Jiwa yang Kusulam Begitu Sekarat


Entah apa yang merasuki pikiranku, semua seperti sinis memandangku rendah. Aku tak menyimpan kebencian ke sesiapa, atau menyalahkan sesiapa atas apa yang ku alami.


Ketika aku masuk dalam lingkaran baru, semua mata tertuju kepadaku, hei! Aku masih sama manusia, bukan sesuatu yang aneh atas penampakan Ini. Tapi naluri berbicara lain, seperti terasingkan, terhanyut dalam kesendirian.


Memang benar, aku hanya pendatang, ya pendatang dalam bumi yang semakin sempit dengan dipenuhi manusia pemegang mayoritas. Sedangkan seperti aku, kami atau yang lain, pemegang sah kaum minoritas adalah keniscayaan bisa melenggang mudah untuk hidup.


Sebenarnya pelan – pelan aku mencoba menghilang dan mencari tempat peraduan dimana aku bisa di terima apa adanya. Ternyata tak semudah menjentikan ibu jari. Jika selalu  saja tempat yang kupijak mengecam atas kehadiranku.


Terus mencari kebenaran dalam lingkaran pesakitan. Terus memberi apa yang menyebutku sampah. Jiwa yang kusulam begitu sekarat.


Beri aku satu kesempatan yang penuh arti, untuk membuktikan bahwa aku ini benar – benar layak. Beri kesempatan jika jalan yang kupilih benar – benar tepat. Terlalu sakit jiwaku untuk menghadapi dunia yang congkak ini.


2 comments:

  1. semoga menemukan apa yang dicari dalam kehidupan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga saja lekas mendapat pencerahan

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.