Hidup terlalu singkat untuk berjalan sendiri



Perjalanan begitu terasa singkat ketika kesendirian menjadi teman setia. Tulisan ini menjadi pengingat dan cara untuk merindu bagaimana nikmatnya berpetualang bersama. 

Hampir 2 bulan ini aku menempatkan diri dengan aktivitas benar benar yang menjemukan. Hanya menikmati hari hari dengan bangun,makan,tidur dan sesekali menuliskan cerita pengalaman perjalanan. Jujur bagaimanapun juga rasa dahaga akan berpetualang mulai mengendap jauh kedalam semangatku.

 Tapi aku bingung mau melakukan apa dan akan memutuskan pilihan ketika berada di Lombok. Ketika dilanda dengan kebosanan karena menikmati hari hari sendiri, aku mulai merindukan rasa rasa kebersamaan dengan mereka yang cukup gila bagiku dan aku sangat bangga bisa kenal mereka. Karena rasa rindu itulah aku memutuskan akan melanjutkan petualangan kembali.
Mungkin dari kalian tidak mengenal sosok yang akan aku ceritakan kali ini. Tapi mereka mampu menginspirasiku di dalam banyak hal dan mengambil sebuah keputusan. Hampir dari mereka semua sudah kembali ke kampung halaman masing masing, ada juga yang sedang hidup di tempat baru dengan usaha barunya. Semua sudah memulai cerita baru,namun sekarang aku akan mencoba mengenalkan beberapa orang yang cukup gila dalam berjalan mencari yang mereka inginkan.


@hypnoriza


panggil saja dia Riza,pemuda religius berasal dari Bandung yang tersesat di Lombok untuk melakukan ziarah ke makam ulama dan ingin belajar lebih tentang agama. Salah satu teman yang unik dan begitu polosnya ia bagiku. Begitu sopan dan pandai sekali mengaji, untuk masalah membaca al-quran jangan ditanya,ia selalu mengaji di sela sela senggangnya atau setelah melakukan sholat tahajud. Ia selalu berbicara bagaimana berbuat baik kepada orang sekitar. Dan satu hal yang membuat saya salut dan bangga, ia selalu melaksanakan puasa sunnah setiap harinya.



Ada ritual unik darinya,hampir setiap pagi membeli sarapan ketika kami sedang asyik bermain di dalam mimpi,ia tetap membeli makanan walau sedang menjalan ibadah puasa. pada suatu hari aku bertanya kenapa selalu membeli sarapan kita kau melakukan ibadah puasa ? ia menjawab "jika kalian memakan nasi yang ku beli insya allah aku mendapat pahala dengan membantu kalian" sebuah jawaban sederhana dan begitu menampar muka dan hati sekali untukku. Seorang pemuda polos tapi rasa pedulinya sangat tinggi kepada kami sebagai pejalan miskin ini. Ia memberikan contoh bagaimana sesulit apapun hidupmu jangan pernah mengeluh dan teruslah berusaha serta berdoa. Kata kata yang melekat di keningku hingga sekarang.


@tar_palito



Pemuda yang melakukan perjalanan mengusung niat untuk menjadi Perantau ini Bernama asli Tar Parlito. Seorang keturunan asli darah minang asli juga begitu gigih dalam melakukan perjalanan. Ia melakukan perjalanan seorang diri dari Jakarta hingga kami tidak sengaja bertemu di Lombok bulan puasa tahun lalu. Ia selalu menebar rasa penasaran untuk mengunjungi setiap tempat dan hal yang membuat kagum adalah ketika ia melakukan pendakian ke Gunung Rinjani saat puasa. Bisa dibayangkan rasa lelah bercampur menjalankan ibadah puasa itu tidaklah gampang. Menahan rasa dahaga serta lelah yang begitu luar biasa,tapi ia mampu melakukan nya dengan baik sampai waktu turun kembali menuju kota.



Berkat kerja keras selama perjuangan nya berjalan sebagai perantau,akhirnya Tar mendapat peruntunganya di Labuan Bajo,sekarang ia sudah mempunyai kapal sendiri ( konon berita terakhir terdengar) dan sering berlayar mengantar wisatawan untuk berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo. Tak menyangka ia bisa mendapat sebuah kejutan seperti itu. Tapi,kuakui ia sangat sangat pekerja keras,salah satunya momen bersama ketika dari pelabuhan Gilimanuk kami mencari tumpangan mobil truk.Sejak dari subuh ia mencari mobil tapi kesialan menghinggapi kami hingga siang hari tak mendapat tumpangan. Kami memutuskan untuk menaiki bus menuju denpasar dan mencari tumpangan mobil menuju pelabuhan Padang Bai. Berjalan bersamanya memberi rasa percaya diri kembali lagi serta memberi gambaran bagaimana harus berjuang tanpa menyerah.



@kaki.kanan


Pemuda yang melakukan perjalanan setelah ia menyelesaikan perjuangan nya di bangku perkuliahan.Bernama Adir pemuda keturungan Sulawesi yang hidup di Kalimantan Timur ini begitu humoris dan bisa memberikan pelajaran tersendiri bagiku.


Di balik tingah lakunya yang begitu konyol dan terkadang bisa membuat jengkel, ada sisi baik muncul dari dirinya. Pemuda baik serta begitu mudah mengulurkan tangan untuk membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Hal itu memberi pelajaran kepadaku bagaimana aku harus mengisi cerita perjalanan ini dengan tindakan serupa. Bukan perkara memberi pertolongan tenaga saja,pikiran,ide bahkan uang pun tak segan ia lakukan untuk membantu sesamanya. Aku jadi iri,karena belum bisa melakukan seperti halnya adir perbuat.


@senaagam


Salah satu pemuda yang sangat haus dengan tantangan setiap harinya. Bernama Sena Agam pemuda Jambi keturunan Padang ini begitu bersemangat berpetualang,berjalan bersamanya adalah pengalaman yang luar biasa, dimana rasa kepanikan dia ketika di kapal saat menuju Ambon atau terkadang suka keras kepala. Tapi dibalik itu semua,ia mengajarkanku bagaimana kesetiaan terlihat dari setiap tindakan nya. 



Seperti kejadian di Ambon ketika ia dan Mukhlas untuk menunda kepulangan nya menuju Semarang. Semua itu ia lakukan demi menunggu memutuskan kapan akan melanjutkan perjalanan kembali,sehingga ia pulang tidak meninggalkanku sendiri di Ambon. Mungkin terdengar biasa saja,tapi kejadian ini melibatkan adu mulut,tawa,serta tangisan air mata sebelum semuanya berjalan dengan lancar. Ia sangat baik juga selalu menolong siapapun,karena kesetiakawanan lah yang membuatku mencoba belajar dari sikap dan tindakan nya.


@bakantan_


Sosok Gondrong berpetualang sendiri kembali hidup normal sejenak di tanah kelahiran nya. Nama panggilan akrabnya adalah Juplek pemuda yang tentunya juga menginspirasiku untuk berjalan.Ia telah melakukan perjalanan hingga menuju titik nol di Sabang sana,sebuah petualangan seru tentunya jika kalian mendengarnya langsung dari mulut Juplek. Ia mengajariku berbagai hal seperti bagaimana untuk tetap semangat mencari jalan keluar dari permasalahan ketika sedang melakukan perjalanan yang cukup lama. Nasehat dan pengalaman ketika perjalanan tak segan ia bagikan kepadaku.


Walau terkadang keras kepalanya sering muncul,tapi kekagumanku kepada ia tak berkurang.Rasa kepedulianya kepada pendidikan juga tidak diragukan lagi,ia pernah membantu menjadi relawan di sekolah sekolah yang membutuhkan perhatian dan bantuan tenaga pengajar. Siapapun akan setuju dengan pendapatku jika sudah bertemu dan mengenalnya lebih dekat.


@jiwanta_



Bekasi Jawa Barat adalah kota pemuda ini berasal. Pemuda ini bernama Mukhlas,salah satu orang yang melakukan perjalanan panjang seorang diri hingga petualangan bersama ketika menuju Ambon. Banyak juga pelajaran kudapat ketika pertama bertemu hingga menjalani hidup beberapa bulan bersamanya. Walau berbicara dengan nya agak sedikit bingung karena ia banyak menggunakan bahasa bahasa kiasan. Maklum,ia suka sekali membaca buku jadi kebiasaan itu menyebabkan gaya bicaranya seperti para penulis ulung.



Mukhlas mengajari bagaimana tekad kuat dan konsisten dengan tujuan adalah kunci keberhasilan nya dalam melakukan perjalanan. Terlihat ketika ia sedang berada di Lombok untuk menyambung hidup ia sempat bekerja paruh waktu menjadi peracik minuman segar seperti Raw Juice dan Smoothies. Di tempat pemberhentian selanjutnya begitu juga demikian,ketika berada di Sulawesi Selatan ia juga sempat bekerja di bengkel las. Pekerjaan apapun ia lakukan demi menyambung hidup dan mendapatkan bekal yang cukup untuk melanjutkan petualangannya. Ah sungguh banyak pelajaran yang kudapat dari Mukhlas,walau aku tak sempat mengutarakan nya bahwa aku kagum atas perjuangan nya. Tapi aku yakin ia sudah mengetahuinya tanpa aku utarakan langsung.


Di dalam perjalananku yang terasa cepat,ternyata waktu itu melambat ketika semua kuhabiskan bersama mereka. Seolah-olah Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk mencari jawaban atas pertanyaan dan pelajaran dari saudaraku seperjalanan. Tapi,sekarang rasa untuk berpetualang sedikit membeku karena aku tak tau harus bertindak apa saat ini. Semoga setelah aku menulis tentang kalian aku mempunyai alasan untuk kembali melanjutkan perjalanan atau mendapatkan jawaban untuk yang lainya.



Jika kalian membaca ini,pasti sudah mengerti apa yang kumaksudkan saudara ? Aku dilanda kepanikan serta sebuah pilihan yang kadang sering ku utarakan keluh kesahku kepada kalian. Jangan marah ya saudaraku seperjalanan jika aku menulisnya ada yang salah atau kurang,bahkan tergolong lebay. Mungkin saja begitu berlebihan menyebutnya,tapi ini yang terlintas dikepalaku dan semoga kalian bisa memahaminya.
Jujur,aku menulis cerita ini adalah ungkapan rasa rinduku berkumpul bersama kalian lagi. Tak tau kapan semua itu harus terjadi,atau aku akan menjenguk kalian satu persatu menuju tempat kalian bernaung.


Setelah tulisan ini mungkin aku akan melanjutkan perjalanan kembali. Entah kemana aku juga belum tau,lihat saja kemana angin berhembus dan menghempaskanku menuju ke sebuah daratan yang mana akan ku ikuti alurnya. Jika aku sampai akan kucoba memberi kabar kepada kalian semua bahwa aku baik baik saja. Berdoalah kepada Tuhan agar aku mampu berkunjung dan menikmati secangkir kopi bersama di tengah obrolan-obrolan tak penting kita seperti dulu kala.

Sudahlah,aku akan bersiap siap dulu. Nanti siang atau sore aku akan mengabarimu semua.

Mataram,Lombok 18 Mei 2017
Tertanda ransel dan seorang pemuda usang

1 comment:

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.