Sebuah Mitos Goa Karombo Wera, di Bima


Waktu itu kala aku berkunjung kembali ke Bima untuk kesekian kalinya. Bermula mengantar donasi mukena dan baju koko pada saat puasa berakibat bonus mengunjungi salah satu tempat yang jarang temui atau kunjungi apabila sedang melancong ke kota Bima.  Sekaligus mendapat tawaran dari bang Firna untuk ikut menuju ke desa Wera. pada awalnya aku enggan untuk berangkat karena ingin segera menyerahkan donasi. Tapi godaan dari mitos goa di Wera membuat aku menjadi penasaran.

Bang Firna mengajakku ke Wera karena bang Fin kebetulan akan pergi kesana bersama teman teman. Mereka akan mencari lokasi Goa Karombo Wera yang menurut cerita masih banyak menyimpan lengenda tanda tanya besar. Konon di dalam ada beberapa cabang atau lorong diantaranya. Lorong tersebut bisa langsung menuju ke kaki Gunung Sangiang ( mitosnya ) yang terletak di seberang laut sana.


Sedangkan untuk lorong satunya mempunyai cerita lorong tersebut biasa digunakan orang zaman dahulu berangkat menuju ke Tanah Suci Mekkah. Aku masih belum tau pasti lorong mana saja yang menuju ke masing - masing tempat tersebut.

Ohiya, lokasi goa terletak di dekat pantai Sangiang, sekitar mempunyai jarak 20 meter dari bibir pantai. Sedangkan pintu masuknya cukup sulit ditemukan, sebab pintu nya terbuat dari batu karang dan tersembunyi. Sekaligus semak belukar membuat kami sedikit kesusahan untuk menemukannya. Saat itu kami memasuki goa berjumlah 6 orang antara lain bang Fin dan beberapa teman dari Wera sekaligus sebagai penunjuk jalan  menuju goa tersebut.

Terlihat diatas pintu masuk lain
Kami sudah berada tepat di depan pintu masuk, kemudian satu persatu dari kami membawa obor sebagai penerangan. Disajikan dengan bibir goa yang lumayan lebar sebagai ucapan selamat datang, setelah itu, perlahan kami mulai masuk semakin dalam. Sekitar memasuki  15 meter dari pintu masuk, jalur terlihat semakin menyempit dan memaksa kami untuk merangkak. Tak jarang juga merayap dan menyentuh kotoran kalelawar yang masih segar untuk bisa menembus masuk jauh lebih dalam ke goa.

Cukup lama kami merangkak untuk menembus kegelapan goa, akhirnya kami dihadapkan sebuah pilihan. Kami menemukan sebuah persimpangan lorong, syukur teman dari Wera masih ingat dan seketika kami berbelok ke salah satu lorong yang berada di sisi kanan. Langkah begitu pelan, pikiran was was akan ada apa di depan menambah suasana semakin membuat tegang. Tiba - tiba kami berhenti melangkah setelah cukup jauh kami berjalan bebas di dalam lorong gelap. 

Ternyata di depan terdapat sebuah ruangan yang cukup besar, disana terdapat seperti "KUBAH" masjid. Kemudian salah salah satu teman bang fin maju ke sudut  kubah dan memulai mengumandangkan adzan. Konon mitos yang tersebar di masyarakat, setelah memasuki goa dan menuju sampai di ruangan yang menyerupai kubah, para pengunjung agar mengumandangkan adzan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan sebagai memohon izin atau ucapan permisi terhadap yang maha kuasa dan meminta perlindungan dalam melakukan aktivitas saat menelusuri goa.

Kubah menjadi tempat mengumandangkan adzan. Photo by @mbojo_backpacker

Adzan selesai dan hening kembali datang, kami bergegas menyusuri salah satu lorong yang sudah kami ikuti dari awal. Semakin jauh dan semakin masuk kedalam, kami dihadapkan dengan berbagai rintangan. Mulai memanjat dinding batu licin, merayap, sampai berjalan seperti kepiting karena celah batu yang sempit. Bagiku sungguh perjuangan yang extra untuk mencari tau kebenaran nya. 

Akhirnya kami sampai  diatas dan beristirahat sejenak untuk mengatur nafas. Merasa lelah sudah hilang dan keringat mulai mengering, kami berjalan kembali dengan posisi menuruni sisi lain batu yang sedikit lembab. Cukup menyulitkan saat turun, hampir vertical saat melewati batu licin yang disebabkan kotoran kalelawar. Sudah bisa terbayangkan bagaimana berjalan dengan kaki telanjang di tambah udara pengap sedikit menyulitkan bagi kami. Apalagi  adanya kotoran yang licin tentunya banyak menguras tenaga extra.

Perjalanan belum berhenti di situ saja, dari posisi bawah yang datar, kami berjalan kembali. Seperti berjalan mengitari dinding- dinding besar. Layaknya labirin yang akan menyesatkan siapa saja masuk kedalam nya. Sebelum kami menemukan sebuah lubang kecil, hah lubang kecil ? Tanyaku penasaran. Ya benar, ada lubang kecil serta mustahil untuk manusia bisa tembus masuk kesisi lain nya. Emang bisa ya ? Rasa penasaran begitu kuat membuatku ingin segera membuktikan hal tersebut.

Poto di dalam ruangan goa. Photo by @mbojo_backpacker

Sebab ukuran atau diameter lubang tersebut tidak sampai 50 cm. Sangat mustahilkan bisa dilalui oleh kami yang mempunyai ukuran rata - rata cukup besar. Namun, anehnya kami semua bisa masuk tanpa ada kesulitan. Aneh bin ajaib bukan ?. Setelah itu membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menembus semua menuju ke sisi yang lebih luas dan datar.

Badan kami sudah tak karuan lagi, berlumurkan kotoran kalelawar, rasa panas, dan tentunya kadar oksigen yang semakin menipis. Beberapa menit beristirahat kemudiam kami bergerak kembali berjalan dan ingin mencari ujung pecahan lorong - lorong di dalam goa. Entah sudah sampai di bagian perut bumi mana kami sekarang. Di dalam batin aku berdoa agar cepat selesai petualangan yang tak ku ketahui bagaimana akhirnya ini.

Perjalanan akhirnya telah sampai hingga di ujung, kami harus turun satu tingkat lagi sebelum kami menemukan lorong yang menjadi mitos atau cerita legenda masyarakat setempat. Tentang sebuah perjalanan ghaib menuju tanah suci Mekkah dan satu lorongnya lagi adalah pintu keluar menuju tepat di kaki gunung Sangiang.

Lokasi dekat lorong. Photo by @mbojo_backpacker

Detak jantungku sangat terpacu begitu cepat saat melihat lorong itu langsung di hadapanku. Bagaimana tidak? semua cerita yang terus mengusik pikiranku sekarang sudah ada di depan mata. Lantas sekarang apa yang harus di lakukan ? Mencoba nya ? Sok berani ? Takut ? . Kami tidak tahu ada apa di depan sana yang akan menyambut kami. Ini bukan ajang unjuk diri atau siapa yang lebih berani.

Melainkan bagaiamana mengutamakan keselamatan, bukan hanya ambisi dan siapa yang mempunyai keberanian tinggi. Sebenarnnya rasa ingin mencoba tantangan sempat membara, namun dengan segala resiko rasa ingin tahu itu mulai mengendap dari pertimbangan dan konsekuensi.

Dua lorong seperti memberi tanda tanya besar kepada kami, semua sudah tahu dan semua tak ada yang ingin menerobos walau keadaan berkata lain. Namun, kami tidak gegabah dengan segala kondisi buruk jika terjadi sesuatu saat mencoba masuk. Walau saat itu aku bersama orang orang yang berpengalaman dan tentunya ahli dalam bidang ini, aku tak ambisius.

Hanya lamunan dan imajinasi tinggi coba menggambarkan keadaan yang gelap di dalam sana. Aku berkata dalam hati, seandainya benar maka sebuah pengalaman luar biasa dalam hidupku. Beberapa menit kami berdiri mematung di depan lorong mitos itu, suasana seakan mengingatkan kepada kami. Seperti memberi isyarat untuk menyudahi dan kembali menuju ke permukaan. Seperti tak ingin berlama lama melihat, bergegas kami mulai berjalan pulang. Tapi jalan yang kami lalui sekarang sedikit berbeda. 

Sekarang jalan yang kami lewati arah sebaliknya. Sedikit berjalan ke arah samping dan melewati celah - celah sempit. Di sana kurasakan hembusan angin dari luar begitu terasa. Walau tidak kencang, angin itu bisa memberi nafas baru kepada kami semua. Karena angin itulah kami merasa lega, dimana angin berhembus masuk, disitu sudah pasti menjadi jalan keluar kami. Dalam perjalanan pulang pun kami sempat mengalami keanehan.

Walau sedikit susah untuk di pikir memakai akal sehat. Kenapa? saat masuk, perjalanan kami melewati berbagai medan. Mulai dari menaiki goa, berjalan turun, merayap memasuki lubang, dan beberapa kali berjalan seperti kepiting melewati celah hingga menuju ke titik tujuan.

Tetapi kenapa saat berjalan menuju pintu keluar kami tidak menemukan rute atau rintangan seperti saat berangkat ?. Serius, di jalur menuju pintu keluar kami berjalan santai melewati ruangan goa yang datar dan mempunyai ruang begitu luas. Perjalanan kami tempuh sekitar 30 menit berjalan santai hingga berada di pintu keluar.

Nafas lega serta di iringi badanku yang langsung tersungkur diatas tanah menjadi ucapan selamat. Semua keluar tanpa ada yang mengalami musibah. Kemudian kami membersikan badan di pinggi pantai dan menuju ke desa Sangiang di Wera. Walau belum bisa membuktikan sendiri akan keberadaan mitos itu benar atau tidak bukan menjadi tujuan utamaku.

Pantai sangiang dan terlihat gunung sangiang

Yang jelas, kami semua berkesempatan untuk mencari jalur tersebut. Menurutku itu sudah bisa menjadi cara dan alasan untuk tetap melestarikan mitos atau cerita lengenda masyarakat setempat. Kemudian menceritakan ke pada orang lain atas pengalaman ku kali ini. 

Dapat kayak gini saat pulang. Photo by @mbojo_backpacker

Siapa tau nanti teman - teman tak sengaja berkunjung ke Bima dan bisa mencobanya.
Seperti itulah kisah perjalananku menjelajah bersama mitos goa Karombo Wera.



Silahkan meninggalkan jejak, kritik dan saran di kolom komentar.
Jangan sekali kali meninggalkan link hidup di dalam komentar ya

Sebab, komentar dari teman - teman yang memberi tenaga dan semangat untuk terus mencari berbagai cerita budaya, alam, serta keindahan yang ada di Indonesia ini
Mari saling berbagi cerita, atau saling berkunjung ke dalam rumah berjalan kalian ya.

6 comments:

  1. Wow, keren sangad goanya!
    Belum pernah ke Bima, sementara masukin wishlist dulu :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus datang ke bima kak, banyak sekali tempat yang tersembunyi dan indah utnuk di nikmati.

      Delete
  2. Itu dapat oleh-oleh Milky Way? Keren mas.
    Jarang-jarang orang mengulas gua kalau di Indonesia Timur mas. Salut deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya padahal ga sengaja pas di jalan dapat beginian. Mungkin masih banyak lagi goa yang belum di temukan dan di kunjungi
      Nuhun bang

      Delete
  3. wah wah, jadi makin penasaran untuk ke Bima, apalagi baru-baru ini juga berkenalan dengan orang Sumbawa yang bilang kalau Sumbawa ini kaya sekali budaya dan alamnya, banyak sekali yang belum terkuak.

    good writing, Jo!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus kapan mau main ke daerah bima ? Ga nyesel deh datang. Banyak sekali mitos dan budaya yang masih mengendap dan patut dicari tau agar tetap lestari.
      Sharing sharing lah biar bisa nulis bagus dong :D

      Delete

Powered by Blogger.