Mengintip Pesona Wisata Ramang - Ramang Maros


Setelah dari Jawa Timur dan arah perjalanan berputar menuju ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sebenarnya perjalanan kali ini Aku tak merencanakannya, namun pikiranku terus di gentayangi untuk menjelajahinya. Pada saat kedatanganku di Bandara Iternational Sultan Hasanuddin, Makassar, salah seorang sahabatku Adir sudah menunggu di pintu keluar. 

Aku digiring menuju rumah mertuanya yang tidak jauh dari bandara. Mengistirahatkan badan sebelum melanjutkan perjalanan menelusuri pulau Sulawesi kembali. Sehari berselang Adir mengajakku berkeliling di kawasan Maros. Aku yang tidak mencari informasi ada apa saja di daerah Maros hanya percaya kepada sahabatku.

Keesokan harinya aku diajak menuju wisata Ramang – ramang Maros yang tidak jauh lokasinya. Ramang – ramang terletak di dusun Ramang – ramang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi selatan. Jaraknya sekitar 40 Km di utara kota Makassar. Kalian bisa mencapai tempat ini dengan kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan. Namun, kami kemarin cukup cepat sekitar 1 jam karena motor yang kami kendarai bisa melesat kencang bebas hambatan. 




Ada 2 dermaga tersedia, kami memilih dermaga 1 untuk melintasi aliran sungai Pute yang cukup panjang. Jika kalian memilih dermaga 2 maka kalian akan melintasi Taman bukit batu sebelum memasuki dermaga. Akses trasportasi menuju lokasi wisata Ramang – ramang maros menggunakan kapal kecil. Karena kami hanya berdua, cukup membayar Rp200.000 untuk kapal yang mengantar berkeliling mmenikmati keindahan Ramang – ramang Maros. 


Wisata Ramang – ramang Maros menyediakan begitu banyak keindahan pemandangan yang eksotis. Saat melintasi aliran sungai, akan disuguhi bentangan lanskap pegunungan Karst cantik yang menjulang tinggi. Tak pernah terbayangkan melihat keindahan Ramang – ramang Maros sebegitu dekat ini.




Ramang – ramang sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti berawan atau bisa disebut berkabut. Jadi ramang – ramang bisa dibilang segerombolan awan atau kabut yang sering menutupi daerah ini. Karena kawasan ini selalu di selimuti kabut saat hujan atau pagi hari.

Ternyata karst disini telah mencatat rekor yang luar biasa. Karena menjadi satu – satunya di Indonesia. Sementara di dunia Ramang – ramang menjadi tempat ketiga sebagai taman hutan batu kapur terindah, setelah taman hutan batu kapur Tsingy di Madagaskar dan taman hutan batu Shilin di China. 

Perjalanan kami tiba di kampung Berua setelah menyusuri sungai Pute. Sebelum masuk kami membayar tiket masuk sebesar Rp3.000/orang. Namun saat sampai disana pemandangan sawah tak tersajikan. Karena warga kampung baru selesai panen dan akan menanam kembali di bulan depan. Walau tak melihat hijau pemandangan sawah kami masih takjub dengan pemandangan saat semakin masuk ke dalam.



Setelah berjalan masuk melintasi jalan yang terbuat dari papan, terlihat masyarakat sedang melakukan aktivitas membajak sawah dan beberapa ada yang sedang menangkap ikan di tambak. Suasana hijau nan tenang sangat terasa di antara tebing yang mengapit kawasan kampung Berua. 

Sampai langkah kaki berada di ujung, disana ada sebuah rumah warga yang di fungsikan juga menjadi Homestay jika ada pengunjung yang hendak menginap. Di arah yang lain terdapag sebuah Gua bernama Gua Pasaung.



Aku mencoba bertanya salah seorang warga yang sedang membajak sawahnya. Ternyata Gua Pasaung ini dulunya digunakan sebagai tempat untuk melakukan tradisi atau hiburan untuk warga lokal. Dimana hiburan seperti sabung ayam. Begitu tutur bapak yang menjadi tempatku bertanya. 

Selanjutnya beliau menjelaskan tentang Telaga Bidadari. Telaga tersebut masih kurang terekspose. Untuk bisa sampai disana, biasanya wisatawan harus berjalan kaki melintasi batuan kapur. Karena Telaga Bidadari ini di tengah – tengah pegunungan kapur. Mencapai lokasinya pun harus extra hati – hati, karena untuk mencapai air telaga akan menuruni tebing yang terjal. Konon menurut cerita masyarakat, telaga ini adalah tempat mandi para Bidadari. 



Namun petaka cepat datang, tiba – tiba segerombolan awan hitam mendekat di kawasan wisata Raman – ramang Maros. Seketika hujan lebat turun di saat kami sedang berbagi cerita tentang apa saja yang ada di Ramang – ramang Maros. Terburu – buru kami berlari untuk berteduh di salah satu warung yang berada di atas kampung. 

Sembari menanti hujan reda, kami menikmati secangkir kopi dan bercerita kembali. Kemudian bapak kembali melanjutkan ceritanya. Tempat selanjutnya bernama Gua Bulu’Barakka yang tidak jauh dari kawasan hutan taman batu kapur ramang – ramang. Dalam bahasa bugis Bulu hukum Gunung, dan Barakka hukum Berkah dari yang maha kuasa. Sedikit kesulitan kami untuk mecerna dari nama Gua Bulu’Barakka. Namun informasi itu menambah pengetahuan kami. 



Selanjutnya beliau bercerita tentang Gua Telapak Tangan. Gua ini terletak satu jalur dengan Telaga Bidadari. Jaraknya sekitar 2Km berjalan kaki. Gua Telapak Tangan ternyata ada sebuah peninggalan telapak tangan manusia purba, gambar binatang, dan gambar perahu yang dibuat oleh manusia purba sendiri. 

Kesedihan berlanjut dengan kami tidak dapat mengunjungi gua tersebut karena jalanan becek akibat hujan. Namun setelah mendapat informasi dan cerita dari warga lokal kami cukup puas. Hujan mulai mereda, dan kami pamit untuk kembali dan akan berkunjung ke Taman Bukit Batu. 



Bergegas kami kembali ke dermaga untuk mengejar hari yang sudah semakin sore. Sesampainya di dermaga, kami berkendara menuju ke Dermaga 2 yang mempunyai arah dengan Taman Bukit Batu Ramang – ramang. 

Hamparan sawah hijau, sapi dan batu yang tersebar menimbulkan pemandangan yang indah. Sekitar luas haampir 43 hektar karst Ramang – ramang maros terpampang jelas di pelupuk mata. Benar – benar mahakarya alam yang mampu menghipnotis siapapun yang berdiri disini. Sulit untuk percaya jika batuan ini tersebar bebas menjadi pemanis alam Ramang – ramang Maros. Sampai matahari terbenam, kami habiskan untuk melihat setiap jengkal keindahanya dari ujung hingga ujung yang lainya. 

Hari semakin gelap, kami bergegas kembali pulang dengan kepuasan. Walau tak sempat berkunjung ke Gua dan Telaga, tapi kami tak kecewa. 

Sekedar informasi, di setiap objek wisata yang akan kita datangi, warga lokal biasanya yang akan di sewa jasanya untuk menjadi pemandu wisata kita. Biasanya mereka memandu ke tempat seperti Telaga Bidadari, Gua Pasaung, Gua Telapak Tangan, dan Bukit karst kampung Berua. Mereka tidak mematok harga dan kita bisa membayar jasa mereka sikhlasnya. 

Selain itu ada juga beberapa rumah warga yang bisa di sewa untuk homestay atau penginapan untuk wisatawan yang ingin menikmati alam wisata Ramang – ramang Maros. Walaupun sederhana, semua rumah yang di sewakan untuk wisatawan masih setara dengan kenindahan alam yang di sajikan. 

Untuk mencapai lokasi wisata Ramang – ramang Maeos kalian juga bisa menggunakan angkot (pete-pete) menuju Bosowa. Dari Bosowa kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan transportasi perahu dan menyusuri sungai menuju kampung Berua. 
Alternatif lain kalian bisa menggunakan angkot dari terminal Daya – Maros kemudiwn dilanjutkan angkot menuju Pangkep atau Terminal Daya – Pangkep. Nanti tinggal bilang ke sopir angkotnya antar ke Bosowa. 

Seperti itulah perjalanan dan informasi wisata di Ramang – ramang Maros. Semoga cerita kali ini bisw bermanfaat untuk kalian yang ingin berkunjung ke Maros, Sulawesi Selatan. 

14 comments:

  1. Sungguh indah sekali ciptaan Tuhan YME

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget bang, apalagi dengan gugusan karst yang memanjakan mata pengunjung bikin tenang

      Delete
  2. Ini mirip bgt sama lembah harau di Sumatera Barat :)

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, tapi kemarin belum kesampaian masuk jauh di lembah harau

      Delete
  3. Kumis masnya mengalihkan duniaku, hahahaha..

    Sayang banget mendung, padahal hijaunya, pemandangannya kece banget. Aku suka yg disawah (?) sorry g keliatan jelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan salah fokus kak, entar baper hahaha

      Iya hijaunya bikin adem, dan kebeulan sawahnha belum hijau karena warga masih baru mau menanam :)

      Delete
  4. Aish, makasih mas Joey buat sharingnya! Sayang pas ke Makassar kemarin belum berkunjung ke sana. lain waktu wajib banget ini mah buat explore dan liat langsung keindahan Ramang-Ramang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh sayang sekali padahal udah di Makassar kak, masuk di wishlist di 2018 lah ya buat datang kemari :)

      Delete
  5. Waa karena hujan turun, jadi tertunda mengunjungi destinasi lainnya. Lain kali bisa disambung di cerita selanjutnya mas. Bahasan tentang telaga bidadari misalnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kak sedih juga rasanya, tapi bakal balik lagi buat cari tau cerita telaga bidadarinya
      Makasih sudah berkunjung

      Delete
  6. tempatnya indah banget, kalau di jawa barat ada yang seperti ini juga di Cianjur Selatan, bedanya tidak perlu pakai perahu untuk menuju ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada juga di jawa barat? Sepertinya perjalanan menggunakan perahu menjadi sensasi tersendiri ya :)

      Delete
  7. Udh lama tau ttg ramang2 maros, tp blm prnh ksana.. Kemarin aku baru dr Vang vieng dan di sana jg dikeliling pegunungan karst. Tp dr foto di sini, karst di ramang2 memang lbh bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah serius di ramang ramang lebih bagus kak? Berarti harus disegerakan buat datang ke makassar ya

      Delete

Powered by Blogger.