Sejarah Rumah adat Uma Leme di Bima hampir Punah!


UMA LEME, sosok rumah adat Bima yang berdiri tunggal dan masih bertahan melawan kepunahan ditengah tengah rumah warga yang sudah banyak berubah mengikuti zaman.

Waktu lalu ketika usang berada di Bima dan berkesempatan untuk mengunjungi Rumah adat Uma Leme yang berada di Donggo,kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sebelum membicarakan dengan lengkap, aku ingin berbagi sedikit tentang sejarah yang ada di Donggo,Bima sebagai berikut :

Di Donggo memiliki Suku tersendiri bernama Suku Donggo (Dou Donggo). Suku Donggo adalah suku yang tinggal di kecamatan Donggo kabupaten Bima provinsi Nusa Tenggara Barat.

Istilah "Donggo" sendiri atau lebih lengkapnya disebut "Dou Donggo" mempunyai "Orang Gunung". Suku Donggo sendiri terbagi dari 2 kelompok, yang dibedakan berdasarkan daerahnya, yaitu Donggo Ipa dan Donggo Ela. Untuk daerah Donggo Ipa terletak di sebelah timur teluk Bima, sedangkan untuk suku Donggo Ela terletak di sebelah barat teluk Bima. Perkampungan suku Donggo berada di pinggir jalan atau sungai.


Suku Donggo ini merupakan penduduk pertama yang menghuni daerah Bima. Menurut para peneliti suku Donggo memiliki bahasa dan adat yang berbeda dengan suku Bima (Dou Mbojo). Suku Donggo memiliki kesamaan dengan masyarakat daerah di Lombok bagian utara.

Bahasa yang dipakai oleh Suku Donggo menggunakan bahasa Bima Donggo. Di dalam bahasa Bima Donggo,terdapat 2 kasta bahasa yang disebut sebagai bahasa halus dan bahasa kasar.

Rumah tradisional Suku Donggo yang di sebut Uma Leme memiliki bentuk yang berbeda dengan masyarakat lain yang berada di Bima. Rumah di bangun di bangun dengan ketinggian sekitar 7 meter dengan ukuran sekitar 3 x 4 meter. Rumah adat Uma Leme beratap alang alang dan berdinding kayu Sangga (kayu yang diyakini bisa menolak bala dan bencana). Rumah ini disebut juga sebagai rumah Ncuhi atau Uma Ncuhi. Di rumah ini di simpan berbagai barang barang persembahan dan alat alat kesenian.

Suku Donggo juga mempunyai beberapa seni budaya dan upacara adat seperti : Upacara Kasaro (acara untuk orang meninggal), Upacara Sapisari (penguburan), Doa Rasa (doa kampung) yang diadakan sekitar 5 tahun sekali, Tari Kalero dan pesta Raju (anjing hutan).


Sebagian besar warga di Donggo adalah pemeluk agama Islam dan sebagian kecil memeluk agama Kristen.Konon pada zaman dahulu sebelum orang Donggo memeluk agama Islam dan Kristen,mereka sempat menganut agama atau kepercayaan terhadap para dewa yang mengandung unsur Hindu dan Budha.

Mereka juga menjunjung tinggi Lewa (dewa) yaitu kekuatan gaib yang ada di alam.Dewa yang tertinggi dan ditakuti adalah Lewa Langi (Dewa Langit) yang tinggal di matahari. Mereka juga percaya kepada roh - roh di sekitar mereka yang dalam bahasa Donggo disebut Rawi. Dalam keyakinan mereka,ada roh yang suka mengganggu dan roh yang suka menolong, misalnya Rawi Ndoe (angin dari roh nenek moyang atau pelindung).

Masyarakat Donggo sebagian besar mendiami wilayah kecamatan Donggo sekarang yang dikenal dengan nama Dou Donggo, dan sebagian lagi mendiami kecamatan Wawo Tengah (pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu Dou Donggo Ele. Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh para pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru pula.Seperti agama Islam, Kristen bahkan Hindu dan Budha.

Hal ini dilakukan mengingat masih kuatnya kepercayaan dan pengabdian mereka pada adat dan budaya asli yang mereka anut sejak dulu sebelum para pendatang tersebut datang. Kepercayaan asli nenek moyang mereka adalah kepercayaan terhadap Marafu (animisme).

Kepercayaan terhadap Marafu inilah yang telah mempengaruhi segala pola kehidupan masyarakat, sehingga sangat sulit untuk ditinggalkan meskipun pada akhirnya seiring dengan berjalanya waktu dan para penyebar berbagai agama menyebabkan mereka menerima agama yang mereka anggap baru tersebut. 

Pakaian adat suku Donggo



Untuk pakaian suku Donggo berbeda dengan pakaian adat masyarakat Bima pada umumnya. Pakaian adat suku Donggo didominasi dengan warna hitam. Pakaian adat berwarna hitam ini sudah mereka pakai sejak zaman nenek moyang dahulu yang mereka gunakan pada upacara adat dan ritual masyarakat Donggo.


Untuk perempuan dewasa menggunakan Kababu, yang terbuat dari benang katun yang disebut baju pendek (baju Poro). Di bagian bawah memakai Deko (sejenis celana panjang sampai di bawah lutut). Untuk perhiasan memakai kalung dan manik-manik giwang. Untuk perempuan remaja tetap memakai Kababu atau baju lengan pendek. Namun cara memakai perhiasan agak unik yaitu dengan dililitkan dan dibiarkan terjuntai dari leher ke dada.




Sedangkan untuk laki laki,mereka mengenakan baju Mbolo Wo’o (baju leher bundar berwarna hitam). Di bagian bawah mengenakan sarung yang disebut Tembe Me’e Donggo yang terbuat dari benang kapas berwarna hitam dan bergaris garis putih.Lalu dipinggang dipasang Salongo (sejenis ikat pinggang berwarna merah atau kuning yang berfungsi sebagai tempat untuk menyematkan pisau atau keris atau parang).


Suku Donggo juga memiliki senjata yang disebut Pisau Mone (pisau kecil) yang behulu panjang dengan bentuk agak panjang. Untuk alas kaki atau sandal mereka menggunakan Sadopa yang terbuat dari kulit binatang.


Dalam bertahan hidup, suku Donggo pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti menanam padi di sawah dan menanam berbagai tanaman di ladang dan di kebun. Sebelum mengenal teknik pertanian, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah pindah,dan karena itu tempat tinggal mereka pun selalu berpindah pindah (nomaden)

Mereka juga memelihara hewan hewan ternak, seperti kuda dan sapi. Kegiatan lain yang biasa mereka lakukan adalah berburu di hutan sekitar perkampungan.Mereka juga terkenal karena ahli dalam meramu obat. Tapi di balik history suku Donggo dan rumah adat Uma Leme,terdapat juga kemirisan.Kenapa ? karena rumah adat Uma Leme berdiri TUNGGAL! Atau hanya sendiri saja diantara rumah rumah warga yang sudah banyak berubah bentuknya mengikuti arus zaman walau tidak seutuhnya berubah.

Di tambah yang membuat sedih lagi seperti tidak ada yang mempedulikan bangungan rumah tersebut ketika kaki usang terus bergerak dalam kunjungan saat itu.Mata dengan liar melihat setiap sudut yang ada bagian bawah rumah.Ada beberapa kayu yang sudah diganti karena kondisinya sudah lapuk dan harus segera di perbarui.

Sebab,Uma Leme sendiri sudah ada sejak jaman kerajaan dulu kala yang sampai saat ini masih meninnggalkan bukti bagaimana per adabanya.Bangunan ini juga memiliki unsur seperti elemen yang ada di bumi : air,api,udara,pengobatan (sumber ini saya dapat dari perbincangan dengan salah seorang teman).



Dibagian depan terdapat 1 pintu masuk dan keluar saja. Lalu kondisi bagian dalam juga sangat memprihatinkan karena kurangnya perhatian jadi ada beberapa bagian yang mulai kropos dimakan usia. Selanjutnya di bagian depan diatas tanda silang bambu masih sama dengan rumah adat yang ada di wawo yaitu Uma Lengge tetapi ada sedikit perbedaan dari kedua rumah adat tersebut.


Perbedaannya terletak di bagian samping, jika Uma Leme mempunyai barugak kecil, lantas di Uma Lengge sendiri tidak memiliki alias hanya rumah saja. Lalu, untuk proses pembuatan sebuah rumah atau bangunan sendiri ada beberapa proses seperti syukuran, pemilihan pondasi yang memiliki elemen dari bumi serta setiap prosesi awal pembuatan harus diawali oleh PANGGITA lalu di ikuti oleh seluruh orang yang bekerja. Miris melihat kondisi rumah adat yang seperti tidak terawat.


Semoga saja semua masyarakat dari berbagai kalangan saling bergotong royong dan turut menjaga kelestarianya agar rumah adat Uma Leme ini masih bisa kokoh berdiri menjadi sebuah peninggalan yang bisa ditunjukan kepada masyrakat luas.Karena kita bisa melupakan sejarah,bagaimana bener ga usang ? tumben ngomong serius dan bener hahaha

Baiklah sekian cerita tentang Sejarah Rumah adat Uma Leme,Bima hampir Punah! Serta Suku donggo. Semoga informasi kali ini bisa menambah pengetahuan kita semua tentang keaneka ragaman budaya dan sejarah yang ada di Indoneisa

Kurang lebihnya usang mohon maaf,jika ada kesalahan mohon dibantu di revisi di kolom komentar ya.Selamat mengenal Bima lebih dekat lagi ya

Sumber info dan foto baju adat usang dapat di : https://alanmalingi.wordpress.com/2012/10/29/mengunjungi-situs-uma-ncuhi/

14 comments:

  1. Oh.. unik juga desain rumah adat suku Donggo. Jadi pingin buat desain rumah unik dari suku donggo

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bagus itu bang,bisa menjadi salah satu cara menjaga rumah adat nya

      Delete
  2. Barangkai sebentar lagi ada resort yang terinspirasi disain arsitetur rumah donggo. - idiotraveler.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh juga,paling tidak turut mengenalkan dan menjaga kelestarian nya
      salam kenal

      Delete
  3. keren yaaa sayang juga kalau sampai punah, harusnya bisa jadi Unesco World Heritage

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju ni,barangkali diaminkan sama pemerintah dan UNESCO hehe

      Delete
  4. cantik banget ya rumahnya. Harus mulai dibenahi biar ga sampai punah. Kaya rumah adat sunda udah jarang banget di bandung. Malah ada sebutan kelihatan miskin kalau rumahnya "bilik" khas jaman dulu. Tapi di sisi lain rumah bilik ini jadi restoran2 yang super mahal dan "ekslusif" sedih kadang lihat fenomena kaya gini..
    tiba-tiba ngebayangin rumah adat uma leme ini dengan gaya khas restoran2 itu, dan pembangunan dengan kualitas kayu yang lebih baik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayang juga kalau sampai punah,tapi kalau diduplikasi menjadi resort atau restoran menurut usang sah sah saja.bisa membuat gaya tersendiri dengan rumah adat sebagai ciri khasnya

      Delete
  5. Replies
    1. amin semoga tidak terjadi.butuh kesadaran dari pemerintah dan masyarakatnya

      Delete
  6. terimakasih atas info yang sangat menarik ini dan untuk referensi silahkan kunjungi http://indonesia.gunadarma.ac.id/

    ReplyDelete
  7. in beneran rumah adatnya tinggal 1 aja mas? sayang banget padahal ini adalah warisan budaya yang harus dijaga. Meskipun terlihat sederhana tapi rumah ini menjadi tanda bagaimana kehidupan masyarakat suku Donggo pada jaman dahulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya beneran bang hanya tersisa 1 saja dari beberapa rumah adat pada zamanya yang sudah tumbang.Memang sederhana,tapi kita tidak boleh melupakan,karena kita hidup bagian dari sejarah mereka juga.Semoga kedepanya pemerintah dan masyarakat lebih merawat Uma Leme ya

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.