November Kelam ; Cerita Gunung, Aku, Kamu, dan kelabu #Part1


Bukan November Rain sebuah lagu dari band legendaris Gun N' Roses yang mampu mengembalikan kenangan yang terlupakan. Namun cerita kali ini bukan dari tempat pelosok atau berkelompok. Sekarang bukan untuk menghitung lipatan nominal Rupiah, atau menanti seorang teman mau mengajak bekerja bersungguh - sungguh. Terkadang hidup terlalu dramatis dan seketika berubah tragis.

Baiklah teman teman dunia maya dan tak kasat mata kali ini, aku akan mulai membagi cerita  pengalaman kisah nyata romansa sepasang pendaki.

Secangkir kopi dan alunan musik era 70an menemani sore seorang pria duduk di teras rumah kontrakan nya. Badan tidak terlalu atletis dan tingginya pun juga standard. Hanya rambutnya panjang legam nan lurus klimis, serta kumis tipis memberi kesan tersendiri. Pria tersebut bernama Jay, seorang lulusan sarjana hukum namun tetap memilih menganggur dan sibuk dengan rutitas kegiatan Pecinta Alamnya. 

Ditengah suasana menyepi, terusiklah dengan dering telepon menghentak tiba – tiba. 



Jay posisi dimana ?” 
“ Aku dirumah, kenapa Wo ? “ 
“ ada temenku cewek mau ke Rinjani, kamu bisa temenin? “ 
“ ah aku sedang malas angkat berat ni, suruh naik sendiri aja” 
“ udah aku kasih nomor kamu, entar dia bakal hubungin” 
“ oke deh, gitu aja, hahah” 

Tanpa menunggu jawaban, sahabat Jay bernama Bowo langsung saja menutup telpon dari kejauhan. Ah sial! Kenapa dilimpahkan ke aku.  Jay pun menggerutu dan tak lagi berselera menikmati Senja kemerahan yang sendu sore itu. Langsung saja ia berjalan masuk kedalam kamar dan menatap kipas yang memutar di langit – langit. 

Hari cepat berlalu, dan telepon dari wanita yang di bicarakan tak kunjung datang. Hal itu segera terlupakkan dan lenyap begitu saja. Kring, kring, kringgg, kringgg bunyi serta getar handphone membangunkan Jay dari tidur siangnya. 



“ selamat siang, bener ini mas Jay? “ suara kecil nan sendu 

“ iya benar saya sendiri, maaf ini siapa ya ? jawab penuh kebingungan. 

“ Saya Della teman mas Bowo mau tanya tentang Rinjani” jawab sopan sekali 
“ oh, eh, anu, iya ya saya baru ingat” Jay sempat terdiam sejenak, ketika perempuan itu akhirnya menghubungi. 



Percakapan cukup panjang, saling bertanya jawab seputar akomodasi dan jalur pendakian Gunung Rinjani. 



Della berkeinginan untuk melakukan pendakian seminggu kemudian, dan setelah mengobrol cukup panjang dan mulai sedikit melemah Jay akhirnya bersedia menemani perjalanan pendakian seseorang yang tak di kenal sebelumnya. 

Hari yang ditunggu telah tiba, Jay berpakaian rapi ala anak pecinta alam. Memakai kaos, flanel, celana lapangan dan pernak pernik menghiasi di pergelangan tangan nya. Bermodal sepeda motor tua, Jay melibas jalanan dengan hati tak karuan. Jarang sekali ia menyetujui mendaki dengan orang yang tak di kenalnya, baik fisik maupun karakternya. 

30 menit kemudian Jay telah sampai di area parkir. Segera berjalan tergesa – gesa menuju pintu kedatangan. Ia melihat jadwal penerbangan, ternyata 15 menit yang lalu pesawat yang di tunggangi Della telah mendarat. Jay mencoba menghubungi Della. 

“ kamu udah turun?” Jay berbicara dari balik teleponya. 
“ iya, ini masih nunggu bagasi, sabar ya” jawaban ramah nan merdu dari Della. 



Jay tetap menunggu diantara orang yang menjemput dan para sopir travel dan taxi. Beberapa menit kemudian, suara telpon Jay berbunyi kembali. 



“ mas Jay dimana ? Aku udah keluar ni, pakai baju merah” Della menjelaskan sekaligus agak terkejut saat setelah keluar melihat kerumunan bak orang demonstran. 
“ aku di dekat pos Polisi pakai flanel merah” sekaligus Jay melambaikan tangan untuk memberi isyarat. 



Sekejap mereka saling bertatap muka, lalu terdiam sejenak dan tak sepatah kata yang keluar dari mulut sepasang anak manusia ini. Benar tak menghiraukan keriuhan sekitar, seperti sunyi bak pemakaman.



Meski keramaian memekik di telinga namun hanya mematung dan beberapa saat kemudian Jay berbicara terbata – bata. “ eh,anu, oh iya saya Jay” senyum malu sembari mengulurkan tangan nya. “ Della mas” pelit kata, namun senyum mungil merekah terbenam dalam wajah sedikit orientalnya. 



Jay masih tidak percaya, sosok wanita itu mampu meruntuhkan kecuekan sikapnya kepada wanita. Tak pelak, Jay segera mengajak Della untuk menyingkir dari kerumunan sekaligus menghilangkan kecanggungan dan kegugupan saat bertemu Della. Di tengah perjalanan tiba – tiba rinai hujan turun saling merebut untuk mencumbu tanah beserta jalanan. Seketika Jay memacu motornya lebih kencang merobek aspal jalan yang kosong. Della bersembunyi di balik tubuh Jay untuk menghindari hujaman rintik hujan dan memeluk badan Jay dari belakang sangat erat. 

Sontak Jay kaget dan salah tingkah, hingga hampir saja mereka berdua meluncur menembus garis pembatas jalan dan terjun ke arah sungai. Dengan sigap, Jay membanting stang motor dan menurunkan kaki untuk menyeimbangkan. “hahahaha” mereka berdua tertawa dan Della memukul bahu Jay karena kesal hampir saja mati konyol. “ kamu ya mas, naik motor sembarangan” berteriak dan mengkritik cara Jay berkendara. “ abis kamu sih tiba – tiba meluk, aku kan jadi kaget” jawab Jay sambil tertsipu malu. 

Di bawah guyuran hujan, mereka berdua menikmati perjalanan dari Bandara hingga kota Mataram. Saat itu juga kedekatan mereka mulai tercipta. Sesampainya di kontrakan Jay, masing – masing segera mengganti baju basahnya. Setelah selesai mengganti pakaian kering, Jay menuju dapur dan membuat 2 cangkir kopi, dan membawanya ke teras. 

Tak lama kemudian, Della keluar  dan duduk di sebelah Jay sembari mengusap handuk untuk mengeringkan rambutnya. “ hujan nya lumayan awet ya” Della membuka obrolan di tengah kecangguan suasana di teras. “ iya, tumben langit begitu gelap dan memuntahkan seluruh kesedihan nya ke bumi” Jay pun menimpali nya. 

“ emangnya Bulan November gini sering hujan ya di Lombok? “ Della menyambung dengan pertanyaan kembali. 
“ nah itu, kurang tau juga, soalnya semakin tahun cuaca sering berubah “ Jay menjawab pasrah. 
“ jadi besok kita berangkat naik ni ? “ tiba – tiba Della mulai serius membahas tentang pendakian. 



“ ga mau jalan – jalan keliling dulu? “ Jay mencoba memberi pilihan 

“ enggak ah, pengen naik dulu baru main ke pantai “ Della tetap kekeuh dengan tujuannya 

“ kalau begitu, baiklah besok kita ke Sembalun dan memulai pendakian “ Jay menjawab sambil membuang muka ke arah ribuan rintik hujan turun di depan teras. 

Kedekatan diantara kedua nya mulai terjalin, saat mulai berbicara serius perihal pendakian dan membuat ada saling ketertarikan tanpa disadarinya. Pagi ayam baru setengah berkokok Della sudah sibuk mengemas barang bawaanya. Tak luput Jay di sergap oleh tangan nya dan di goyang – goyang seluruh badan nya untuk segera bangun. 

Butuh waktu lama ternyata untuk membuat jiwa Jay kembali ke alam sadarnya. “ mas Jay ayo bangun, udah siang ni! Ayo buruan! “ seru Della teriak memelas di dekag telinga Jay yang sedang tidur. Setelah cukup terganggu akhirnya Jay bangkit dan meracau tak jelas. Tanpa ada sepatah kata pun ia berjalan melenggang di depan Della menuju kamar mandi. 

Jam sudah menunjuk angka 9, bertepatan persiapan perbekalanan pendakian Jay dan Della sudah siap. Begitu cepat mereka berdua berkendara menggeber jalan lintas kota dengan kecepatan tinggi. Butuh waktu sekitar 2 jam akhirnya mereka sampai di Sembalun tanpa ada gangguan sedikit pun. 

Pemberhentian pertama adalah Pos TNGR ( Taman Nasional Gunung Rinjani ) untuk registrasi dan meminta ijin untuk menitipkan motornya pada saat pendakian. Tak lupa Jay meminta tolong agar mereka diantar menuju ke pintu Rimba agar bisa segera melakukan pendakian di hari yang cerah ini. 

Jalan aspal berubah jalan tanah berlumpur akibat hujan beberapa hari terakhir, sesekali menyisir jalan meliuk diantara kebun warga, dan sekejap mereka berdua telah berada di depan pintu rimba. Mereka pun berpamitan, selanjutnya Jay mengajak Della untuk berdoa sebelum mereka memutuskan untuk melemparkan diri ke dalam keindahan Gunung Rinjani. 
Di dalam keheningan lantunan doa – doa tak terucap mengalir dari setiap bibir yang membeku. Khusyuk sekali dalam perihal berdoa dan meminta Tuhan untuk menjaga jiwa mereka saat melakukan pendakian Gunung Rinjani. 

Satu langkah kaki menghujam tanah lalu hilang, semakin di tekan semakin tenggelam akibat di gempur oleh jutaan butir hujan berebut ingin mencium bumi. Ini adalah awal yang mulai berat, Jay berkata dalam hati. Langkah demi langkah kecil mulai menelusuri jalur yang becek.  Hanya ada mmereka siang itu, suasana seketika berubah saat menembus kabut tipis yang mulai naik ke permukaan. 

Dahan pohon saling bergesekan mengeluarkan irama menenangkan, ilalang menari gemulai mengikuti kemanapun angin menghempaskan, bulir – bulir embun yang menempel di rambut bahkan sengaja hinggap di muka serta membasahinya. Pendakian kali benar – benar berbeda yang sedang di jalani oleh Jay. Semua serba mendadak, hingga menentukan teman pendakian pun ia belum pernah ketemu atau mengenalnya. Semua itu sempat menimbulkan secuil keraguan. Namun meredum saat keyakinan mulai tertanam dari sikap dan semangat yang terpancar dari Della. 

Memasuki hutan, menuruni bukit, melintasi kalimati, masuk kedalam hutan lagi. Begitu seterusnya hingga saat di bukit terakhir kami bergerak turun dan berada tepat di jalur yang terdapat jembatan. Di sepanjang perjalanan hingga sampai di jembatan keduanya pun sama – sama membisu bak lidah mereka begitu kelu dan sukar untuk mengeluarkan suara. 

Namun saat sampai di jembatan untuk rehat sejenak. Della memecah keheningan dan dingin suasana pendakian yang cukup canggung diantara mereka berdua. 
“ mas kok sepi ya di jalur pendakian ?  ga keliatan tanda – tanda dari pendaki lain “ 
“ kalau bule udah dari tadi, biasanya pendaki lokal jam segini baru jalan masuk ke jalur “ Jay menjawab sembari mengelap keringat jagung yang memenuhi seluruh wajahnya. 

“Jadi enak, bisa nikmatin pendakian penuh ketenangan ” sergah Della sambil tertawa menyembunyikan kedua matanya 
“ tenang, nanti saat sampai di pos pasti bakal ketemu sama pendaki yang lain “ Jay tak mau kalah dalam pembicaraan yang canggung itu 

Kemudian perjalanan kembali di lanjutkan mengikuti jalur menerobos bukit - bukit savana yang kuning pucat namun menenangkan jiwa. Setiap kali mata menyapu seluruh bukit savana, semua rasa lelah da  berat seperti terobati. Begitu halnya saat dalam perjalanan, Della selalu bertanya dan Jay menjawab, di ikuti tawa terbahak – bahak dari Della. Semua memberi kesan tersendiri pendakian Gunung Rinjani, terutama kali ini bagi Jay. 
Seorang perempuan berparas cantik dan begitu sendu namun menyipan tenaga luar biasa dan memberi angin segar kepada Jay. Tapi masih ada keraguan, kenapa Dellla memilihnya sebagai teman selama prndakian ? Pertanyaan itu setiap detik membayangi langkah Jay. 

Lain halnya Della, ia begitu nyaman saat berada di dekat Jay sehingga dengan mudah ia membangun komunikasi antara mereka berdua. 



Bersambung.........

2 comments:

Powered by Blogger.