Mencari Ikan Pesut dan Kerbau Kalang di Sungai Mahakam dan danau melintang

Ikan Pesut di hulu sungai Mahakam by @schode_ilham

Gaduh, satu kata yang tepat saat gelap pagi hadir mengawali petualangan. Terdengar suara air mengalir di kamar mandi, langkah kaki berderap kencang menuju tangga turun, dan bunyi alarm saling bersahutan menimbulkan kebisingan. Mataku masih berat seperti menahan beban dan badanku seperti tak ingin beranjak dari tempat tidur. Kulihat jam sudah menujukan angka 5 pagi, pertanda aku harus segera bersiap - siap berkumpul di lobby bersama teman - teman lainya.

Ku seka muka dengan air hangat, menggosok gigi dan berupaya mengembalikan kesadaranku segera. Syukurlah sedari malam barang bawaanku telah rapi, jadi aku tinggal membawanya turun. 30 menit berlalu semua sudah berada di lobby, kami mengecek kembali kelengkapan kemudian berdoa, setelah selesai berdoa kami menuju mobil dan siap menempuh perjalanan cukup jauh, sekitar 3 jam Dari salah satu penginapan yang terletak di Samarinda hingga menuju Kota Bangun.

Kabut tipis masih melayang - layang bebas di antara jalur lintas kota. Hingga Pemberhentian pertama kami untuk sarapan berada di tepi kota Tenggarong. Sedikit memberi waktu dan menyempatkan untuk mencicipi kuliner seperti nasi kuning, walau tidak biasa sarapan pagi, tapi aku mencoba untuk mengganjal perut karena di sepanjang perjalanan jarang sekali ada warung, kecuali hutan dan ladang sawit terhampar sejauh mata memandang.

Sekitar jam 10 kami tiba di Kota Bangun, mobil segera merapat di area parkir tempat penyebrangan. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, bang Inal selaku orang yang berpengalaman untuk mencari lokasi Pesut, dia juga menjadi tour guide kami mengexplore sungai Mahakam dan Danau Melintang.

Beberapa menit kami melakukan briefing yang di pandu bang Inal, ia juga menjelaskan dengan detail tentang jarak tempuh untuk rute dan beberapa tempat yang nantinya bisa kami kunjungi.

Selesai briefing dan mengecek kelengkapan seperti pelampung dan perbekalan lainya, satu persatu dari kami mulai naik di atas kapal. Karena kapal tidak terlalu besar, akhirnya 2 kapal kami gunakan. Hari cerah dan Tuhan seperti memberi kebaikan kepada kami, baru berjalan sekitar 15 menit, di sisi kapal terlihat menyembul badan Pesut yang terlihat oleh kedua mata captain kapal.

Berangkat mengarungi sungai Mahakam
Kiri! Kiri!! Lihat Kiri!!! Kaptain berteriak sembari menunjuk ke arah sisi kapal. Aku berusaha mencari diatas gelombang air disebabkan oleh kapal yang melintas. Kami terkejut dan serentak berteriak mana? Mana? Dimananya ? Ada yang lihat?
Semua saling melempar pertanyaan didalam ketidak tahuan kami, apa sebenarnya yang ingin kami cari dan lihat.

Menikmati suasana Sungai mahakam
Kedua mata ku atur untuk melihat setiap jengkal gelombang yang bergerak, dan berharap itu benar ikan Pesut yang sedang kami cari. Kapal kami sangat rapat dan sesekali berposisi depan belakang untuk bisa mendapat jarak pandang yang lebih jelas. Itu di depan!!!! Itu, ya itu!! Teriak bang Inal.

Aku semakin gemas karena belum melihat pergerakan nya. Terus ku buka lebar - lebar kedua bola mataku hingga suara bising kapal dan obrolan teman tak ku hiraukan. Beberapa menit berlalu, akhirnya sirip dan ekor Pesut kulihat jelas. Gerakan gemulai dan sangat pelan, seolah - olah ia memberi tanda akan keberadaan nya. Segera ku ambil kamera dan berharap bisa mendapat 1 jepretan yang jelas dari lekukan tubuhnya.

Baru melihat sekali ikan pesut menyelam dalam dan muncul untuk beberapa menit kemudian. Rasa harap - harap cemas mulai menemaniku dan juga teman yang lainya. Hampir 30 menit tak kunjung jua kami menemukan nya lagi, bang Inal mengajak kami untuk memutari sungai kecil yang bermuara ke Danau Melintang. Berharap di tengah perjalanan kami bisa menemukan beberapa ekor ikan Pesut sedang berkumpul mencari makan.

Cukup kesal karena kehilangan momen yang bisa dibilang langka melihat Pesut sedang muncul ke permukaan. Tapi itu hanya kecemasan sesaat, kapal segera memutar arah dan menuju ke sungai kecil yang tadi sempat kami lewati. Di tengah perjalanan menuju sungai kecil, kami sempat menemukan beberapa kapal kecil yang sedang mecari udang.

Sekilas nampak terlihat biasa saja, bapak bapak menggunakan topi dan membawa jaring. Namun dibalik itu semua, ternyata ada beberapa nelayan nakal yang ingin mencari udang dengan cara Instant.

Terlihat sebuah generator untuk membuat strum dan digunakan untuk menyetrum ke air. Berharap yang mereka lakukan bisa membuat mati udang yang sedang bersembunyi di sarangnya langsung muncul mengambang ke permukaan.

Mirisnya lagi, jika malam menjelang bisa puluhan kapal kecil bergerilya menumpaskan udang. Bukan itu saja, tentunya efek dari strum dari generator bisa merusak ekosistem fauna di sekitarnya, termasuk ikan Pesut sendiri. Ya semoga orang - orang bisa di edukasi dan mengurangi perbuatanya ya.

Melihat tidak ada tanda pergerakan ikan Pesut, bang Inal menggiring kami menuju Danau Melintang. Perlahan kapal memutar arah dan menancap gas. Seiring bising suara mesin menguasai sungai saat kami melintas menuju arah Danau. Sekitar 30 menit pemandangan berubah, pohon - pohon di sisi kiri dan kanan mulai menjauh dari jarak pandang.

Melintasi Danau Melintang
Di depan garis langit cakrawala membentang sejauh mata memandang. Ini bukan hanya sekedar danau, ini sama halnya samudra di lautan lepas. Celoteh teman - teman ketika kami semakin menjauh masuk ke tengah Danau.

Kapal berhenti sejenak untuk menikmati ketenangan sekaligus keindahan Danau melintang. Kulihat di sekliling memang seperti lautan, dan terbayang mahkluk hidup apakah yang ada di dalam danau ini. Cukup acara rehatnya, bang Inal kembali mengajak kami menuju ke area peternakan Kerbau Rawa atau Kerbau Kalang. Perjalanan sekitar 30 menit menyisir di tepi danau Melintang.

Saat kapal akan merapat ke samping kandang
Sedikit demi sedikit kapal mulai mengurangi kecepatan saat memasuki area rawa. Di kejauham terlihat bangun yang terbuat dari kayu dan ada beberapa bapak - bapak sedang memberi makan kawanan Kerbau dalam kandang.

Kandang Kerbau Kalang di atas air
Semakin dekat dengan area kandang, aroma khas dari hewan pemakan rumput ini mulai menyeruak masuk ke rongga hidung. Harus bisa dimaklumi, karena kita main nya ke kandang bukan di toko ya seperti bau dari kerbau adalah bumbu penyedap perjalanan kami.
Kedua kapal kami akhirnya sandar di bagian ujung yang terdapat bangunan untuk menyimpan beberapa alat dan makanan. Ode, kak Yuki turun dari masing - masing kapal untuk mencoba melihat lebih dekat lagi si Kerbau Kalang.

Kakak Yuki sedang berkenalan sama Kerbau
Kerbau Kalang sendiri bisa disebut dengan Kerbau Rawa, kenapa bisa dibilang seperti itu ? Karena jika musim banjir telah tiba, para hewan ternak ini akan dinaikkan ke kandang kayu tak beratap (dalam bahasa setempat kandang tak beratap ini disebut Kalang).

Kerbau Kalang yang ada di Kutai Kartanegara ini merupakan Plasma nutfah, karena menjadi sumber saya lokal Kalimantan Timur. Sedangkan asal mula Kerbau Kalang sekitar tahun 1918 di mulai dari seorang pengusaha di Desa Melintang di Hulu Mahakam yang memelihara sekitar 18 ekor kerbau.



Jumlah itu terdiri dari 6 ekor jantan dan 12 ekor betuna. Dimana kerbau tersebut berasal dari Kelawit Bentian. Saat itu cara pembelian masih melakukan sistem barter atau adanya pertukaran barang.

Dalam perkembangan ternak kerbau kalang, kerbau tersebut di bawa ke desa yang berada di sekitarnya seperti Muara Wis, Danau Jempang, Muara Muntai, dan Tanjung Terakan. Seiring berjalannya waktu, hewan ternak itu terus menyebar ke sejumlah daerah di Kalimantan Timur.

Lantas Kerbau Kalang yang ada di Kutai Kartanegara tergolong beda dengan daerah lain, kerbau di sini mempunyai keistimewaan yaitu mereka akan berenang di danau untuk mencari makan dan aktivitas lain nya. Serta untuk daya jelajah Kerbau Kalang ini cukup tinggi, seperti mengelilingi dan berenang di seputaran danau. Jadi Kerbau Kalang yang ada di daerah ini memang tergolong unik bukan.

Setelah puas melihat dan mendapat informasi tentang Kerbau Kalang, kami melanjutkan perjalanan dan keluar dari area Danau. Saat ingin mencari makan siang, perhatian kami tersita oleh aktivitas warga yang sedang sibuk di salah satu bangunan terapung di depan desa yang menyambut kami sebelum benar - benar keluar dari kawasan danau.


Kapal mulai melambat dan menepi sejajar dengan bangunan tersebut. Terlihat para ibu - ibu sedang sibuk bekerja di bawah teriknya matahari. Kami mulai turun dan mencoba melihat lebih dekat. Ternyata disini tempat pembuatan ikan asin yang cukup besar. Ikan segar sedang di olah menjadi ikan asin dengan cara di rendam garam, sebagian ada juga yang menjemur dan ibu lainya sedang mengemas ikan ke dalam kardus.

Ibu - ibu sedang mengemas ikan asin

Ikan asin tersebut akan di kirim menuju ke daerah Kalimantan Timur sendiri bahkan hingga keluar daerah. Jenis ikan air tawar yang di buat untuk ikan asin bervariasi, ada ikan spat, toman, puyu dan masih banyak lain nya.

Kami menyempatkan untui mencoba membantu dan mencoba membantu proses pembuatan hingga pengemasan.Walau di terjang teriknya matahari, teman - teman sangat antusias mencoba menjadi pembuat ikan asin. Tapi waktu memaksa untuk kami menyudahi kegiatan bersama warga, kami segera bertolak menuju desa Muara Muntai.
Setelah selesai berpamitan, kami segera mengarugi perairan Danau dan keluar menuju sungai Mahakam.

Schode dan yudha sedang ikut mencoba mengeringkan ikan asin

Ikan asin sedang dalam proses penjemuran
Perjalanan sekitar 30 menit kami sampai di Muara Muntai. Kapal segera merapat tepat di dermaga desa. Hari semakin siang serta perut mulai berteriak kelaparan. Tak ingin menahan kelaparan terlalu lama, kami mencari warung makan di sekitar desa. Acara makan - makan kami selesaikan dengan cepat, karena kami tidak ingin pulang terlalu sore. Sembari keluar warung makan, bang Inal mengajak kami untuk berkeliling desa sebentar. Di desa Muara Muntai ini mempunyai keunikan tersendiri. Selain berdiri di atas pinggiran sungai dan rawa, rumah, bangunan, bahkan jalan terbuat dari kayu ulin.

Puas berkeliling di desa, kami kembali menuju dermaga untuk kembali pulang. Sedikit mendapat kekecewaan karena tidak melihat dan mendapatkan gambar ikan Pesut dengan jelas, tapi kami mencoba mengikhlaskan nya. Badan lelah dan kurangnya tidur membuat kami mencoba tidur di atas kapal.

Hampir 30 menit kami mulai memasuki sungai Mahakam, kaptain kapal berteriak mengejutkan semunya. Bangun akibat terkaget begitu mengesalkan, tapi aku mencoba mencari tahu kenapa bisa kaptain berteriak. Lihat kanan!! Itu di kanan!!! Ternyata ada 2 ekor ikan Pesut sedang bermain bersama. Kapal mulai memperlambat jalan nya. Kedua kapal kami berjalan beriringan, satu persatu kamera mulai tersusun menyembul keluar di bagian kanan kapal.

Demi hasil yang memuaskan, rela berpanas panasan
Ikan Pesut ini hampir mirip dengan lumba - lumba yang hidup di air tawar. Mamalia yang hidup berkelompok ini mempunyai kepala sedikit lonjong dan berwarna abu abu pucat, selain di Kalimantan, pesut juga hidup vietnam dan myanmar (kalau tidak salah)
Populasi Pesut Mahakam dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang signifikan. Seperti info yang berhasil ku dapat, Pesut Mahakam kini tersisa sekitar 75 ekor. Itu yang bisa diketahui keberadaan nya.

Gagal mengabadikan momen pesut sedang loncat
Penurunan ini terjadi akibat tercemarnya air sungai dan sumber makanan kian susah. Ada juga yang pernah mendapati orang memburu ikan Pesut untuk di konsumsi. Miris sebenarnya, tapi apalah daya jika edukasi dan sosialisasi tidak sering di berikan kepada masyarakat.

Untuk melihat pesut mahakam juga semakin sulit, beberapa tempat sudah jarang sekali muncul. Terkadang harus megantongi keberuntungan lebih untuk bisa melihatnya sedang muncul ke permukaan tanpa ada rasa terganggu oleh keberadaan kita.

Semakin lama kami menikmati ikan Pesut bermain, ternyata di depan ada 2 ekor lagi yang tiba - tiba muncul ke permukaan. Jadi sekitar 4 ekor kawanan pesut berenang pelan dan sepertinya mengajak kami bermain dan memberi kesempatan kepada kami untuk melihatnya.

Hampir 1 jam lebih kami bermain dengan kawanan ikan Pesut. Hari semakin sore saat guratan senja muncul memerah diatas langit. Padahal kami masih ingin bermain bersama dan lebih ingin melihat perilaku mereka. Terpaksa kami undur diri dan kembali menuju Kota Bangun. Sampai di Kota Bangun, kami berpamitan dan berterima kasih kepada bapak captain kapal, karena di sana tidak semua bisa menemukan lokasi munculnya Ikan Pesut.

Hari semakin gelap dan kami melanjutkan perjalanan sekitar 5 jam menuju Samboja untuk mengexplore wilayah Kutai Kartanegara yang masih menyimpan banyak keindahan.
Sungguh pengalaman yang luar biasa karena bisa melihat Kerbau Kalang, Ikan Pesut dan Danau semayang sekaligus dalam 1 hari.

Untuk kalian jika ingin berkunjung ke Kalimantan Timur, Trip mencari ikan Pesut bisa menjadi pilihan destinasi wisata juga ya. Kapan lagi bisa melihat Lumba - lumba air tawar di Indonesia

6 comments:

  1. Ini ada paket trip gitu bang? Baru denger ini sih. Seru ya apalagi susur sungai, masih menjadi barang baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya untuk trip pesut ada juga. Iya seru banget kak naik kapal menyusuri sungai

      Siapa tau bisa jadi pilihan wisata menarik kedepan nya

      Delete
  2. wah gokil tuh kebo nya bisa punya rumah di atas air sendiri hehe... itu yg ikan pesut memang gede ya ukurannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, malahan mereka suka main di air
      Ikan pesut hampir menyerupai lumba - lumba ukuranya

      Delete
  3. saya kira pesut itu lumba2...mirip ya...makanya heran kok bisa ada lumba2 di sungai...bisa melompat tinggi jugakah ikan pesut itu ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya masih sodaraan sama lumba lumba, ada juga kok ikan pesut seperti di myanmar dan vietnam kalo ga salah, tapi beda jenis kak.

      Bisa melompat juga, tapi momen melompatnya itu loh dadakan. Jadi ga bisa nentukan kapan bisa dapat fotonya melompat

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.