Solo Backpacker ; Kisah Nyata tentang kesialan dan Keberuntungan saat Perjalanan



Perjalanan senantiasa memberi pelajaran seperti cara bertahan hidup atau memaksimalkan keterbatasan. Namun kali ini aku akan mencoba berbagi pengalaman tentang kelebihan dan kekurangan selama melakukan perjalanan mencoba mengelilingi Indonesia yang sudah kumulai sekitar 2 tahun silam. 


Sebelum mulai membahas satu persatu tentang kekurangan dan kelebihan nya, aku ingin mengklarifikasi dan memohon maaf atas kejadian seperti nama tempat, daerah, masyarakat sekitar, atau pihak – pihak yang terbawa dalam cerita ini. Semua kucoba tulis jujur dan sebaik – baiknya, agar tidak terjadi kesalah pahaman. 


Baiklah, mari memulai cerita tentang kesialan dan keberuntungan saat menjadi pejalan atau orang sebut Solo Traveler atau Solo Backpacker atau apalah terserah kalian saja yang mengartikan. Namun cerita ini versi asli @ranselusang. 


Kesialan yang akan kita bahas disini bukan dari segi kehilangan benda berharga, melainkan lebih mengarah ke fisik. Karena aku tergolong kaum minoritas, makanya aku bisa merasakan beberapa kejadian yang kadang bikin gemes kadang juga pasrah. 


Beberapa kali di beberapa kota besar aku mengalami hal yang kadang tidak mengenakan. Mulai pengalaman di stasiun Surabaya Gubeng, saat menunggu kereta datang, aku berjalan mengantri menuju pintu masuk dan berjalan ke ruang tunggu di dekat rel kereta api. Kebetulan, di depan ada beberapa perempuan yang membawa tas slempang. 


Karena jaraknya begitu dekat, karena ada desakan dari antrian penumpang di belakangku, perempuan itu menaruh curiga kepadaku. Selanjutnya setelah terbebas dari antrian, ternyata ia mengadukanku ke security di Stasiun yang menganggap diriku ini adalah seorang pencopet. 


Kemudian seorang security menggiringku ke kantor dan di ajukan beberapa pertanyaan. Aku membela diri dengan sejujur -jujurnya. Para petugas pun sempat menaruh curiga, aku juga mempersilahkan seluruh tasku dan badanku untuk diperiksa. Aku ingin membuktikan tuduhan yang mengarah kepadaku tidak benar. 


Setelah beberapa menit di interogasi dan tidak terbukti saat pemeriksaan, aku kembali di persilahkan untuk kembali menunggu kereta yang akan kutumpangi menuju Banyuwangi. Itu pun dengan catatan aku masih di himbau untuk tidak melakukan tindakan terlarang. 


Miris sekali, melihat kondisiku yang seperti tak terawat berkumis baju kaos oblong, celana panjang yang kusam, memakai sandal jepit, seperti memunculkan pandangan orang bahwa aku ini jahat. 


Cerita berikutnya Kesialanku tertahan 1×24 jam di pelabuhan Gilimanuk, Bali. 


Bermula saat aku dapat tumpangan sebuah truk dari Probolinggo yang akan mengantar sembako ke Denpasar. Setelah menyebrangi selat Bali, pasti setiap kendaraan bahkan penumpang pejalan kaki akan di periksa di Pos pemeriksaan yang di jaga Polisi. 


Saat truk yang kutumpangi tepat di periksa surat dan kelengkapan nya, mereka menyuruhku turun untuk turut di periksa. Aku mengikuti arahan dan berjalan masuk. Kuserahkan KTP Nasional yang menjadi Identitasku selama berjalan menjadi Solo Traveler. 


Musibah datang kembali kepadaku, ternyata di Bali ada aturan beberapa daerah yang tidak mengijinkan KTP nasional untuk melintas. Di anjurkan setiap orang untuk memiliki KTP Elektronik. Aku sempat terkejut dan tidak tahu akan berbuat apa. Aku pun melihat selembar kertas edaran dari pemerintah dengan pernyataan seperti itu. 


Ditambah lagi perawakanku yang konon di bilang orang menyeramkan. Jelas menambah kecurigaan aparat kepadaku. Akhirnya aku disuruh turun dan tinggal sementara di kantor untuk di ajukan beberapa pertanyaan. Kemudian aku mengambil carrier dan ransel kecilku. 

Kemudian mereka meminta ijin dan menyuruhku mengeluarkan seluruh barang yang ada di dalam tas kecil dan carrier. Seketika barang bawaan ku keluarkan dan kususun diatas meja. Kebetulan waktu itu aku sedang membawa donasi mukena dan baju koko yang akan ku distribusikan di Lombok dan di Bima. 


Mereka sempat bertanya, barang bawaanku berasal dari mana? Dan akan dibawa kemana ? Kenapa KTP nya belum elektronik ? Tujuan ke Bali mau kemana ? Bertubi – tubi pertanyaan sedang menyerangku malam itu. 


Namun aku menjelaskan tentang niatanku hanya melintas dan menjelaskan barang bawaanku akan kubawa kemana dengan bukti kampanye dan beberapa postinga  di sosial media belum cukup untuk meluluhkan hati para aparat. Hampir 2 jam kami saling berbicara saling bertanya dan menjawab. 


Hingga akhirnya aku memasang muka memelas dan memohon barulah aku di perbolehkan untuk melintas. Namun dengan catatan harus menunggu hari terang dan saat ingin berkunjung ke Bali lagi harus sudah menggunakan KTP Elektronik. 


Mataku berkaca – kaca, jantungku seketika mengendorkan detaknya, nafas ku hela panjang, dan bersyukur atas di beri kemudahan. Saat hari menjelang siang, salah seorang aparat sempat berucap kepadaku. 

“ tampang sepertimu dik cukup mencurigakan, kami sempat menduga dirimu adalah teroris yang menyamar “ 

namun setelah kamu mampu membuktikan kepada kami, barulah kami bisa mempercayainya. Terima kasih pak masih mau mempercayai dan menolongku.


Apa kalian percaya bertemu orang asing seperti ini?



Aku hanya bisa tersenyum sembari menikmati secangkir kopi yang aku beli di warung dekat pos pemeriksaan. Untung saja mereka masih bisa mempercayaiku, dan baiknya aku masih di bantu mencari tumpangan truk yang mempunyai tujuan ke Lombok. 

Beralih kisah yang selanjutnya, mungkin bisa terbilang konyol, kocak, lucu, atau bahkan memalukan. 


Bermula aku beserta teman – teman blogger dari beberapa daerah sedang mengikuti kegiatan di sekitar kawasan Batu, akhirnya aku mendapat pengalaman ini. Kami menginap di salah satu Hotel bintang 4 di kawasan kota Batu. 


Lokasi kamar yang ku tempati langsung menyuguhkan pemandangan alam  sekitar yang asri. Ditambah lagi kolam renang yang berjarak beberapa meter membuat memudahkan bagi pengunjung untuk menikmati kenyamanan fasilitas Hotel yang disediakan. 


Karena di hari pertama aku tidak dapat tidur, maka aku terjaga hingga pagi hari. Matahari mulai muncul ke permukaan, aku yang merasa tak dapat tidur, segera membuat secangkir kopi dan duduk di depan kamar Hotel yang tersedia tempat duduk berhadapan langsung dengan pemandangan dan hangat sinar mentari. 


Suasana tenang dan damai sekali kurasakan pagi itu. Secangkir kopi, rokok, dsn ditemani alunan musik menambah semangat di pagi hari. Beberapa menit kemudian aku berjalan mendekati area kolam renang. Aku mempunyai ide untuk berenang di pagi hari dan menyegarkan badan. 


Sebelum aku terjun ke kolam, disinilah suasana pagiku hancur. Kebeulan dari arah berlawanan datang bapak – bapak datang menghampiri. Kukihat dari pakaian nya adalah wisatawan yang juga menginap di hotel. Kemudian ia mendekat dan bertanya kepadaku. 


“ wah suasana di sekitar hotel adem ya mas” pertanyaan langsung terlontar kepadaku. 

“iya pak, salah satu penunjang tamu yang ingin menikmati ketenangan saya rasa” aku pun menjawab sembari tersenyum. 

“ lihat disekitar, kondisinya juga bersih dan terlihat hijau” bapak itu bertanya kembali. 

“iya pak, benar” aku hanya menjawab semampunya. 


Kemudian pertanyaan bagai petir di lontarkan kepadaku. 


“ setiap pagi memang dibersihkan kolam renangnya ya mas? Sejak kapan kerja disini jadi tukang kebun?” bapak itu bertanya penasaran. 


Mendengar pertanyaan seperti itu aku langsung terdiam mematung. Aku kaget sekaligus kebingungan. Mulutku kaku untuk mengelak apalagi mengiyakan pertanyaannya yang salah mendarat kepadaku. 


Beberapa detik kami diam tanpa ada ada rasa keanehan. Begitu juga denganku, aku mencoba melihat diriku sendiri. Apakah ada yang salah dengan penampilanku?. Celana pendek, kaos, sendal jepit, rambut terurai panjang, secangkir kopi, sebungkus rokok, sepertinya tidak ada yang salah. 


Sekali lagi aku merasakan apalagi yang ada di diriku. Berjenggot, berkumis, berkulit gelap, sepertinya paket komplit mengemas diriku seperti tukang kebersihan hotel. Tapi mana ada, tukang kebun beramput panjang sepertiku? Aku memprotes diriku sendiri. 


Lalu kuberanikan diri membela dan berkata. 

“maaf pak, saya bukan tukang kebun disini. Saya juga pengunjung yang kebetulan ingih berenang pagi – pagi” aku jawab untuk meluruskan keadaan. 

“wah salah ya mas? Aduh maaf ya, saya kira mas tukang kebun. Abis mas berpenampilan mirip tukang kebun” jawaban malu oleh bapak itu. 


Aku memaafkan dan sembari melempar senyum. Meskipun itu pura – pura, bahwa aku sedikit kecewa karena mendugaku sebagai tukang kebun. Namun mau dikata apa? Pengalaman menjadi orang yang kusebut minoritas ini kadang menyedihkan juga. 


Lalu untuk menghilangkan kejengkelanku, segera ku tanggalkan baju dan loncat masuk ke dalam kolam renang. Pagiku yang tenang berubah kelam akibat bapak itu salah menduga kepadaku. Kemudian bapak itu berpamitan untuk kembali ke kamar. Entah dia malu salah mengira atau kecewa ternyata aku salah seperti dugaan nya. 


Saat aku selesai berenang dan kuceritakan saat sarapan bersama teman – teman. Mereka tertawa terbahak – bahak. Mereka pun bertanya kepadaku, mana si bapak itu. Kebetulan setelah sarapan kami bertemu lalu ku tunjuk bapak itu dari kejauhan memberi tahu teman – teman. 


Terlihat bapak itu juga salah tingkah saat kami berpapasan. Kami berjalan kembali ke kamar dengan kelucuan yang kudapat di hari pertama menginap. Apakah parasku ini multifungsi dan bisa menunjukan profesiku sebagai apa. Begitu mudah orang – orang sekilas mengiraku.


Rambut pendek aja orang masih menaruh curiga




Pengalaman berikutnya kemarin kualami sewaktu perjalananku sedang singgah di Gorontalo. 


Pagi hari aku ikut pergi menuju kota dari Limboto bersama bang Anto. Dimana selama di Gorontalo aku menumpang menginap di rumahnya. Setelah menemani dia ke kantor lalu menuju ke kantor cabangnya, aku meminta ijin untuk diantar ke pusat pertokoan di kota tua. 

Aku sempat mendapat gambaran dan beberapa rute yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki mengitari kawasan kota tua. Aku juga meminta untuk di turunkan di salah satu minimarket yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Bang Anto pun mengabulkan keinginanku. 


Sesampainya di depan minimarket aku pun turun dan berpamitan dengan bang Anto. Kemudian bang Anto kembali ke kantor, sedangkan aku masih tetap duduk di depan minimarket. 

Hari cukup terik, aku masuk membeli sebotol air minum dingin dan kembali duduk di depan sekaligus merencanakan tempat mana yang akan ku jelajahi. 

Ketika aku sedang asik merokok dan melihat lihat lokasi dari peta di smartphone, tiba – tiba klakson mobil berbunyi beberapa kali. Tin!! Tinn! Tin! Tinnn!!!!!! Aku terkaget dan menengok kedepan. 


Kulihat sebuah mobil berisikan wanita agak tua memanggil tepat ke arahku. Wanita itu sempat melontarkan kata “mas parkir, mas”. Aku pun sempat kebingungan dibuatnya. Ku tengok ke kiri dan ke kanan, namun tak ada si abang tukang parkir di dekatku. 


Kupastikan lagi panggilan wanita itu, kemudian ia berkata kembali “ mas ayo bantuin mobil saya mundur, saya buru – buru ini!” iya mengomandoi. Sempat dibuat kebingungan karena dianggap tukang parkir. Entah apa yang membuat ibu itu mengira diriku mirip petugas parkir. Namun aku juga merasa kasihan dan segera aku berdiri dan berjalan ke arah belakang mobil. 



Dengan cekatan tanganku mulai mengomandoi wanita yang sedang berada di balik kemudi mobil. Setelah berhasil memposisikan mobilnya, kemudian wanita itu memanggil dan memberi beberapa uang koin kepadaku. Tanpa pikir panjang koin – koin langsung ku genggam dan mobil berjalan meninggalkan area parkir. 

Oh Tuhan, kenapa ada – ada saja orang menganggapku sebagai manusia multifungsi. Kemudian aku kembali duduk dan mengulang kembali setiap kejadian yang terkadang membuatku tak habis pikir. Kenapa orang selalu beranggapan tentang penampilan menunjukan profesinya?. Aku sendiri sampai sekarang masih saja kebingungan dibuatnya. 



Mari sudahi kejadian – kejadian aneh tapi nyata yang pernah kualami. 


Selanjutnya mari membahas pengalaman yang memberi keberuntungan lebih dari penampilanku saat perjalanan. 


Orang bilang perawakanku terlihat sangar dan tak karuan. Rambut yang kian memanjang dan pakaian ala kadarnya yang ku kenakan. Tapi dibalik hal yang kurang mengenakan itu membawa nilai lebih menurutku. 


Diawali ketika aku ada di terminal Ubung, Bali. Siapa saja pasti pernah mengalami berbagai kejadian yang tidak mengenakan dengan calo atau preman di terminal bukan?. Nah kalo sekarang beda, aku mendapat keuntungan disini. 



Setelah kedatanganku dari Gilimanuk, aku ingin melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Padang Bai. Namun Bus sudah berangkat semua, dan harus menunggu hingga esok hari. Aku memutuskan untuk singgah dan ngopi di luar area terminal. 


Berawal dari sebuah pertanyaan salah salah satu preman, kemudian aku menawarinya secangkir kopi dan rokok. Kami asyik terlibat pembicaraan kesana kemari. kemudian aku bersilat lidah panjang lebar tujuanku untuk ke salah satu daerah. 


Dia mengira aku adalah preman sedang ingin pulang kampung. Sedikit konyol dan merasa bersalah karena berbohong. Tapi menurutku itu adalah tindakan yang paling benar waktu itu. Di tengah – tengah orang asing dan menyeramkan aku harus bisa bertahan. 


Setelah mendengarkan ceritaku, kemudian ia mengajakku ke pinggir jalan. Dengan badan kekar, seluruh lenganya bertattoo, rambut kriting panjang, beranting, siapa saja akan takut jika berpapasan dengan nya. 


Setelah beberapa kali mobil keluar masuk di kawasan terminal, dan ia mulai mengamati mobil itu. Tiba – tiba satu mobil di stop dan ia bertanya. Hei, tolong antar sodaraku ini ke Padang Bai!. Dengan tegas ia meminta sebuah mobil pribadi untuk mengantarku. 



Aku pun sempat risih dan tidak enak, tapi aku bisa berbuat apa? Aku yang posisinya sedang di kawasan harimau hanya bisa pasrah. Kemudian sang sopir pun menyuruhku masuk dan duduk di sebelahnya. Sebelum mobil berjalan, aku berpamitan dan berniat memberinya sebungkus rokok yang ada padaku. Namun ia menolaknya, dan menyuruhku berhati – hati. Jika ke Bali lagi, maka aku diundang untuk tidur dirumahnya. 



Terkejut dan tak mampu berkata lagi selain mengucap terima kasih. Hanya berawal obrolan santai dan cerita kerasnya jalanan ia menyangkaku sebagai preman juga di kota besar. Sungguh mujur sekali tampang ini ketika sedang perjalanan. 


Kemudian aku benar diantar hingga pelabuhan dan sang sopir pun memberiku 2 lembar uang Rp50.000 amanat dari sang preman tadi. Aku berusaha menolaknya, namun abang sopir tetap memintaku untuk merimanya. Mujur sekali hariku waktu itu. Kuterima pemberian nya dan mengucap terima kasih telah mengantarkanku dan memberiku sedikit uang. Kemudian akj berjalan masuk menuju loket pembelian tiket kapal ferry. 



Di Jawa pun mengalami hal serupa, aku sempat terdampar di terminal bus di Depok aku terselamatkan oleh bantuan para preman. Mereka turut membantuku mencarikan tumpangan untuk menuju stasiun pasar senen. Aku tidak membenarkan bahwa memberhentikan mobil dan memaksa untuk mengantarku. Tapi para preman itu yang memaksaku mengikuti perintahnya. Jadi aku menuruti saja agar tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan. 



Hingga aku sempat mendapatkan sebuah kata perumpaan. 


“ Tempat teraman adalah tempat dimana orang menganggap tempat paling berbahaya” 


Pengalaman bertemu preman tak berujung dengan kesialan melulu. Malah jika di tarik mundur, keberuntungan tercipta berkat bertemu dengan mereka. 
Terima kasih ya para preman yang sudah pernah membantuku.
(Jika kalian sempat membaca) 



Lain pula ceritaku saat transit di bandara Makassar dan mengalami Delay. Ketika aku sampai di ruang tunggu, ada yang datang mendekat dan melempar pertanyaan kepadaku. 

mas Dodit ya? Boleh minta foto bareng?” 


Pertanyaan macam apa yang mampu langsung kujawab? Alih – alih membenarkan, aku berkata bukan saja ia tetap mengajakku berfoto bersama. Hal itu menimbulkan tanya kesekitarku, beberapa orang malah ikut mengajak berfoto bersama. Mereka meyakini bahwa aku benar Dodit si Stand Up Comedy di salah stasiun Televisi. 


Aku sempat kebingungan dan terpaku beberapa saat. Aku pun terselamatlan bahwa pesawat yang akan kunaiki sudah datang dan segera berangkat. Begitu cepat aku menari diri dan berlari menuju pintu masuk dan menerobos barisan. Aku sudah tak memperdulikan antrian, yang aku inginkan menghilang dari kerumunan orang yang salah mendugaku sebagai artis.hahahahah 


Sepertinya sudah panjang sekali aku bercerita beberapa kejadian yang pernah kualami di perjalanan.  Walau terkadang mengenakan dan merugikan, semua itu kuanggap sebagai bumbu penyedap kehidupan. 


Sebenarnya masih banyak sekali cerita yang ingin kubagikan, mungkin di postingan lain atau kebetulan kita bertemu. Disitulah aku akan bercerita saat kita menikmati kopi hingga pagi hari. 


Semoga pengalaman diatas tidak ada yang tersinggung, karena ini benar – benar terjadi. Sebelum menyudahi aku ucapkan meminta maaf sebesar – besarnya apabila ada yang membaca dan menyinggung hati kalian. 


Tabik! 

16 comments:

  1. Unik yaa mas, true story solo traveler banget nih.. 😁

    ReplyDelete
  2. Hahahaha seru mas pengalamannya. Tampang sangar malah memberi keuntungan sendiri ya di kawasan rawan preman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seru bang banyaka pengalaman yang tak terlupakan

      Delete
  3. Asik banget kak, paling suka bagian teroris yang menyamar...hihihi... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah itu bukan menyamar kak, tapi sempet dicurigai. Sedih sih, tapi itu adalah sebagai balada pengembara hahah

      Delete
  4. seru Kak Joey pengalamannya..ada yang bilang tukang kebun itu Bapak sumpah nyebelin banget..tanda suka merendahkan orang lain tuh si Bapak :( aku pun pernah punya pengalaman yang sama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, serius sedikit terperangah saat dibilang tukang kebun hahah
      Tapi mungkin punya wajah pasaran jadi bisa menyerupai apapun

      Delete
  5. Sejenak, saya terdiam berpikir ulang tentang hal2 yang tertuliskan di sini. Satu sisi, saya merasa, memang kita harus legawa dengan ekspektasi orang lain tentang penilaian terhadap diri ini.

    Sekali lagi, sebuah cerita yang makin menguatkan, 'hidup seimbang; ada yang buruk, pasti ada yang baik'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya terkadang orang langsung saja menilai orang dari penampilan saja. Walau kadang banyak yang menilai salah tapi semua akan berubah saat mereka mengetahui dan mengerti tujuan kita

      Delete
  6. Aku bacanya sambil nyengir2 sendiri mas.. Wkwkwk
    Ya ampunn, sampe dikira copet, tukang kebun, preman, haisshhh.. Hhh
    Tampang multifungsi, ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalah dayaku kak, muka familiar gini kadang menyguntunhkan dan menyedihkan

      Delete
  7. Luar biasa Mas cerita-ceritanya, tapi jahad bener deh yang ngelapori copet. Tapi mungkin MAsnya ketawa-ketawa aja kali ya mengenangnya, hehe. Saya bacanya ikut dongkol :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang hanya bisa diam dan ketawa dalam hati kak. Ya mau gimana lagi, terkadang orang terlalu waspada dengan orang baru makanya begitu

      Delete
  8. Menarik banget mas. Memang begitu sih. Kita punya insting alami untuk menilai dr penampilan lebih dulu. Kalau sudah kenal lha baru ngerti ternyata isinya beda dengan yang disangkakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang itu sudah manusiawi kak. Jadi lebih sabar saat menghadapai momen seperti itu

      Delete

Powered by Blogger.