu sudut bangunan yang berada tidak jauh dari sekret Lestari. ada beberapa orang melihat dan menertawakan, tapi cuek saja dan merasa masa bodoh. Toh usang ga merugikan siapa siapa dan tidak bertindak hal buruk yang lainya.


Hal berkesan lainya adalah ketika pertama datang dan disambut minuman Sofi dan penutupan Jackpot layaknya naga yang sedang mengamuk. Aku dan Sena mengalami kejadian ini karena sudah lama tidak merasakan minuman beralkohol lagi. Asal kalian tau,di Indonesia bagian Timur minuman beralkohol adalah minuman penyambut atau bisa di gunakan sebagai mendekatkan satu dengan yang lain. Jadi jangan berpikiran negatif atau buruk dengan rutinitas seperti ini.



Pengalaman air mata mendobrak mata dan keluar secara otomatis karena ada beberapa faktor yang mendasarinya. Selama perjalanan baru kali ini aku mengangis dengan permasalahan paling jarang terjadi. Aku menangis karena ga tau mau harus ngomong apa dan membuat pernyataan apa. Bayangkan ada orang yang bisa begitu perhatian ingin mengetahui permasalahan dan ingin membantu memecahkan bersama dan tidak ingin melihat usang terus murung larut dalam kesedihan.

Pada suatu malam Kami duduk diantara Hammock di bawah remang remang sinar lampu sekret dan mulai berbicara terbuka. Aku cukup tertutup dengan permasalahan yang sedang mengganjal dan itu menyebabkan teman teman di Ambon mengira kami bertiga ada masalah, padahal sebenarnya kami baik baik saja. Hal yang mendasari usang seperti itu karena mempunyai masalah keluarga.

Berawal dari Bisikan pelan tentang memecahkan masalah,lalu ada sedikit perlawanan argumentasi tapi semua itu tak bisa ku lawan. Dengan sekejap berubah menjadi air mata yang keluar tak kuasa menahan. Aku terlalu egois dan tidak melihat sekitar, banyak orang yang menyayangi dan mempedulikan tapi seakan menutup mata tak ingin mengetahuinya. Sejak malam itu aku sadar bahwa usang selama ini salah dengan merasa maha benar dengan sesuatu aku yakini yaitu TAK SEMUANYA HARUS DIBAGI! tapi cobalah berbagi maka engkau akan berdamai bersamaNya.

Sosok garang, berpakaian lusuh, flanel kumal, satu piring bersama, tidur pistol tak beraturan. Apakah gambaran seperti itu bisa menunjukan kalau orang Ambon itu kasar? jahat? preman? kurasa persepsi seperti harus ditampik mulai sekarang!.



Pada kenyataanya meraka begitu baik,begitu lembut,begitu peduli dan tentunya mereka mementikan persaudaraan ketimbang nominal uang semata.CATAT!

Sosok seperti abang fathul, bang Janter, bang Raven,bang Ficky, bang Nyonyo, bang Runner,bang Amin, bang Eky, bang Ewin, bang Irhandy,bang Budi, Ucil, Ucan, Imen, bang Ilho, Putra, Eko, dan masih banyak lagi orang orang baik lainya yang tak bisa ku sebutkan semuanya.Karena disebutkan semua bisa satu kelurahan disebut hehe.

Belum lagi para caca yang sangat baik membantu dan merawat kami bertiga layaknya saudara bahkan bisa seperti anak angkat. Mereka semua selalu menasehati kami bahwa hidup jangan terus disia siakan,gunakanlah hidup sebaik mungkin dengan cara bisa bermanfaat untuk orang sekitar. Petuah petuah itu selalu terngiang di ingatan.

Biji Buah Pala menembus Surga

kenikmaktan selanjutnya adalah terjebak dengan kenikmatan biji buah pala yang memabukan.bagaimana tidak? kami bertiga semulanya ga tau jika biji buah pala itu sangat memabukan.Setelah memakan 20 biji kami tidak sadarkan diri selama kurang lebih 3 hari tertidur dan tidak sadarkan diri.Ditambah air sofi bertubi tubi menghanyutkan kami bagaikan berselancar mengelilingi Ambon. Catatan jangan pernah berani memakan biji pala jika kalian belum siap menjadi zombie!



Setiap hari jika makan adalah hal yang paling ku suka. Karena kita tidak akan makan jika orangnya belum lengkap alias personilnya belum terkumpul kami akan menunggu hadir semua. Sepotong pelepah pisang kita ambil dari kebun di belakang, nasi kita gelar,ketupat,embal,sayur kuning,ikan bakar segar, colo - colo, ah semua itu menjadi pemersatu kami. Walau makan ala kadarnya tapi bisa membuat kami seperti keluarga.Tak ada pembatas atau rasa malu,karena ale rasa beta jua rasa. ceileh kayak lagu aja.




Terakhir adalah bagian penutup dan bagian paling menyedihkan ketika kami bertiga dengan berat hati ingin meninggalkan Kota Ambon. Sempat terjadi talik ulur dan dilema, jujur saja aku, Muklas dan Sena tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli tiket pulang. Tapi entah banyak kejutan seperti rejeki tak terduga memberi solusi bagi kami. Pertama pagi hari aku dan teman - teman mengantar muklas dan sena menuju pelabuhan,kalian tahu? teman teman yang mengantar ada sekitar 20 orang. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasa sedih atas perpisahan tersebut. Kami semua mengendarai kapal kecil untuk menyebrang lalu menaiki angkot menuju pelabuhan. Terjadi sebuah drama,tak ada satupun dari kami yang tidak meneteskan air mata.


Seberingas penampakan kami, sekasar kasarnya kami tetap tak kuasa membendung rasa perpisahan ini. Semua saling berpelukan dan saling memberikan doa atas kunjungan kami. Pagi itu sena dan muklas pergi meninggalkan Ambon menggunakan kapal pelni di selimuti kesedihan. Sore harinya adalah aku yang berangkat meninggalkan Ambon menggunakan pesawat karena harus segera tiba d Surabaya untuk mengejar kapal pelni ke Bima mengantar donasi buku. Aku di antar oleh beberapa teman karena sebagian teman ada yang bekerja dan tidak dapat mengantar.usang mengerti dan memahami kondisinya. Di temani bang Ficky, bang Amin, Tirsa dan Ika. Aku melepas Ambon dengan air mata.

Tak ada kata lain untuk Ambon serta orang orang yang menghuninya.Kalian adalah orang orang baik tidak seperti orang orang yang menilai bahwa Ambon itu Preman, jahat, kasar dan hal negatif yang lainya. Aku sangat mencintai ambon dan berbagai hal yang pernah ku alami.

Sampai berjumpa lagi di lain waktu serta petualangan yang lainya ya.

6 comments:

  1. ambon bukan hanya sekedar kota, melibatkan perasaan ketika kau mengingatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar abangku,ada darah,keringat,kebahagiaan,airmata,kesedihan mengisi setiap ceritanya

      Delete
  2. Dulu pernah satu kos sama teman dari Ambon, tapi dia sekarang pindah ke Tangerang. Kalau mudik dan balik Jogja bawa Sofi. Hahahahaha.

    Oya rata-rata mereka suka dengan kegiatan outdoor, kalau di Jogja bawaannya pengen kemping dan main terus. Seru pokoknya :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener bang,temen temen di Ambon rata rata anak Pecinta Alam.jadi untuk soledaritas tinggi.Minum Sofi adalah hal wajib bang

      Delete
  3. Ambon manise, itu kenapa sering gak pakai kaos ya, apa gak dingin hehe, belum pernah ke ambon, daya tarik pantainya memukau juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe gerah aja kak,ambon menyimpan banyak keindahan beserta seluruh penghuninya.semua sangat ramah
      pasti bakal kangen sama ambon

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.