PASOLA Sebuah prosesi Adat di Sumba Sangat Berbahaya



Pasola, dua kubu bertemu, lembing terbang tertancap di bahu, sorak sorai mengisyaratkan sebuah kehidupan baru

Aku benar-benar takjub sekaligus merasa takut saat benar melihat langsung. Cerita yang pernah aku dengar, kenyataan nya bisa membuat seluruh bulu di sekujur badanku berdiri mengajak bersembunyi.

2 tahun berturut-turut aku menghadiri pasola, namun kedatanganku yang pertama sangat berkesan. Bukan berkesan lagi, tapi cukup membuat aku senang dan panik bahkan katakutan karena sebuah kejadian yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Labuan bajo menjadi titik keberangkatanku. Jauh jauh hari aku merencanakan tujuan ini dengan seorang sahabat dari Jakarta bernama bang Guri. Bermodal pengetahuan dan info tentang Sumba minim, aku hanya mengikuti rencana bersama yang kami sepakati. Ranselku penuh sesak dengan berbagai perlengkapan yang kubawa semua dari tempatku menumpang di sebuah kapal milik salah satu kenalan dari kampung Komodo.



Pagi cuaca sudah panas menguap menyerang seluruh tubuh. Aku segera berjalan meninggalkan kapal menuju pelabuhan ferry. Dari arah berlawanan terlihat seorang lelaki berambut panjang mengendong ransel besar. Aku yakin dan semakin terlihat jelas bahwa itu adalah bang Guri. Segera kupalingkan badan dan berjalan menuju loket di dalam kantor.

Tiket menuju Sape seharga Rp50.000 per orang, tiket sudah di tangan, dan kami berjalan menuju kapal ferry yang siap berangkat berlayar. Kondisi di dalam kapal terlihat penuh sesak oleh penumpang lainya. Kami memutuskan untuk mencari tempat di atas dan bisa menghirup udara bebas. Terik sengatan matahari di Labuan bajo, bel berbunyi 3 kali dan perlahan kapal meninggalkan pelabuhan di iringi langit biru membentang di atas perairan.



Jam 10 pagi kami bertolak ke Sape dengan durasi 8 jam. Aku mencari tempat berlindung dan bersandar, lambat laun aku terlelap dan bang Guri mengasyikan diri dengan membaca buku kesukaan nya. Cuaca begitu bersahabat hingga kedatangan kami di pelabuhan Sape. Matahari segera tenggelam di balik bukit diikuti langkah kaki turun menuju sebuah warung terletak yang tak jauh dari loket pelabuhan. Bang guri sempat mengajak membuat pisang goreng disaat menunggu jadwal keberangkatan kapal

Uda Guri beraksi @langkahjauh


Aku mencari informasi tentang keberangkatan kapal menuju Waikelo,Sumba. Dari seorang petugas aku disarankan untuk segera membeli tiket karena banyak penumpang yang akan berangkat menuju Sumba. Mau tidak mau aku mulai mengantri berdesakan dengan penumpang lainya. Tiket sudan ditangan, harga tiket Rp65.000 perorang dan aku memastikan akhirnya aku bisa menghirup udara di tanah Sumba esok hari.

Mobil bermuatan berat sili berganti masuk menuju kapal, ada yang berisi kuda,babi,sembako,buah hingga membawa kendaraan menghiasi pemandangan pelabuhan. Kami tidak ingin terburu-buru, bang Guri mengajak mencari tempat makan malam. Bukan mau makan mewah, tapi seperti biasa aku mengeluarkan peralatan masak dan makan yang senantiasa menemaniku. Di sebuah sudut pelabuhan kami mulai melakukan aksi, bang Guri memasak nasi dan aku mulai menggoreng beberapa sosis dan menggoreng pisang dan memasak mie.

Karena dengan memasak sendiri cukup menghemat biaya dan bisa di gunakan untuk biaya lainya. Makan malam secepat kilat nan nikmat, makan malam pertama bersama bang Guri. Semua sudah rapi kumasukan kedalam ransel dan saatnya masuk kedalam kapal. Kali ini penumpang begitu banyak dan tak ada celah sedikitpun untuk meluruskan badan. Kami mencoba mencari tempat ke atas namun pintu dikunci.

Lama kaki ini mengukur lebar kapal dan keringat mulai mengucur deras. Tapi tak satupun ada tempat yang memungkinkan. Lalu kulihat  di sudut dekat toilet umum dan segera menaruh ransel. Aku mendapat posisi dengan kaki tertekuk dan menyisakan sedikit ruang bernafas. Segala aroma bercampur dari asap mobil hingga aroma hewan membuat perutku mulai merasakan mual. Cukup menyiksa, namun apa boleh buat, ini salah satu cara hemat menuju pulau Sumba.
Sedangkan bang Guri akhirnya mendapat tempat meluruskan badan diantara sesaknya penumpang.. hanya bisa tidur mematung dan tak dapat merubah gaya. Kami akhirnya terhanyut dalam ayunan gelombang dan ritik hujan di lautan. Terkadang semua terbangun dan terkaget karena hempasan ombak menghantam bertubi-tubi tiada henti. Hanya doa yang ada berlalu lalang di mulut dan dikepala. Ya Tuhan jangan sampai aku terbunuh karena cuaca buruk ini. Sampai ketakutan menyerang sepanjang malam mengganggu seperti tidak ingin pergi dan segera menyudahinya.

Sinar mulai menembus sisi kapal yang tak tertutup, aku bangun dan merasakan kapal sudah mulai berlayar tenang. Akhirnya aku bisa melihat daratan samar-samar dari kejauhan. Badanku terasa sakit sekali,posisi tidur duduk membuat bagian belakang tubuhku kaku dan nyeri di semua sendi. Semakin lama daratan terlihat memanjang dan pelabuhan beserta manusia terlihat memenuhinya.

Keriuhan semakin terlihat saat kapal sudah membuka pintunya dan para penumpang berebut untuk lekas turun. Kami tak ingin bergabung dalam kerumunan, aku dan bang Guri menyempatkan membilas badan secara bergantian untuk saling menjaga barang bawaan. Kesegaran telah kami dapatkan, dan jalan keluar sudah mulai kosong, kami bedua turun beriringan. Sopir angkot,buruh pikul,tukang ojek bergantian mencoba meyakinkan jasanya. Satu persatu kami tolak dan menghindari kerumunan. Di ujung ada sebuah warung dan menjadi tempat yang cocok beristirahat.

Suasana pelabuhan Waikelo


Di warung kopi kami kembali merencanakan perjalanan, kami memutuskan untuk  semalam karena belum mendapat tumpangan. Keesokan harinya keberuntungan datang sendiri tanpa diminta. Sebuah truk memberi tumpangan hingga jalan menuju kota Waikabubak. Walau tidak terlalu jauh tapi lumayan memangkas jarak yang harus ditempuh. Sepertinya hari itu benar Tuhan mendengar doa kami. Setelah turun dari truk dan sempat berjalan kaki, kami mendapag tumpangan mobil bak terbuka yang bersedia mengangkut hingga ke Waikabubak.

Duduk di belakang bersama adik-adik kecil dan menerobos hujan menemani mobil meliuk-liuk mengikuti jalur. Sekitar 40 menit kami akhirnya tiba di kota Waikabubak, kota bergaya tahun 90an yang sangat berbeda dari bayanganku. Tak beberapa lama kami bertemu salah seorang teman bang Guri bernama bang Andy, kami bercengkrama di masjid tempat yang bisa menjadi peristirahatan jika sedang melakukan perjalanan.

Menunpang pick up, susah susah gampang mencarinya


Cukup lama kami berbicara tentang rencana di Sumba dan memberi saran kepada kami untuk menuju kerumah bang Mujis, salah satu teman dari bang Guri. Akhirnya kami berjalan kerumah bang mujis yang tak jauh dari masjid. Masuk melalui jalan sempit dan rumah saling berhimpitan dan kami sampai di depan rumah bang bang Mujis.

Langsung saja kakak Ady selaku adik perempuan bang Mujis mempersilahkan kami masuk. Rumah memang sederhana namun ketika saat masuk di bagian sisi rumah aku langsung duduk terdiam merenung sejenak. Benar-benar diam dan hanya bisa mematung melihat sebuah hiasan yang tertempel di dinding dekat pintu masuk.

Hiasan dinding sangat sederhana itu bertuliskan " Perjalanan adalah Pelajaran dan Pergi untuk kembali Pulang " sebuah kata - kata yang menampar diriku sangat keras, bahkan mampu mengehmpaskan kisah perjalanan yang sudah dan sedang kumulai ini. Memang banyak pelajaran kudapat ketika menggila dijalan, tapi belum semua belum bisa aku terapkan bahkan mencuci otakku dengan segala ilmu dan semua pengalaman dengan sekejap sangat mustahil.



Segera aku berpaling ketika kakak dari bang Mujis yang sering disapa ibu Uty dan om Azwar suaminya datang menyambut kami. Aku sungguh terkejut mereka menyambutku begitu baik dan tanpa keberatan menampung kami sebagai orang asing dirumahnya. Saat malam kami berkumpul di dapur sekaligus ruang makan, disana tempat favorit berkumpul sekaligus bercengkrama bercerita apapun, seperti bertanya pengalaman kami memulai perjalanan hingga sampai di tanah Sumba ini. Kedekatan semakin tercipta seiring keramahan dari seluruh anggota bang Mujis menciptakan lingkaran kenyaman, membuat aku terlena untuk berlama-lama di rumah ketimbang jalan mengunjungi ke suatu daerah wisata atau ketempat lainya.

Tidur berbagi tempat dengan yang lainya


Di sela-sela menunggu hari dimulainya festival adat pasola, kami menyempatkan mengunjungi beberapa tempat seperti pantai dan beberapa air terjun yang ada di Sumba barat. Pesona alam di pulau Sumba langsung menyita perhatian sekaligus hatiku, alam yang begitu asri seperti jarang terjamah oleh manusia membuat aku terus terlena sepanjang hari. Ketika hari yang kami tunggu tiba, teman-teman semakin banyak yang datang. Beberapa wanita berasal dari Flores yang kebetulan ingin melihat acara festival pasola. Sempat kami berunding dan berencana untuk berangkat bersama.

Sempat kebingungan karena kendaraan yang dimiliki teman-teman di Sumba sedikit, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa sebuah mobil bak terbuka dari kenalan om Aswar. Permasalahan terselesaikan di ikuti rasa penasaran untuk segera berada di lokasi pagelaran tepatnya di Kodi, Sumba Barat Daya.

Keesokan harinya cuaca cerah ditunjukan matahari namun tetap dingin masih memeluk sekujur badanku. Aku mencoba untuk bangun walau masih terasa berat untuk mataku bangun sepagi itu. Diluar teman-teman mulai sibuk mengemas barang bawaan dan tak lupa mengisi perut sekenyang mungkin agar tak kelaparan dijalan. Semua telah selesai sarapan dan mengecek kembali barang, satu persatu mulai menaiki mobil. Perjalanan menuju Kodi cukup lama, sekitar 3 jam berkendara normal.

Sebelum berangkat om Aswar ssmpat memberi pesan agar tidak menonton hingga selesai acara. Karena beliau tidak ingin kami menyaksikan atau terjebak didalam kerumunan atau kekacuan. Kepalaku menggangguk mengikuti pesan, begitu juga teman-teman lainya. Posisi kemudi di isi oleh Gibran ditemani bang Zindan dan di belakang ada Onya, Dewi, Helmy, Alice, bang Guri, dan aku sendiri tentunya.

Mobil berjalan pelan menuju lajur Sumba Barat Daya. Pelan namun pasti Gibran segera menambah kecepatan seiring jalanan kosong dan meliuk-liuk membuat kami waspada dan berpegangan sangat erat. Berbagai gaya kami tunjukan mulai dari ketakutan hingga kesakitan saat mobil tak sengaja masuk lubang membuat kami terpental bahkan tersungkur di dalam bak mobil. Kejadian seperti itu membuat kami tak merasakan jarak tempuh dan tiba-tiba kami sudah berada di Kodi. Aku mengetahuinya setelah mulai melihat berbagai orang berduyun-duyun menuju ke arah yang sama.

Dari pasukan berkuda dengan hiasan kain dan mahkota berwarna-warni mencoba mendahului kami. Lembing kayu terlihat menjulang di dalam genggaman para pengendara kuda menjadi tanda bahwa lapangan tidak jauh lagi. Orang berjalanan kaki, dari anak kecil hingga orang tua sekalipun turut menghadiri pasola. Dari kejauhan terlihat tumpukan manusia berkerumun di lapangan cukup luas, tempat terbuka dan strategis menjadi arena pasola.

Gibran mengentikan mobil jauh dari lokasi, agar ketika selesai kami tidak terjebak macet atau mobil bisa menjadi sasaran lembing atau terhindar dari kekacauan. Selanjutnya kami mengikuti rombongan lain yang berjalan menuju ke lapangan. Teriakan,nyanyian serta bunyi lonceng kuda menyatu, membuat acara semakin meriah dan akan dimulai. Beberapa dari kami mulai berpencar mencari tempat atau bisa lebih dekat untuk melihat lebih jelas para penunggang kuda pasola.



Lain halnya denganku, beberapa teman perempuan ada ikut bersamaku. Tak mungkin aku memaksa menerobos di sela-sela penonton lain yang kebanyakan laki-laki mengisi setiap jengkalnya. Sesekali kami bisa melihat para penunggang berlari kencang bersama kudanya dengan mengacungkan tombak di salah satu tangan nya. Aku mulai penasaran untuk melihat lebih dekat dan jelas, kutinggal mereka di belakang dan aku masuk didalam barisan. Saat berada di depan dengan posisi jongkok, di hadapanku terlihat 2 kubu saling maju bersamaan. Tombak mereka lempar sangat kuat, saat itu ada yang terkena di bagian betis dan tertancap. Aku hanya bisa memejamkan mata dan merinding. Darah mengucur dan penunggang kuda pun tersungkur di atas tanah.

Seketika penonton berteriak histeris " Ululu lulu luluuu lululu!!!! " begitu terus menerus. Membuat suasana semakin memanas dan seru. Aku merasa takut dan bersemangat, karena terbawa suasana pertempuran kedua kubu. Lagi lagi mereka maju bersamaan, tombak di lempar kuat-kuat, ada yang bisa menangkis, ada yang ,menghindar hingga terjatuh, ada yang memeluk kuda, bahkan ada tombak yang mengenai penonton hingga terluka.

Teriakan, tangan di kepal di atas, loncat kegiraan, tombak semakin diangkat dan tentunya suasana semakin sangat memanas di hari yang begitu panas tentunya. Tak hanya keringat yang mengucur, darah pun ikut andil dalam persaingan siapa yang menetes lebih dulu ketanah. Konon dahulu kala saat pertama di adakannya acara pasola, dari kisah cinta segitiga yang sangat dramatis dan untuk mempringatinya diadakanlah pasola. Saat pasola digelar hingga ada darah yang tertumpah, maka di saat memulai bercocok tanam, maka tanah mereka akan subur dan mendapatkan hasil panen yang melimpah. Seperti itulah cerita legenda yang kudapat di masyarakat atau cerita di sebuah buku yang kubaca.

Sesekali penonton saling memprovokasi agar para penunggang kuda kian menjadi-jadi menyerang satu sama lain. Saat itulah pertempuran kian sengit dan tombak berterbangan ke berbagai arah tak terkendali. Aku hanya beberapa kali mengabadikannya dengan foto, takut tombak bisa saja menyambar badanku atau kepalaku jika tikdak fokus melihat arah tombak. Seperti pemuda disampingku yang terkena tombak di bagian lengan kanan nya karena asik bercerita dengan teman nya. Sehingga ia di bawa ke sisi luar untuk mendapat perawatan medis.

Matahari semakin naik dan berada tepat di atas kepala, saat itu juga pertarungan semakin tak terkendali. Kedua kubu melempar semakin tak jelas arahnya, dan para penonton terus menyerukan kata kata entah apa, yang jelas seperti memprovokasi atau mengejek aku juga tidak paham. Saat itulah kejadian buruk berlangsung dengan cepat. Aku terkaget saat melihat pertama botol terbang ke arah penonton sisi lainya, lalu dibalas dengan batu kecil, lalu ada tombak terbang membalas hingga yang membuatku tak mampu menelan ludah sekalipun waktu itu.

Teriakan demi teriakan keluar, dan menjadi puncak kekacauan saat parang terbang memutar dari arah belakang menuju sisi penonton lainya dengan cepat. Darr!!!! Penonton segera berhambur saling serang, ada yang lari terpontang panting. Begitu juga denganku yang berlari kaget hingga aku sempat jatuh tersungkur mencium tanah. Kakiku juga ikut merasakan kekacauan saat masuk di dalam lubang kecil, membuat aku terjatuh untuk kedua kalinya.

Aku teringat teman - teman perempuan ada di belakangku tadi, segera aku berlari menghindar dan mencari mereka. Panik dan tidak tau harus berbuat apa, yang bisa aku lakukan hanya terus berlari dan berteriak nama mereka satu persatu. Kulihat ada sebuah mobil Dalmas dan aku memutar arah menuju ke arah mobil untuk bersembunyi, dan berharap mereka ada disana.

Di tengah perkelahuian kedua kubu, polisi mulai masuk dan menembakan gas air mata. Suana begitu mencekam, bukan tombak saja yang di acungkan, terlihat parang mulai mengacung seakan ingin menghujam. Aku takut, sangat takut sekali dengan kejadian ini. Sesampainya di mobil dalmas kulihat teman temanku ada disana. Aku cukup lega, namun aku masih belum aman. Melihat sekeliling para ibu - ibu dan anak saling berteriak ketakutan, ada anak kecil menangis karena kepalanya bocor,ibu -ibu terluka sedang menggendong bayinya, dan ada juga kakek yang tergeletak lemas entah apa penyebabnya.

Entah kenapa hal ini bisa terjadi dan bisa menimpa kami. Sama hal nya dengan pilihanku, kenapa harus jatuh kepada sebuah mobil. Sekilas aku melihat di belakang mobil dalmas ada cela untuk bersembunyi, kucoba masuk dengan posisi badan menyamping dan berusaha berlindung dari batu atau tombak yang terbang tak terkendali. Saat polisi semakin bersemangat maju dan menembakkan gas air mata, perlahan para penonton tak terlihat sedang beradu pukul, hanya ada asap putih serta batuk yang disebabkannya.

Ada orang yang berjalan terkinjak - kinjak, ada yang menangis histeris, ada yang merasakan pedih akibat matanya terkena gas air mata. Begitu juga dengan diriku yang sempat menghirup ataupun terpapar gas air mata cukup banyak. Suana semakin kondusif dan perlahan para penonton bisa terkendali dan berjalan meninggalkan lapangan. Begitu juga dengan kami, sempat terjadi kepanikan dan akhirnya mereda, kami saling mencari diantara orang dan beberapa kuda yang masih ada di lapangan.

Lapangan mulai kosong dan pengelihatan membaik. Terlihat orang sudah mulai mereda emosi dan kekacuan bisa diredam. Aku mencari teman - teman dan memeriksa apakah baik - baik saja. Satu persatu berkumpul tanpa ada lecet sedikitpun, kebetulan Yudha dan Atho datang, sayangnya mereka tidak melihat pasola dan beruntung tidak mengalami kejadian mencekam. Karena hari masih terang, kami menyempatkan untuk mengunjungi weekuri sebelum kembali ke Waikabubak.



Hari terasa begitu panjang saat prosesi acara pasola, dan baru kutahui untuk menyudahi prosesi pasola di kodi lebih sering terjadi kerusuhan. Ini menurut pengalamanku pribadi dan cerita warga lokal yang menceritakanya kepadaku. Tidak semua acara pasola berakhir ribut, seperti di Lamboya berjalan lancar dan damai, malah di akhir acara mereka makan bersama.



Jadi seperti inilah kisah dan pengalaman pertamaku saat menghadiri pasola, walau aku sudah menghadiri 2 tahun berturut - turut, tidak pernah bosan rasanya untuk menghadirinya kembali. Tapi sebuah tradisi harus kita jaga dan lestarikan, agar kelak anak cucu nanti bisa mengetahui dengan tepat bagaimana kisah heroik nenek moyangnya saat berada diatas kuda berlari sembari membawa lembing

Setelah tulisan ini, berikanlah komentar atau saran. Agar aku bisa memperbaiki tulisanku dan terus berbagi kisah perjalananku kepada kalian.


No comments:

Powered by Blogger.