Bertepuk Sebelah Tangan dan Sendiri di Gunung



Perjalanan tak melulu membahas tentang budaya dan destinasi wisata semata,sebuah perjalanan yang lama bisa saja terisi oleh kejadian menyenangkan dan menyedihkan.Seperti terjebak perasaan ketika berada di sebuah tempat dan bertepuk sebelah tangan. 

Dalam kisah perjalanan usang tidak hanya menceritakan bagaimana pengalaman dan keseruan,tapi pernah terjebak dalam hal percintaan haha emang laku ?
Maka dari itu usang ingin pergi mengasingkan diri,tapi bukan berlari tidak terima kenyataan ya.Tetep terima kok 



Baiklah!Tak mau lama lama mendrama panjang lebar.Pertama usang menceritakan kronologisnya terlebih dahulu kenapa bisanya seorang usang galau.hihi
Sebenarnya pertemuan dengan sosok yang usang panggil dia (nona).Waktu itu ia sedang berlibur di Lombok bersama teman temanya.Cerita singkat pertemuan ketika usang berada di bukit merese seorang diri untuk menikmati sunset tiba tiba si nona tersebut datang dengan gerombolan teman nya.Usang perhatikan sepertinya mereka dari luar jika mendengar perbincangan mereka dari jauh.

Setelah melihat dengan seksama,ternyata parasnya begitu menentramkan jiwa haha pas banget dengan kondisi sunset yang cantik kala itu.Memikir dan mencari kesempatan bagaimana untuk bisa dekat dan melihat mukanya lebih jelas,usang mulai berfikir untuk meracik strategy.Karena momen sunset yang cerah,usang memberanikan diri dengan berpura pura meminta si Nona untuk berpose menjadi model.Walau hanya berbekal kamera Handphone usang tetap percaya diri untuk mencobanya.

Dengan jawaban yang mengejutkan,si Nona mengabulkan permintaan usang walau sedikit tersipu malu.Usang menjelaskan bahwa akan memfoto siluet jadi muka tersamarkan alias gelap.Jadi ketika sudah selesai usang foto tidak orang tau siapa di balik sosok tersebut kecuali kami yang berada disana saat itu.


Berkat Sok kenalah usang dan mengetahui nama asli dan berasal si Nona tersebut.Si nona tersebut dari kota besar di Jawa Barat yaitu Bandung.Perkenalan singkat dan cepat membuat usang langsung memiliki salah satu kontak media sosial si Nona.Memulai obrolan dengan basa basi dan lama kelamaan sering berinteraksi membuat kita saling mengenal. 



Perkenalan selama 4 bulan membuat ada rasa ketertarikan hingga kedatangan si Nona kedua kali ke Lombok begitu juga usang yang baru saja kembali setelah dari Flores.Disinilah petaka bermula,hubungan kami sudah begitu dekat tapi saling menyembunyikan rasanya masing masing.Ketika bertemu kembali dengan si Nona usang mengajak ia untuk menikmati suasana cerah di pantai Mawun.Dan disana kami bercerita kesana kemari sebelum masuk ke point utama alias usang mulai beraksi. 


Sedikit berbasa basi dengan menanyakan kabar dan bagaimana perkembangan tentang tugas akhirnya di kampus.Lalu dengan sedikit tersipu malu dan agak gemetar ditambah muka memerah usang mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang usang rasakan selama dekat dengan si Nona. Ah begitu bercampur aduk rasa nya hingga bibir ini merasa kaku dan terbata bata untuk berucap. Tapi usang tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini,karena tidak mungkin datang untuk kedua kalinya kan. 



Setelah usang ucapkan lantang dengan sedikit malu,akhirnya perasaan usang sudah diketahui oleh si Nona. Seketika ekspresi mematung dan bingung harus menjawab apa. Kala itu suasana pantai mendadak menjadi asing bagi kami berdua. Seperti berada di tengah tengah gurun pasir yang terik sehingga kami tak mampu untuk berbuat apa apa. Tetapi si Nona sungguh mampu menaklukan suasana yang sempat kaku mencair dengan jawaban yang seperti kalian tau pasti tidak mengenakan. 



Ia berkata jujur, Maaf sekarang aku tidak bisa menerima,kamu terlambat perasaan ini sekarang sudah ada yang memiliki. Kenapa kamu tidak sedari dulu mengucapkan jujur kepadaku ? aku juga menaruh perasaan terhadapmu tapi semua sudah terlambat dan aku tidak mungkin meninggalkan dia. Ah setelah mengetahui jawaban nya seperti ini rasanya ingin mengutuk diri sendiri,kenapa semua terlambat dan baru mengetahuinya sekarang ? penyesalan demi penyesalan mulai keluar memprotes diri. 



Langsung saja si Nona meminta maaf dan melihat kondisi menjadi tidak nyaman,maka si Nona mengajak untuk segera pulang dan di antar menuju Hotel. Usang mengabulkan permintaan nya dan di sepanjang perjalanan kami hanya saling membisu tanpa ada pembahasan berlanjut. Usai mengantar usang kembali ke rumah dimana usang menumpang menginap sembari terus memikirkan kejadian tadi.




Harapan langsung saja sirna seketika bersama waktu yang berlalu begitu cepat. Dengan segala rasa keterpaksaan untuk merelakan si Nona untuk dimiliki oleh orang lain. Namun jika terus disesali akan terus membuat usang menyerah dan tentunya akan menghambat petualangan ini. Maka dengan hati yang besar usang merelakan tak bisa bersatu dan tetap berteman seperti dulu kala mejadi pilihan terbaik untuk kami. 



Sempat beberapa hari hanya terkurung di dalam lamunan kosong serta penyesalan yang begitu dahsyat. Tapi, semua tak ada yang harus disesali karena sudah terjadi. Semua usang simpan dalam dalam sehingga orang tak tau apa yang sedang usang alami. Sedih seperti hancur berkeping keping dan tak ingin berlarut larut, maka usang memutuskan untuk mencari suasana tenang dan kesendirian. Setelah melihat kondisi cuaca sedang bagus, maka usang memutuskan untuk mendaki ke Gunung. 



Kenapa memilih Gunung ? tak ada tempat lain yang bisa menenangkan, Anggap saja kali ini edisi perjalanan untuk menyendiri dari diri sendiri. Karena Gunung bisa memberi banyak pelajaran dan hal hal tak terduga setiap kali mengunjunginya. Sebenarnya tak ingin pergi sendiri,tetapi kondisi suasana hati yang sedang tidak bagus maka usang memutuskan berangkat dengan kesendirian. 



Selama ini terlalu terbuai dengan harapan dari kedekatan yang sedikit menggelapkan mata. Kenyataan nya diri ini belum siap untuk menerima luka yang timbul. Jika dipikir kembali, Semua ini adalah sebuah pelajaran untuk mengikhlaskan sesuatu yang hilang dengan berbesar hati ? seperti kejadian kejadian lainya yang pernah usang alami. Tapi tak semudah itu dalam kejadian ini, banyak ingatan yang membuat usang begitu merasakan hal ini lebih sakit untuk di lepaskan. 



Dalam perjalanan pendakian,usang hanya berinteraksi dengan alam serta sesekali berbicara dengan para pendaki lain yang bertemu di jalan. Masih lekat di dalam ingatan bagaimana ilalang menari menyentuh kulit tak sengaja terbawa oleh angin dan mereka tidak marah. Tanah basah berbau pekat sepatu yang menginjaknya menjadi bentuk tak beraturan. Langit yang terkadang cerah dan terkadang muram di selimuti kabut kesedihan. Apakah gunung merasakan hal yang sama ? sepertinya alam berduka untuk usang atau mereka berduka atas alasan yang lain. 



Walau sedang menikmati kesedihan,gunung banyak memberi tanda bahwa usang harus belajar tentang sebuah hal yang diluar scenario dan harus siap menghadapi kemungkinan kemungkinan yang terkadang tidak bisa kita terima,seperti cuca yang terkadang berubah begitu lalu turunlah kabut dan hujan.Pendakian ini begitu terasa asing,namun semua memberi pelajaran ketika harapan harapan yang seakan sirna mulai menemui titik terang.



Saat berada di kehidupan normal seakaan jumawa dengan apa yang dimiliki dan dinikmati,tetapi saat berada di atas gunung semua perlahan berubah dan membuat usang begitu merasa kecil diantara kebesaran alam semesta yang benar benar nyata.Perlahan semua menempa kenyataan yang harus di terima dan di hadapi dengan lapang dada. Jangan mengeluh sang jangan! pergulatan hati yang kuat 




Matahari mulai muncul menerangi bumi,embun embun yang menempel ditenda,menggantung di antara rumput liar mulai nampak bercahaya. Suhu dingin perlahan mulai hilang dengan kehangatan matahari lama lama mendekap badan ini. Mata masih belum jelas melihat pemandangan hanya samar melihat gumpalan awan dan kabut yang memisah. Serta garis horizontal matahari merah yang usang ingat waktu itu.



Saat itu juga usang tersadar berkat keindahan usang harus tetap memupuk asa dan menerima. Jiwa ini perlahan mulai membuang nama serta memori keindahan bersama si Nona. Satu persatu huruf mulai keluar bersamaan asap dari mulut karena cuaca dingin. Lepaslah,pergilah bebas dari pikiran dan kenangan. Hanya itu yang bisa usang panjatkan dalam gumaman pagi. 



Kejadian bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari perjalanan yang sudah usang mulai. Jadi jika hati telah dimiliki oleh orang lain,maka masih banyak hati diluar sana yang belum dimiliki. Sebuah petuah yang entah dari mana datang nya tapi usang mempercayainya.

Sebenarnya mendaki bukan sebagai media pelarian,tetapi sebagai mencari tempat untuk benar benar bisa tenang dan menemukan sebuah jawaban dan harapan baru. Jadi tak ingin terjebak dan menjadi putus asa,semuat itu bisa membuat usang mendapat marabahaya ketika mendaki bisa mengalami hal hal yang tidak di inginkan. 


Sudah pasti ketika melakukan kegiatan luar lapangan yang terpenting adalah kembali dengan selamat bertemu orang orang tercinta buka kembali hanya dengan nama saja. Ingat ya! sama halnya dengan hati,harus bisa melupakan dan mencoba membuka hati kembali untuk orang lain.Eaaaaa 



Setelah beberapa hari melakukan pendakian usang sedikit merasa terlahir kembali,walau masih ada ingatan yang terkadang muncul tapi usang belajar mengikhlaskan nya.Siapa bilang dalam perjalanan ini tidak mengalami hal seperti hidup normal ? tapi kenyataan nya perjalanan selalu bertemu dengan hati hati yang bergentayangan. Mungkin terlihat konyol menuliskan pengalaman ini seperti diary perempuan dan kalian akan menertawakan usang,tapi kenyataan nya jika tidak siap menghadapi bisa saja usang galau dan celaka siap menjemput. 



Jadi jika kalian melakukan perjalanan yang cukup lama,usahakan dijaga hatinya agar bisa siap menerima kejadian kejadian seperti yang pernah usang alami ini. Dan ini adalah saran dari usang,jika teman teman sedang mengalami patah hati atau bertepuk sebelah tangan atau apa saja mungkin kalian bisa melakukan mengunjungi gunung atau tempat tempat yang kalian sukai. Namun,harus kalian catat,semua perlu persiapan dan harus bisa mengantisipasi hal hal yang tak terduga. Jangan sampai ketika suasana hati yang sedang tidak bagus kalian melakukan pendakian malah bisa berujung tersesat atau kehilangan nyawa ya.



Jadi seperti itu kisah bertepuk sebelah tangan dan mendapat pencerahan ketika melakukan pendakian seorang diri. Jangan terlalu diresapi ya,nanti kalian ikutan galau hahaha

Semoga cerita pengalaman ini bisa bermanfaat dan tidak membuang waktu membaca kalian ya. 





7 comments:

  1. Replies
    1. Jangan kenceng kenceng ngomongnha kak

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. "Jadi jika hati telah dimiliki oleh orang lain, maka masih banyak hati di luar sana yang belum dimiliki"

    Ini topik yang sama sekali belum pernah kita bahas di malam itu ��

    Jadi kapan melakukan perjalanan lagi, khusus untuk mencari nona dengan hati tak bertuan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada satu masa kala kita harus mengalami romansa percintaan hahaha

      Delete
  4. Hehe ya begitulah perjalanan bang. Dipertemukan dg seseorang, memang tak harus selamanya bersama.
    Tapi ketemu dua kali itu mnrku abanh dikasih "kesempatan"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mungkin belum di temukan yang tepat bang

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.