Menghentikan Waktu



Oktober, sepertinya masih membekas memori di ingatan tentang bulan yang menempati di urutan ke - 10 itu. Bulan itu mengawali dalam kisah perjalanan egois ini. Jujur, entah sudah berapa banyak waktu menghipnotisku untuk terdampar bebas menikmati kenyaman di Lombok.

Perjalanan ini bisa kusebut " Menghentikan waktu " . Aku masih belum mengerti, kenapa waktu begitu bebas menggerogoti langkahku. Dimana setiap langkah ku mulai dengan banyak pertanyaan dan cobaan. Begitu banyak keraguaan dan kecemasan untuk dinikmati. Rasa sakit dan musibah seperti menjadi teman setia kemana angin membawaku tertambat di sebuah perkampungan atau bangunan penuh sesak di kota.

Saat - saat aku mulai mengenal Lombok lebih dekat dan dalam, seperti tidak ada gangguan dan ancaman. Ketenangan menikmati keindahan alam, keramahan sambutan warga sekitar sehingga menghubungkanku dengan berbagai kalangan, makanan serba murah untuk kantong orang pinggiran sepertiku. Bagaimana aku tak terjebak dan terlena menikmati kehidupan aman dan nyaman lagi.


Bisa jadi nyaman adalah dimensi kata - kata dan menjadi ruang dialog personal antara momen peristiwa yang pernah kualami, kurasakan, kulihat, kudengar. Namun rasa nyaman itu sendiri menjadi jembatan penghubung antara ketakutan dan keberanian menghadapi misteriusnya perjalanan. Rasa itu bergejolak saling menghantam, dan membuktikan siapa yang bisa memenangkan emosi pada sebuah perasaan yang ingin di ungkapkan dalam keyakinan ketika berjalan.

Bagiku rasa aman dan kenyamanan mampu menyentuh ruang dasar kesadaran, dan menciptakan ruang baru di setiap imajinasi petualangan. Sekarang aku masuk dalam sebuah struktur sosial yang nyaris tanpa ada persoalan. Aku menjalani keseharian di tengah kemapanan dan nyaris tak mengalami kendala. Saat ini aku lebih sulit merasakan apa yang ingin aku ekspresikan. Ketika aku harus menulis yang mewakili perasaanku dan mampu di tangkap oleh setiap individu yang singgah di rumah berjalan ini.

Aku ingin kembali menikmati pengembaraan dan berada di tengah objek dari apa yang ingin aku ungkapkan lewat barisan kata - kata. Membuka ruang empati dalam keseharian, membuka dialog dan mencoba memahami setiap peristiwa. Demi sebuah inspirasi dalam perjalanan aku rela untuk terjun bebas dan menenggelamkan diri pada banyak hal yang ingin aku pahami dan rasakan

Terlalu banyak hal yang aku sukai dan pada akhirnya menjadi inspirasi terbesar dalam proses belajar menulis cerita perjalanan ini. Duduk bercerita bersama tukang Bakso di warung kopi, berhasil dekat bercanda dengan preman terminal, di buru oleh aparat karena KTP belum electric, berbagi sejumput tembakau dengan petani di kaki gunung, dan sesekali mendamparkan diri semalam suntuk untuk berperang argumen dan segala teori. Hal tersebut membangun kesadaran bahwa apa yang aku tulis tentang perjalanan ini, di kemudian hari akan mempunyai dasar argumen yang sangat personal. Seperti membangun muara kegelisahan dalam setiap persoalan hidup di jalan untuk kemudian menjadi sumber kisah rumah berjalan ini.



Di pulau ini, aku tidak mampu menemukan rasa kegelisahan dari semua persoalan perjalanan. Aku merasa kebingungan saat hidup hidup dalam sebuah tatanan mapan dan nyaris sunyi sepi dari permasalahan. Naluri dan isnting saat berani menghadapi setiap masalah di jalan benar - benar tidak berfungsi seutuhnya.

Tempat ini terlalu nyaman untuk merakit amunisi yang meresahkan sebagai sambungan melodi ceritaku. Aku tidak melulu ingin menceritakan tentang betapa indahnya pantai berpasir putih dan di hiasi gugusan pohon kelapa tersusun rapi. Tak ingin juga menceritakan tentang bawah laut yang dihuni oleh terumbu karang dan ikan yang berwana - warni. Apalagi tentang jernihnya air yang terjun dari ketinggian menghempas dasar bebatuan yang menimbulkan bulir - bulir air berterbangan memberi rasa kedamaian. Ah sungguh aku bingung bagaimana menceritakan keresahan ini. 

Mungkin jika kalian yang sangat mahir menceritakan kondisi alam itu pasti akan menjadi arena eksplorasi kreatif tanpa batas. Namun, tempat indah itu hanya mampu menjadikanku seperti iblis yang di jerumuskan kedalam surga, lalu aku harus menceritakan keindahan dan kenyamanan dengan versi kegelapan itu sangat rumit sekali. Untuk beberapa bulan ini, aku benar - benar kehilangan selera untuk melakukan perjalanan apalagi meninggalkan jejak di rumah berjalan ini. Aku merelakan diri untuk larut dalam lingkar kenyamanan ini.


6 comments:

  1. Memang melepaskan diri dari comfort zone itu tak semudah mengikuti nasihat motivator kondang ya mas.. Semoga kaki melangkah ke arah yang terbaik ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya sepertinya zona nyaman terlalu akut untuk terus dijalani saat ini, makanya jadi lemes tak berdaya :D

      Delete
  2. zona nyaman kadang membuat orang terlena dan takut untuk menghadapi tantangan di depan sana. teruslah melangkah mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya seperti itulah kenyataan yang harus dihadapi, tak bisa berhenti dan harus tetap melangkah kedepan

      Delete
  3. Nikmati saja dulu mas, gak papa..
    Menurut saya saja sih ini, kenaoa demikian sebab hidup ini terlalu cepat berlalu, 1 hal yg nyaman tak selamanya jadi nyaman. Nanti juga bakal menemukan titik jenuh untuk menjelma menjadi sebuat inspirasi untuk berubah dan melangkah maju.
    Yg penting tetap berdoa mas kepada tuhan. Agar selalh sehat dan bisa memberi senyum dan membuat bahagia org2 disekeliling.
    Salkem mas ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya semua memang harus di nikmati tanpa memprotes apa yang di kehendaki Nya

      Amin makasih bang, semoga selalu bisa terus, melafalkan doa agar medapat suntikan tenaga dan membahagiakan semua orang

      Delete

Powered by Blogger.