Pengalaman berharga mengikuti Kelas Inspirasi Dompu 3



Ribut sekali kalian ini ! Kalau mau berangkat ya tinggal berangkat aja, kok masih keluar masuk kayak setrika gitu. Mamak menyela saat Juplek dan Riyal berdiskusi akan keberangkatan mereka menuju Dompu. Sekarang menjadi permasalahan bertambah menjadi runyam kita motor terbatas, ada 1 lagi sahabat Riyal yang ingin ikut dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang akan dihadiri oleh mereka. Hanya ada 1 motor dan jumlah yang akan berangkat ada 3 orang, H - 1 mereka tak kunjung jua mendapatkan kendaraan, Riyal dan Juplek sedang mencari solusinya.

Pagi menjelang, Juplek akhirnya berangkat di temani kak jo salah satu teman di Lombok. Rencananya Riyal akan segera menyusul dengan menyewa kendaraan lain. Aku hanya memperhatikan keributan karena semua serba mendadak. Waktu cepat berlalu hingga malam Riyal menawariku untuk menggantikanya menuju Dompu. Jelas aku kaget serta dihadapkan pilihan berat.

Kebetulan aku juga baru mendapatkan pekerjaan buruh ketik dan tak mungkin aku mangkir dari pekerjaan baruku. Sempat berfikir panjang untuk memilih, karena aku juga sangat ingin mengadiri Kelas Inspirasi dan belajar dan bermain bersama anak - anak lagi. Kuminta kepada Riyal hingga besok pagi aku akan memutuskan bisa ikut atau tidak nya menemani seorang teman nya yang baru satang dari Bogor.

Saat pagi aku merasa dingin yang akut menyergap, ternyata selimut tebal di tarik oleh Riyal. Hei bangun, jadi berangkat atau enggak ? "Serunya membangunkanku dengan cepat.
Tubuhku bangun dan berjalan menuju kamar mandi setengah sadar. Jiwaku telah kembali sehabis mandi, Riyal memintaku untuk menjemput temanya dan segera berangkat. Ia juga berjanji akan segera menyusul kami, setelah urusannya telah rampung.

Aku dengan Boy berangkat dari Mataram menuju pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Sedangkan Juplek dan kak Jo masih di perjalanan dan akan menunggu di simpang kota Dompu. Terik matahari, mobil besar menyesaki jalanan, acara adat nikahan di jalanan, membuat perjalananku dan Boy sedikit terhambat. Namun perlahan dan penuh kepastian kami bisa lolos dan sampai di pelabuhan tepat matahari di atas kepala.

Kapal ferry berjalan kencang mengantar kami menyebrang menuju pulau Sumbawa. Sesekali meliuk - liuk menghindari pusaran air yang bisa menyedot kapal. Kami sampai dengan selamat, tanah seberang berhasil kami injak dan memutuskan beristirahat sejanak sembari mencicip makan siang di warung pinggiran.

Ketika makan telah selesai kami lahap, aku mulai mengecek jarak, waktu, dan estimasi bensin. Sebab lokasi tempat Kelas Inspirasi jauh dari kota Dompu dan aku juga belum pernah ke desa tersebut. Ditambah motor yang kami gunakan sangat boros, jadi sepanjang perjalanan kami sering mengisi kembali dan membawa botol cadangan minyak untuk berjaga - jaga dijalan.

Sekarang posisi berganti, aku berada di juru kemudi dan Boy di belakang sambil memelukku erat ketika motor kupacu tanpa ampun melintasi jalanan lintas provinsi yang mulus dan lengang. Playlist musik bergema di telinga bersamaan aku semakin tergoda untuk melesat lebih kencang. Berharap kami tiba sebelum matahari mulai jauh dan memberi ruang kegelapan masuk. Sesekali aku berhenti untuk mendinginkan mesin motor yang berasap karena jarak yang kami tempuh cukup jauh dan lumayan menyiksa tangan dan pinggang.

Sore hari kami masih berkutat di Sumbawa Besar akibat mengantri di pengisian minyak yang mengular. Kondisi itu kami manfaatkan untuk mencari tahu lokasi dan juga menimbulkan kecemasan. Sebab prediksiku akan tiba sebelum gelap telah gagal karena menunggu pengisian bensin yang memakan waktu lama. Sedangkan sore hari Juplek dan kak Jo telah tiba di lokasi dan sudah berkumpul dengan teman - teman relawan lainnya. Syukurlah mereka sampai dengan selamat, tapi kami masih harus berjuang merobek aspal agar bisa bergabung bersama mereka.

Magrib telah tiba begitu pula dengan perjalanan kami lanjutkan melintasi jalan sepi diantara lebatnya hutan dan lautan yang mulai tak mampu di pandang lagi. Berbekal 2 botol besar untuk bensin, kami tiba di cabang Banggo pas jam 9 malam. Motor berlalu lalang dan kami kebingungan arah mana yang harus kami tuju. Kucoba menghubungi Juplek tapi tak ada balasan. Sial ! Ku hempaskan Hp ke dalam tas karena aku buta daerah di Dompu. Kucoba untuk tetap tenang, agar Boy tidak menaruh curiga kepadaku. Beberapa menit kami habiskan tepat di bundaran persimpangan sambil mencari siapa yang bisa kuhubungi.

Baru kusadar, disana ada teman - teman dari Bima yang ikut menjadi Relawan. Segera ku ambil Hp dan mencari nomor mereka. Setelah mencari di kumpulan nomor telpon, akhirnya pilihan jatuh kepada bang Sistim. Segera kulayangkan pesan dan mencoba meminta panduan dan patokan untuk tiba di Desa Kempo, Dompu. Tak selang beberapa lama, bang Sistim melelponku dan memberi arahan. Tak lupa ia memperingati kami untuk berhati - hati, karena jalur yang akan kami lewati cukup rawan ketika malam mulai datang.

Ku anggukkan kepala sembari mencerna suara bang Sistim di lokasi acara, seolah - olah aku mengerti dan berpura - pura tidak takut agar Boy tetap tenang saat perjalanan nanti. Telpon mati, kujelaskan kepada Boy arah tujuan kami dan segera mungkin untuk berangkat. Kali ini Boy yan berada di depan dan aku menjadi navigator sekaligus memerhatikan jalan sekitar.

Syukur aku berbekal pisau lipat, jika terjadi hal buruk masih ada alat untuk kami membela diri pikirku. Dari keramaian kota, perubahan langsung mencolok ketika berbelok menuju arah utara. Dingin, sepi, gelap dan hanya gemerlap yang senantiasa menemaninperjalanan kami. Benar - benar mencekam dan pikiranku semakin berandai - andai jika terjadi suatu hal. Kuburan kami lewati, keluar ke area lapang diantara ladang masyarakat dan kembali masuk hutan. Memang benar jika bang Sistim memberitahu agar kami harus berhati - hati.

1 jam telah berlalu, akhirnya kami menemukan titik cahaya kehidupan. Di depan pemukiman warga semakin dekat dan aku mulai bernafas lega. Kami mengikuti jalan dan arahan bang Sistim untuk menemukan lokasi. Akhirnya setelah perjalan panjang nan melelahkan serta penuh ketakutan yang kupendam telah tuntas. Teman - teman menyambut kami di sela - sela kesibukan mereka menyiapkan alat peraga dan dan peralatan yang lainya.

Tak membutuhkan waktu lama, setelah berkenalan aku langsung membaur dan tak lupa ikut membantu apa saja yang perlu di persiapkan. Semua masih berkutat dengan kesibukan dan tak terasa malam semakin larut, tapi tugas telah kami selesaikan dan segera beranjak masuk untuk beristirahat dan memejamkan mata untuk beberapa jam saja.



Tiba - tiba keributan terjadi seisi rumah, matahari mulai naik dan kami baru saja terbangun. Semua saling berlari untuk mempersiapkan semua. Ada yang mandi, berdandan, menghidupkan kendaraan. Kepanikan yang beredar dapat kami atasi, semua telah selesai berbenah dan siap berangkat menuju ke sekolah. Untuk jaraknya tidak terlalu jauh, jadi kami masih bisa mengejar waktu walau hanya berjalan kaki.

Kami tiba di sekolah sebelum upacara di mulai, para guru dan kepala sekolah menyambut ramah kedatangan dan acara Kelas Inspirasi yang akan kami lakukan. Upacara segera di laksanakan begitu juga dengan kami yang turut berbaris bersama seluruh siswa dan guru mengikuti jalan nya upacara.

Upacara bareng adik - adik


Matahari semakin naik saat upacara berlangsung, ditengah - tengah pelaksanaan, kepala sekolah memberitahukan bahwa hari ini sekolah mereka kedatangan kakak - kakak yang ingin berbagi cerita dan belajar bersama. Jadi semua murid diharapkan untuk berkumpul dan bisa kenal kakak - kakak lebih dekat. Upacara selesai dan kami di beri kesempatan untuk memperkenalkan diri kami masing - masing di hadapan seluruh murid. Setelah selesai, semua murid mulai masuk ke dalam kelas. Sesuai dengan susunan dan pembagian kelas, kami mulai berpencar memasuki ruangan.

Kak Sistim dan kak Jo sedang mendokumentasi


Kali ini aku mendapatkan kelas 4 yang menjadi teman belajarku di Kelas Inspirasi Dompu 3. Aku masuk mengetok pintu dan mengucapkan salam " selamat pagi " tadinya adik - adik sedang bermain dan berlari tiba - tiba langsung kembali ke tempat duduknya. Tatapan canggung antara aku dan mereka tak terelakan.

Belajar dan bermain


Kucoba untuk mencairkan suasana dengan memperkenalkan terlebih dahulu dan mengajak mereka menebak. Setelah semua menebak dan tidak ada yang benar, aku melempar suara, nama kakak Joey, pekerjaan kakak suka jalan - jalan. Mereka sempat terheran - heran tentang pekerjaanku dan hanya kebingungan terpampang jelas di setiap ekspresi mereka.

Jawaban jujur tentang cita - citanya


Hayo siapa yang mau ikut kakak jalan - jalan ? Semua mengacungkan jari berebut untuk mendapat ajakanku. Tiba - tiba salah satu murid diantara kerumunan melontarkan sebuah pertanyaan, " kak, kalo jalan - jalan dapat uangnya dari mana ? " aku hanya bisa tersenyum menyimpul sembari menjelaskan semudah mungkin, agar mereka bisa menerima maksud perkataanku.

Sedikit blur dan siluet ya saat belajar



Kakak jalan - jalan sambil kerja, kalo di jalan uangnya habis ya tinggal cari kerja apa aja, yang penting halal. " Oooooohhhh " jawaban serentak membuat aku sedikit malu. " Terus kalo tidur dimana ? Kan ga punya rumah kak ? " adik itu masih penasaran dan terus menggali informasi dariku. Ya kalo tinggal dimana aja, yang penting tidak mengganggu orang dan aman. Aku menjawab seolah - olah akan paham dengan perkataanku. Semua langsung berteriak, " aku mau jadi seperti kakak, aku juga !! Aku !! Ya aku juga !!! " saat mendengar mereka saling melempar kata - kata keinginan sepertiku membuat mataku berkaca - kaca.

Ditengah - tengah kegiatan belajarpun ada sebuah kejadian yang cukup membuatku terharu. Saat aku masih belajar menggambar bersama, tiba - tiba ada seorang adik kecil yang meminta ijin untuk keluar sebentar, aku mempersilahkan nya keluar. Setelah ia keluar, yang lain pun ikut serta berlari keluar dan berlari menuju ke sudut lapangan yang ada di depan kelas. Aku kaget dan melihat kekacauan yang terjadi, kucoba berlari keluar dan melihat apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Di kejauhan sana ada sebuah kran air dengan kerumunan adik adik berebut untuk minum. Ternyata sedari tadi mereka kehausan dan takut untuk meminta ijin kepadaku. Aku hanya bisa terdiam saat aku menghampiri mereka. Kucoba untuk ikut minum bersama, karena aku juga merasa haus dan kering akibat cuaca pesisir desa yang sangat panas.

Adik meminum air dari kran


Usai minum kami kembali kedalam kelas dan beberapa saat aku menjelaskan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sempat terjadi tanya jawab tentang meminum air dari air kran, tapi aku mencoba tidak melarang mereka. Hanya saja untuk mengurangi konsumsinya saja. Kusudahi sesi tanya jawab, kuajak mereka bermain dengan menebak warna sebuah kertas berbentuk bulat, segitiga, kotak tapi menggunakan bahasa inggris.

Jika ada yang bisa menjawab akan kakak beri hadiah. Semua setuju dan bersemangat untuk merebutkan hadiah. Sesi tanya jawab dan bermain berlangsung riuh, sangking semangatnya, mereka maju mendekat kepadaku dan saling dorong untuk bisa mendapat giliran menjawab. Di sisi yang lain, seperti kakak Sistim, kak Jo, Boy sebagai tim dokumentasi turut beradu mengabadikan momen belajar bersama.

Di ruangan sebelah, salah satu teman dari Jakarta kakak Okto tak mau kalah. Terdengar mereka saling bersahutan dan belajar bersama adik - adik di kelas 4. Paras Okto yang bermata sipit seperti orang luar negeri, hal itu membuat adik - adik bersemangat untuk belajar dan berinteraksi dengan Okto.

Setiap 45 menit sekali kami berotasi dan berpindah dari satu kelas menuju kelas lainya. Di sela - sela bermain dan belajar, kami juga mencoba membangkitkan semangat adik - adik untuk giat belajar dan membaca. Tak jarang juga kami menjelaskan tentang cita - cita yang berbagai macam bisa diraih, jadi cita - cita bukan hanya meliputi seperti Guru, Dokter, Polisi, atau yang lainya. Masih banyak pekerjaan dengan profesi berbeda namun jika di kejar dan di iringi giat belajar, maka cita - cita akan bisa diwujudkan.

Dan di terakhir aku berkesempatan berkolaborasi dengan Okto, kami berdua saling mengisi dan membuat kelas menjadi berisik dan gaduh akibat kami bersemangat. Okto mengawali, aku menimpali kata - kata provokatif agar adik - adik tetap bersemangat belajar dan bermain. Mulai menggambar, menulis, membaca, sampai menari untuk menambah kecerian kami.

Kakak Okto sedang belajar


Hingga siang hari kami sampai pada puncak acara, di setiap kelas kami meminta adik - adik untuk menuliskan harapan dan cita - cita mereka kedalam kertas. Nantinya kertas tersebut akan di gantung di sebuah pohon harapan dan akan tetap tumbuh seiring mereka terus belajar giat di sekolah maupun dirumah. Berat rasanya menyudahi kegembiraan yang tercipta bersama, namun waktu berkata lain dan perpisahan begitu nampak  di antara puluhan pasang mata kecil melepas kepulangan kami.

Sambil melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan area sekolah, adik - adik terus menyebut nama kami. Dan ada beberapa adik - adik yang berjalan bersama hingga di tempat rumah dinas Camat yang menjadi tempat kami beristirahat dan menumpang menginap. Begitu berat rasanya berpisah, namun tetap harus merelakannya. Kami berjanji jika ada umur panjang dan waktu lagi, akan mengunjungi mereka kembali di kemudian hari.

Kami istirahat sejenak kemudian berkumpul di salah satu pantai untuk berkumpul bersama relawan lain yang tersebar di beberapa sekolah lainnya. Di pantai kami mendapat jamuan makan dari fasilitator dan mulai saling berkenalan dan mengevaluasi kegiatan Kelas Inspirasi Dompu 3. Semua saling bersuara dan memberi berperndapat atas pengalaman selama mencoba mengisnpirasi atau menjadi bagian tim dokumentasi.

Acara selesai setelah jamuan makan dan aku bersama teman - teman dari Bima berjalan beriringan ketika arah pulang. Kami menyempatkan menyinggahi salah satu tempat indah jika  dinikmati saat matahari akan tenggelam.

Sunsetan bersama

Aku dan juplek terdampar di masjid

Beberapa kejadian menjadi penutup pengalaman perjalanan menuju Dompu. Mulai dari aku dan juplek sempat terdampar di sebuah masjid untuk tidur karena menunggu kak Jo, Boy dan Okto karena mobil mereka mogok. Lalu kami sempat terdampar dan menginap di salah satu kerabat kak Jo sebelum bertolak kembali menuju Mataram, Lombok. Perjalanan pulang motor di kendarai 3 orang selama melintasi Dompu - Lombok, ban motor bocor, kehujanan, menjadi penutup yang klimaks dari perjalanan kali ini.

2 comments:

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.