Akhirnya aku bisa datang kembali saat Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) 2017



Lama sekali rasanya jika mendengar sebuah kata Erau, aku sendiri lupa kapan terakhir kali menyaksikan festival rakyat yang ada di kota Tenggarong atau Kutai Kartanegara dimana tempat aku tumbuh besar.

Seperti angin Tornado menghujamku dengan keras, siang hari begitu terik saat kedatanganku di Lombok kemarin. Tiba - tiba ada sebuah pemberitahuan pesan di akun instagramku, sepertinya dari seseorang yang kukenal. Ternyata kak Yuki, ia mengajakku untuk ikut dalam kegiatan FamTrip Pesona Indonesia yang diadakan oleh Kemenpar bersama travel blogger lainya.

Badanku menghantam dinding dan tersandar saat membaca dan menyetujui tawaranya. Sepucuk senyum yang ku sembunyikan di balik layar handphone begitu kegirangan. Walau sebenarnya cukup sulit untuk memilih ikut atau tidak, karena aku akan mendaki di hari yang sama. Keputusan dan kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya, aku mencoba untuk menunda sejenak waktu pendakian dan ikut bergabung ke dalam rombongan yang akan menghadiri festival Erau.

Ini kali pertama aku mengikuti acara dan bisa berjalan bersama para blogger yang cukup termasyur namanya. Semangatku mencapai titik tertinggi untuk segera tiba saat hari dimana aku bisa bertatap muka bersama mereka. Ya berharap bisa mendapat ilmu ketika berjalan bersama

Hari demi hari cepat berlalu, akhirnya aku berangkat dari Lombok menuju Balikpapan penuh semangat. Singa terbang membawaku tepat waktu sampai di Balikpapan, sekitar jam 10 malam aku telah mengendus kembali aroma tanah Borneo. Ku sempatkan untuk menginap di rumah sahabatku, dan keesokan nya ku tempuh perjalanan hemat menggunakan bus menuju Samarinda.

Sampai sudah aku di ibukota provinsi Kaltim, sebuah motor vespa butut milik sahabat datang menjemputku di terminal. Sinar senja kami habiskan untuk menikmati suasana yang telah lama hilang dari memoriku. Setelah 2 tahun aku melanglang buana dalam pengembaraan yang tak berujung.

Malam telah datang, aku yang menghubungi saudara untuk menjemputku di Samarinda telah tiba. Segera aku pamit kepada sahabatku dan menuju ke Tenggarong. Aku berusaha menghadiri malam pertama pembukaan dan acara ritual di museum atau keraton pada malam pertama.

Ketika sampai di rumah, belum juga semenit aku langsung mengambil motor dan bergegas menancap gas dengan tergesa - gesa memburu acara. 10 menit aku menggeber motor melintas jalan lurus hingga aku mengendurkan kecepatan saat mendekati area museum atau keraton yang ramai dan terasa amat sakral. Kulihat 2 buah layar yang ada di sisi kiri dan kanan terlihat prosesi ritual di dalam sedang berlangsung, diikuti musik dari gamelan atau alat musik tradisional membuat kawasan museum seperti era jaman kerajaan dahulu.

Pentas seni di tepi sungai Mahakam


Dalam perkembangan upacara Erau, selain digunakan menjadi upacara penobatan Raja, digunakan juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.

Lantas pelaksanaan upacara Erau sendiri di lakukan oleh kerabatan Keraton atau Istana, dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh penjuru wilayah kerajaan dengan membawa bekal dan bahan makanan, ternak, buah - buahan, dan terkadang juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik - baiknya, menjadi tanda rasa terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Acara Festival Rakyat International Erau atau Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) yang diselenggarakan di Tenggarong, 22 - 30 Juli 2017 telah di ikuti sekitar 8 negara sahabat. Negara tersebut yakni Korea Selatan, Jepang, Polandia, Bulgaria, India, Slovakia, Thailand, dan Taiwan.

Setelah lama tidak mengetahui perkembangan nya, Erau sekarang telah menjadi sebagai pesta budaya, kebijakan pemerintah kabupaten Kutai Kartanegara untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya dengan menetapkan waktu penyelenggaraan secara rutin tiap tahun nya.

Apalagi sekarang Festival Erau telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, jadi tidak di kaitkan lagi dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara, tetapi sekarang lebih terlihat sangat bervariasi. Seperti sekarang, pengunjung disuguhkan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada, serta hidup berkembang diseluruh penjuru wilayah Kutai Kartanegara.

Di tengah - tengah prosesi upacara bepelas berlangsung, aku dan Candra terkaget karena meriam di nyalakan. Aku tak sempat melihat tanda bahwa meriam akan meledak, Duar!!!!! Tanah dan bangunan sontak terkaget dan bergetar. Bunyi lantang keluar dari meriam yang berada di seberang Keraton. Aku sempat kaget dan loncat karena suara letupan. Mobil - mobil saling beradu kegaduhan, karena sensor alarm mobil berbunyi akibat getaran yang dahsyat.

Prosesi upacara Bepelas


Setiap malam saat diadakannya upacara, meriam di ledakan mengikuti penghitungan hari. Jika telah memasuki hari kedua, maka meriam akan berbunyi sebanyak dua kali dan seterusnya. Bisa kalian bayangkan bagaimana meriam meledak dahsyat berkali - kali. Sama halnya yang terjadi saat malam kedua ketika aku mengunjungi keraton bersama teman - teman blogger, mereka terkaget hingga aku pun yang sudah tau ikut terkejut dan jantungku terpompa begitu keras dan badan terasa lemas.

Selain upacara bepelas, merangin, dan beluluh, setiap harinya juga diisi dengan kesenian traditional seperti gasing berajaan, logoh, perahu traditional gubang lunas, balap perahu ketinting, street performance yang di adakan di Pulau Kumala dan masih banyak lagi kesenian traditional Kutai yang di pertontonkan setiap harinya. Tempat penyelenggaraan berada di Pulau Kumala,  Arena Expo Rondong Demang, dan di seputaran tepian mahakam.
Aku juga sempat menyaksikan pertujukan kesenian Tari Traditisional di Pulau Kumala bersama teman teman blogger lainya.

Permainan traditional Gasing Berajaan


Aku juga baru bisa mencoba Jembatan repo - repo yang menghubungkan dari kota menuju ke Pulau Kumala. Selain kondisi terlihat bersih dan indah, di sela sela pembatas jembatan terdapat gembok bersusun yang di pasang oleh pengunjung. Mungkin menurut mereka, dengan menggembok dan memberi nama dari kedua pasangan bisa menjaga cinta mereka hingga akhir hayat. Amin.

Suasana di jembatan Repo - repo


Gembok cinta, hayo siapa yang punya ?


Sekitar 15 menit berjalan santai dan beberapa kali mengabadikan momen dari atas jembatan, aku tiba di Pulau Kumala dan turun menuju pusat acara. Disana telah berkerumun pengunjung yang sedang menyaksikan pertunjukan yang sedang berlangsung. Beberapa seni tari traditional di perontonkan, sehingga membuat pengunjung terkesima. Bukan hanya penari lokal, para penari dari negara yang tergabung dalam acara Festival Erau turut memamerkan keahlian atau kesenian dari negara masing - masing.

Tarian traditional

Mengajak pengunjung menari bersama


Tak terasa senja telah memerah di seberang sana, kami segera menyudahi kunjungan di Pulau Kumala dan menikmati senja dari tepi sungai Mahakam. Hari yang cerah menjadi penutup kegiatan Erau sebelum berlanjut ke acara pertunjukan seni di tepi sungai Mahakam dan rangkaian upacara bepelas yang diadakan di Keraton.

Sunset di tepi Mahakam

Sunset di jembatan Repo - repo by @nickosilfido


Tapi acara yang paling kusuka adalah saat di Keraton dan Kutai Lama menutup hari terakhir dengan mengulur Naga. Prosesi upacara mengulur Naga adalah sebagai tanda untuk mengenang kembali peristiwa kehadiran Putri Karang Melenu, upacara ini adalah puncak acara pada festival Erau setiap tahun nya yang di selenggarakan oleh masyarakat Kutai Kartanegara.

Senja di Keraton


Setelah upacara Mengulur Naga, biasanya acara ini yang paling di tunggu - tunggu oleh semua masyarakat Tenggarong dan para pengunjung, yaitu " Belimbur". Belimbur dimulai setelah Air Tuli dari Kutai Lama tiba di Tenggarong, lalu di gelar prosesi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAM Salehuddin II naik ke " Rangga Titi" (balai yang terbuat dari bambu kuning).

Saat prosesi ini, Sultan memercikkan Air Tuli ke dirinya sendiri dengan mayang pinang, lalu setelah itu di percikkan ke orang - orang di sekelilingnya. Ketika Sultan mulai memercikkan air ke orang di sekitarnya, itulah yang menjadi tanda bahwa "Belimbur" telah di mulai. Semua telah mengetahui dan telah basah oleh percikkan air, sontak saja hal itu disambut perang air oleh pengunjung yang telah berada di sekitar Museum maupun se Kota Raja Tenggarong.

Satu persatu orang mulai saling menyimbur, ada juga yang melempar air dibungkus dengan plastik, ada juga menyiram langsung dengan timba. Suasana berubah menjadi bahagia seketika. Tua, muda, hingga anak kecil saling berbagi kebahagiaan di hari puncak penutupan Erau. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti prosesi penutupan seperti berlimbur dan mengulur naga karena harus bertolak lagi ( jadi sedih)

Seperti yang orang tuaku dulu bilang, "Belimbur" bermakna sebagai pensucian diri dari pengaruh aura jahat atau negatif, sehingga semua kembali suci dan bisa menambah semangat untuk terus hidup dan tentunya bersemangat memajukan daerah Kutai sebagai kota tujuan wisata.

Cerita tentang Festival Erau mungkin bisa menjadi opsi destinasi budaya jika kalian akan berkunjung ke Kalimantan Timur.

Jika ada yang kurang atau ada saran dan kritik, jangan sungkan beritahu lewat kolom komentar ya kak. Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar yang membangun dan memberi semangat untuk terus menuliskan cerita perjalanan ranselusang.com

4 comments:

  1. yeaaay, akhirnya pengembara kembali ke rumahnya di Tenggarong. senang akhirnya bisa menemukan teman jalan dari media sosial yang kemudian bertemu di dunia nyata dan merasa cocok, semoga kita bisa trip bareng lagi, yaaa. enggak sabar berbagi petualangan bersama-sama, Joooo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah makasih banyak udah bisa jalan bareng kak, makasih juga tips dan sharing tipisnya.

      Delete
  2. wihhh keren mbak ...ayo mbak explore juga Bondowoso kita di sini siap antar mbak halan halan keliling Bondowoso

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak kak, semoga bisa main ke bondowoso

      Delete

Powered by Blogger.