Gemuruh Angin Cobaan saat Pendakian ke Gunung Agung



Rencana menjadi awal sebuah perjalanan, tapi setiap hal yang di rencanakan tak berbuah harapan. Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu, aku dan Ucok ingin camping ceria di kaki gunung Rinjani. Kami berdua sudah merindukan aroma tanah dan wewangian dari pohon cemara. Sayang sekali kondisi gunung Rinjani sedang padat.

Kami lupa saat ingin melakukan registrasi hari itu adalah mengenang hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan bertabur bintang lagi, saat itu bertabur manusia alias berceceran naik dan turun.

Merasa tak pas waktu untuk mendaki, kami hanya menghabiskan waktu di basecamp pendaki yang di kelola oleh bang Momo. Cuaca khas kaki gunung sangat terasa saat kami menghabiskan hari disana. Hingga saat hari terakhir, aku mendapat tawaran untuk berkunjung ke pulau tetangga.

Bang Momo mengajakku ke Bali dan berkunjung ke gunung Agung. Aku berpikir, ah rencana dadakan kenapa selalu lebih menggoda untuk terjadi ?. Apakah ini yang selalu menjadi kejutan saat melakukan perjalanan ? Sejenak aku berfikir dan akan memberi jawaban ketika sampai di Mataram.

Siang hari aku dan Ucok sampai di Rumah Singgah Lombok, mamak dan bapak hanya tersenyum melihat kedatangan kami dengan muka malu. Bagaimana tidak ? Hampir 1 minggu rencana pendakian, tapi gagal dan hanya berdiam di balik selimut dan api unggun di depan basecamp.

Siang itu menjadi hari pembahasan kekonyolan aku dan Ucok. Bang Momo tiba - tiba datang dengan perlengkapan pendakian. Ia benar - benar jadi berangkat dan mengajakku menemaninya. Bersamaan juga bang Rahmat dan kedua orang temanya datang.

Merekalah yang mempunyai rencana, sedangkan mataku terus mengamati pembahasan keberangkatan. Semua setuju dan aku ikut masuk kedalam rombongan. Rencana besok pagi kami mulai bertolak menuju pelabuhan. Malam kami akhir dengan cepat dan tak ada obrolan hingga larut sekali.

Aku terbangun saat selimut dan kakiku ditarik paksa. Ya semua tahu kalau aku sangat sulit untuk bangun. Syukur perlengkapan sudah kusiapkan sejak malam, jadi sekedar membilas badan dan mengumpulkan kesadaran saja yang harus kulakukan. Pagi itu kami berlima bang Rahmat, Rama, Handoko, bang Momo dan aku berpamitan kepada mamak dan langsung bertolak menuju pelabuhan Lembar.

Aku dan bang Momo memutuskan untuk menggunakan motor, sedangkan yang lain memakai angkot. Di pelabuhan pun kami berpisah, bang Rahmat bersama yang lain mendapat tumpangan truk via beradu antara menolak dan pasrah. Saat para calo mengepung dan memaksa untuk menggunakan jasanya.

Setelah nego begitu alot, mereka mendapat tumpangan seharga Rp200.000 untuk tiga orang. Aku dan bang Momo menyebrang dengan motor dan membayar sekitar Rp129.000 sekaligus tiket penumpangnya.


Menyebrang menuju padang bai


Kapal cepat mengisi muatan dan penumpang, dan tepat jam 2 siang kapal mulai meninggalkan pelabuhan Lembar. Perjalanan menuju pelabuhan Padang bai, Bali sekitar 5 jam. Seperti biasa, kegiatan untuk mengusir waktu dengan cepat aku pergunakan tidur.


Habis begadang dan tidur, di balik perjalanan ya kadang sedih


Sunset di bali

Waktu begitu cepat berlalu dan guratan senja terlihat di balik pulau Bali. Matahari memperlihatkan jelas siluet lekukan daratan rendah hingga daratan. tertinggi. Samar - samar gagahnya gunung Agung terlihat begitu megah diantara perbukitan yang mengelilinginya. Perlahan senja pergi sangat cepat dan berubah menjadi gelap malam. Bersamaan juga kami sandar di pelabuhan Padang Bai.


Baru turun dan menyentuh tanah pulau Dewata, petaka sudah memberi ucapan kepada kami. Disetiap pintu masuk ke Bali, selalu ada Polisi berjaga dan bertugas memeriksa surat ijin mengemudi dan surat kelengkapan motor. Satu persatu semua selesai di periksa tanpa ada kendala. Sekarang giliran kami maju perlahan sembari menyeret motor.

" Selamat malam pak, bisa tunjukan surat - surat kendaraan dan Sim nya ? " bang Momo sangat santai mengeluarkan semua permintaan dari pak Polisi tersebut. Semua di simak dengan teliti, sampai - sampai menanyakan KTP kepadaku. Mungkin mukaku terlihat sangat mencurigakan ya ?.

Petaka datang, " pak STNK nya mana ? Kok ga ada ? Hanya ada Pajak di kedua sisi nya " Polisi itu menegur kami dan untuk menepikan kendaraan sejenak. Sial ! Kenapa selalu mendapat kendala saat mempunyai urusan buru - buru. Aku pun meracau kesal dan sedikit takut ketika KTP ku di minta.

Sebab, aku sendiri sampai sekarang belum memegang eKTP sejak akhir 2014 karena alasan blanko nya kosong. Beberapa kali aku menanyakan perihal tersebut mendapatkan jawaban sama. Maka dari itu  aku selalu panik jika di minta menunjukan eKTP. 

Selain itu, permasalahn motor akan ditilang berbuntut tertinggalnya aku dan bang Momo  dengan teman - teman yang sudah dari tadi mendarat dan dalam perjalanan menuju Denpasar. Di lain sisi antara bang Momo dan pak Polisi sedang negosiasi alot. Kami akan ditilang karena tidak memiliki surat lengkap, dan bang Momo sendiri berusaha untuk bisa mendapat ampunan agar bisa masuk ke kota malam itu juga.

Entah apa yang mereka obrolkan, sehingga tiba - tiba Pak Polisi melepaskan kami. Singkat cerita, bang Momo meminta maaf dan agar segera memperbaiki surat yang dibawanya. Kemudian jabatan tangan itu merubah suasana menjadi lega. Kulihat persis dari mimik Polisi. 

Lalu tiba - tiba kami di persilahkan jalan dan di beri himbauan berhati - hati di jalan. Alhamdulillah, tanganku mengelus dada ketika jalan keluar dari area pelabuhan. Bang Momo memacu motor dengan kencang dan aku sendiri membuka maps untuk menjadi navigator menuju rumah beli Indra di Denpasar.

Perjalanan sekitar 1 jam dari pelabuhan menuju Denpasar, dan kami telah sampai di rumah beli Indra. Disana ternyata sudah ramai dengan teman - teman lainya. Acara kumpul - kumpul dan reuni tercipta hingga larut lama. Kisah lama mulai menjadi bahan menemani malam yang kian larut dalam kebersamaan.

Suasana di rumah begitu tenang, pagi itu kuhabiskan dengan bercerita bersama om Gun dan yang lain. Tiba - tiba beli Jala datang untuk mengajak mengambil ikan lele agar bisa kami nikmati bersama. Pengalaman menangkap ikan lele di tempat budidaya ikan air tawar adalah pengalaman tersendiri sewaktu di Bali. Beribu ikan di dalam kolam kuserang dan kuambil satu persatu.

Beli Jala mempersilahkanku untuk mengambil, sesekali ikan loncat menghindar dari jaring yang kupegang. Kurasa cukup banyak, kami segera kembali menuju rumah dan akan mengadakan acara makan bersama dengan menu ikan lele.

Habis menangkap ikan lele di kolam
Dirumah semua sibuk bergotong royong, mulai dari membersihkan ikan, mengupas bumbu masak, memotong sayur, hingga memasak nasi. Semua pekerjaan kami lakukan bersama - sama. Dari sore hingga magrib menjelang sajian ikan lele goreng dan sayur baru bisa di hidangkan. Acara makan bersama sangat nikmat, teman - teman yang tak bisa hadir menyerang kami dan iri karena kami bisa berkumpul lagi.

Jadi koki untuk anak anak
Makan - makan selesai, beres -beres bersama dan akhirnya dapur telah rapi kembali. Kemudian kami siap berangkat menuju Pura Pasar Agung. Sebelum berangkat, kami mengecek kembali barang bawaan dan logistik. Kami berpamitan kepada om Gun dan teman yang lainya karena harus berangkat dahulu dan meninggalkan mereka sejenak.

Alhamdulillah kami mendapatkan sewa mobil yang cukup murah dan nyaman. Perjalanan dari denpasar menuju Pura Pasar Agung sekitar 63km atau sekitar 2 jam waktu perjalanan. Kami melintasi daerah Karangasem dan menanjak serta meliuk - liuk di jalanan yang menanjak dan sempit.

Malam cerah menyertai kedatangan kami di Pos registrasi. Sekitar jam 12 malam kami melakukan registrasi Rp 20.000 perorang. Cuaca disana tidak terlalu dingin, hanya saja sesekali angim berhembus mesra menyapu bagian wajahku.

Tiket dan registrasi di jalur Puras Pasar Agung


Sebelum berangkat kami berdoa agar selalu di beri keselamatan dan kelancaran dalam pendakian hingga kembali turun menuju pos registrasi dengan selamat. Doa selesai, headlamp mulai nyala dan menyorot jalan pintu masuk pendakian.

Baru berjalan beberapa langkah, sambutan selamat datang dari ratusan anak tangga. Tantangan pertama di mulai, anak tangga kami lewati hingga sampai di pelataran Pura. Lalu kami bergerak menuju samping kiri menuju jalur pendakian.

Beberapa meter dari Pura, trek tanah dan menanjak sudah bisa kami rasakan. Diantara gelap dan rapatnya hutan, tanjakan sepertinya tak jemu - jemu menguji pendakian kali ini. Asap keluar dari mulut yang tersorot sinar headlamp menandakan suhu semakin dingin. Ditambah gemuruh angin yang menyeramkan seolah - olah memberitahu kami untuk menyerah dan menyudahi pendakian.

Langkah demi langkah, nafas tak beraturan, dingin angin, menjadi pelengkap perjalanan pendakian Gunung Agung ini. Perjalanan melewati vegetasi kami tempuh sekitar 3 jam. Diatas mulai lapang dan pohon - pohon yang tumbuh sudah mulai jarang.

Hanya ada beberapa pohon kecil yang tumbuh secara acak di sisi jalur pendakian yang berbatu dan sesekali berpasir. Belum lagi ujian angin yang berhembus kencang, badan kami sedikit tergoyang akibat sapuan angin nya.

Trek baru keliatan di pagi hari

Trek batas vegetasi

Ketika di tengah perjalanan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum summit attack nanti jam 4 pagi. Ditambah Fiki satu - satu nya perempuan yang tergabung pendakian ini mengalami kelelahan dan kedinginan. Maka kami membuka 1 tenda dan flysheet untuk kami beristirahat. Sepanjang malam angin kencang mengoyang tenda dan flysheet yang kami dirikan.

Angin kencang dan tidur di luar tenda menjadi sensasi tersendiri


 seluruh badan ini terasa sangat kaku dan sulit untuk bergerak. Cobaan seperti ini membuat kami enggan untuk berpindah tempat, bahkan menuju puncak saja sepertinya tak akan kami lakukan.

Dingin dan angin membuat kami tertidur lelap, beralaskan sleeping bag aku menahan dingin didalam tidurku. Begitu juga dengan yang lain, bang Momo dan Rama tidur bersembunyi di bagian samping tenda, aku dan Handoko terlindungi flysheet di samping dan Fiki di temani bang rahmat di dalam tenda.

Posisi seperti ini tak berubah hingga hari semakin terang. Aku masih terlelap dan menikmati kehangatan pelindung badanku. Dari posisi atas terdengar suara bang Momo gaduh megatakan akan menuju puncak bersama Rama dan Handoko. Aku masih belum terlalu sadar dan mencoba untuk berdiri dsn melihat apakah benar mereka akan menuju puncak.


Ternyata benar, mereka berjalan pelan mengikuti batu yang tersusun acak di jalur menuju puncak. Tak ingin tertinggal, aku segera memberitahu bang Rahmat dan Fiki untuk menyusul yang lainya. Kuambil 1 botol air dan beberapa snack untuk perbekalan di perjalanan. Jalan ku masih gontai dan kaki masih terasa kaku akibat dingin yang di hasilkan oleh angin semalam.


Kulihat jam masih setengah 7 pagi namun langit biru dan gradasi orange menghiasi di bagian kanan punggung Gunung Agung. Kami berempat mulai berjalan beriringan. Kulihat semua pendaki mulai turun dari puncak dan tidak ada lagi rombongan yang naik bersama kami. Sesekali bertegur sapa dengan pendaki lain, ada yang lokal dan turis asing. Hari semakin terang dan sepi, tapi semangat kami masih besar untuk bisa menuju puncak.

Pemandangan di perjalanan menuju puncak Gunung Agung

Walau hari sangat cerah, ditengah perjalanan ujian masih saja datang menghampiri. Sesekali kami menunduk dan berpegangan kepada batu untuk tak ikut tersapu oleh angin kencang yang datang. Selama menuju puncak angin menemani perjalanan.

Sembunyi dari tiupan angin kencang

Selama 3 jam itu lah kami mendapat cobaan begitu berat. Alhasil berkat niat dan kesabaran, puncak dari jalu Pura Pasar Agung mulai terlihat. Hatiku senang sekali, ku kumpulkan tenaga yang tersisa untuk bisa sampai disana.

Beberapa menit lagi sampai di puncak

Beberapa menit kemudian Handoko, bang Momo sampai di puncak terlebih dahulu. Kemudian aku dan Rama menyusul di belakangnya. Alhamdulillah, saat sampai di puncak, kucium batu besar yang berbalut kain bermotif kotak dan berwana hitam putih. Kemudian aku lansung sujud bersyukur telah bisa sampai dengan selamat.

Alhamdulillah sampai juga di puncak

Masing - masing dari kami memberikan ucapan selamat dan saling berpelukan. Ku amati sekitar hanya gumpalan awan putih menggantung di tengah daratan pulau Bali. Disisi timur terlihat Gunung rinjani berdiri megah sendiri. Ah tak kusangka akhirnya sampai juga aku di daratan tinggi di pulau Bali ini. Senyum simpul terlihat jelas dari wajah masing - masing.

Setelah puas menikmati pemadangan dari puncak, kami mencoba mengabadikan beberapa foto. Di sinilah petaka hampir tercipta yang hampir saja merenggutku. Aku berjalan di sisi datar yang lain untuk berfoto, tiba - tiba datang seekor monyet menyergap tasku. Handoko langsung berteriak, Awas ada Monyet!!!! Aku langsung terkaget.

Momen berbahaya dan hampir jatuh

Saat akan menghampiri monyet tersebut, tiba - tiba angin datang menerpaku. Badanku langsung terdorong ke belakang ke arah kawah. Kedua kakiku terangkat dan kepalaku bergerak kebelakang. Aaaaaggrrrhhhn!!!!!! Tolong!!!!!!! Teriakan ku meminta tolong kedapa yang lain.

Teman - teman langsung melihat kepadaku, dan segera mendekat untuk menolong. Syukur kedua tanganku masih kuat mencengkram permukaan batu yang tajam. Langsung saja aku merebahkan badan dan perlahan meluncurkan badanku kebawah. Mereka sedikit panik akibat teriakanku yang hampir saja merenggut nyawaku.

Ini monyet nakal yang mau curi tas


Sesampainya di daerah yang datar dan aman. Aku masih panik dan jantungku berdetak kencang. Aku tak tau jika angin yang datang lebih besar mungkin badanku sudah terbang bebas menuju dalam kawah. Ku teguk air minum dan mengambil tas yang hampir di bawa lari oleh monyet. Lalu aku mencari tempat bersandar dan menenangkan diri sejenak.

Akibat monyet menyerang hampir saja aku hilang, sekarang aku lebih berhati - hati menjaga barang bawaanku. Begitu juga dengan teman - teman yang lain mereka menyimpan makanan dan minuman di dalam tas kembali.

Tak beberapa saat terlihat 2 orang sedang berjalan mendekati kami. Terlihat jaket berwarna biru dan carrier berwadna merah. Kami yakin itu adalah bang Rahmat dan fiki. ternyata benar, bang rahmat menemani Fiki untuk menyusul kami.

Poto bareng dulu biar sah ya
Akhirnya kami semua bisa sampai di puncak semua, walau tidak berjalan bersama namun semua sampai dan selamat. Kebetulan saat itu di puncak sudah sepi. Jadi kami sangat menikmati suasana kebersamaan. Tak lupa beberapa foto kami abadikan karena bisa sampai semua.

Bang rahmat dan fiki 


Hari semakin siang, kami memutuskan turun kembali ke tenda untuk makan siang dan turun kembali ke bawah. Ditengah perjalanan angin pun masih berhembus kencang. Belum lagi Monyet nakal mengikuti kami untuk mencuri makanan hingga di persimpangan jalur menuju puncak Besakih.

Dari sini keliatan rinjani 


Sesampai nya di tenda, aku segera memasak dan yang lain membereskan tenda dan peralatan lainya. Setelah makan siang, kami turun menuju Pos registrasi sekitar 2 jam perjalanan. Hari yang panas dan berangin menjadi bumbu menarik saat bisa melakukan pendakian ke Gunung agung.

Alhamdulillah kami semua tiba dengan selamat di bawah. Celotehan dan kejadian menyeramkan hingga lucu menjadi topik perjalanan menuju ke Denpasar. Pengalamanan yang tak terlupakan dan menakutkan selama mendaki gunung baru kualami di Gunung Agung.

Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran, bahwa kecelakaan itu bisa kapan saja terjadi. Walau peralatan yang kita bawa sudah safety, namun alam bisa berkata lain jika berkhendak. Kapanpun dan dimanapun kita harus selalu berhati - hati dan waspada.

Semoga teman - teman yang melakukan pendakian agar selalu berati - hati dan mengutamakan keselamatan. Karena puncak bukan tujuan atau sebuah gengsi yang harus terpenuhi, namun kembali dan berkumpul keluarga dirumah adalah hal utama.

Seperti iulah cerita dan pengalaman selama mendaki ke Gunung Agung, Bali
Terima kasih sudah berkenan dan membaca hingga selesai ya.
Jangan lupa tinggalkan komentar, tapi jangan pernah sekali kali meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Tabik!







8 comments:

  1. Wah seru jalan2 ke gunung kak, pemandanganya keren, seperti negeri atas awan itu hehe

    WWW YUKGAS ID

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya keren, tapi cobaan nya yang harus bisa tabah menghadapinya kak

      Delete
  2. Wouh, anginnya pasti kenceng banget ya, bang. Bisa bayangin gimana perasaannya waktu itu, serem banget pasti. Tapi perjuangannya sebanding lah ya. Langitnya biru cerah bersih banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya serem, tapi yang bikin gak bakal lupa adalah hampir jatuh ke dalam kawah kak
      iya sebanding sih, mana cuaca sekarang lagi cerah tapi anginnya mengerikan

      Delete
  3. The epic journey.
    Karena perjalanan selalu punya kesan dan cerita tersendiri.
    Senang bisa membaca langsung ceritanya bang.
    Terus berkarya dan berkelana.salam lestari ✌ @rsjourneys

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih bang, semoga bisa terus berbagi cerita dan informasi destinasi ya
      Salam lestari

      Delete

Powered by Blogger.