November Kelam ; Cerita Gunung, Aku, Kamu, dan kelabu #Part2



Menjadi tempat peristirahatan pertama adalah Pos 1, Della langsung membuang badanya masuk ke dalam pos yang berada di ujung. Carriernya tersentak menghujam diding pembatas pos. Nafas begitu memburu hasil perjalanan yang cukup menguras tenaga. Tak lama berselang, Jay datang dari balik bukit dengan carrier menjulang bagai kulkas dua pintu sedang berjalan. 


Di posisikan pantatnya tepat di sebelah Della. Perlahan Jay melepas carriernya, begitu juga keringat sebesar biji jagung memenuhi sekujur muka dan seluruh badan nya. Kaos yang di gunakan pun sudah sangat basah, Jay hanya tersenyum sembari memandang Della yang sedang mengatur irama nafasnya kembali normal. 


Beruntung hari tidak terlalu menyiksa dan seolah – olah memberi kompensasi kepada sepasang pendaki itu. Mendung menutupi sepanjang perjalanan, dingin selalu memeluk jika langkah kaki terhentj untui menghela nafas, kabut mulai berbaris acak datang dan pergi menutup jalur diantara savana hijau menyegarkan.



“ mas Jay, maafin Della ya kalo suka istirahat” langsung saja suara Della memecah keheningan. 

“ iya gapapa kok, namanya naik gunung kan capek” Jay menjawab di ikuti senyum kecilnya. 

“ 5 menit lagi kita istirahat ya ? Baru jalan” Della memohon 

“ istirahat saja dulu kalo capek, kalo udah segar baru lanjut lagi ya” begitu lembut Jay menjawab. 



Della sempat tersipu malu mendengar perkataan Jay yang begitu perhatian atas keadaan nya. Tak sedikit pun ia mmembayangkan di balik tubuh kekar dan muka cukup gahar ada sosok yang selembut itu. Sambil memalingkan wajahnya yang memerah, tangan Della mencoba meraih botol minum. Langsung saja botol itu di sodorkan ke Jay yang sedang merokok sembari menikmati pamdangan savana.



Jay langsung membalikan wajahnya ketika telapak tangan Della menepuk. Melihat botol minum yang disodorkan Della, ia langsung meraihnya dan cepat air minum sudah terjun bebas menerjang dahaga tenggorokannya.


Tegukan demi tegukan dan air membebaskan rasa dahaga. Kini Jay kembali menatap hamparan bukit kecil di penuhi rumput yang terbelah oleh jalur pendakian. 



Sembari menunjuk ke arah langit Jay berkata “ setelah beberapa bukit dan mengikuti jalur berkelok kita akan sampai di pos 2” 

Della hanya membalas senyuman dan anggukan. Isyarat bahwa ia paham akan jarak dan tempat peristirahatan selanjutnya. 



Kemudian setelah merasa cukup, mereka berdua kembali berjalan mengikuti jalur setapak yang mengular menuju pos 2. Semilir angin mememeluk tubuh mereka dari segala arah. Cuaca sekejab berubah, dari terik menjadi teduh dan berkabut yang sesekali menjadi pembatas jarak pandang mereka.


Sesekali saat berjalan baik Della maupun Jay saling melempar kata. Suasana canggung berubah kedekatan. Dari pertanyaan – pertanyaan sepele hingga keluarga menjadi topik saat kaki terus melangkah. 


Di tengah nafas kelelahan, ada canda tawa keakraban terbangun. Hingga tak terasa waktu cepat berlalu dan setibanya di jembatan dan menaiki tanjakan, kini mereka sudah berada di Pos 2. 


Diantara padang savana yang berubah warna keemasan karena tersorot sinar matahari senja, kami merubuhkan badan di bangunan pos. Sejauh mata mmemandang, hanya jingga mewarnai keindahan setiap lekuk sudut gunung Rinjani. 


Sepasang pendaki itu memandangi puncak Rinjani yang  berwarna keemasan. Hanya tercipta keheningan diantara gemuruh angin, siulan burung dan dingin yang mulai memeluk tubuh mereka yang telah lama berdiam. 


Hari semakin meredup, Jay mengajak Della untuk mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Karena mereka sudah memutuskan untuk melakukan perjalanan hingga pos 2 dan melanjutkan pendakian esok hari. Sepasang pendaki itu berjalan menjauh dari pos dan mecari tanah yang cukup lapang dan bersih di antara padang savana. 


Cekatan sekali Jay membongkar carriernya, mengeluarkan tenda sekaligus merakit tenda hingga berdiri. Sementara itu Della merapikan barang bawaan nya sekaligus mengeluarkan logistik yang akan mereka santap untuk makan malam. Tenda sudah berdiri, dan Della segera masuk untuk berganti pakaian. Sementara itu Jay berjalan ke dekat jembatan untuk mengambil air. 



Beberapa menit kemudian Jay kembali dengan 2 botol air minum untuk dipakai memasak. Tak lupa ia mengganti pakaian hangat dan mulai memasak air untuk membuat kopi dan secangkir cokelat panas. 



Hari telap berubah gelap, hanya ada sinar senter dan gemerlap bintang yang malam itu menemani malam pertama sepasang pendaki itu. Di sela – sela Jay yang sedang memasak sayur sup, sekaligus menikmati kopi, di putarlah tembang – tembang lama kesukaan Jay. Suasana menjadi tenang di tengah perbicangan kesana kemari diantara mereka. 



Della yang membantu memotong sayur pun tak kalah sibuk, iya sesekali bernyanyi mengikuti musik dan meneguk cokelat panasnya. Tak beberapa lama makanan pun telah siap untuk di santap. Di bukalah pintu tenda oleh Jay sebelum mereka makan bersama. 


Kemudian Della merapikan area masak dan mereka telah duduk di depan tenda. Piring terisi nasi hangat mengepul asap, semerbak wangi kenikmatan sayur sup, tempe dan ayam goreng tak luput jadi santapan. Setelah selesai berdoa mereka mulai melahap makan malam. Perjamuan makan malam di bawah cahaya bintang dan pemandangan megahnya gunung Rinjani yang hanya gelap namun tetap saja indah untuk di pandang. 



Kedekatan mereka semakin tercipta, setelah Della menceritakan bagaimana kehidupan asmaranya yang di khianati oleh mantan pasangan nya. Hingga selesai makan malam, cerita itu berlanjut. Memposisikan tidur menghadap ke arah pintu sembari menatap langit bertabur bintang, perlahan Della menceritakan seluruh keluh kesahnya. 



Sebagai pendengar, Jay terus mengamati setiap kata dan ekspresi wajah Della. Sesekali Jay tersenyum untuk semua keluh kesah yang telah ia dengarkan. Begitu juga Della, sempat dibuat bingung melihat Jay terpaku memandangnya begitu serius. Kejailan kadang di buat Della untuk mengejutkan Jay yang melamun atau sedang memperhatikannya. 



Malam semakin larut, dan sepasang pendaki ini pun terhanyut dalam cerita yang dalam. Namun dingin mampu mengalahkan ke akraban mereka. Di tambah besok masih harus melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun sebelum melakukan perjalanan menuju puncak. 


Akhirnya pintu segera ditutup oleh Jay, kemudian lampu tenda yang remang – remang digantungnya. Della telah berselimutkan kantong tidur menyerupai kepompong, sedangkan Jay masih merapikan keadaan dalam tenda agar ia mampu tidur dan menjaga jarak posisinya dengan Della. 


Suasana menjadi hening, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mencoba menutup mata, namun Jay tak kunjung jua terlelap. Ingin menengok dan mencoba mencuri tatapan ke Della, ia pun tak mampu. Mencoba menghilangkan kegelisahan, Jay mencari solusi. 



Segera di ambil Handphone dan mencoba memutar musik. Satu album dari Sigur Ros dipilih, sekaligus menjadi pengantar malam merayap menuju pagi sepasang pendaki yang saling membisu. 



Usaha Jay berhasil, ia pun tertidur hingga saat langit mulai berubah warna di pagi hari. Sedangkan Della masih asyik terlelap dalam dekapan kantong tidurnya. Dengan hati – hati, Jay memasak air panas untuk membuat secangkir kopi dan cokelat panas. Di buatnya juga roti bakar untuk sarapan. Cekatan sekali Jay untuk urusan menyiapkan sesuatu yang akan mereka makan. 


Di temani kabut tipis yang menggantung diantara bukit – bukit kecil, sinar matahari menyeka muka, dan kepulan asap yang keluar dari mulut karena udara cukup dingin. Saat – saat seperti itulah suasana yang begitu Jay sukai. Di palingkan nya wajah agar bisa merasakan kehangatan sinar mentari. Kemudian di teguk secangkir panas. Sungguh kenikmatan tiada tara momen seperti ini, kata Jay dalam hati.



Tiba – tiba bahu Jay ada yang tangan yang menepuk pelan. Hal itu mengagetkan Jay saat menikmati ketenangan pagi. 




“ mas udah dari tadi bangunya?” suara muncul dari balik badan Jay. 

“ oh iya, kebangun cepat soalnya” Jay menjawab sambil membalikan badannya. 

“makasih ya mas, udah dibikin cokelat hangat” senyum pembuka hari muncul dari Della. 

“ iya sama – sama, yaudah yuk sarapan dan packing” Jay langsung memberi isyarat menyudahi percakapan.




Masing – masing piring terisi 2 lembar roti bakar dengan isian cokelat, dan 1 pisang rebus. Sepasang pendaki itu menyantap makanan sembari melihat puncak Gunung Rinjani yang megah. 



Selesai sarapan, mereka langsung membereskan tenda untuk melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun. Jay merapikan tenda, dan Della merapikan alat makan dan beberapa sampah. Kekompakan terbangun dengan sendirinya.

2 comments:

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.