Dahsyatnya Uang dengan segala Kejutan-Kejutannya (Pergi untuk kembali Pulang) setelah 19 bulan merantau di jalanan



Jika dalam perjalanan ini terkadang mendapat keberuntungan itu benar adanya. Sebenarnya tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Jika di tarik mundur, cerita akan mempunyai penyebabnya. Sehingga semua terhubung setiap kejadiannya.

Apalagi jika kugantungkan sebuah mimpi kian dalam mengendap jejaknya di rumah kenangan ranselusang.com yang senantiasa menemani setiap langkahku. Sebuah mimpi bocah desa mencoba mengelilingi Indonesia yang kian terpatri di kepala.

Bukan hal mustahil ketika cita - cita menggantung seperti gumpalan awan terbang bebas. Namun tertambat persoalan biaya menjadi tantangan laju lesakan langkah menggapai impian. Ingin melanjutkan perjalanan tapi terhalang sebuah permasalahan kilse bukan menjadi hal baru bagi pecandu jalanan. Semua sudah faham dan mati - matian bisa memiliki keinginan, serta niat besar agar dapat mewujudkan semuanya.


Malang : Bulan ke - 1 menjadi perantau jalanan


Aku ingin memuat kisah perjalanan titik balikku, setelah hampir 19 bulan menjadi perantau menjelajah luasnya beberapa pulau yang tersebar di Indonesia. Kuraih pencapaian bisa menginjakkan kaki di berbagai pulau tidaklah mudah dan seindah foto semata. perlu pengorbanan perasaan mengikhlaskan sesuatu yang hilang, perpisahan, kesalahan, dan keegoisan melebur menjadi satu.

Bromo : bulan ke - 1


Lantas kejadian beberapa waktu lalu seolah - olah hal paling mengejutkan dan menjadi kado terindah saat aku mendapat kesempatan untuk "PULANG". Perlahan aku mulai tersadar, sebenarnya setiap kejutan berawal dari niat dan sedikit sentuhan usaha untuk membuatnya menjadi nyata. Kenapa bisa begitu? karena keberuntungan tidak akan jatuh dengan sendirinya tanpa ada usahanya. Mikir dong usang!! Mikir!! 

Masak iya kerjaanya tidur aja sampai siang ( aku banget ) terus pas bangun langsung dapat uang segepok berwarna merah di depan mata.Kan ga mungkin kali. * alhamdulillah kalau bisa beneran ya hehe

Semarang : bulan ke - 2


Sejelek jeleknya kebiasan sehari hari, seperti kita tidak bisa bangun pagi dengan momok menakutkan rejeki dipatok ayam nanti kalau ga bangun pagi. Seperti hantu selalu mengganggu ritual sebelum tidurku, berharap aku bisa bangun lebih pagi dari ayam untuk mendapat segenggam uang koin keberuntungan.

Bangun selalu kesiangan ? Aku tidak membenarkan atau menyalahkan nya, tapi berdasarkan pengalaman pribadi yang pernah ku alami selama melakukan perjalanan hidup hampir 2 tahun belakangan ini, perilaku itu tidak patut dicontoh ya

Sikunir : bulan ke - 2


Cerita diawali dari kisah tidak ada Handphone dan tidak bisa berhubungan dengan siapa - siapa. selagi aku mecari uang, terkadang aku mengisi waktu dengan memanjakan badan atau menikmati rutinitas bermalas malasan sewaktu di Rumah Singgah Lombok. Kala itu, kebiasaanku menghabiskan waktu dengan menyelesaikan tulisan pengalaman perjalanan yang berdedu di draft. Sesekali memberi jeda menulis atau jalan - jalan dengan membaca buku.

Di sela sela itu, aku memiliki waktu 2 bulan beristirahat panjang. Sepertinya waktu selama itu cukup untuk hibernasi dan memikirkan langkah selanjutnya. Gelap malam dan keheningan selalu menjadi teman setiaku saat berandai - andai. Tak sengaja pula aku berfantasi untuk mengunjungi Pulau Kalimantan dan ingin menjenguk rumah seperti apakah dia setelah kepergiaanku.

Brown canyon : bulan ke - 2


Jika hanya sedang berimajinasi kapan akan terkabulkan? Aku menimpali imajinasiku yang terkadang bisa jauh melampaui keadaan dan realita. Aku tidak mungkin tiba tiba berada di Balikpapan, lalu dengan mudah melintasi daratan Kalimantan Timur  dan tiba langsung di depan pintu rumah. Sungguh mudah sekali perjalananku. Pengen nya sih gitu, tapi ga mungkinlah.

Beberapa hari waktuku tersita bayang - bayang rumah dan seperti rindu menuntun untuk kembali. Aku tak ingin terusik, kucoba untuk memancing sebuah keberuntungan itu muncul dan "PULANG" segera terealisasikan. Bukan sekedar doa belaka agar menjadi nyata, harus ada usaha menuju ke harapan dan doa yang terus kupanjatkan.

Setiap hari ketika aku berkunjung ke sebuah rental komputer temanku untuk mencari solusi dan usaha. Sedikit sentuhan usaha itulah biasanya keberuntungan akan perlahan datang menunjukan kejutannya. Aku terus menyemangati diriku sendiri.

Hari demi hari terus berlalu, selain aku berdoa dan berusaha mencari kesempatan mendatangkan uang dengan menjual beberapa oleh - oleh khas Lombok di Sosial Media, terkadang aku merelakan keringat dan setiap jemariku lelah.

Jari - jari kedua tangan ku paksakan menjadi buruh ketik di setiap harinya. Mengetik tulisanku sendiri, bahkan mengetik milik orang lain dan koin kehidupan berhasil ku genggam. Walau nominalnya tak banyak, cukup setimpal keringat dan penat yang di lakukan oleh jemariku.


Banyuwangi : bulan ke - 3


Ternyata doa dan niat mulai didengarnTuhan yang tak pernah berpaling dariku. Saat aku baru terbangun, beberapa panggilan tak terjawab dan pesan ,menumpuk di handphone jadulku. Aku tak berfirasat apa - apa sebelumnya, bahkan bermimpi pun tak ada. Ku buka handphone dan mencoba mencari tahu, siapa sedari tadi mencariku. Terkejut dan penasaran, ada salah seorang temanku di Lombok mencariku dan meninggalkan pesan, " jika sudah bangun, tolong segera hubungi ".

Langsung saja kuhubungi, suara kami saling berbicara lancar. Dari kejauhan kejutan itu muncul, ia meminta kepadaku untuk membantu mengetik dalam jumlah banyak dan harus cepat. Ah bagaimana aku melakukannya ? Lidahku kelu untuk menjawab bagaimana aku bisa membantunya. Tapi aku mencoba untuk mengabulkan permintaannya. Segera kukerjakan sesuai instruksinya.


Lombok : bulan ke - 4


Beberapa hari aku bergelut dengan laptop dari gelap, terang, hingga gelap lagi. Entah beberapa lama aku terjaga dan menghabiskan bergelas kopi dan menghanguskan rokok yang tak terhitung jumlahnya. Akhirnya selama 3 hari bertempur dengan huruf yang membuatku mati - matian terselesaikan. Langsung saja kuberi kabar dan menyuruhnya untuk mengecek. Dia senang karena selesai tepat waktu, dan aku senang bisa melihat temanku terhindar dari ketakutan dan kepanikan.

Pulau ular - bulan ke - 5




Ia berterima kasih, terlebih lagi kejutan benar - benar datang menamparku kanan dan kiri tiada henti. Pesan pendek masuk ke handphone, setelah ku cek lagi pemberitahuan karena penasaran membumbung tinggi. Astaga, beberapa digit angka telah masuk ke dalam saldo rekeningku tanpa kuminta. Kulihat nama pengirimnya, ternyata itu benar adalah nama temanku. Kucoba untuk menghubungi dan menanyakan perihal uang tersebut. Namun ia memberitahukan bahwa rejeki itu memang benar untukku dan perantaranya adalah dia.


Bima : bulan ke - 5


Aku masih tak bisa berbuat apa - apa, karena masih kaget dengan nominal yang cukup untuk aku bertahan selama 1 bulan hidup di jalanan. tapi pikiranku terganggu atas obrolanku dengan om Aswar sewaktu di Sumba, ia menyuruhku untuk pulang kerumah sebelum puasa dan melewati bulan ramadhan bersama. Sebab, sudah hampir 19 bulan aku menjadi perantau jalanan. Sudah melewatkan 1 kali lebaran di Lombok tahun lalu.


Gili lawa : bulan ke - 5


Rinca : bulan ke - 5


Setelah kejutan menyerang, aku segera berfikir kedepanya bagaimana ? tarik ulur keinginan untuk pulang semakin menjadi drama. Diskusi sepanjang malam bersama bang Dhan yang senantiasa memberiku solusi. Ia menyempatkan untuk menghabiskan malam hingga pagi datang untuk saling bertukar pendapat dan pikiran. Tak jarang ia memperbolehkanku untuk menumpang di rental komputernya berhari - hari. Walau tempatnya ala kadarnya aku sudah banyak terbantu.

Flores - Sumba : Bulan ke 5




Cukup beberapa hari perenunganku, janji dan rindu telah menguasai seluruh badan dan otakku. Aku mengemas seluruh barangku yang tersisa, beberapa lembar baju, celana kumal dan berlubang, hp senter yang jadul, muka bak preman, rambut panjang pirang terpapar matahari dan air laut, sepatu jebol, dan sendal jepit merubahku sejak pertama aku berangkat.

sengaja kepulangan ini kurahasiakan dari siapapun. Hanya bang Dhan yang mengetahui rencana egoisku ini. bahkan Mamak Rumah Singgah Lombok terkejut mendengar ku ucap kata "PULANG" saat berhadapan. semua serba dadakan mak, Insya Allah saya kembali kerumah sini setelah Lebaran. Ucapan enteng untuk menghibur mamak.

Keempat mata kami berkaca - kaca, seperti mengetahui kesedihan akan tercipta jika aku berlama - lama berdiri dihadapan beliau. karena dirumah sedang sepi, aku hanya bisa menitip salam kepada bapak yang sedang di Lombok Timur. Entah jika ada bapak, pastinya aku mendapat petuah dan endingnya seperti apa.


Sumba : Bulan ke - 6



Setelah mengangkat ranselusang yang seperti belum enggan untuk pulang dan aku memeluk mamak dan mencium tangan nya. Badanku terasa gemetar hebat, entah perasaan macam apa menyelimutiku siang itu. Saat aku berbalik arah dan mengucapkan salam, saat itu juga aku merasakan tetesan air mata jatuh tanpa kompromi.


Alor :  Bulan ke - 7


Air mataku terkocar - kacir saat mengendarai motor menuju rental. Mataku sembab, aku sudah tak merisaukan bagaimana bentuk wajahku ini. kian berantakan, sama halnya perasaanku antara berat pergi dan rindu rumah mengimbangi.


Merauke : Bulan ke - 7


Bang Dhan telah menungguku di depan, kami tak berlama - lama di rental dan langsung menancap gas menuju pelabuhan Lembar. Karena jam menunjukan 3 sore, kami saling memburu waktu dengan kapal yang tak jelas informasi keberangkatannya. Jalan pintas melewati perkampungan, motor dan badan kami bergetar melintasi jalan yang kadang berlubang seperti ombak.

Sota perbatasan : Bulan ke - 7



Di penghujung jalan pintas, musibah mengujiku untuk tetap sabar dibalik perjuangan untuk "PULANG". Motor yang kami kendarai bocor, terpaksa aku turun dan membantu mendorong motor di tambah ransel yang tergantung dipundak menambah sensasi siang itu. Hampir 1 jam kami menunggu ban motor selesai di perbaiki. Ketika Ban telah terpasang, kami buru - buru untuk menuju kepelabuhan.

Jayapura : Bulan ke - 7



Kesialan terus menyertai, setelah salah masuk area pelabuhan, aku juga tertinggal kapal. 1 jam yang lalu kapal berangkat menuju Surabaya. Ah sial!!! kenapa hari ini seperti tidak di ijinkan untuk kembali pulang ? terus aku menggerutu di dalam hati.

Manokwari : Bulan ke - 7


Setelah memikirkan akan melintasi Bali, tapi aku lebih baik menunggu jadwal di hari selanjutnya dan pulang menuju rental, bukan kembali kerumah. Karena aku takut, seandainya aku pulang, mamak akan menahanku dan aku bisa berubah pikiran. *hehe suuzon banget ya aku,maap

Ternate : Bulan ke 8



4 hari kuhabiskan waktu menunggu di rental dan tak ada yang tahu kalau aku gagal mengejar kapal. Aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini, jadi bukan rahasia lagi kalo aku sering bermain dengan waktu akhir.


Rinjani lagi : Bulan - 8



Hari keberangkatan telah tiba, sejak pagi aku sudah siap dan tak ingin tertinggal Kapal Legundi lagi. Bang Dhan yang senantiasa mengantarku tak pernah protes atau cerewet berkat ulahku kemarin tertinggal kapal. Melalui rute yang sama, aku tiba di pelabuhan Lembar sekitar jam 2 siang.


Lombok : Bulan ke - 8


Setelah membeli tiket dan beberapa bekal untuk di kapal, aku segera berpamitan dan mengucap banyak terima kasih. Bang Dhan yang begitu sabar menghadapiku hanya melempar senyum khasnya. Entah kapan lagi aku bisa berjumpa lagi dengan semuanya keluarga angkatku di Lombok.


Sumba : Bulan ke - 9


Kaki melangkah masuk ke area pelabuhan sangat pelan, seolah - olah ini akhir dari semua perjalanan yang kumulai. Tiket sudah di periksa dan aku berjalan memasuki kapal lewat anak tangga. Diatas tak langsung aku masuk kedalam, aku lebih memilih berada di cafetaria dan bisa menghirup udara bebas sebanyak - banyaknya. Sampai - sampai aku tersengal akibat udara dan rokok menyerang kedalam tenggorokanku.

Ende : Bulan ke - 9


Ketika aku bisa datang lebih awal dari jadwal, kapal malah lambat hingga matahari akan tenggelam dibalik garis cakrawala. Perjalanan menuju Surabaya diberangkatkan malam selama kurang lebih 24 jam. di tengah perjalanan hanya kuhabiskan dengan tidur dan membaca buku bawaanku dari Rumah Singgah Lombok.

Wae Rebo : Bulan ke - 9



Selain mendapat teman baru di kapal, rombongan yang turun dari Gunung Rinjani berbagi cerita pengalaman pendakian yang mampu membunuh waktu hingga sampai di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sampai di Surabaya ada Nofal yang selalu mau kurepoti.

Padar : Bulan ke - 9


Karena hampir sering kedatanganku di Surabaya, dia selalu menyempatkan waktu dan tenaga untuk menjemputku. Selain itu dia juga memberi tempat untuk menumpang beristirahat, meluruskan badan dan terkadang makan.

Nikahan - bulan ke 10


2 hari aku menumpang di kontrakan nya sembari menunggu jadwal kepulanganku. Setiap malam Nofal dan aku menceritakan kembali beberapa pengalaman yang tak terlupakan di sela - sela kesibukan nya menjelang skripsi. Hari masih gelap, kami berkendara menembus jalanan Surabaya sunyi sepi. Perjalanan kurang lebih 30 menit dari kontrakan Nofal menuju Bandara Juanda, Surabaya.

Dompu : Bulan ke - 11



Perasaanku terperangkap dengan kesedihan, lagi - lagi harus menghadapi perpisahan dengan seorang sahabatku seperjalanan yang begitu baik. Kulihat jadwal keberangkatanku telah tiba, mataku mulai panas dan terasa penuh. Pertanda hujan air mata segera menghampiriku. Kupeluk dan berpamitan kepada Nofal, yang entah kapan aku bisa berjumpa lagi orang baik seperti dia, seperti lainya.

Maluku : bulan ke - 12


Bukan aku tak ingin berlama - lama bersamanya, tapi aku tak kuasa jika terlalu lama, maka isak tangis yang tercipta. Walau penuh kepalsuan dan berpura - pura tegar, aku tak ingin seorangpun mengetahui kesedihanku. Air mata jatuh seiring langkahku memasuk kedalam dan segera Check - in. Tumben sekali penerbangan dengan Singa merah tak mengalami delay.

Ambon : bulan ke - 13


Penerbangan melepaskan memori perjalanan tertampung dan tersimpan bersama awan mungil mengantarkanku menuju Balikpapan, Kalimantan Timur. Pelepasan kesedihan terselesaikan saat aku terlelap hingga Singa merah mendarat sempurna. Kali ini secepat kilat aku menarik diri dan keluar dari kerumunan emak - emak rempong yang berdesakan menunggu bagasi.

Surabaya : bulan ke - 14


Di luar sempat aku mengalami kebingungan, terlalu banyak perubahan yang terlewatkan selama aku mengembara. Dari belakang, teman yang tak sengaja kujumpai di Lombok bersedia menjemputku. Ia bernama Ruri teman yang begitu baik, sekaligus partner perjalananku Dari Balikpapan - Tenggarong sekitar 3 jam mengendarai motornya yang keras. *heheh maafkan ya Ruri

Bima : bulan ke - 14


Ujian datang selama perjalanan, selain motor yang mempunyai jok keras, dibagian kemudi memaksa kedua tanganku extra dibuatnya. Ditambah ranselusang memelukku dibagian belakang menjadi pelengkap perjalanan. Sesekali kami beristirahat di jalan untuk meregangkan tanganku yang keram serta pantat seperti lecet akibat tergesek celana.

Sumba : bulan ke - 15


Aduh ingin pulang saja mendapat cobaan seperti ini, tapi ini jalan menuju Rumah, seharusnya tak boleh ada keluhan seperti anak kecil. Aku meracau sendiri, sedangkan Ruri juga mengalami hal serupa, kedua pahanya ikut menahan ranselku yang berat kayak semen di sepanjang perjalanan.

Bima : bulan ke 16


Uma lengge : bulan ke - 16




Sempat rehat sejenak di bagian kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang menyediakan rest area untuk mengganjal perut. Aku makan layaknya orang kesetanan, karena sedari pagi tak ada apapun yang masuk. Puas dan merasa malu karena liar menyantap makan akibat kelaparan, kami berdua memacu motor menghindari jejeran mobil yang terjebak antrian panjang.

Lombok : bulan ke - 17


Gara - gara ada perbaikan jalan, waktu yang ku tempuh juga ikut molor 1 jam lamanya. Bebas dari macet, kami tiba di daerah Kabupaten Kutai Kartanegara atau Tenggarong. Dari kejauhan warna sungai seperti susu coklat menyambut hangat kedatanganku. Memoriku seakan terputar kembali saat aku mulai tumbuh besar dan menjadi pemuda tanggung seperti ini.

Bali : bulan ke - 18




Arah menuju pulang di sambut dengan aliran Sungai Mahakam. Di bagian kanan dan kiri perusahaan kayu dan batu bara melambaikan kenangan. Jalanan dulu yang sempit kiam melebar, rumah - rumah terapung di pesisir sungai semakin terpajang. Obrolan tentang perubahan kota Tenggarong mempersingkat kedatanganku menuju rumah.

Kulihat Jembatan kuning megah telah berdiri lagi, icon kota Tenggarong yang dulu pernah runtuh telah berdiri dan membentang. Menghubungkan kedua daratan dan menyajikan kendaraan terlihat mungil berlalu lalang. Puas aku melihat jembatan kota, ku sempatkan untuk memutari kota kecilku. Banyak perubahan bangunan, taman dan jalan terlihat asing bagiku saat ini.

Semua seperti kota baru dan  belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Rasa aneh menggiringku cepat menuju jalan ke arah rumah. Beberapa menit aku sampai di jalan yang dulu sering kulewati saat berangkat dan pulang sekolah. Hingga aku berdiri dan terdiam melihat bangunan dirumah telah berubah drastis.

Rumah : bulan ke - 19


Rumah mengalami renovasi dan hampir tak kukenali perwujudan nya. Canggung rasanya, seperti dibawa ke alam bawah sadar, aku masih belum yakin ini rumahku. Tok Tokk Tokkkk!!!! " Assalamualaikum " mbak Dika ? Mas Aul ?

Beberapa kali ku ketok dari pelan hingga mengeluarkan tenaga. Aku masih takut jika aku salah, tapi beberapa kendaraan di depan rumah tak asing bagiku. Setelah beberapa kali usaha mengetok pintu, suara langkah kecil berjalan mendekat ke arah pintu. Ceklek ! Ceklek ! Dua kali suara kunci terputar.
Krekkkkkk suara pintu terbuka memecah keheningan malam. Beberapa detik kami saling terdiam dan terpaku.

Kakakku asing melihat perawakan lelaki tanggung sedang berdiri dihadapannya. Sempat menutup keningnya untuk menghindari sinar lampu, agar mukaku yang samar. Tak beberapa lama, pundakku di tepuk dan menyebut namaku sembari tertawa bingung.

Aku hanya bisa tersenyum dan mehilangkan kecanggungan beberapa menit yang lalu. Segera kusambut tangannya dan kukecup layaknya Ibuku sendiri. Sial ! Mataku terasa menampung sisa - sisa air mata sedari pagi yang beberapa kali keluar paksa. Syukurlah, dibawah sinar lampu yang samar, mataku tak begitu jelas jika sedang menahan rindu dan senang sekaligus rasa tak percaya aku bisa kembali kerumah.

Tak butuh waktu lama untuk aku bernostalgia hingga terlelap. Cuitan burung kala sinar mentari menembus cela jendela rumah membangunkanku. Aroma kehangatan mencuat saat kepulan asap kenikmatan kopi selalu tersaji diatas meja. Kehangatan dari balik bilik menjaga badanku tetap terjaga. Gemericik air segar terdengar dari arah kamar mandi.

Semua seakan menyambut kedatanganku, setelah sekian lama aku mencapakannya dirumah. Hari - hari kuhabiskan bernostalgia dan berbagi ruang dan tempat bersama rumah. Sampai tak terasa selama 30 hari aku dirumah, mulai muncul pemikiran langkah berikutnya.

Seperti awal cerita kepulanganku kerumah, hanya dari berandai - andai apakah aku akan menjadi anak rantau jalanan lagi ? Apakah harus kutuntaskan pengembaraanku setelah bernostalgia bersama rumah ? Pertanyaan itu terus mengendap dan mengganggu hari - hariku.

Niat yang tertanam, doa bertaburan, dan sedikit sentuhan keringat saat aku ikut berjualan temanku dirumah. Tiba - tiba aku mendapat ajakan untuk pergi ke Lombok lagi. Entah magnet apa yang menyeretku turun kembali kejalan sehingga aku mendapat kejutan dan berangkat menuju Lombok untuk menemani temanku dari Jakarta mengunjungi Gunung Rinjani.

Entah ketakutan dan keberanian tercipta dari dahsyatnya kejutan uang yang terus menaungi langkah perantauanku. Aku percaya, ada atau tidaknya uang tidak membuat kehidupan seseorang terhenti. Kecemasan manusia akan zona ketidaknyamanan membuat manusia resah dan enggan tenggelam dalam eksistensi kehidupan.



Aku merantau kembali


Aku tak tau ceritaku bisa dicerna atau tidak, karena tulisan ini kubuat saat perjalanan kumulai lagi 18 juli 2017

Diatas bus kecil berasap dan posisi berdiri terhimpit kardus
Aku kembali menjadi perantau jalanan kembali

21 comments:

  1. Selamat kembali berjalan bang. Jangan lupa, selalu ada tempat untuk kembali:rumah.

    Jika singgah di semarang lagi. boleh lah ketemu hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin makasih, semoga perjalanan kali ini lebih bisa mengenal lagi dan bisa menjadi peziarah kehidupan

      Delete
  2. jossssss....khas rasa kopi hitam artikelnya mas brow....mantep tenan....itu kumis dari nol sampe melar githu yah wwkwkkk...ini the real camping hehehe...kalo kami dulu modal jempol tangan ke setiap truk dan pick up yg melintas, sayang jaman itu saya belum mengenal blog dan bodohnya tak ada arsip sama sekali karena belum punya kamera potret apalagi handphone hahahaha..ah jaman dulu itu gak pusing sama pulsa dan paket data hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok kopi hitam ?
      Seperti Hitchikking ? Menumpang ? Jempol ajaib ? Salah satu ritual saya untuk berpindah tempat kak, ya walau tidak selalu dapat, itulah seni perantauan haha

      Sekarang di cobali lagi kak, kan belum terlambat buat memulai perjalanan kakak kembali

      Delete
  3. Wihh keren, selamat berpetualang kembali Mas.

    Aduh baca tulisan Ini, kok ak jd pengen ikutan keliling Indonesia ya.

    BTW photonya bagus2, pemandangannya keren :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bang, saya juga masih belajar untuk poto

      Ya semoga perjalanan bisa dilakukan kembali

      Delete
  4. Keren 19 bulan berkelana :) semoga selalu sehat dan terus berbagi cerita setiap bumi yang dipijaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gatau kok bisa selama itu bertahan di jalan kak

      Semoga bisa berbagi cerita dan tips dalam perjalanan
      Terima kasih

      Delete
  5. Halo mas Joey, asik banget baca ceritamu :)

    Traveling itu pengalaman yg ga akan pernah terlupakan, setiap bagiannya bak scene di film yang ga gampang dilupain.
    Rasanya lepas banget kalo bisa pergi ke tempat yang indah kaya yg mas kunjungi.

    selamat jadi anak rantau lagi, jangan lupa pulang ya.
    Keep writing & sharing, Mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kakak lia salam kenal :)
      Tempat adalah bonus kak, yang penting perjalanan memberikan pelajaran


      Semoga bisa terus berbagi ya

      Delete
    2. Salam kenal untuk teman yang sudah kenal sebelum komen ini dibalas :)

      yeay! setuju mas Joe.

      Amin, kutunggu berbaginya dirimu di tulisan berikutnya.

      Delete
    3. Yah udah kenal duluan ya hahaha

      Amin semoga selalu ada cerita serus yang bisa di bagikan :)

      Delete
  6. Ah 19 bulan lamanya merantau dijalan sangat seru ya, Mas. Pasti banyak ceritanya. Selamat merantau kembali, Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita suka dan duka banyak sekali mas
      Semoga terus bisa berbagi cerita dan infomasi ya

      Makasih

      Delete
  7. Terbaik bang 19 bulan berkelanan menyintari negri suka suka *tepuktangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah itu kebetulan saja bang, masih suka menyusahkan orang setempat dan orang terdekat kok.

      Masih banyak yang harus di pelajari lagi agar bisa terus bertahan hidup di jalan hehe

      Delete
  8. Inspiratif sekali mas ceritanya. Kadang memang rumah di mana aja. Berjalan dengan "liar" banyak mengajarkan arti hidup yah.

    Teruslah berjalan menginspirasi anak-anak muda nusantara. Salam buat Satya Winnie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kak, ini juga pengalaman berharga menjadi perantau heheh. semoga bisa terus berbagi dan bisa sampaikan salam ke kakak satya ya

      Delete
  9. Aku jadi ikut haru bacanya kakak. Sehat-sehat selalu yaa, semoga bisa terus menginspirasi hal-hal baik buat orang lain. Selalu ada rumah yang menanti untuk kembali.

    *Maapkan si motor yang menyiksa selama 3 jam perjalanan :D. Btw itu motor kesayangan lhoo.. hehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah motornya sakit karena joknya keras, btw makasih udah mau bela belain jemput ya

      Delete
  10. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.