Hidup di sisi Perbatasan Papua



Bermimpi untuk menginjakan kaki di tanah Papua adalah impian masa kecil semata. Tak pernah melantunkan doa untuk bisa mencapai ke daratan mutiara hitam tersebut. Butiran cita-cita mengambang di dalam ingatan lalu mengendap tertumpuk diantara ingatan-ingatan lainya. Perjalananku menuju perbatasan Sota di Merauke bisa di bilang sebuah keberuntungan saja. 


Seperti kata-kata yang ku kutip dari Douglas McArthur "Keberuntungan yang terbaik adalah keberuntungan yang engkau buat untuk dirimu sendiri". Semua tak lepas dari kebaikan bang Hardi yang mengajakku secara cuma-cuma untuk menemaninya melintasi perairan Indonesia selama 9 hari menggunakan Kapal laut. Ucap rasa terima kasihku kepadamu.



Perbatasan antar negara ternyata tak seperti dugaanku. Aku membayangkan mobil Tank membentuk formasi dan mengacungkan ujung meriam untuk siap menembak siapa saja yang melintas, tentara selalu siaga mengangkat senjata,mengawasi setiap jengkal garis terakhir yang membentang bias,bau peluru yang terlontar mencari sasaran,teriakan histeris menandakan adanya serangan. Tapi semua itu hanya banyanganku semata,layaknya film perang perbatasan. 




Kenyataanya disini suasananya begitu sejuk,tenang dan damai. aku bisa melihat Kanguru liar loncat kesana kemari menghindari rumah semut yang tumbuh menjulang diantara pepohonan, tentara yang berjaga di pos dengan mendengarkan lagu Nasionalisme untuk mengusir rindu kepada keluarga di kampung halaman. 


Semua kenyataan menyerang balik imajinasiku yang menyeramkan. Dengan Segera kualihkan pandangan menuju ke arah kerumunan warga yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.


Kucoba memberanikan diri untuk mendekat dan mengamati yang sedang mereka lakukan. Perlahan aku berdiri tak jauh dari para lelaki bertelanjang dada sedang mengumpulkan kayu dan juga atap terbuat dari daun lontar kurasa. Sejenak mereka beristirahat aku mencoba bertanya kepada salah satu papa disana, 


"Selamat sore,papa sedang membuat apa ?" Tanyaku dengan sebuah senyuman.


"Sore,kami sedang bergotong royong membuat gubuk tempat berjualan" Balas papa dengan ramah. 


Setelah mengetahui yang sedang mereka kerjakan,aku semakin penasaran dan mengamati pekerjaan mereka. Saling melengkapi dan mengisi setiap kekosongan membuat kerukunan antar warga begitu dekat. Di sisi lain aku melihat para mama sedang mengatur barang jualan mereka,disana terdapat oleh oleh yang bisa dibawa pulang sebagai tanda pengingat pernah mengunjungi perbatasan di Sota. 


Aku segera tergerak dan berjalan mendekat,banyak sekali barang yang dijual seperti tas berbahan akar,busur panah untuk berburu,minyak kayu putih,sampai jari jari kanguru yang di awetkan juga di jajakan menjadi cindera mata. Obrolan mulai terasa dekat ketika aku mendekati seorang mama bernama Mia, 


"Mama,jika musim pengunjung sepi biasanya melakukan aktivitas apa ? *tanyaku sopan 


"Selain berjualan,kami setiap hari pergi ke ladang untuk bertani. *jawab mama dengan senyuman.


Aku di bujuk untuk membeli barang dagangan mereka,ah siapa yang tidak tertarik untuk membeli barang-barang yang cantik ini. Tapi,aku sedang tidak memiliki uang untuk membeli dan harapan mempunyai salah satu tas noken dari akar kubuang jauh jauh dari pikiranku. Keberuntungan tiba tiba datang menyergapku, tiba-tiba mama menyodorkan sebuah noken berlapis bulu burung Kasuari. 


Aku tak mengerti maksudnya, lalu mama Mia menyebutkan bahwa noken itu sebagai kenang-kenangan untukku. Badanku langsung mematung dan terlihat semburat senyum yang keluar dari mulutku. Ucapan terima kasih dan pelukan kepada mama yang mampu kuberikan kepadanya waktu itu. 


Kami terhenti berbincang ketika teriakan tawa terdengar dari seberang sana. Kulihat beberapa anak-anak sedang bermain bersama. Aku meminta ijin kepada mama untuk mendekat kedalam keseruan. Mereka tak sadar akan keberadaanku berdiri di antara kaki kaki mungil yang telanjang berlari kesana kemari menginjak rumput dan sesekali terjatuh.


Terdengar tertawa kecil dan lama-lama suara menjadi terbahak-bahak memancarkan kebahagiaan di perbatasan. Seperti mereka tidak terbebani dengan predikat anak pinggiran. Bukan,mereka bukan anak pinggiran semata,mereka adalah penjaga garis terakhir Indonesia. 


 Tak merasa tersisihkan dari kota,apa yang kulihat tak menggambarkan mereka tak terbebani. Mereka sungguh bersyukur, dan menerima kenyataan. Bertahan bersama alam, di antara belantara pohon sagu dan pohon kayu putih yang mendominasi di perkampungan. Bagiku mereka sangat hebat bisa hidup jauh dari hiruk pikuk dan megahnya gedung-gedung pencakar langit 


"Bukan sekedar nomaden yang mampu bertahan hidup dimanapun menjadi panutan,mereka yang hidup dengan segala keterbatasan jauh lebih bisa menjadi teladan" 


Aku mencoba menghentikan sejenak keseruan permainan mereka. Mendengar suaraku menggema memanggil,perlahan satu persatu mendekat kepadaku dengan tawa mungil sembari mendorong satu sama lain karena malu dengan keberadaan yang datang tiba-tiba. 


Hanya 3 gadis kecil yang masih bertahan bersamaku dan yang lainya memilih bermain kembali. Mengatasi kecanggungan,aku mencoba memperkenalkan diriku dan selanjutnya mereka memperkenalkan diri. Dimulai dari yang paling besar bernama Lia lalu Dessy dan yang paling kecil dan tidak henti-hentinya tertawa adalah Koba. Aku mulai melempar sebuah pertanyaan. 


" Apakah kalian sekolah ? *tanyaku dengan nada pelan"


 "Iya kami sudah sekolah,saya kelas 2 SD (Lia) dan adik saya kelas 1 (Dessy) dan paling bungsu belum sekolah karena masih berusia 5 tahun (Koba)". *sembari menunjuk satu persatu Lia menjelaskan. 


Lalu Lia menjelaskan rutinitasnya sehari-hari dirumah. Mereka mengisi kesibukan setiap harinya tidak seperti pada anak umumnya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah mereka akan membantu melakukan pekerjaan rumah bersama mama mereka.


Pekerjaan seperti mencuci piring,menyapu dan memasak. Setelah pulang sekolah,terkadang mereka membantu orang tua mereka di kebun seperti mencangkul atau membantu memanen hasil yang di tanam. 



Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan begitu terkesima dibuatnya. Anak sekecil ini begitu rajin membantu orang tua,kontras sekali denganku kala masih kecil dahulu. Apalagi dengan Koba,si gadis kecil berusia 5 Tahun ini sudah bisa memasak nasi dan memasak sayur.


 Bayangkan,berbeda sekali seperti anak anak pada umumnya yang lebih sering merengek jika permintaanya tidak di turuti oleh orang tuanya. 


"Yang hidup di sisi liar,biarkan gelap menunjukan terang kebaikanya"

Untuk urusan mencuci,melipat baju mereka sudah sangat mandiri,semua pekerjaan mereka lakukan. Walau tidak bisa seperti orang dewasa,tapi aku begitu kagum kepada mereka atas kemandiriannya. 


Mereka juga tidak menelantarkan tanggung jawab sebagai murid. Jika malam tiba,dengan penerangan dari lentera mereka tetap semangat belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Begitu tak sebanding menurutku,kenyataan hidup yang harus mereka jalani dengan keterbatasan seperti ini. 


Tapi,mereka begitu menikmati setiap detiknya dikala anak anak lain yang menyia-nyiakan hidup dengan serba kecukupan. Aku tak salah berucap bukan? Semoga saja tidak,jika salah tolong bantu di koreksi ya. 




Lalu ia berbicara tentang cita-cita nya yang ingin belajar setinggi mungkin agar bisa pergi ke Ibukota Jakarta. Sontak aku  langsung terkejud mendengar sebuah pengakuan seorang anak kecil yang ingin mimpinya terwujud. Aku mencoba mengaminkan dengan ucapan dan senyuman. 


Meski hidup terlalu menarik,mereka berjuang untuk bertahan,masihkah tidak menyadari keberadaan siapa mereka?


Lihatlah,kehidupan yang terlihat tak adil seperti kehidupan mereka berada di pelosok garis terdepan. Mereka memperlihatkan kehidupan seperti tak ada keluhan dan komplain kepadaNya. 


Mereka menerima dan terus berjuang ingin merasakan kemerdekaan yang sudah berkumandang sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Kelak semoga mereka yang hidup di perbatasan bisa merasakan kenyamanan, seperti di daratan lain negara ini.


Bertahan dan memperjuangkan sesuatu untuk kebahagiaan dengan sedikit sentuhan harapan yang tak pernah padam.

Baca juga : Menjalang 4 Bulan tanpa Handphone


2 comments:

  1. Dari tanah timur indonesia, selalu ada cerita sederhana yang bikin haru-biru. Mungkin saya saja yang terlalu perasa, akh, semoga Tuhan selalu membersamai mereka.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.