Melepas senja di Kampung Wisata Jodipan




Malang!!! Tiba – tiba aku bersemangat mendengar nama kota itu. Bagaimana darahku mengalir begitu cepat, perjalanan super mendadak dan tidak di rencanakan menantang untuk di terjang. Di kejar oleh waktu yang singkat, aku tertolong dan mendapat bantuan saat masih berada di Sembalun, Lombok Timur. Aku benar - benar tidak percaya, apakah aku mampu mengejar waktu yang tersisa ? sebab waktu yang kupunya tak lebih dan semakin berkurang dihitung mundur 4 jam sesat aku menerima pesan singkat itu. 


Otakku siang itu ku paksa kerja keras, sampai - sampai aliran darah mulai memanas menuju kepala. Bagaimana tidak ?  untuk bisa sampai di Bandara Juanda, Surabaya, aku harus turun saat itu juga, jika tidak aku akan gagal total dan mengecawakan semua orang yang telah menggoreskan janji diantara kami. Sungguh hal yang tidak mengenakan bagi perantau jalanan sepertiku menghadapi kendala serba mendadak ini. Nafasku memburu seperti aku menggeber motor bang Momo menuju Mataram. 


Sepanjang perjalanan, hujan sempat menguji keyakinanku untuk berangkat. Tapi semua ujian itu tak membuatku lemah. Jutaan rintik hujan menghujam seluruh badanku, menimbulkan dingin dan terasa kaku. Di sertai petir dan genangan air hujan di jalanan menenggelamkan carrier dan motor pun tak membuatku gentar. 


Kebetulan, bang Jeff sedang berada di Rumah Singgah Lombok. Sesampainya dirumah, aku meminta tolong kepadanya untuk menolongku. Ia bersedia mengantarku menuju Bandara. Mamak dan Bapak pun sontak terkejut setelah kedatanganku dengan kondisi basah, seketika aku langsung berangkat menuju Bandara. 

“ astaga!! baru sampai basah – basahan, kamu langsung jalan lagi? “ mamak terkaget mendengar perkataanku.
“ iya mak, ada sedikit kerjaan “ sambil melebarkan senyum agar mamak tidak bertanya lagi.


Tapi badanku mulai menyerah saat seluruh badanku tiba – tiba bergetar dan menggigil. Aku mengambil pakaian dan menggantinya secepat mungkin, agar bisa mengejar waktu yang kian menipis. Syukur ada bang Jeff yang bisa memberiku tumpangan menuju bandara. Kalau tidak, aku masih saja beradu dengan rintik hujan di sepanjang perjalanan. Akhirnya sampai juga di bandara, dan aku berlari kesetanan. Sejenak semua mata tertuju kepadaku, saat membawa carrier dan daypack depan belakang. Akibat berlari, tak sadar barang bawaanku menghasilkan bunyi - bunyian yang cukup mengganggu. 


Tuhan masih mengindahkan doa yang terus ku kirim di sepanjang perjalanan. BerkatNya dan Ridho'Nya memudahkan ku . Di ulurkan pertolongan dan kelancaraan hingga mendarat dengan lancar hingga Surabaya. Namun hari sudah gelap, dan aku terpaksa bernostalgia kembali dengan Masjid dalam gelapnya malam. Keesokan paginya aku berkumpul di bandara dan bertemu dengan Bang Fahmi, Fitra, Aya, dan Anggar. Namun perjalanan tak semulus yang diharapkan. Keberangkatan kami tertunda hingga 3 jam akibat pesawat yang akan di gunakan Anggar delay.


Namun kendala itu tak menjadi hambatan dan mengurangi semangat. Dan akhirnya yang di tunggu – tunggu datang, Anggar segera bergabung dan kami berempat berangkat menuju Malang untuk bertemu teman yang lainya. Kegiatan dari @kemenpar dan @pesonaid_travel yaitu
#FamtripWithPesona adalah untuk mengexplore wisata Malang dan membantu memperkenalkan nya keseluruh masyarakat luas tentunya. Sebagai orang yang di ikut sertakan aku sangat senang dan bersemangat sekali


Perjalanan cukup memakan waktu, kami sempat terjebak macet serta berjibaku dengan kendaraan yang merayap penuh sesak di jalan. Namun semua tak bertahan begitu lama, kami tiba di Malang saat hari mulai memunculkan langit kejinggaan. Di sela - sela macet, kami masih saja bisa mencuri waktu untuk mengisi perut di salah satu rumah makan bernama Bebek Sinjay. Akibat kosong sedari pagi, badanku cukup terasa lemas dan sedikit bergetar. Namun keadaan langsung berubah ketika beberapa kepal karbo dan seonggok daging bebek goreng yang begitu nikmat bisa mengembalikan stamina dan kebugaranku. Semua berawal dari memprediksi tanpa Delay, tapi semua keadaan langsung berubah seketika. 


Pada mulanya aku tak tahu akan kemana kami dibawa untuk menghabiskan gurat senja pertama di Malang. Namun setelah melewati beberapa lampu merah dan berjalan merayap - rayap bagai serangga. Aku mencoba mencari tahu di agenda kegiatan. beberapa foto ku geser sampai akhirnya aku menemukannya. Jodipan!!!!! teriak kencang cukup mengagetkan teman - teman yang sedang terlelap akibat kekenyangan. Aku sedikit malu atas kelakuanku nampak mengganggu dan mengejutkan mereka dari alam bawah sadarnya. Waktu terus tergelincir berlalu, meninggalkan satu garis diagonal berwana kejinggaan di antara warna biru pucat memenuhi langit.

nana menikmati lamunan nya di tepi jembatan

Mataku seketika tersedot oleh beberapa warna kontras di bagian sisi kiri dan kanan.  Semakin lama jarak mulai terpangkas. Sekarang aku benar - benar yakin kalo lokasi tersebut adalah Kampung Wisata Jodipan. Terlihat dibagian desa sebelah kiri mempertunjukan beraneka warna. Layaknya Pelangi, warna tersebut menjadi daya pikat tersendiri untuk menarik pengunjung agar mau melihatnya lebih dekat lagi. Sedangkan disisi kanan mempunyai karakter begitu kuat. Biru tua dan biru muda mengasai lokasi desa tersebut. Ada seorang bapak - bapak menyebut kan itu adalah desa arema atau desa warna - warni. jika kalian sedan ingin menikmati suasana senja kota dengan sedikit berbeda, menurutku kampung warna - warni Jodipan bisa jadi alternatifnya.


senja di sisi kampung berwarna biru


Mobil akhirnya bisa mendapatkan tempat parkir. Sejurus kemudian kami langsung terhambur diatas jembatan untuk menikmati kampung wisata Jodipan bermahkota kan senja. Teralu lama terjebak macet, membuat senja tak menarik lagi, berubah menjadi pilu dan kelabu. Sedih dan membuatku sedikit murung. Namun kemurungan tak bisa bertahan lama, aku masih penasaran dengan kampung sebelah bernama Arema yang memiliki warna biru di sekujur bangunan nya. Jelas sangat identik dan siapapun akan mudah mengingatnya.


gelap mulai menyamarkan kecerahan kampung wisata Jodipan




Lagi dan lagi hari semakin pekat dan suara Adzan berkumandang menggema menghalau suara kendaraan macet yang membunyikan klakson atau meninggikan suara raungan kendaraan nya. Aku buru - buru kembali menyebrang dan segera masuk lebih dalam lagi ke kampung wisata jodipan. Hanya dengan membayar sekitar Rp 2.000 perorang, aku sudah bisa masuk dan berbaur dengan warga setempat. Aku mulai berjalan menuruni anak tangga yang bergambar mural satu persatu.


tiket masuk nya murcer

Mungkin dulu kala sebelum desa ini disulap, lorong - lorong nampak menakutkan di balik gelapnya malam. Namun sekarang telah berubah, semua berpendar meskipun tak terpapar sinar dari berbagai lampu yang menghiasi setiap rumah. Ada hiasan topeng bergelantungan di tengah jalan, ada bermacam warna payung mungil, Perpustakaan umum, dan tentunya kondisi kebersihan nya sangat terjaga. sepanjang aku berjalan masuk lebih jauh mengikuti lorong, tak ada sampah yang tertangkap oleh mataku.

Setelah sampai di dekat Musholla, aku sempat duduk bersama dengan seorang bapak bermana Yanto. Beberapa cerita aku sempat cari tahu tentang asal muasalnya kampung wisata Jodipan ini. Ternyata Kampung Wisata Jodipan adalah kampung yang digagas delapan mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ) yang mempunyai leader Nabila Firdausiyah. Beberapa mahasiswa itu ternyata menggandeng sebuah perusahaan cat untuk mewujudkan kampung tersebut agar telihat rapi dan indah.


susunan payung berwarna - warni

Bermula dari mendapatkan tugas praktikum Public Relations 2 dari dosen mereka. setelah itu mereka tergabung dalam Guys Pro - lah yang mempunyai ide cemerlang untuk mengubah kawasan kumuh menjadi desa penuh warna dan harapan baru. Tutur bapak Anto yang menjelaskan dengan santai namun begitu jelas.

Karena aku masih kurang paham alamat kampung wisata Jodipan akhirnya aku bertanya kembali. Kampung wisata Jodipan beralamatkan RT 06, 07 dan 09, RW 02, Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Posisinya terletak di Bantaran Sungai Brantas. Akhirnya aku mendapatkan informasi alamat yang lengkap. Jadi seandainya aku datang berkunjung ke Malang lagi, aku dengan mudah mencari alamat Kampung wisata Jodipan.

Tak terasa obrolanku bersama pak Yanto memakan waktu cukup lama. Aku segera mengundurkan diri dan mencari teman - teman yang lainya untuk menikmati gemerlap Kampung wisata Jodipan bersama. Dari atas jembatan penghubung desa kami saling bercengkrama di hadapkan jembatan berisikan kendaraan berlalu lalang, serta Kampung wisata Jodipan memberi warna tersendiri. Lain waktu aku akan kembali lagi, ya karena aku masih belum terlalu puas dan melihat dalam kondisi siang serta seluruh warga sedang sibuk dengan aktivitasnya masing - masing.

4 comments:

  1. Wah bang, gimana akhirnya bisa tergabung dalam #FamtripWithPesona?

    Udah berapa lama di Malang belum pernah ke Jodipan. Sayang kesana waktu malam, kalau siang dan matahari sedang cerah, bagus banget (lihat di IG wkwkw) warnanya outstanding semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha keberuntungan aja sepertinya, masih bingung juga gimana bisa ikut

      iya next mau datang pas pagi atau siang biar tahu aktivitas masyarakat dan masih penasaran buat keliling lagi

      Delete
  2. Kreatif mahasiswanya.. Kampungnya jadi indah, mendatangkan wisatawan, dan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat :), padahal sebelumnya kumuh ya.. keren keren..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah para mahasiswa bisa berinteraksi dengan warga dan bisa memecahkan solusi dari kumuhnya kampung.
      Selayaknya seluruh mahasiswa bisa kayak gitu ya

      Delete

Powered by Blogger.