Catatan bulan ke-17,Cerita dari Maluku Menuju Ntt





Perjalanan di bulan ke-17 terangkum menjadi satu rentetan kejadian penuh kejutan dalam cerita mencoba mengelilingi Indonesia. Aku sendiri tak menyangka bisa bertahan dan tetap memutuskan terus berjalan menikmati semua pengalaman yang pernah terjadi untuk dibagi.

3 Februari 2017
Hari hari terakhir di Ambon sebenarnya aku, Muklas, Sena ingin memutuskan untuk meninggalkan daerah Maluku bersama menggunakan kapal laut. Tetapi semua rencana berubah ketika aku harus menuju ke Bima untuk menyalurkan bantuan kepada korban pasca banjir waktu lalu sekaligus menuju NTT tepatnya di Sumba.

Meninggalkan Ambon adalah hal terberat waktu lalu, dengan segala cerita dan menyisakan air mata tertumpah untuk dikenang. Sore kala itu usang berangkat menuju bandara dikawal oleh Tirsa, Ika, bang Fik dan bang Amin setelah pagi harinya kami mengantar Sena dan Muklas terlebih dahulu di pelabuhan Yos Sudarso,Ambon.

Aku mendapat keberuntungan yaitu tiket pesawat gratis dari Ambon Tujuan Surabaya. Tapi sebuah kesialan datang dan pesawat mengalami delay kurang lebih selama 3 jam lamanya.


Sebenarnya kecewa dengan keterlambatan keberangkatan menuju Surabaya tetapi semua terobati  karena ditemani oleh mereka dengan cerita lucu sebelum berpisah. Jam menunjukan pukul 7 malam, pertanda baik muncul dari suara pemberitahuan menggema ke dalam telinga yaitu pesawat tujuan Surabaya sudah siap dan penumpang dipersilahkan untuk boarding dan masuk di ruang tunggu.

Detik - detik terkhir ku luapkan dengan pelukan dan ucapan sampai berjumpa lagi di sela sela air mata lelaki yang sulit untuk jatuh membasahi pipi. Perlahan tapi pasti aku berjalan meninggalkan mereka dengan menikmati langkah kaki di tanah Maluku.

Setelah memasuki ruang tunggu tidak beberapa lama, aku sudah masuk di dalam pesawat dan duduk di depan tepat di samping jendela. Hari gelap di iringi rintikan hujan membasahi jendela membuat perjalanan seakan lama. Gelisah dan rasa takut menyelimuti. Pesawat berjalan pelan sembari mengambil posisi untuk siap terbang dan bibir terus bergumam memanjatkan doa semoga lancar penerbangan dalam kondisi cuaca yang buruk malam itu.

Perjalanan kurang lebih 1 jam menuju ke Makassar karena harus transit. Sempat bertemu teman lama dari Balikpapan dulu bernama Erna karena dia kebetulan bertugas di Bandara Makassar. Perjalanan selanjutnya hampir sama, memakan waktu kurang lebih 1 jam juga berada disana dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya kurang lebih sama 1jam lamanya, maaf agak lupa berapa lama jarak tempuhnya karena aku sendiri sedikit pelupa.

Akhirnya sampai di Bandara Juanda Surabaya dengan selamat dan malam itu sekitar jam 11 malam. Beruntung di jemput oleh sahabat karib Nofal dan menumpang menginap 1 malam di kontrakanya. Keesokan harinya aku bertemu dengan bang Hardi yang baru sampai juga di Surabaya pagi hari. Siang kami baru bertemu dan membicarakan perjalanan menuju Bima menggunakan kapal Pelni malam itu juga.

Sebelum berangkat kami bertiga menyusun kardus berisi buku yang cukup banyak sekitar 13 kardus. Bisa kalian bayangkan bagaimana beratnya bukan? Tapi usang ga menyerah kok tenang hehe


Tumpukan kardus buku

Menyeleksi dan membagi setiap kardus berisi buku dan mengkelompokanya seperti SD, SMP, dan SMA. Setelah selesai kami pergi mencari makan siang dan selanjutnya memasukan kardus kedalam mobil Bang Hardi. Malamnya kami kedatangan teman teman yang lain seperti Haw dan beberapa yang lainya. Mereka ikut serta mengantar usang menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Perjalanan kurang lebih 30 menit dari kontrakanya Nofal menuju Pelabuhan dengan beban yang cukup berat melebihi kapasitas.

Perjalanan cukup menyiksa akhirnya kami lewati dan tiba di pelabuhan.Bang Hardi mencari porter untuk membantu usang mengangkut ke-13 kardus ke atas kapal dan Usang sendiri membeli tiket tujuan Surabaya-Bima seharga Rp 330.000 menggunakan KM. Leuser. Porter sudah bang Hardi dapatkan dan segera aku masuk melakukan check-in dan berjalan masuk ke dalam kapal. Tapi semua tak berjalan mulus,ditengah perjalananku sempat mendapat masalah yaitu over bagasi dengan denda Rp1.500.000

keberangkatan dari Tanjung Perak


Sempat terkejut dan panik,bingung harus berbuat apa? Gimana ga bingung,usang sendiri aja Cuma punya uang Rp10.000 cukup buat beli kopi 1 gelas. Keringat dingin mulai mengucur membasahi kening. Sempat bernegosiasi dengan para petugas tapi tidak membuahkan hasil, lalu mencoba berlari keluar berharap bang Hardi dan teman teman masih ada dan bisa membantu mengatasi masalah over bagasi ini.

Syukurlah di depan mereka masih duduk dan bercerita sembari meminum kopi. Aku langsung memberitahukan kepada mereka dan meminta solusi.Setelah panjang lebar bercerita, aku dan bang Hardi masuk ke dalam untuk membantu mengatasi masalah ini. Sesampai di tempat penahanan barang, kami mulai bernegosiasi alot dengan para petugas. Mereka masih bersikukuh dengan biaya denda di awal,tapi kami terus memohon untuk di permudah karena ini bukan barang pribadi tapi untuk donasi. Hampir 30 menit kami bernegosiasi akhirnya para petugas berparas datar itu mulai luluh an member keringan kami dengan biaya over bagasi menjadi Rp500.000 untuk ke-13 kardus.

Mulailah bisa menghela nafas dengan lega,usang sekali lagi bisa bernafas lega karena bisa lancer dan sedikit geram juga karena mereka para oknum sangat seenaknya memainkan kenakalan mereka dengan uang hasil itu.Pasti kalian mengerti dan bukan rahasia umum lagi bukan? sambil berjalan usang mengoceh sendiri ! “/?*&#@=^&# semua kata kotor terucap dengan sedikit menyindir mereka.

Aku mendapat tempat di deck 5 dekat dengan pintu keluar karena tidak ingin terlalu jauh dengan bawaan sebanyak ini. Segera merebahkan diri dan ingin segera melewati perjalanan laut selama 3 hari 2 malam menuju Bima.Keesokan harinya saat aku terbangun dengan perut kelaparan, sembari menunggu waktu makan siang dengan jatah makan ala kadarnya, menikmati beberapa bekal makanan yang di belikan oleh teman teman. Seperti biasa perjalanan begitu membosankan karena selain sendiri, aku juga tidak memiliki handphone untuk menghibur diri. Jadi sepanjang jalan hanya makan, tidur, makan, tidur hingga sampai di Bima

Perjalanan menemui titik terang saat sampai juga di Bima jam 2 dini. Sempat bingung karena memikirkan bagaimana menurunkan barang sebanyak dan seberat itu sendirian. Tapi aku sadar dan segera menghubungi bang Ganja dan Juplek yang waktu lalu telah kuberitahu akan kedatanganku. Sempat menunggu beberapa saat dan mereka muncul remang remang kejauhan. Bergegas mereka naik dan kami bertiga satu persatu mengangkat kardus dari atas kapal menuju dermaga sebanyak 13 kali. 

Cukup terasa dan membuat pinggang encok layaknya pekerja buruh kasar. Nafas lega kami hela dalam dalam, semua kardus sudah turun tapi kesialan menaungiku kembali. Tiba tiba hujan deras turun tanpa ada tanda tanda terlebih dahulu. Panik dan buru buru di sela sela instirahat kami mengangkat kardus ke sebuah pos yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Mendapatkan pekerjaan dua kali membuat kami semakin lelah. Hingga hari semakin terang kami tetap berteduh diantara penumpang lain yang berdiri menyesaki pos kecil itu.

Hujan mulai reda dari amukanya,kami masih menunggu bantuan dari bang Gizan dan yang lain untuk membawa semua kardus menuju basecamp Mangga 3. Kami melakukan 2 kali angkut dari pelabuhan ke basecamp, jaraknya sendiri lumayan sekitar 15 menit. Semua sudah kami angkut dan sekarang aku sudah di basecamp Mangga3 bersama teman teman Bima lainya.

Selama beberapa hari aku tinggal di Bima sembari menunggu teman teman yang lain, karena mereka turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tapi mereka overland dari pulau kepulau berangkat dari Jakarta dan Surabaya melintasi Bali, Lombok dan perjalanan 12 jam menuju Bima.

acara makan dan kumpul bersama teman di Bima

menonton pacuan kuda


Sesampainya mereka di Bima, kami sempat rehat 2 hari dengan di isi berkeliling di sekitar Bima dan mengenalkan Bima lebih dekat lagi kepada mereka. Puas rasanya menemani mereka mengunjungi beberapa destinasi seperti rumah adat,sawah spider dan pacuan kuda. Keesokan harinya kami mendapatkan cobaan, Waktu itu cuaca memang sedang buruk dan  jadwal kapal ferry sedang di hentikan atau tidak berlayar. Sudah sekitar 2 minggu aktivitas di pelabuhan terhenti dan terdapat banyak tumpukan kendaraan dan manusia memenuhi setiap sisi pelabuhan  yang menunggu kapal menyebrang kembali.

Setelah berunding dan mencari opsi terbaik, akhirnya kami memutuskan dalam perjudian pilihan kami. Semua setuju untuk pergi ke pelabuhan ferry Sape dan berdoa agar keberuntungan memihak kami dengan adanya jadwal keberangkatan menuju Waikelo, Sumba Barat Daya.

Kami berangkat menggunakan mobil pick up yang kami sewa dan membawa beberapa kardus yang sudah kami bagi untuk Bima. Malam itu sekitar jam 12 malam kami menggerinda jalanan lintas kota yang sepi dan gelap gulita. Dingin mulai memeluk kami,bagaimana tidak? Kami semua duduk di bak terbuka melewati jalan yang menyerupai ular melintasi bukit dan hutan.

Perjalanan kurang lebih 1 jam lamanya dan kami tiba di pelabuhan Sape. Kali ini keberuntungan berpihak kepada kami, ternyata info yang kami dapat ketika masih di bima akan dibuka kembali pelabuhan benar adanya. Dengan cekatan kami menurunkan barang dan membeli tiket untuk 6 orang sehraga Rp55.000/orang.

Kami berpamitan dan berterima kasih kepada bang Ganja dan yang lainya karena telah bersedia menemani dan mengantar kami hingga pelabuhan Sape. Cukup ribet kami berjalan menuju kapal dengan mengankat Kardus kardus buku yang berat. Kondisi kapal cukup sepi karena banyak penumpang memenuhi kapal yang berangkat pertama, dan di kapal yang kami tumpangi hanya ada kami dan beberapa supir mobil muatan yang mengisi. Jadi kondisi kapal yang lengan membuat kami nyaman untuk memilih tempat beristirahat.

Jam 2 malam kapal mulai berlayar dan meninggalkan pelabuhan. Kami sempat makan bersama sebelum mencari posisi untuk  tidur, berharap besok ketika bangun sudah dekat dengan Pulau Sumba. Malam itu yang dingin serta cuaca yang sedikit kurang baik mengantar kami tidur. Sebenarnya sedikit takut karena gelombang cukup tinggi dan membuat takut tenggelam heheh.

Perjalanan sekitar 10 jam kami sampai di pelabuhan Waikelo dengan cuaca sedikit mendung dan gerimis. Ketika kapal sudah sandar kami begitu tergesa gesa berlari sembari membopong kardus untuk mencari tempat berteduh. Lumayan susah karena selain membawa kardus, kami juga membawa tas cukup besar dan berat sehingga nafas kami berhembus tak beratur.

Berlari lumayan jauh melintasi jalan dermaga sekitar  100 meter,baju dan carrier menjadi korban alias basah demi menjaga agar kardus tidak basah. Cukup lama kami berteduh sembari menunggu om Aswar dating menjemput.

Setelah 30 menit kami menunggu akhirnya om Aswar datang menjemput,segera kami menaikan barang barang kami. Perjalanan dari Waikelo menuju Waikabubak sekitar kurang lebih 1 jam. Sesampainya di rumah,rasa kerinduan dengan keluarga angkat di Sumba Barat begitu terasa.Aroma khas kota namun seperti pedesaan menyambut kami. Oma dan keluarga tetangga sebelah menyambut kedatangan penuh suka cita karena tidak ada kabar sebelumnya.

sampai di pelabuhan Waikelo

Akhirnya misi kami telah berhasil membawa sisa donasi buku di Sumba.Setelah selesai mengantar buku,kami sempat menghabiskan waktu dengan menghadiri acara adat Pasola dan mengunjungi beberapa tempat lainya seperti camping ceria di Taman Nasional Tana Daru di Sumba Tengah. Setelah itu teman teman pulang lebih awal menggunakan pesawat menuju tujuan daerah masing masing.


Festival adat Pasola

pertemuan dan perpisahan di Sumba

Hanya meninggalkan usang seorang diri dan bertahan beberapa minggu sebelum kembali menuju Bima.Saat akan pulang usang di antar oleh om Aswar menuju Waikelo, lagi lagi aku menikmati pelayaran seorang diri. Sampai di sape usang, aku beristirahat di sahabat bang Ganja selama 1 malam. Keesokan harinya aku di antar menuju jalur ke Bima untuk mencari tumpangan.

Mendapat tumpangan mobil Pickup menuju Bima
 Sekarang aku berada di Lombok untuk mencari kerja serabutan demi menyambung hidup dan mencari beberapa lembar uang untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Ambon hingga kembali ke Lombok sekitar memakan waktu sekitar 1 bulan. Sekarang aku sedang bekerja seperti menjadi ojek wisata atau berjualan oleh oleh khas Lombok.

Seperti itulah cerita perjalanan di bulan ke-17 dan menutup bulan April dengan keadaan keterbatasan. Sebab aku sendiri sedang mengalami musibah tidak ada alat komunikasi karena telah rusak sejak turun dari Gunung Binaiya awal tahun ini.

Tunggu cerita perjalanan usang memasuki bulan Ramadhan ke-2 di daerah baru dan tantangan baru

1 comment:

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.