Tuhan menghendaki Tragedi menuju Pulau Kenawa

Saksi bisu kehendak Tuhan by@kaki.kanan


Suara saling bersahutan di area teras rumah, aku mulai penasaran dan mencoba berjalan keluar menghampiri. Ku geser pengelihatan mata secara perlahan, dan telinga pun menangkap pembicaraan mereka. Beberapa orang sedang menghitung, ada yang mencari rute jalan, ada yang menyusun logistik, semua terlihat begitu sibuk, dan berharap apa yang di rencanakan besok berjalan lancar. Aku mulai menenggelamkan dalam obrolan, pelan – pelan aku mulai mengerahui mereka sedang berencana untuk mengunjungi Pulau Kenawa dan kawasan sekitarnya.

Di Rumah Singgah Lombok untuk pertama kali mereka dan kami bertemu. Dari berbagai daerah, dari berbagai suku, akhinya kami menyatu. Obrolan dan sesekali saling melempar canda.
 Tengah malam akhirnya keputusan telah dibuat. Berkat bantuan dari bang Obe yang menjadi penengah atas kegusaran teman – teman dalam menentukan tujuan. Sebuah mobil bak terbuka menjadi transportasi murah dan bisa mengangkut ke 16 orang yang akhirnya terkumpul untuk jalan bersama. Semua terlihat senang dan lega, akibat terkabulkan rencana ini sekaligus menjadi “ musibah “ yang mempererat tali persaudaraan .

Hari masih gelap, suara ayam berkokok dan selanjutnya di iringi kumandang adzan subuh. Suasana rumah singgah sudah begitu sibuk dan ramai. Ada yang baru bangun, packing, berbenah tempat tidur, semua panik saat suara mobil berteriak memanggil untuk segera berangkat.

Dingin masih samar mengusap muka yang masih setengah sadar dari tidur. Namun kami tak ingin membuang waktu, pun juga mamak yang sudah heboh membangunkanku dan beberapa orang yang masih terlelap. Beberapa menit kemudian kami berpamitan dan segera mengisi bak terbuka di belakang mobil yang melaju pelan.


Perlahan sinar mentari pagi memeluk badan kami di tengah angin menampar pelan di jalanan. Perjalanan begitu cepat, saat mobil melesat bebas di jalanan kosong tanpa ada mobil yang mengular. Jam 8 kami sudah sampai di pelabuhan Kayangan, begitu juga kami langsung bergegas turu  dan berjalan menuju loket untuk menyebrang ke pulau seberang ( Sumbawa ) . Selagi aku mengantri untuk membeli tiket, teman yang lain membeli perbekalan kami menikmati alam di pulau Kenawa.




Segerombol anak muda tanggung kini berjalan masuk dalam antrian penumpang pejalan kaki. Satu persatu langkah kaki meninggalkan daratan Lombok dan mengapung diatas kapal ferry menuju Sumbawa. Kami cukup beruntung kondisi kapal yang tak terlalu ramai membuat kami bebas memilih tempat menghabiskan waktu perjalanan. Semua tersebar di sudut – sudut kapal untuk mengistirahatkan selama kurang lebih 2 jam mengambang di selat Alas.

Sinar matahari begitu hangat masuk kedalam tubuh, seketika membuat perjalanan begitu singkat hingga telah tiba di pelabuhan Pototano. Kemudian, kami beranjak berjalan mengikuti tepi pelabuhan menuju tempat bersandarnya kapal – kapal kecil milik warga setempat. Sebelum menyebrang, kami sudah menghubungi pemilik kapal yang sudah kami pesan kemarin.

Di kejauhan seorang bapak melambaikan tangan, seolah telah mengetahui kedatangan kami akan tepat waktu. Senyum ramah menyambut dan perkenalan kami dengan pak Arnold. Tak lama kemudian dari arah berlawanan sebuah kapal datang untuk mengangkut kami. Sekarang kami terbagi menjadi 2 dengan jumlah masing – masing 8 orang.

Suara mesin kapal yang bising memberi isyarat perjalanan liburan menemani teman – teman. Sepertinya alam menyambut kedatangan kami dengan ramah. Hari yang cerah, kondisi laut yang cukup tenang dan senyum keceriaan mulai muncul dari raut muka masing – masing.

Tujuan pertama adalah pulau Paserang, sesekali kapal kami saling beradu dan juga menyilang menghindari gelombang air. Tak jarang juga air laut terbang ke arah muka, kejadian itu sekaligus menjadi bumbu keseruan kami untuk tertawa bebas.

Kecepatan mulai berkurang, gradasi air mulai terlihat biru gelap berlapis biru muda dan di akhiri pasir putih yang lembut. Dermaga kayu mulai dekat dan semakin rapat posisinya dengan kapal. Tali sudah di ikat, kapal sudah sandar dan kami bergegas untuk turun. Berjalan melintasi anak papan kayu dermaga mengantarkan kami menuju daratan pulau Paserang.

Sesampainya di rumah – rumah kecil untuk berteduh dan menyimpan barang bawaan, tiba – tiba semua berperncar secepat kilat. Ada yang naik ke atas bukit, bermain di pinggir pantai, berjalan keliling, dan aku tetap di posisi berteduh sekaligus menjaga barang. Teriakan, tawa terbahak – bahak memecah keheningan pulau tak berpenghuni ini. Aku sendiri sudah cukup familiar dengan pulau – pulau di sekitar jadi berdiam diri dan mencoba menikmati ketenangan dan sejuknya angin laut yang berhembus bergantian teriknya sengatan matahari yang kian naik posisinya.

Waktu begitu cepat berlalu dalam lelap, aku terbangun akibat Sena sudah memberitahu teman – teman yang lain sudah selesai menikmati keindahan pulau Paserang. Masih setengah sadar, badan coba ku angkat dan kupaksa untuk berjalan . Masih belum seimbang dan menyeret kaki perlahan di bawa terik matahari kembali menuju dermaga kayu. Di dermaga Adir bertukar posisi dengan teman dari Surabaya, jadi di kapal yang kutumpangi ada Andara, Berto, pasangan dari jakarta, Riza, Nico, sena dan seorang teman dari Surabaya.

Aku tak sempat curiga atau merasakan sebuah pertanda aneh. Semua berjalan begitu biasa dan kapal segera memutar arah melesat berayun menari diatas gelombang air laut membuat kapal meliuk – liuk. Arus datang dari arah berlawanan begitu kuat dan deras. Pun sebaliknya kapal yang kami tumpangi, perlahan tenaga berkurang dan mencari daerah yang minim gelombang. Terjangan bertubi – tubi dari arus selat Alas cukup membuat kami mencekram dinding kapal dangat erat. Beberapa menit kami lolos dari arus kuat dan tiba di belakang pulau Ular. Pulau yang beberapa menit di sebelah barat pulau Kenawa.

Suara mesin motor jeg jeg jeg jeg! Mulai berkurang tenaganya. Kapal yang lain juga sama yang berada di belakang kapal kami. Perlahan mulai mendekati palung. Berujung batu putih yang muncul tenggelam di sapu oleh gelombang air laut. “ di bawah sini tempat snorkling yang bagus dan banyak ikan nya ” teriak pak arnold. Suaranya bersaing derap mesin motor mengerang.

Beberapa kali ia mengulangi perkataan nya hingga kami mulai mendengar jelas.
Di depan ada Berto dan sena sedang mengamati bawah air yang biru gelap menyimpan tanda tanya besar. Apakah benar di bawah palung dengan derasnya arus banyak terdapat ikan. Sedangkan di sisi kanan sedang duduk dan menundukkan kepalanya keluar Andara dan pasangan dari Jakarta. Sedangkan aku dan teman dari Surabaya tetap duduk dan mengamati setiap jengkal dari bawah hingga pinggiran pulau Ular yang di penuhi batu.

Sena dan Berto kian tertarik melihat lebih dekat lagi ke biasan air laut yang biru. Saat itu juga petaka dimulai. “ mana ikan ? Mana karangnya ? Aku ga bisa renang! “ kata sena sembari ketakutan mencekram dinding kapal sambil mendekatkan kepalanya lebih jauh mendekat ke permukaan air.

Itu!! Itu banyak soft koralnya landai!! Banyak ikan!! Teriak Berto dengan mengacungkan telunjuknya ke bayangan air. Semua jadi penasaran, Andara pun bangkit ingin menghampiri mereka yang ada di depan. Prakk!!!! Argh!!! Satu, dua, tiga, blur!!!! Tiba – tiba kapal terangkat ke kanan. Saat Andara bangkit dan melangkah, disitulah kapal mulai terangkat. Sena dan Berto jatuh dan masuk kedalam air. Begitu juga Andara dan pasangan dari Jakarta menyusul di belakang. Kemudian teman dari Surabaya dan Riza menyusul, blur!! Aku satu – satunya orang terakhir yang menikmati detik – detik terakhir sebelum kapal terbalik.

Ketika badanku berada di posisi atas dan akan masuk kedalam air, terdengar teriakan dari bawah. “ bang tolong!! Tolong aku!!, blurb, blurb “ suara semakin samar saat itu juga dia muncul dan tenggelam. Blur!!! Aku pun terjatuh, saat itu yang terlintas hanya menyelamatkan harta bendaku. Sebab aku tak membawa Drybag. Tas sudah tenggelam, buru – buru aku angkat dan berenang menuju kapal satunya yang tak begitu jauh. Semua panik, teriakan, jeritan memecah suara ombak menghantam batu. Dari arah berlawanan Adir, Tar dan Irwan loncat membantu menolong. Aku pun kembali ke arah kapal yang terbalik, dan melihat Sena dan Berto sudah berada di tepi begitu juga pasangan dari Jakarta.

Riza masih terjebak di bawah kapal beserta barang bawaan kami. Adir dan teman yang lain menyelam untuk menolong Riza. Aku berusaha menyelam mengambil barang bawaan yang jatuh ke dasar palung. Cukup dalam dan deras arus yang berputar dibawah. Sekitar 10 meteran kedalaman nya. Aku berhasil mengambil beberapa tas, dan aku tak mampu melanjutkan karena kemeja dan celana jeans menghambat pergerakanku. Sena membuat keadaan semakin histeris karena daypacknya masih teritinggal di dasar.

Kejadian sepersekian detik membuat petaka cukup dahsyat menghujam kami. Tiba – tiba Riza sudah berada diatas kapal. Syukur semua selamat dan berhasil mencapai daratan. Kapal masih terbalik, bapak sang pemilik kapal masih tidak percaya dengan kejadian ini. Tentunya kami sebagai penumpang masih begitu shock dan merasa sangat tragis liburan berujung petaka.

Ada sesi foto saat kepanikan


Adir, Tar, dan Irwan sili berganti menyelam mengambil barang tersisa. Cukup kesulitan untuk masuk jauh lebih dalam, karena semakin lama air pasang dan arus sering berubah arah. Sekitar 30 menit naik turun kedalam gelapnya air, akhirnya semua barang bisa berada di permukaan.

Posisi kapal masih tak berubah dan kami kesulitan untuk membaliknya. Beberapa kali kami mencoba dan selama itu tak berdaya karena tak mempunyai tenaga dan tumpuan. Pak Arnold mencoba menghubungi temannya dan meminta bala bantuan.

Akhirnya setelah menunggu cukup lama di tengah ketidakpastian dan penyesalan akan tragedy yang tak kami kehendaki. Perlahan memberi jawaban dan hilanglah kepanikan. Satu kapal  terlihat dari kejauhan sebuah titik mulai membesar membentuk sempurna badan kapal, di iringi erangan mesin yang semakin memecah kepanikan kami.

Posisi kapal sudah dekat, seorang bapak melempar tali dan menginstruksi untuk mengikat di bagian mesin dan tiang kapal. Merasa sudah kuat, kapal mencoba menariknya perlahan menyisir dan mengelilingi pulau menuju area dangkal dan tenang.

Berhasil! Kapal bergerak timbul tenggelam mengikuti tarikan kapal. Sedangkan teman – teman yang ikut di kapal pak Arnold kami arahkan menuju ke pulau Kenawa. Begitu juga kami bergerak meninggalkan daerah batu dan karang berjalan mengeliingi pulau Ular. Kepala menunduk, kaki melangkah gontai, pikiran melayang – layang, entah siapa yang bersalah, tak memperdulikan lagi bagaimana keseruan liburan kami atau menunggu senja yang indah. Hari cerah sekejap menjadi begitu kelabu.




Kapal sudah dalam perairan dangkal, bapak sang pemilik kapal mengajak untuk membalik kapal dengan mendorong penyeimbang kapal yang sudah lepas. Satu, dua, tiga!!!! Begitu terus untuk beberapa kali. Sayang usaha itu belum membangkitkan badan kapal. Hari semakin sore, keputusan mulai di ambil oleh bapak pemilik kapal untuk melepas bagian atap dan mesin nya.



Cekatan dan di iringi tenaga terakhir satu persatu penyangga kayu dan baling – baling kapal mulai kami tanggalkan menuju daratan. Ketika sedang asyik membongkar, si bapak pemilik kapal memprotes akan kejadian yang menimpa. Dia mengeluhkan akan ganti rugi. Sontak kami berteriak geram juga, bagaimana tidak, barang berharga kami juga ikut terjun bebas masuk ke dalam gelapnya dasar palung pulau Ular. Apakah bapak tidak memikirkan itu juga, sahut Adir.





Kami juga mengerti atas kerusakan kapal dan mesin yang terendam air, tapi kami juga mengalami kerugian pak atas rusaknya barang elektronik kami semua. Adir mulai memelankan suaranya untuk memenangkan suasana yang mulai tak kondusif ini. Cukup lama debat dan saling beradu argumen siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang layak mendapatkan belas kasih dan siapa yang bertanggung jawab. Sampai tak terasa semua telah terbongkar dan kapal berhasil di tarik dan dibawa kembali menuju pesisir desa.

Sekaligus pak Arnold yang menjemput dan mengantar kami ke pulau Kenawa untuk berbenah dan menyelesaikan semuanya. Ternyata teman – teman sudah membongkar dan mulai mengeringkan barang yang sempat tenggelam. Dari Handphone, kamera, pakaian, snack, hingga beberapa buku dan Al-quran milik Riza sudah berada di antara ilalang. Beralaskan matras. Kami langsung membuang diri diantara tingginya ilalang dan menghela nafas dalam – dalam.

Seakan – akan kejadian tadi hanyalah mimpi di siang bolong dan tak pernah terjadi. Namun, Tuhan lebih menghendaki untuk kami mengikhlaskan sesuatu secara sengaja. Tanpa ada kesiapan dan upaya bertahan untuk menyelamatkan semua terjadi begitu saja dalam sekejab. Di iringi nyanyian ombak yang sendu, langit sore mulai murung, kami mulai mengumpulkan barang yang tersisa.

Ku ambil tas miliku yang sudah usang dan ada noda jamur di setiap ujungnya. Pelan – pelan ku muntahkan seluruh isi tas dengan mengguncangnya. Handphone yang basah, beberapa memori kamera yang terdapat foto perjalanan, beberapa lembar tiket bus dan kereta yang ku simpan, serta 2 lembar uang terakhirku Rp50.000 telah sobek terkoyak air laut.

Perenungan di tengah ilalang dan senja muram by @yuna_92


Huuuhhhh!!! Hela nafasku dalam dan melepaskan secara perlahan. Mau bagaimana lagi, mau marah ? Mau mengeluh ? Jelas tak mungkin dan tak ada gunanya. Semua telah di kehendaki, aku hanya menghujat diriku sendiri yang tak mampu menjaga barang pribadi. Kemudian kami duduk melingkar dan saling hibur di tengah liburan kelam ini. Tak ada satu pun dari kami menyuguhkan raut muka menghibur atau pun senyum terpaksa tak terpampang. Hanya keikhlasan walau memaksa tapi kami coba kabulkan.

Di lain sisi kami juga sedih kapal telah hancur dan tentunya dengan biaya sewa yang sudah kami berikan belum cukup untuk memperbaikinya. Semua berkumpul dan berembuk, memberikan uang seikhlasnya dan di berikan kepada bapak si pemilik kapal. Meskipun sama – sama mengalami musibah, namun ada keluarga yang menanti dirumah untuk sesuap nasi. Kami sadar apa yang kami kumpulkan tentunya tak akan cukup untuk biaya selama kapalnya berhenti jalan dalam masa perbaikan.

Namun kami juga tak memiliki banyak uang, jadi semoga beliau mengerti. Semua sudah mengikhlaskan dan mencoba bak kesatria kalah dalam perang untuk tetap tegar berlapang dada. Hari mulai gelap, barang yang kami jemur segera kami pungut dan mengajak pak Arnold untuk kembali pulang.

Sesampainya di sebarang pak Arnold mengantarkan kami bertemu bapak dan berpamitan serta saling mengikhlaskan tragedi yang menimpa hari itu. Tak lupa kami hanya mampu membantu seadanya dan semoga bisa berguna, sekaligus kata terakhir dan perpisahan sebelum kembali menyebrang ke pelabuhan Kayangan malam itu.

Sepanjang perjalanan hanya diam dan mematung, tak ada sepatah kata pu  dari masing – masing hingga sampai lagi di Rumah singgah Lombok . Barulah keesokan harinya kami menceritakan kronologinya sambil menikmati kopi dan tertawa lucu dan merasa bodoh bisa mengalami kejadian naas itu. Namun ada berita lain yang membuat kami geram, setelah kepulangan kami, ada orang yang menyebarkan berita bahwa kejadian terbaliknya kapal karena kami berulah untuk berfoto selfie. Sebuah berita konyol dan entah dari mana orang dapat. Kami sangat heran karena sejak kapan kami berfoto jika semua kamera dan handphone berada di dalam tas.

Beberapa dari kami naik pitam dan ingin kembali untuk mencari tahu penyebar berita kebohongan tersebut. Namun kami bisa meredam amarahnya untuk membiarkan saja. Toh sudah terjadi dan semua sama – sama mengikhlaskan jadi jangan di perpanjang dan di perdebatkan.

Hari – hari berikutnya musibah yang kami alami menjadi bahan lelucon dan semakin mendekatkan kami untuk terus menjalin hubungan pertemanan. Sekaligus semangat berlibur menjadi hilang namun jiwa – jiwa yang ikhlas merelakan kepergian menjadi lebih kuat. Sebuah pengalaman tak terlupakan telah di pertunjukan tragedi oleh Tuhan.

6 comments:

  1. Wehh karam? Ya Allah, gelombang memang menjadi tantangan kala kita di dangkalan dangkal. Terlebih kalau di sekitar ada banyak terumbu karang. Beruntung di sini rata-rata karang yang sudah mati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, permasalahan bukan dari gelombang sih bang
      Tapi kondisi kapal yang tidak seimbang makanya kapal terbalik menjadi bumbu kesedihan dalam perjalanan

      Delete
  2. ya ampun Jo, bersyukur semua masih selamat. entah kebetulan atau bagaimana, aku juga mengalami musibah saat di Pulau Kenawa. sudah kutulis juga di blog, walaupun tak separah musibahmu. sepertinya Pulau Kenawa meninggalkan bukan hanya berkesan buatku, tapi buatmu juga.

    http://ohelterskelter.com/jangan-kapok-ke-kenawa-sumbawa/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah ngalamin pengalaman yang kurang mengenakan juga ya? Iya kenangan di kenawa membekas dan lekngket di dalam ingatan saat berjalan
      Oke aku meluncur ke rumah berjalanmu

      Delete
  3. Tegang euy.
    Naudzubillah >.<
    Jadi teringat tahun kemrin pergi ke Kenawa, alhamdulillah tidak ada kejadian apa2.
    Hanya saja sekarang saya sadar, yang namanya musibah itu...benar2 tidak bsia diprediksi.

    Sabar ya bang,
    iya ini telat sih.
    Tapi makasih sdh berbagi, bisa jadi pelajaran buat saya pribadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ga kejadian yang tidak mengenakan ya
      Namanya musibah datang tanpa permisi, jadi semua harus dihadapi dengan tabah kak

      Makasih :)

      Delete

Powered by Blogger.