Hitchikking dadakan dan Belajar Bersama di Bukit Wairinding



Cerita ini terjadi di penghujung bulan Februari 2016, sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju Merauke selama 9 hari melintasi pulau - pulau dan perairan Indonesia Timur. Bermodal Rp20.000 di tambah kejutan dan keberuntungan yang bisa mengantarkanku menuju perbatasan negara. 

Perjalanan serba mendadak, tanpa persiapan matang, tanpa mengetahui medan, mungkin bukan anjuran bagi siapa saja. Namun aku, Tina, Satria melanggar semuanya. Terkesan memaksakan kehendak, namun berawal dari keberanian memberikan sensasi dan pengalaman sangat luar biasa.

Semua bermula pagi dingin Tina sudah mengaduk segelas teh hangat di ikuti percakapan nya bersama kak Addy. Entah apa yang mereka bicarakan, masih terasa samar di telingaku. Jelas obrolan mereka sesekali mengeluarkan gelak tawa membuat aku segera terbangun dan keluar menghirup udara segar.

Nyawaku masih belum menyatu sempurna. Membasuh muka, menggosok gigi dan berjalan kembali ke dapur perlahan diriku sudah mulai normal. Ku buat segelas kopi sambil mengamati cerita mereka. Terdengar di ujung percakapan adalah bukit Wairinding dan adik - adik kecil. Kupasang telinga lebih fokus agar mendapat info lagi. Ternyata bukit Wairindinb terletak di Sumba Timur, dan jarak nya tidak terlalu jauh dari kota Waingapu.

Setelah mengetahui apa yang mereka bahas, aku segera duduk membakar rokok dan mengamati pembicaraan. Karena aku belum pernah kesana ya aku hanya bisa terdiam. Tak beberapa lama, Satria datang dengan wajah segar duduk ikut bersama dan tentunya menyimak percakapan Tina. Mendengar kata bukit Wairinding, Satria saat bersemangat sekali. Satria sudah lama tidak kesana dan ingin berjumpa kembali dengan adik - adik disana.

Namun niatan itu segera padam, karena kendaraan sedang tidak ada dirumah. Perlahan percakapan mulai memudar saat sarapan telah kami lahap. Waktu terus berlalu begitu cepat. Tak terasa matahari sudah tepat di atas kepala.

Entah pikiran dari mana datangnya, Tina berteriak kearahku dan Satria. Ia mempunyai ide untuk Hitchikking atau nebeng menuju Sumba Timur. Secara hari masih siang, pastilah kita sampai sebelum gelap. Wajah optimis terpancar terang saat tina berkata seperti itu.

Kami diam sejenak dan masing - masing mulai berfikir. Beberapa menit kemudian kami bertiga telah setuju. Toh jika kemalaman kami akan menghubungi orang rumah jika belum sampai di Waingapu. Mulailah kami berkemas dan membawa barang secukupnya. Tak terkecuali buku gambar dan alat tulis lainya kami bawa sebagai hadiah untuk adik - adik disana sebagai hadiah.

Persiapan alat tulis dan buku gambar

Semua telah beres, kami bertiga berpamitan kepada bang Mujis dan om Aswar yang kebetulan sedang istirahat makan siang dirumah. Kami meminta ijin untuk pergi ke Waingapu dengan nebeng atau menumpang. Semula mereka melarang untuk pergi siang itu. Namun setelah meyakinkan bahwa kami bisa, akhirnya ijin kami kantongi.

Kami bertiga berjalan kaki keluar rumah menuju persimpangan jalan menuju Waingapu. Berbekal 2 botol besar air mineral, 3 bungkus roti isi cokelat, dan doa mengharap keberuntungan mengawali langkah kaki setapak demi setapak. Sesekali kepala memutar ke arah belakang saat mendengar suara mobil mendekat. Tak jarang juga mereka hanya melewatkan kami yang melambai - lambai kan tangan atau berteriak " om numpang om!!! ". Tetap saja tak ada satu pun mobil berhenti memberi tumpangan. Sial !! Kataku, kenapa malang sekali hari ini. Aku menggerutu sendiri.


Mencoba peruntungan di jalan

Kesabaran benar - benar di uji kala itu. Hampir 30 menit lamanya jawaban kami mulai membuahkan hasil. Mobil pribadi berwarna putih berhenti saat Tina hanya sekali melambaikan tangan lentiknya. Sekejab kami telah berada di dalam mobil bersama bapak - bapak sang empunya.

Ternyata wanita bisa diandalkan juga, sekali melambai membuahkan hasil. Di iringi tawa saat percakapan dengan bapak pemilik mobil yang memberi kami tumpangan. Cukup jauh jarak mobil mengantarkan, kami terpaksa turun dari mobil karena bapak akan berbelok arah. Tak lupa kami berterima kasih dan melanjutkan perjalanan kembali dengan berjalan kaki.

Tak beberapa lama, kami mendapatkan tumpangan sebuah mobil pick up. Namun bapaknya menjelaskan bahwa ia hanya mampu memberi tumpangan tidak terlalu jauh. Namun bagi kami sangat membantu untuk memangkas jarak dan menghemat tenaga. Beberapa kilo kami sudah harus turun kembali dan menanti keberuntungan yang akan lewat.

Tina mendapatkan tumpangan ke -2 mobil pick up

Sekarang Tina kami jadikan umpan agar mobil bisa memberi tumpangan. Keputusan itu membuahkan hasil, sebuah mobil truk berhenti seketika saat tangan Tina melambaikan tangan. Kami bertiga naik di bagian bak truk dan mendapatkan tumpangan hingga di anakalang Sumba Tengah.


Mobil truk juga Tina mendapatkan tumpangan ke - 3

Dari Sumba Tengah perjalanan masih panjang. Hari semakin siang dan tak terlihat kendaraan yang melintas. Masih dengan doa yang sama, mengharap Tuhan mendengar permintaan kami. Tak beberapa lama sebuah mobil pick up bak terbuka berhenti di depan kami. Mobil berisikan beberapa mama, bapak, dan anak kecil yang akan berjualan di pasar Waingapu.

Ternyata sang sopir tidak mau memberi tumpangan gratis semata, ia meminta kami untuk membayar Rp50.000 perorang. Ah sial ! Uang mana lagi yang mau kurogoh di dalam kantong. Kami bertiga berdiskusi dan di buru keberangkatan mobil.

Kemudian Tina mengobrol kembali dan mengeluarkan bujuk rayu perempuan. Beberapa menit kemudian terlihat senyum melekat di wajah Tina. Kami di perbolehkan ikut dan segera menaikan barang dan berbagi tempat kecil diantara barang dagangan dan penumpang lainya.

Di dalam perjalanan sempat menerima hujan dan kami harus bersusah payah menutup diri dengan terpal agar tidak terkena hujan. Sekitar jam 3 sore kami tiba di tikungan tajam, ada sebuah rumah berdiri tunggal diantara bukit kecil membentang di sepanjang jalan.


Hasil negosiasi dan rayuan Tina, mendapat tumpangan Mobil sayur, Tumpangan ke - 4

Kemudian kami turun dan Tina membayar Rp50.000 untuk 3 orang. Dalam perjalanan ini kami di untungkan oleh keberadaan Tina, sebagai perempuan yang mempunyai kekuatan magic untuk mendapat keberuntungan.

Kami menyempatkan bertemu mama di depan rumah dan mengobrol sejenak. Satria yang pernah kesini sangat akrab dengan mereka dalam menanyakan keadaan dan kabar dari adik - adik disana. Lalu Satria menanyakan keberadaan adik - adik, karena kami datang ingin mengajaknya belajar dan bermain. Mama memberitahukan adik - adik sedang berada di rumah Cinthya, mereka berteduh sejenak karena tadi sempat turun hujan.

Setelah bercengkrama cukup lama, kami mulai berjalan menanjak sedikit. Jarak tak jauh menuju bukit Wairinding. Hanya sekitar beberapa menit kami sudah berada diatas. Disajikan lanskap hijau dan bukit - bukit kecil membentang di hadapan. Terbayar sudah perjalanan Hitchikking dadakan ditambah hujan - hujanan.

Satria terkaget seketika, saat ada suara dari kejauhan menyerunya. Kak Satria!! Ada kak Satria!! Hahahahah. Gelak tawa ceria terlihat beberapa anak kecil datang menghampiri dan memeluknya begitu erat. Layaknya saudara yang telah lama tak bertemu. Ekspresi itu jelas terpancar dari paras mereka.

Kangen sudah terpuaskan, kini Satria mengenalkan aku dan Tina. Adik - adik ini ada kak Tina dan kak Joe ingin mengajak kalian belajar. Senyum malu - malu dan cekikikan tawa mereka saat berjabat tangan dengan kami. Baiklah sekarang kita mencari tempat yang nyaman ya untuk belajar bersama. Tina menimpali dan sekarang menggiring kami untuk belajar bersama di tengah - tengah bukit.

Kami jalan masuk lagi diantara ilalang yang tersembunyi di balik bukit berikutnya. Hingga Vero menemukan tempat datar dan menjadi tempat belajar kami sore itu. Aku mengeluarkan beberapa pensil warna dan buku bacaan, begitu juga Satria dan Tina yang masing - masing mengeluarkan peralatan lainya seperti kertas Origami dan buku dongeng.


Belajar membuat burung dengan Origami

Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran kecil. Aba - aba dari Satria mengawali kegiatan kami. Tina menyambut dengan kertas Origami dan mengajak adik - adik untuk membuat sesuatu. Ada yang tau kertas Origami ? Tidak kakkkk. Percakapan semakin membuat kami lebih dekat. Ayo siapa yang mau membuat burung ? Saya! Saya! Saya! Semua mengacungkan jari dan berebut untuk mendapat giliran membuat burung dari kertas Origami.

Selain membuat burung dari Origami, yang lain juga ada yang menggambar bersamaku, mendengarkan  cerita Satria dari buku dongeng. Semua sibuk dan mempunyai keseruan masing - masing. Antusias mereka belajar juga sangat tinggi, tapi pada kenyataanya jauh berbeda.

Satria mendongengi Vero


Jika ingin bersekolah, mereka harus bangun saat matahari belum muncul. Sekitar jam 6 pagi mereka sudah berangkat berjalan kaki kurang lebih sekitar 2 jam. Begitu juga sebaliknya saat pulang. Sesampainya dirumah pun mereka tidak beristirahat, terkadang membantu mengambil air di mata air yang jaraknya lumayan membuat keringat mengucur.

Pose keren Lidya

Cita - cita Anto ingin jadi polisi

Kegiatan belajar semakin seru saat mereka selesai menggambar dan membuat burung dari kertas Origami. Karena hari semakin senja, kami menyudahi kegiatan belajar bersama. Sembari berjalan pulang saat matahari mulai turun dibalik bukit. Sesekali kami berlarian dan tertawa menikmati kebersamaan. Mereka meminta kami untuk menginap tapi kami harus menuju Waingapu karena sudah di tunggu oleh teman.

Sebelum pulang poto bareng dulu ya


Mereka meminta kami untuk kembali dan bisa belajar bersama lagi. Kami mencoba untuk mengabulkan permintaan mereka. Kemudian sebelum berpisah, tak afdol jika tidak berfoto. Beberapa foto coba kami abadikan dan berpelukan dengan Chintya,Vero, Anto, dan yang lainya.

Sempat dilarang pulang dan poto lagi


Kebetulan Meme dan teman - teman telah datang, kami segera berpamitan kemudian menuju Waingapu menggunakan motor. Di Waingapu sendiri kami mendapat tumpangan menginap dari salah satu teman dari Kupang yang kebetulan sekarang bekerja di Waingapu. Perjalanan sekitar 30 menit hingga sampai dirumahnya.

Dan di bulan - bulan berikutnya aku datang beberapa kali untuk menjenguk adik - adik di Wairinding. Walau sekedar melepas rindu dan bercerita atau belajar bersama, hal itu yang membuat kedekatan kami terjalin begitu erat. Pulau Indah yang menyuguhkan berbagai keindahan alam dan budaya, sekaligus membuat aku mencintai Tanah Marapu ini.

Seperti itulah cerita perjalanan dadakan kami dengan cara menumpang. Kebetulan keberuntungan masih bersama kami. Sehingga di Bukit Wairinding kami masih sempat belajar bersama adik -adik. Menurutku ini adalah pengalaman luar biasa selama berjalan.

Tabik!

10 comments:

  1. wahhh serunya perjalanan seperti ini,, pengen juga sesekali ngerasain hehe tp apalah daya ya belum diberi kesempatan masih rempong berdiam di tempat hahhaa sy menikmati aja dgn baca2 blognya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang seru kadang juga sedih kak, semua campur aduk deh rasanya.

      Mungkin liburan santai masih bisa di nikmati ya

      Terima kasih sudah berkunjung :)

      Delete
  2. bagus banget pemandangannya di foto.. bagus banget inofasinya kesana buat belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak pemandangan nya bagus, tapi perjalanan hitchikking pertama sama cwe jadi pengalaman yang luar biasa :)

      Delete
  3. Subhanallah kerennn kereeen banget, keren petualangannya, keren pemandangannya, orang-orangnya juga, salut euy dengan perjalanannya yang berbobot penuh makna

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamduillah kak pengalaman yang luar biasa, apalagi bisa bertemu dan belajar bersama dengan adik adiknya jadi sangat tak terlupakan

      Delete
  4. Sumba masih begitu asri ya, masih banyak orang baik ngasih tumpangan. Yaa meskipun ada seorang yang minta bayaran 50rb hehehe. Semoga dapat segera menyusul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo minta bayaran 50rb masih wajar sih kak, mungkin dia menawarkan jasa transportasi. Tapi kehidupan sosial disana paling aku sukai dan ingin terus kembali berkunjung kesana

      Delete
  5. Wah dan waaah.
    Saya sempat pernah mengobrol dengan seorang teman yang hendak hitchhiking dari Bandung menuju Bali.
    Saya pikir, whoa......metode seperti itu bagai mempertaruhkan stok waktu. Tapi saya tahu, ada pengakaman magis dibaliknya.
    Saya pribadi sih belum ada keinginan sungguhan, tapi mulai bisa membayangkan asyiknya.

    Anyway, bersama anak2 seperti itu adalah suatu jebakan.
    Bentuk lain dari ke keren an di bumi ini.
    Cita2 mereka yang setinggi langit terbandingkan dengan, saya pribadi, yang semakin dewasa sepertinya makin menyempit dan realistis. Hmmm.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan mempertaruhkan waktu, tapi mencoba menghentikan sejenak setiap waktu yang akan terbuang dan bisa bermanfaat kak

      Semangat merekalah yang mampu membakar keinginan untuk terus bisa membantu adik adik menggapai cita cita nya

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.