Perkenalan Dengan Gorontalo



Matahari siang begitu terik menyengat sekujur badanku. Saat kakiku telah benar – benar kokoh menginjak tanah ini. Aku kehilangan arah, apalagi sekedar  mempunyai tujuan. Aku hanya memuaskan rasa dahaga dan penasaran terhadap Gorontalo.

Badan kupaksa duduk di sudut bersama orang – orang yang meyakini rezeki akan datang hari itu di Bandara. Sedangkan aku, masih mengharap keberuntungan saat menunggu Bus Damri yang akan menggiring ke pusat kota yang tak pernah ku jejali sebelumnya.

Obrolan bahasa daerah begitu asing menemani waktu yang kubuang dengan kesendirian. Sedangkan Handphoneku terus bergetar dengan pesan pendek dari seorang teman yang tak sengaja ingin bertandang ke Gorontalo juga.

Beberapa jam kulepas bersama para sopir travel, akhirnya Bus Damri yang akan ku tumpangi segera berangkat. Carrier dan ransel kecil kuangkat buru – buru agar tak tertinggal. Ternyata hanya ada 2 orang yang mengisi deretan bangku penumpang. Yaitu aku dan om Biztrock yang menguasai Bus sore itu.

Bermula dari pemantik rokok yang kupinjam, perkenalanku dengan om Biztrock mengalir begitu saja. Berbagai perbincangan dan bertanya tujuanku berkunjung ke Gorontalo menemani perjalanan kami meninggalkan area bandara.

Ternyata saat cerita membahas berbagai hal, teman – teman seperjalananku juga pernah bertemu dan berteman dengan beliau. Bukan itu saja, mereka juga ada yang pernah singgah menginap di rumah orang tuanya. Aku pun mendapat perlakuan yang sama. Saat tawaran untuk menginap sementara selagi aku menunggu temanku Novi datang dari Sorong.




Aku yang sedang kehilangan arah hanya mampu berterima kasih dan menyetujui tawarannya. Hingga kami turun dan datang kerumah orang tua om Biztrock di Limboto dan mengenalkan aku ke seluruh sanak dan saudaranya.

Malam harinya aku di ajak untuk bertandang di kafe kopi yang sering ia kunjungi sekaligus menjadi pengiring musik dikala akhir pekan. Disana pertama kali aku bertatap muka dan mendengar suara langsung beberapa teman media sosialku. Seperti Yusni dan beberapa penggiat media sosialnya aku temui.

Bermula dari malam itu, semakin banyak teman – teman dari komunitas fotografi ku  temui. Sebab, komunitas ini cukup banyak mempunyai anggota, jadi beberapa kali aku diundang untuk duduk dan menikmati secangkir kopi dan berbagi cerita. Sampai aku bertemu dengan bang Steve, bang Noval, bang Imen, bang Anto, bang Rifon, kak Ririn yang menyambut ramah kehadiran sosok gelap, gondrong nan menyeramkan ini.



Sebagaimana layaknya ritual kopi, kami bercerita membahas mulai dari hobby, mengecam perang, perjalanan, politik, sejarah hingga mitos dan legenda. Apalah arti berbagai macam nama, teknik penyajian, dan rasa kopi namun tak mampu mengisinya dengan cerita. Bagiku teramat hambar secangkir kopi yang terpaksa menemani.

Namun di tengah adaptasiku di kota yang tak terlalu luas, aku kehilangan waktu untuk berpikir, alih – alih menikmatinya. Sering kali aku terperangkap ruang penuh hujan yang mengurungku di kehangatan rumah. Hingga aku mencoba dan membiasakan diri untuk menikmati berkah dari jutaan hujan mencumbu bumi.



Dari 10 hariku berada di Gorontalo, aku tak mampu untuk mengadu dan mengawal senja setiap hari. Senja selalu membantu merawat pikiranku tentang perjalanan ini. Namun aku masih mendapatkan senja yang mengantarkanku kepada momen yang belum tentu bisa setiap hari ku nikmati.

Seperti senja pertamaku di Tanjung Keramat bersama bang Steve, bang Imen, dan Novi mengantarkanku kepada momen Maulid Nabi yang di isi dengan cerita perjalanan nya  semalam suntuk di sebuah masjid. Sebelum keesokan paginya mereka mengarak aneka kue di atas kapal mengelilingi teluk.



Meskipun aku tak mendapatkan momen kapal mengarak kue berkeliling di sekitar teluk, aku sangat beruntung bisa merasakan pengalaman berkunjung ke kampung Tanjung Keramat untuk berdoa sekaligus mencicipi aneka kuliner yang di hidangkan dan di jadikan buah tangan.

Kemudian setelah beberapa hari terperangkap hujan, aku mampu mengawal senja di Limboto. Berbagi cerita dengan pengendara Bentor di bawah menara sebelum gelap menyergap.




Keramahan warga memberikanku ketenangan. Tanpa ada rasa takut dan curiga. Mereka menjamuku dengan berbagai cerita yang notabenenya adalah orang asing. Sepertinya Gorontalo mampu mencuri hati sesiapa yang datang berkunjung.


Terkadang perjalanan ada menyimpan bahagia dan tak bahagia. Meskipun tak ada yang pernah tau seberapa jauh jarak jalan ini nanti, aku mencoba untuk selalu berjalan.


Kepada rumah, kepada ibu dan seluruh keluarga, kepada om Biztrock, bang Anto, bang Steve, Bang Imen, Yusni, Bang Rifon, bang Noval, dan teruntuk Limboto juga Gorontalo yang telah mengenalkanku kepada orang – orang yang menyenangkan, terima kasih.



Limboto, Gorontalo 15 Desember 2017 ( 23: 45)

4 comments:

  1. kerennn ah wisata alam dan religi nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak wisata alam dan religi di gorontalo yang masih jarang di ketahui banyak orang kak. Terima kasih sudah berkunjung

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.