Pajura, Tinju tradisional Sumba bertarung di bawah sinar Bulan

Saat Pejura sedang berlangsung di bawah sinar bulan

Tak ada habisnya jika membahas budaya Indonesia, mulai tarian, upacara,hingga hal hal yang menggunakan fisik juga sering tersajikan di setiap acara. Dari titik paling barat sampai titik paling timur kalian bisa menemukan berbagai macam keunikan.

Kali ini dan untuk kesekian kalinya aku mencoba membawa kalian yang bersedia membaca cerita dan pengalamanku mencoba mengelilingi Indonesia, sesekali aku ingin mengajak kalian untuk lebih mengenal tradisi bahkan budaya yang biasanya tak di ekspose atau minim informasinya.

Semoga kalian tidak bosan dan jenuh saat membaca kata demi kata yang aku rangkai, walau belum terlalu mahir, aku berusaha membuat kalian nyaman berlama - lama membaca ceritaku. Siapa tau kita bertemu di jalan atau bisa melepas rindu atau memperdekat hubungan pertemanan lewat rumah berjalanku di ranselusang.com ini atau kalian bisa memberi ijin untuk mengunjungi cerita dirumah kalian masing - masing.

Cukup untuk kata-kata pembukaan nya, pertunjukan budaya ini termasuk dalam rangkaian awal dari prosesi acara Pasola menuju hari puncaknya di Wanukaka, Sumba Barat. Acara adat atau kesenian bertarung dalam cerita ini adalah nama Pajura. Tradisi masyarakat Sumba ini di gelar dan di ikuti beberapa desa.

Malam semakin menjadi, dan rencana kami akan menghadiri Pajura seperti telah di setujui oleh Tuhan. Malam terang benderang berkat cahaya bulan sangat sempurna, sehingga melihat kegelapan dengan telanjang mata pun aku bisa mengetahui bentuk jalan dan pemandangan di hadapanku. Jam 9 malam rumah om Aswar dan keluarga telah gaduh dari bunyi berbagai macam. Mulai dari makan malam, tas dan barang bawaan mulai menumpuk di samping rumah.

Kali ini aku berkesempatan melihat acara adu tinju atau bernama pajura dengan beberapa teman dari berbagai daerah, seperti bang Dj, wuri (jogja) uda Guri ( padang) tina (medan) bang zindan, om Aswar, dan  kakak dari ternate aku lupa namanya ( maafkan kak) *maaf jika ada yang belum disebutkan ya

Persiapan seperti jaket,celana panjang untuk menghalau dingin telah lengket di badan kami, semua telah selesai makan malam dan siap untuk berangkat menggunakan mobil bak terbuka. Perjalanan kurang lebih sekitar 1 jam menuju pantai Tentena di kecamatan Wanukaka. Kondisi jalan gelap gulita langsung terlihat jelas akibat sinar dari bulan. Aku semakin penasaran seperti apakah pajura itu. Semangat menggebu-gebu membuat perjalanan kian cepat dan sampailah di lokasi tujuan.

Om Aswar memarkir mobil jauh dari jalan menuju pantai, karena untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, tentunya memudahkan kami pulang karena tidak terjebak dalam antrian. Semua turun satu persatu, kami berjalan kaki dibawah penerangan bulan. Tak luput para pengunjung dari bebagai desa, semakin menyemarakan iring-iringan manusia menuju pantai.

Sekitar 15 menit berjalan, kami disuguhi lampu bergelantungan di pohon untuk menyinari anak tangga. Jalan menurun dengan jumlah sekitar 148 anak tangga sebelum mencapai bibir pantai. Atmosfer langsung berubah drastis kala menuruni setiap anak tangga. Orang naik turun sili berganti, aroma pertunjukan kian semerbak kulihat dari beberapa orang yang mewakili setiap desanya.

Akhirnya, kakiku telah merasakan pasir pantai yang lembut menenggelamkan kedua kakiku. Kucoba mengamati sekitar, begitu banyak orang berserakan, dan di pantai tidak ada satupun penerangan kecuali dari sinar bulan. Kami mulai berpencar dan berjanji akan berkumpul kembali di tangga jika sedang terjadi apa-apa. Jam menunjukan tepat 12 malam, pertanda pajura akan segera dimulai. Suasana semakin riuh, terdengar teriakan semangat dan nyanyian yang tak kumengerti artinya sama sekali. Di hadapanku, para pria mulai merapat sehingga membuat lingkaran kecil menjadi sebuah arena pertarungan.

Untuk kelengkapan mengikuti pajura, di salah satu tangan mereka akan dililit tali yang terbuat dari jerami, pada zaman dahulu masih sering dipakai. Namun dengan seiringnya bergantinya zaman tali tersebut mulai diganti dengan tali tambang dan berbagai tali yang mereka pergunakan. Sedangkan pantai itu sendiri diberi nama pajura karena pantai tersebut selalu menjadi tempat diselenggarakanya acara tersebut. Pajura juga di selenggarakan 2 hari sebelum Festival Pasola yang sudah masuk dalam kalender pariwisata Indonesia.

kemudian mereka bertarung di dalam lingkaran yang dibuat oleh warga dan biasanya dibatasi oleh tali di tengah. Tali tersebut menjadi pembatas dan menjadi pegangan bagi para peninju. Para peninju tersebut biasanya di wakili oleh remaja dari desa wanukaka (suku wanukaka) lokasi tersebut tedapat di teitena-hobajangi/desa baliloku kec.wanukaka kab. Sumba Barat

Para pemuda yang menjadi peninju biasa akan mengalami luka hingga berdarah. Masyarakat setempat percaya, jika semakin berdarah saat adu tinju maka hasil panen diyakini akan melimpah. Suasana malam di pantai Tentena yang begitu gelap gulita terdengar riuh. Ditambah hanya mendapat penerangan daei cahaya bulan. Sesekali sinar dari korek api dan bara rokok menjadi penghias di antar gelap dan suara deburan ombak.

Tradisi tinju pajura hanya boleh mengandalkan sinar bulan. Sehingga peninju pun saling menghujamkan pukulan ke lawan di tengah gelap malam. Lampu sorot digunakan untuk memudahkan pengawas dalam mengecek tangan peninju agar pertandingan berjalan dengan adil dan aman. Jadi jangan heran jika hasil foto yang kudapat apa adanya, blur dan mungkin bisa di bilang abstark.

Sebab, jika ada cahaya dari flash kamera yang mengenai area pertarungan atau para peninju, sontak mereka berteriak meminta untuk tidak menggunakan nya lagi. Pernah juga katanya sampai ada yang di sita kameranya gara - gara tetap memotret menggunakan flash.

Kami mengikuti adu tinju Pajura hingga selesai, aku sangat puas karena bisa melihat langsung walau sedikit remang - remang di bawah sinar bulan, tapi aku senang traditisi ini masih tetap terjaga dan terus di lakukan setiap tahun nya.

2 comments:

  1. duh, kapanlah aku ke Sumba ini, belum kesampaian juga. semoga bisa menyaksikan Pajura jugaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo di agendakan kak yuki kapan lagi bisa bareng jalan jalan

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.