Gunung Rinjani ; Rumah Para Pendaki Ternodai




"Rumah Para Pendaki Ternodai"
Apakah kata kata itu layak di sematkan? aku rasa percaya,dan pasti semua akan setuju. Disini usang tidak bermaksud untuk menggurui siapapun,bahkan usang masih banyak belajar dan kita saling mengingatkan saja dengan kejadian demi kejadian terus berulang. Tak ada rasa kasihan ketika para pendaki mengunjungi yang mereka sebut Rumah.

Gunung ? Sudah pasti dan tidak mungkin kalian bingung untuk menebaknya. Disini usang akan menceritakan pengalaman beberapa waktu lalu mengunjungi sebuah gunung ketika musim mudik bagi para pendaki alias dibukanya kembali jalur pendakian di seluruh gunung yang ada di Indonesia. ITU BINATANG ATAU MANUSIA SIH?! Kenapa dengan santainya meninggalkan jejak tak beradab di dekat daerah lalu lintas para pendaki. Kalau itu benar manusia yang berbuat,kok ga habis pikir membuang sembarangan di jalan bagian dari rumah para pendaki. Entah siapa pelakunya,antara pendaki atau bukan itu jelas benar benar yang tak beradab!


Dengan notabene Gunung terindah di Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara kalau tidak salah,jika pernyataan usang salah mohon maaf dan bantu di koreksi ya. Ada yang tau gunung apa itu ? ada ? ayo siapa yang bisa bantu ?

Gunung Rinjani ? ya benar. Gunung Rinjani yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat adalah gunung yang hampir memenuhi kriteria komplit dari berbagai jalur yang menghiasinya. Mau cari savana, trek berbatu, berpasir, hutan tropis, danau, air terjun, air panas semua mengisinya tak terkecuali es dan salju yang masih menjadi hak paten oleh sang penguasa Gunung yang ada di Indonesia yaitu Cartenz.

Usang tak akan berbelit belit seperti orang orasi,tapi sedkit banyak usang mau menceritakan kisah ternodainya gunung setiap kali dibuka. Kenapa menggunakan kata ternodai? karena belum genap sebulan musim pendakian,mata mulai sedikit risih melihat SAMPAH!. Ya,masalah klise seperti tak menemui titik temunya.

Baiklah, seperti ini cerita singkatnya.
Beberapa waktu lalu aku mendapat kesempatan kembali bersua dengan Gunung Rinjani ketika sahabat dari Ambon datang berkunjung ke Lombok tanpa ada kabar sebelumnya. Seperti bisa di tebak, acara dadakan menjadi kejutan bagiku ketika sedang menikmati hari hari memanjakan diri di Lombok.

Sore itu, setelah perjumpaan terakhir Februari lalu kala usang meninggalkan Kota Ambon akhirnya kami bisa berpeluk mesra. Bang Rifki atau kerap disapa bang Nyonyo, kami berjumpa kembali di Rumah Singgah Lombok. Kedatangan yang sedikit mengejutkan sekaligus bisa menjadi ajang pelepas rindu dengan teman teman disana. Kali ini bang Nyonyo datang dengan tampang murung,selain kedatanganya dengan pasangan, ternyata ia baru saja mengalami musibah yaitu kehilangan Handphone nya.


Cukup lama kami berbagi cerita, dan setelah suara Adzan Magrib ia mengeluarkan kata kata ingin mendaki ke Gunung Rinjani. Sedikit kaget,karena mereka datang dengan sebuah ransel kecil dan tak menggambarkan akan melakukan pendakian. Tapi,setelah berdiskusi akhirnya Solusi kami dapatkan. Menyewa beberapa alat dan melengkapi kekurangan yang tak ada di penyewaan. Deal, kata kata terakhir yang menjadi penyemangat pertanda kebahagiaan menyelimuti malam itu.

Kebetulan teman dari Jakarta juga sedang ada di Lombok,namanya bang Rahmat. Ia juga rutin mengunjungi Gunung Rinjani hampir 1 kali dalam setahun. Setelah selesai berdiskusi dan belanja logistik, kami segera packing dan keesokan harinya kami berangkat menggunakan mobil Pick-up bermuatan sayur menuju Sembalun dengan biaya Rp75.000/orang.



Perjalanan dari Mataram menuju Sembalun kira kira sekitar 3 jam, dan kami berangkat sekitar jam 12 siang kalau seingatku. Sebelum melakukan trekking, kami sempat melakukan pemanasan dengan melewati jalan menuju Sembalun yang berkelak kelok diatas tumpukan sayur yang tidak ada rasa nyamannya untuk pantat. Akhirnya kami sampai di Sembalun dan tepat turun di depan balai TNGR.

Setelah menurunkan barang,usang dan bang Nyonyo langsung melakukan registrasi karena kami masih mempunyai waktu hingga jam 4 sebelum kantor tutup. Ingat, menjadi pendaki yang baik harus mempunyai surat ijin ya hehe.

Tanpa mengalami kendala registrasi, dan tiket sudah ada di tangan,segera kami kembali menuju Basecamp yang dimiliki salah satu teman yang bernama bang Momo. Pria baik yang selalu mempersilahkan pendaki manapun untuk sekedar singgah atau menumpang menginap setelah turun dari Gunung Rinjani. Kami kembali mengecek perlengkapan dam membeli beberapa logistik yang kurang untuk kami bawa.

Karena kondisi sudah mulai sore,kami beristirahat sejenak dan bang rahmat mengajak kami untuk melakukan trekking malam. Eits, angan salah paham. Aku mengerti jika yang kami lakukan salah, walau dengan banyak alasan atau ngeles seperti beberapa dari kami sudah hafal dengan jalur, tidak ada yang bisa mengaminkan melakukan pendakian malam hari. Apalagi alasan menghindari berjalan dipagi hari karena ramai dan tentunya panas ketika melewati padang savana. INGAT, INI TIDAK PATUT DITIRU! hehe maafkan diriku ya, maaf



Perjalanan kami tunda hingga selesai melahap makan malam.Tepat jam 9 malam kami berangkat dari basecamp bang Momo da diantar menggunakan mobil Pick-up menuju Pintu Gerbang.

Cerita dimulai, dan Selamat datang Rumah, Aku Pulang!
Aku berbisik bisik mengelitik kedalam hati yang sedikit cemas,bolehlah sedikit menghibur diri di tengah tengah gelap dan kesunyian Sembalun.

Tantangan dimulai ketika mobil tidak dapat mengantarkan hingga ke Gerbang Pendakian karena terselip tanah yang becek akibat hujan beberapa hari terakhir. Kami memutuskan untuk menyudahi dan berjalan kaki. Tidak terlalu jauh,hanya beberapa menit sampai dan ucapan selamat datang ketika menginjakan kaki kembali.

Perjalanan yang teramat santai ketika malam yang diramaikan oleh cahaya headlamp mengikuti irama langkah kaki. Seperti biasa, aku selalu berada di belakang.Bukan mejadi yang sok jago atau kuat,melainkan usang jalanya kayak keong jadi paling belakang.

Baru bersuka cita bisa menikmati Gunung Rinjani setelah cukup lama ia tidak ingin di ganggu alias tutup mulai bulan September tahun lalu ah kejadian ini sangat tidak mengenakan. Mata yang tajam dan fokus melihat jalanan basah dan becek mulai terganggu dengan adanya sampah. Belum juga berjalan 30 menit, sampah plastik baru dan usang sangat yakin, karena kondisinya belum berubah warna dan ada beberapa jejak kaki yang masih segar menghiasinya. Bungkusan permen itu tercecer sejauh ya ada mungkin berjalan sekitar 10 menit, walau tidak banyak tapi itu sudah sangat mengganggu. Apalagi Pendakian baru saja dibuka,kenapa kejadian tidak mengenakan menjadi penyambutan meriah malam itu.

Akhirnya bisa sedikit lega setelah melewati sampah yang berserakan. WOI!!! Sampah nya ingat disimpan dan dibuang ketempatnya!

Walau sampah mulai tak terlihat,tapi sesekali kami menjumpai walau tak sebanyak yang pertama hingga di pos1. Tempat kami pilih untuk peristirahatan malam itu dan kami mendirikan tenda serta tidur kurang nyaman karena kejadian di perjalanan.



Keesokan hari,pagi pagi sekali kami sudah berjalan menuju Pos2. Sembari membayangkan sabana hijau tersapu hangatnya mentari pagi,usang membayangkan keheningan atas pelarian dari keramaian dengan mengingat lagu Eddie Vedder yang berjudul Hard Sun. Pas ga ? kalau pas berarti Jodoh kita. yes!!!!

Perjalanan cukup cepat dan kami sudah sampai di Pos 2, Kali ini tampak berbeda. Dulu Pos2 sering menjadi tempat peristirahatan orang orang untuk makan siang dan beristirahat sekarang nampak cukup bersih. ya walau tidak sebersih mungkin tapi cukup menyedapkan mata.


Nah disana kalian pasti sudah tahu jika ada orang berjualan. Salah satu penjualnya akbrab sekali denganku. Dia salah satu dari sebagian warga lokal yang mencari nafkah berjualan minuman kaleng ketika sedang tidak menjadi porter. ia bernama bang Radit.

Sosok lakon yang cukup berbeda dari Porter porter lain,itu gambaran menurutku. Setelah cukup lama beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju Pos3. Perjalanan begitu terasa cepat karena kabut tipis menggantung menemani.Jelas,itu sangat menguntungkan kami.



Nah petaka lagi saat sampai pos3. Kalian tau kan disana ada Kalimati yang menyisakan pasir hitam legam sekaligus genangan genangan air kecil? Mau tahu petaka apa itu? Ops, maaf sebelumnya ya
Sedikit tidak etis tapi seperti itulah kenyataanya. Kalian tahu? Ada beberapa jejak kotoran manusia yang di telantarnkan begitu saja dengan kondisi tak di kubur ataupun membuangnya jauh dari jalur pendakian.

Bau ga? udah jelas lah, Bau terkutuk itu menerjang hidung dengan sporadis. Tanpa menunggu basa basi membuat perut merasa ingin muntah dibuatnya.
Begitu mudah melakukanya tanpa berfikir efek dari perbuatanya sangat mengganggu banyak orang. Ya tapi itu bagian dari bagaimana Rumah Para Pendaki Ternodai kali ini.

maaf aku tidak mengabadikan nya,karena menurut usang itu sudah sangat sangat keterlaluan.

Di perjalanan menuju Plawangan Sembalun yang terus menanjak, aku masih saja mendapati bekas bekas Mie Instant berhamburan.Emang kupon undian di hambur BOS?
Pesona sampah menemani hingga usang dan teman teman di Plawangan Sembalun saat hari sudah semakin gelap.
Kami langsung mendirikan tenda sore itu. Setelah makan malam tak ada aktivitas lagi kecuali mengistirahatkan badan dengan tidur pulas.
Waktu itu, kami berada di Plawangan Sembalun selama kurang lebih 3 malam berturut turut, keinginan menuju Danau Segara Anak kami urungkan karena cuaca yang belum mengijinkan kami untuk menikmatinya dari dekat.

Hari pertama di Plawangan Sembalun kami nikmati seperti Turis. Kok turis sih ? kan Gunung Rinjani masih di Lombok, Indonesia. Iya memang benar masih di Indonesia, tapi pagi itu tak banyak kami melihat para pendaki lokal. Hanya menyisakan para turis asing dengan deretan tenda seragam yang mereka gunakan melalui jasa dari Trekking Operator di Lombok.Baik dari Senaru dan Sembalun sama sama mempunyai banyak yang bergerak dalam OpenTrip ke Gunung Rinjani.


Setelah selesai sarapan,kami memutuskan untuk berpindah lokasi karena posisi kami cukup jauh jika menuju ke mata air. Kami menuju tempat yang sering digunakan para pendaki lokal untuk lokasi camp. Lokasi dekat dengan mata air,dekat ketika akan Summit Attack, ditengah tengah ketika ingin menju danau,dan tentunya tidak akan mendapat marah ketika sedang tertawa. Karena aku beberapa kali mendapat marah karena tamu mereka ingin istirahat dan suara yang usang timbulkan sangat mengganggu. Ya ini juga bukan gunung pribadi, siapapun boleh tertawa, aku juga masih mengerti sikap mana yang harus dilakukan ketika seperti itu. Bahkan aku sudah mengontrol suara agar tidak ada satupun terganggu dengan keributan yang kami ciptakan.

Tempat seperti biasa kami dapat,berada di dekat pohon dan tanah cukup datar. Hufttttt, Hela nafasmu panjang panjang Sang. Padahal belum genap 1 bulan alias baru sekitar 3 minggu sudah banyak sampah berserakan menghiasi tebing bagian sisi luar dekat dengan jurang. Bukan akibat Monyet yang menghamburkan nya,tapi manusia manusia yang bertanggung jawab barang sendiri tapi lupa akan sampah rusaknya keindahan Gunung Rinjani.



Tenda sudah berdiri,Usang bertugas mengambil air sekaligus membawa pisau karena ingin membuang air juga hehehe.tapi ingat,perilaku yang baik dan sadar pasti akan berusaha dengan cara seperti menggali dalam dalam untuk menghindarkan dari orang dan tidak akan mengganggu kenyamanan siapapun.Benar ga ?

Ketika berjalan dan sudah mendekati air,usang tak menemukan lokasi strategis,maka tujuan mengambil air adalah prioritas utama.Ketika berjarak tak kurang dari 5 Meter,lagi lagi usang menemukan tanda tanda keberadaan jejak manusia yang tak bertanggung jawab kesekian kalianya.

Ah betapa malangnya usang kali ini. Di daerah mata air mereka masih menghamburkan kotoran bak tanah liat. Hei ini semua orang mengambil tapi kenapa juga kalian manfaatkan semata mata dekat air dengan seenaknya membuang tanpa memikirkan orang lain.Usang tidak menuduh siapa dan dari mana,tapi usang menyebut orang orang itu karena tidak tahu siapa pelakunya.

Jangan pikir kalo usang berbuat hal serupa ya. Masak usang ikut ikutan gila kayak mereka sih. Orang banyak lalu lalang untuk mengambil air untuk memasak bahkan untuk minum. Dan sekarang menjadi jalang tak terurus seperti ini. Betapa teganya tempat yang menganggap Gunung adalah Rumah kalian kotori. Elus dada sambil doain orangnya ketika dirumah dia dapat hidayah terus Tobat. AMIN

Sudahlah, aku tidak ingin dibilang maha benar dan Sok menjadi pahlawan bertopeng ala acara televisi. Ketika bertahan sekuat tenaga mengambil air, aku segera kembali menuju tenda.Sembari membuat kopi untuk melupakan kejadian tadi dan tembakau menjadi penetral semuanya.

Saat menatap ke arah danau kali ini ada pemandangan kontras sekali,berbeda jika dibandingkan beberapa hari yang lalu saat menyambangi Gunung Rinjani. Seorang lelaki cukup tua sedang memungut sampah dan di masukan kedalam trashbag. Lelaki itu tak begitu asing, paras dengan gaya tubuhnya sudah familiar seperti sering ku lihat.

Ternyata lelaki itu adalah porter dari salah satu Trekking Operator lokal yang kebetulan sudah akan meninggalkan Plawangan Sembalun. Dari banyaknya kejadian buruk, ternyata masih ada yang menjadi sosok pahlawan kali ini. Laki laki itu mengumpulkan sampah mereka lalu membakarnya dan beberapa ditanam seperti sampah organik dan sampah kerasnya mereka masukan ke dalam trashbag.

Memang, yang mendominasi di Gunung Rinjani adalah para turis asing saat ini,dan dari para trekking operator menjadi pemandu mereka. Permasalahan nya dimana? ini ni, bukan mau menyudutkan siapapun dan menyalahkan siapa dan yang benar siapa. Tapi pada kenyataanya dilapangan banyak dari porter porter yang tidak bertanggung jawab.Misalnya,mereka membuat toilet darurat dengan cara menggali lubang dan di tutup dengan kain.


Nah di bekas toilet itu,terkadang mereka meninggalkan tanpa benar benar menguburnya. Hanya setumpuk tanah dan masih menyisakan jejak bau. Cukup mengganggu,ya benar mengganggu bagi siapa saja yang sedang melintas. Belum lagi,terkadang mereka tidak membawa sampah mereka turun,hanya menguburnya dan terkadang jika sampah mereka sudah di serang oleh monyet maka mereka membiarkan begitu saja.

COME ON!!! jangan mementingkan hasilnya saja tanpa ikut bertanggung jawab. Minimal ada cara berterima kasih atas yang diberikan Gunung kepada kalian dengan cara ikut mejaga dan merawat alam yang memberikan semuanya kepada kita.

Bukan itu oknum oknum itu saja, banyak juga beberapa orang yang sedang mendaki berbuat hal yang sama. Hei ingat!!! kalo buang air dilihat dan carilah tempat yang jauh serta jangan menghambur hamburkan bekas tisu seenaknya!. Entah apa yang ada di dalam pikiran kalian sehingga tidak sadar berbuat hal yang tidak mengenakan itu. Ditambah lagi,terkadang bungkus bungkus permen atau snack ya kalau tidak sempat di masuka di trashbag tinggal inisiatif dengan memasukan ke dalam kantong celana atau flanel. Tinggal nanti jika sudah sampai di tempat area camp baru di pindahkan.Mudahkan ? ayo jangan jadi pemalas teman teman.


Jangan rusak Rumah para pendaki,Bagaimana rumah kalian di acak acak lalu meninggalkannya begitu saja. Kejadian seperti inilah membuat miris kondisi gunung,walau bukan hanya Gunung Rinjani saja yang mengalami kejadian seperti ini. Masih banyak gunung gunung lain sepereti di Jawa,Sumatra bahkan di sulawesi juga pernah mengalami kejadian serupa.

Semoga Pengalaman seperti ini tak akan terulang lagi.Masih banyak ternyata oknum oknum tak bertanggung jawab memperlakukan Alam dengan tidak sopan. Aku tidak bermaksud menuduh alih alih menyudutkan orang atau kelompok tertentu.Ini kejadian nyata dan harus kita lawan bersama agar kenyamanan bisa didapatkan siapapun saat mengunjunginya.


Sudahlah,terkadang usang juga pusing ketika membahas permasalahan yang berlarut larut seperti ini.Seakan akan tidak pernah menemukan ujungnya. Jadi saling menginstropeksi diri sendiri, apakah benar tindakan kita selama ini.
Ku ucapkan banyak minta maaf kepada semua,jika ada yang tersinggung atau marah jangan salahkan aku, karena aku hanyalah tas ransel yang menjadi saksi bisu kehidupan.

Salam Lestari!
Sebagia sumber dari bang rahmat,partner mendaki kemarin : https://www.facebook.com/merore

6 comments:

  1. perjalanan seruuuu
    pemandangan indah....
    yah memang banyak tangan2 tak bertanggung jawab
    sedih kalo sudah gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah resiko tempat yang indah,terkadang mendapat timbal balik dengan kerusakan

      Delete
  2. Manusia kayaknya adalah seburuk2nya perusak lingkungan yah. Eh btw, di pinggir danaunya itu bisa buat nge camp ga bang usang?

    idiotraveler.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya seperti itulah bang,sudah ga bisa menjawab lagi

      kalau di danau adalah tempat favorit jika berkunjung ke Gunung Rinjani.karena danau selalu menjadi obat dari hiruk pikuk keramaian kota

      Delete
  3. huaaa, mata berkaca-kaca saking pinginya naik ke rinjani bang, sampai sekarang belum kesampaian.. semoga tahun ini bisa kesana,,pingin mengungkapkan dengan rasa syukur serta menulis di setiap detil rinjani. Bismillah pingin banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar bang, jangan terbawa suasana di dalam cerita hehehe
      amin. semoga disegerakan dan mendapat rejeki dan kesehatan buat mendaki ke Gunung Rinjani ya
      salam kenal, terima kasih sudah berkunjung

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.