Memoar menolak lupa ranselusang 2017




Melintas jarak dan waktu, perjalananku selama tahun 2017 begitu berbeda dengan tahun sebelumnya. Mulai dari kejadian yang tak di inginkan hinga kejutan datang mengisi dan menjadi bumbu perjalanan yang ingin menyusuri Nusantara. Kali ini aku mencoba merangkai dan menyatukan keseluruhan cerita yang menurutku penting. Kemudian cerita ini aku bungkus dengan sebuah tittle Memoar menolak lupa ranselusang 2017.



Awal Januari 2017 Beradu Keyakinan Di Gunung Binaiya


Dimulai dari akhir Desember 2016 aku, Sena, dan Muklas yang tak sengaja menuju Ambon tanpa tau siapa yang akan kami tuju. Berbekal niat untuk mendaki Gunung Binaiya di Seram, Maluku. Beberapa keberuntungan terjadi hingga kami bisa mengikuti kegiatan tanam pohon dan penyaluran buku ke desa – desa pelosok di Seram bagian Tengah. Puncaknya, 8hari pertempuran raga, batin, dan jiwa di Binaiya. Bisa dibayangkan selama 8 hari berturut-turut selalu hujan.

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Selain itu diterpa badai beberapa kali selama pendakian, hingga hampir tersesat 2 kali membuat putut asa. Belum lagi kejadian mistis seperti di ganggu makhluk gaib yang menimpa teman teman perempuan menjadi pelengkap cerita. Selain itu mengalami kekurangan logistik akibat terlalu banyak menyimpan logistic di jalur pulang, menyebabkan beberapa hari mengatur makan tanpa ada nasi.

Kecap pun jadi penyelamat saat menghadapi hari – hari yang berat itu. Tapi semua terbayarkan dengan berhasil turun dengan selamat tanpa ada yang mengalami cidera dan hal yang lainnya. Kisah awal tahun dibuka dengan indah dengan kado Tahun Baru di Puncak Gunung Binaiya

Februari Mengawal Donasi Buku 1 Ton menuju Bima dan Sumba


Beberapa bulan di Ambon, saat Februari aku melanjutkan perjalanan menuju Surabaya untuk menjemput Buku. Hasil bantuan teman – teman untuk korban Banjir di Bima dan untuk adik – adik si Sumba. Sebelum aku cerita lagi, ini adalah pengalaman paling menegangkan dan luar biasa.


Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Sebab sekitar 16 dus buku berukuran besar dengan berat 1 Ton kubawa sendiri melewati jalur laut. Bukan sok kuat atau sombong, melainkan saat itu posisinya hanya aku yang mempunyai waktu kosong dalam menyuplai donasi. Sedangkan teman – teman yang lain seminggu setelahnya baru bisa.

Kenapa ga di paketin ? Waktu itu kami tidak memiliki biaya, semua berkat sumbangan sukarela dan beberapa kali kami mengumpulkan dana pribadi. Belum lagi saat di pelabuhan mengalami Over Baggage. Bagaimana tidak ? 1 ton masuk dalam bawaan 1 penumpang. Alhasil biaya yang harus kubayar sekitar Rp1.500.000 ah sial!!!. Jelas – jelas di kantongku hanya tersisa Rp50.000 saja.



Aku mulai memelas dan berorasi, sekitar 30 menit berdebat karena ini bantuan bencana mereka memberi keringanan. Sekitar Rp500.000 yang harus dibayar. Aku segera bernegosiasi dengan teman – teman. Pas sebelum kapal berangkat dana yang dibutuhkan kami dapatkan. Perjalanan kurang lebih 2 hari hingga aku sampai di Bima. Setengahnya berhasil di distribusikan di Bima, bertepatan teman – teman berhasil menyusulku. Setelah itu kami membawa sisa donasi buku menuju Sumba menggunakan Kapal Ferry dari Pelabuhan Sape menuju Pelabuhan Waikelo. Cerita bisa kalian baca disini Catatan bulan ke-17,Cerita dari Maluku Menuju Ntt

Melihat Acara Adat Pasola di Sumba untuk Tahun ke - 2 Berturut - Turut


Petualangan di Sumba pun begitu terasa sekali. Sebab saat itu adalah tahun ke-2 berturut – turut aku bisa menghadiri acara Adat Pasola. Namun di tahun ke 2 saat melihat acara Pasola berbeda cerita dan berbeda orang tentunya.

Bersama Arinta, Noval, Wicak, Hawary, Galuh dan tentunya Bersama om Aswar dan bang Mujis berkesempatan menemani kami. Namun kejadian kali cukup aman dan berbeda dengan tahun yang lalu. Kali ini mendapat pengalaman lain saat melihat acara adat Pasola di Lamboya.
Memoar menolak lupa ranselusang 2017



Alhamdulillah aku tidak banyak melihat insiden. Hanya di Lamboya sedikitInsiden pecah. Beberapa orang berkelahi, dan merambat keseluruh penonton yang membanjiri lapangan Lamboya. Lagi-lagi aku melihat kekisruhan akibat di picu oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Sehingga acara Pasola pun terpaksa di hentikan lebih dini.

Maret Kembali Menuju Lombok dan Rehat dari Perjalanan


Sekitar 1 bulan aku di Sumba, sudah cukup bagiku melepas kerinduan dengan tanah Humba. Aku kembali menuju Bima. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Lombok. Tak terlalu banyak aktivitasku. Hanya saja jika sudah bosan di Kota, aku lekas menuju desa Sembalun untuk menyepi dan menikmati suasana dingin kaki gunung. Begitu terus rutinitas yang kulakukan selama hampir 1 bulan, sebab cuaca juga sedang tidak bagus untuk melakukan aktivitas luar ruangan.

 April Pendakian Mendadak ke Gunung Rinjani


Hingga pendakian di buka saat awal April. Kebetulan sahabat dari Ambon datang dan aku pun berkesempatan menemaninya melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Semua serba mendadak, mulai tak adanya perlengkapan pendakian. Membuat aku harus memutar otak untuk mencari pinjaman bahkan ada juga yang menyewa.


Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Soal pendakian pun sedikit berbeda, kami berempat bang Rahmat, bang Nyonyo dan pacarnya melakukan pendakian saat malam hari. Aku mengerti, bahwa yang kami lakukan adalah hal yang tidak benar, namun aku hanya mengikuti apa yang di kehendaki, walau aku sudah cukup hafal, namun tetap waspada dan berhati - hati saat pendakian.

Meskipun pada akhirnya aku tidak menemani sampai puncak Karena kondisi fisik ku kurang baik. Bang Nyonyo dan pasangan berhasil dan turun kembali dengan selamat. Aku pun turut bahagia, kedatangan nya ke Lombok tidak sia - sia. cerita bisa kalian baca disini Gunung Rinjani ; Rumah Para Pendaki Ternodai

Mei Menarik Diri dari Keramaian


Begitu juga dengan hari - hariku di Bulan Mei, banyak kuhabiskan di Sembalun untuk mengasingkan diri dari kesesakan Kota. Setiap hari hanya bermalas – malasan. Membaca buku, menikmati kopi, dan mengintip para blogger yang kukagumi diam – diam. Namun di bulan Mei juga menjadi bulan terberat saat aku mulai mengingat perjalanan yang sudah kumulai sejak akhir 2015 mengalami titik jenuh karena kurangnya tantangan lagi di beberapa bulan terakhir.


Juni Jalan Menuju Pulang


Akhirnya setelah sekitar 2 tahun resign dan melakukan perjalanan, aku kembali ke Kutai kartanegara, Kalimantan Timur. Kepulanganku sebenarnya bukan untuk mengistirahatkan dari rasa sepi di jalan. Melainkan rindu yang menjangkitiku untuk menengoknya sejenak. Satu bulan penuh kuhabiskan hari – hariku untuk mengumpulkan puzzle kenangan yang telah lama berserakan di ingatan.

Sekaligus ingin menikmati Bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri di rumah. Benar – benar di luar dugaan, ternyata rindu tak mampu kusembunyikan jauh – jauh dari ingatan.  Sehingga aku bisa memaknai bahwa ada yang selalu membuatmu aman, nyaman, hingga memberi kedamaian lebih dari apapun.

Juli Pertama kalinya Mengikuti #FamTrip Pesona Indonesia dari Kemenpar Bersama Blogger Luar biasa


Rejeki tak terduga pun datang, aku kembali menuju Lombok untuk menjadi guide ke gunung atau teman – teman yang ingin berlibur ke Lombok. Baru 1 minggu di Lombok, Kejutan pun datang tanpa permisi. Melalui DM Instagram, Yuki menghubungiku dan menawariku untuk bergabung. cerita bisa baca disini Akhirnya aku bisa datang kembali saat Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) 2017

Aku sempat kaget dengan tawaran tersebut. mendapat tawaran untuk tergabung dalam acara Famtrip yang diadakan oleh Kemenpar bersama teman – teman blogger keren ? siapa yang mau menolak tawaran tersebut. Tak menyangka aku kembali lagi ke Kalimantan Timur secepat itu. Apalagi ketika acara aku bisa bertemu dengan Kak Griska yang selalu bersemangat dan ceria.


Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Pertama bertemu dengan Yuki sebelumnya hanya berteman melalui Instagram. Aku berterima kasih atas rekomendasi dari Yuki yang memilihku. Secara kan aku agak liar dan kurang terurus hahaha. Tapi berkat dia aku bisa merasakan pengalaman dan mendapat banyak ilmu dari kakak – kakak blogger yang mengisnpirasi banget. Thanks Yuki

Pertemuan pertamaku dengan Schode Ilham, orang yang ekspresif banget dan sering kali membuat suasana dari sepi tiba – tiba ceria kembali. Aku juga berterima kasih berkat dia bisa mengabadikan foto Ikan Pesut yang kini sudah sangat langka. Atau kalian bisa membaca cerita nya disini.

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Bertemu kembali Ashari Yudha setelah 1 tahun pertemuanku di Sumba dalam melihat prosesi festival Pasola 2016. Siapa yang tidak kenal dengan Yudha admin @catatanbackpacker dan seorang solo backpacker yang telah berhasil mengelilingi seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Banyak memberikan Informasi seputar wisata dan berbagi pengalaman nya ketika berpetualang di berbagai tempat indah yang ada di Indonesia.

Perkenalanku dengan bang Nicko, orang yang baik dan tak jarang dia tidak pelit ilmu yang sering kutanyakan. Jago sekali membuat video dan beberapa kali mengajariku tentang tehnik mengabil video menggunakan Handphone.

Pertemuan dengan Friska atau yang lebih di kenal cintadonat membuat jaringan pertemananku dengan teman di area Samarinda bertambah. Dulu yang hanya teman – teman dari Pecinta Alam sekarang bisa bertemu dan berbagi cerita dengan blogger asal Kalimantan Timur. Kemudian aku bisa mengetahui banyak lagi destinasi di Kaltim seperti tempat penangkaran hewan Orang Utan yang kini sering terganggu akibat orang – orang yang tak bertanggung jawab seperti kisah bujang dalam cerita ini.

Selain itu aku bertemu dengan Kak Leony yang begitu baik meminjam Kamera untuk kugunakan mengabadikan momen selama trip. Seperti sedang berkunjung ke Danau Semayang dan bisa melihat Kerbau Rawa. Ceritanya bisa di baca disin Mencari Ikan Pesut dan Kerbau Kalang di Sungai Mahakam dan danau melintang

Terima kasih juga dengan Mas Ain dan Mbak Nina yang telah sabar menemani dan mengikuti kemauan kami. Jangan pernah kapok jalan bareng aku ya :)


Agustus Pendakian ke Gunung Agung, Bali


Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Di penghujung bulan Agustus aku berkesempatan berkunjung ke Gunung Agung, Bali. Petualangan disana pun memberi cerita tersendiri. Mulai dari tertahan di pelabuhan karena salah membawa STNK motor, diterjang badai ketika pendakian, hingga hampir terenggut nyawaku karena monyet yang menunggu di puncak. cerita lengkapnya bisa kalian baca di sini Gemuruh Angin Cobaan saat Pendakian ke Gunung Agung 

September hingga Oktober Pendakian terbanyak ke Gunung Rinjani


September beberapa kali menemani beberapa teman mengunjungi Gunung Rinjani. Disitulah pertemuanku dengan beberapa teman dari Banjarmasin seperti Ucok, Razi, dan Obob. Selain bertemu kembali dengan Juplek yang waktu itu membantuku mendistribusikan Donasi Buku di Bima. Selain itu tahun ini adalah pendakian terbanyakku ke Gunung Rinjani.

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Banyangkan Seminggu sekali aku berangkat menemani teman untuk pendakian selama 4 sampai 5 hari. Entah aku sendiri tak mampu membayangkan setelah melewatinya. Sampai sempat berpikir, kenapa mereka tidak datang di waktu yang sama, sehingga aku bisa menemani mereka satu kali sekaligus tanpa harus berulang kali. Tapi dibalik pendakian beberapa kali itu aku mampu menemukan beberapa karakter berbeda. Sehingga aku bisa lebih sabar dalam menemani dan membuat mereka bisa menikmati pendakian.

Memoar menolak lupa ranselusang 2017



Sekaligus pendakian terlamaku di Gunung Rinjani selama kurang lebih 8 hari yang banyak kami habiskan waktu di Danau Segara Anak. Bersama bang Jeffry, Juplek dan Agus. Setiap hari hanya melakukan aktivitas mandi di air panas, memancing ikan di danau, dan bersosialisasi dengan para pendaki lainnya. Hari – hari dimana aku bisa benar merasakan hidupku seutuhnya selama 24 jam. Tanpa terganggu dengan internet dan bisa lebih dekat dengan orang yang ada di sekitarku.


November Kali ke-2 Mengikuti #FamTrip Pesona Indonesia ke Malang


Alhamdulillah ini pengalaman keduaku mengikuti acara FamTrip. Namun cerita ini sedikit berbeda, karena kali ini aku bertemu dengan banyak teman baru seperti Debumalam, Fahmi, Jo, Anggar, Ayak, dan Nana. Jalan bareng mereka sungguh seru dan banyak tertawa. Apalagi kejadian yang aku dikira tukang kebun di salah satu hotel. Pengalaman itu benar paling menarik dan bisa kalian baca ceritanya disini Solo Backpacker ; Kisah Nyata tentang kesialan dan Keberuntungan saat Perjalanan

Memoar menolak lupa ranselusang 2017



Keseruan pertama saat menikmati Offroad yang memacu adrenalin. Beberapa kali badanku terhantam pelindung mobil saat melintasi jalan berlubang dan kadang menukik turun kebawah. Tak jarang teriakan demi teriakan memecah heningnya hutan yang kami lintasi. Ceritanya bisa dibaca disini Menantang Adrenalin Offroad Kaliwatu

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Kemudian cerita menarik lainya ketika kami bisa menikmari rafting. Ada beberapa kejadian yang membuat gelak tawa saat melintasi jeram – jeram yang menantang. Seperti kejadian Anggar yang terjatuh dan beberapa kali meminum air sungai. Sontak gelak tawa tak terelakan dari kami. Ceritanya bisa dibaca disini Menikmati sensasi Rafting di Batu

Memoar menolak lupa ranselusang 2017



November Berkesempatan mengunjungi Ramang-Ramang Maros


Setelah dari Malang aku bertolak menuju Makassar. Alasan aku kesana tidak lain karena ingin berjumpa teman lama Adir yang beberapa bulan lalu ia menikah dan aku tak bisa hadir dalam acara kebahagiaan tersebut.

Beberapa bulan tak bertemu, kulihat dia begitu bahagia ketika melihat kondisi badan dan wajahnya yang lepas seperti tanpa beban. Sejurus dengan itu, aku dibawa berkunjung ke Ramang-ramang Maros yang sedari dulu ingin kulihat keindahanya.


Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Berbekal motor pinjaman, kami berangkat menuju Maros. Aku benar terkesima dengan keindahan Karst yang berdiri megah di sepanjang perjalanan menggunakan kapal menuju desa terakhir. Aku pun takjub dan terkesima dengan lanskap di Ramang – ramang Maros. Benar – benar tenang dan hening. Ceritanya bisa dibaca disini Mengintip Pesona Wisata Ramang - Ramang Maros

Desember Mengenal lebih dekat Gorontalo


Setelah dari Makassar perjalanan kulanjutkan menuju Gorontalo. Keberuntungan pun terjadi ketika tak sengaja bertemu dengan om Biztrock di dalam mobil Damri yang mengantarkanku menuju kota Gorontalo. Beliau juga memberikanku tumpangan menginap selama di Gorontalo yang hampir 1 bulan lamanya disana.

Gorontalo banyak mengenalkanku dengan banyak teman baru, mulai dari Yusni, bang Anto, bang Steve, bang Imen, bang Nofal, bang Ari, bang Rifon dan masih banyak lagi yang lainya. Banyak cerita yang mengisi mulai dari berkesempatan melihat perayaan MaulidNabi di Tanjung Kramat, cerita bisa dibaca disini Perkenalan Dengan Gorontalo

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Kemudian berkesempatan mengunjugi pulau Diyonumo bersama bang Bolangdekil dan Reska tanpa ada rencana. Benar pulau yang indah dan berkesempatan berkunjung 2 kali berturut – turut. Pulau yang selalu membuat rindu untuk mengunjunginya. Cerita bisa baca disini Mengintip Keindahan Pulau Diyonumo di Gorontalo



Selain itu bisa melihat keindahan Taman Laut  Olele. Salah satu tempat yang sudah ingin ku datangi akhirnya tersampaikan. Benar diluar ekspektasiku keindahan bawah laut Olele. Ternyata keindahan nya lebih indah dari sekedar foto yang pernah aku liat. Cerita bisa kalian baca disini Menikmati Keindahan Taman Laut Olele

Memoar menolak lupa ranselusang 2017


Seperti itulah kenanganku dalam mengawal perjalananku di Tahun 2017 yang menurutku sangat saying dilupakan. Aku tak mampu menjelaskan begitu banyak dan detail, tapi aku ingin kalian bisa memahami tentang perjalanan mencoba mengelili Indonesia ini yang sudah kumulai sejak akhir Tahun 2015 yang lalu. Aku harap cerita ini mampu menyimpan setiap kejadian dan kenanganku. Begitu juga dengan kalian yang bisa mengambil nilai positif dari kejadian yang pernah kualami.



Tulisan ini di buat selama perjalanan menuju Pulau Sumba hingga tiba di Waikabubak, Sumba Barat. Sekaligus Tahun ke-3 ku berturut-turut menghadiri acara Festival adat Pasola.

Kalau kalian sendiri pengalaman apa yang paling menarik di Tahun 2017 ? bagi dong ceritanya di kolom komentar.

Salam hangat dari Ransel dan Pemuda yang semakin Usang dimakan waktu dan jaman.

Tabik!

51 comments:

  1. Memoar yang menyenangkan mas, seru banget petualangannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah masih diberi kesehatan untuk berbagi cerita, semoga kita bisa saling berbagi pengalaman
      terima kasih

      Delete
    2. Kapan saya bisa jalan-jalan ya, bosan hanya duduk di depan komputer terus :)

      Delete
  2. Aih.. keren banget pengalamannya mas.
    Sll ingin bisa menjelajah sumba dan gunung rinjani.
    Bikin mupeng.
    Salam kenal ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha alhamdulillah kalau dibilang keren, perasaan masih biasa biasa saja. ayok kak ke sumba atau ke rinjani, siapa tau aku bisa menemani :)
      salam kenal ya kak

      Delete
  3. Wuahhhh, subhanallah, keren banget pengalamannya, anak jalan2 banget ya, pake ngintip blogger yang disukai diam2, kayag cinta dalam diam, wkwk,
    Engga punya pengalaman seluarbiasa nih. Kami anak lumayan, jalan2 cuma waktu lebaran.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah kak bisa merasakan hal hal yang diluar dugaan. ah masih biasa biasa juga kok kak, masih butuh ilmu dan info. sama juga aku anak lumayan
      salam kenal kak, makasih sudah berkunjung :)

      Delete
  4. Seru bangeet tripnya..hihi overload 1 ton..aku mupeng ke Maros...semoga sehat selalu dan ngetrip lebih seru yaa di 2018..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak 1 ton = 16 kardus besar kita angkat naik turun kapal gempor, mana sempet dikira tukang jualan buku, padahal kan untuk donasi.
      semoga bisa segera jalan jalan ke maros ya kak.amin
      amin, makasih kak doanya
      terima kasih sudah membaca dan berkunjung di blog ini

      Delete
  5. Ya ampun hidupmu berfaedah banget yak.. Hahaha.. Biasalah #sawangsinawang.. Hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. berfaedah gimana kak? *mikir keras :D
      nah kasih kode sawang sinawang dong hahaha

      Delete
  6. Jadi volunteer dimana mas? Kok sepertinya banyak banget agenda buat bagi-bagi buku ke daerah pelosok? SALUT!

    Wissss, famtrip? Pengen banget itu saya. Diundang buat ikutan jalan-jalan gratis keliling Indonesia. Biasanya berapa hari kalau ada event famtrip gitu mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. beberapa kali di Bima, sumba, seram, lombok, ternate mas. alhamdulillah masih dikasih kesempatan berkumpul dan belajar bersama adik adik mas. 4 sampai 5 hari mas famtrip yang pernah aku ikutin

      Delete
  7. pengalamann yang seru sekali mas....hihii...jangan sampai ranselnya beneran usang...teruslah travelling :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah seru kak, kalo ranselnysa selalu baru, hanya saja manusianya yang usang
      terima kasih sudah berkunjung

      Delete
  8. Suka dunia petualangan sepertinya admin yang satu ini, sudah rela menyuplai banyak buku ditambah tenaganya yang super sebab sudah menaklukan Gunung, pokoke super sekali kegiatannya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, saya juga bukan siapa siapa bang. hanya pengangguran biasa. semoga bisa terus berbagi dengan orang yang membutuhkan saja

      Delete
  9. Banyak juga tripmu tahun lalu mas, semoga tahun ini makin banyak trip ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin semoga bisa semakin bertambah tripnya ya
      salam kenal

      Delete
  10. Wah.. Traveller dewa euy...
    Itu keren bener pas tahun barunan di Atap Maluku .. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya masih belajar dalam dunia perjalanan kak, di Binaiya memang banyak kejutan sekaligus tantangan

      Delete
  11. Salut! Bangga! MasyaAllah :)

    Bukan sekedar hobi atau 'mencari sesuatu' pada saat melakukan perjalanan, tapi ada pula kegiatan sosial yang dilaksanakan. Saya beneran salut dan bangga mas. Jadi loyalitas terhadap Indonesia gak semerta tentang keindahan alam, tapi juga masyarakatnya.

    Sebenernya saya juga ingin sekali, dalam melakukan perjalanan itu gak hanya berujung menghiasi blog. Tapi juga ada kesan di tempat yang habis dikunjungi. Karena domisili saya di Malang, inginnya punya komunitas yang peduli kebersihan tempat wisata, terutama pantai. Karena nyatanya, wah.....masih banyak masyarakat yang belum sadar. Yah begitulah~

    Semoga, kita selalu jadi bisa manusia yang bermanfaat untuk orang lain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya semua orang mempunyai cara menikmati perjalanan nya masing masing kak. kalo tentang penggiat peduli kebersihan setiap kota ada kok, tinggal kakak mencari info komunitasnya aja di sosial media

      Delete
  12. setahun yang panjang, melelahkan namun sangat menyenangkan ya mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. panjang sekali dan penuh lika liku perjalanan penuh kejutan

      Delete
  13. Rangkaian kisah di dunia nyata yang tertuang indah di rumah maya luarbiasa menaklukkan pertualangan yang penuh tantangan membakar semangat untuk terus berbagi
    salam kenal bos

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah bisa merasakan petualangan hidup seperti ini kak
      salam kenal

      Delete
  14. Keren, nih, Mas. Memoar ini bisa dibuka kapan aja selagi kangen ya, inilah salah satu pentingnya blog. Hal ini tentu sangat berharga banget dimasa yang akan datang. Bisa juga anak cucunya nanti suatu saat lihat, kan keren.

    Semoga sehat selalu, Mas. Biar terus bisa menjelajahi indahnya alam ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa saya diajaklah biar tahu pulau luar , jangan hanya jawa dan jawa selamanya.

      Delete
    2. alhamdulillah semua kenangan bisa terekam dan tersimpan baik dalam rumah berjalan ini. Seandainya merindu dengan perjalanan bisa berkunjung mengingat segala kejadian nya

      Delete
  15. wuaa, seru banget mas. sha mentok2 paling masih jalan di bandung aja. pengen banget bisa jalan minimal setiap bulan kaya gini :D

    keep inspiring ya, kalo famtrip ajak2 dong hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah biasa saja kak :)
      pasti bisa juga menjelajah di negeri yang indah ini

      ini famtrip juga diajak hehe

      Delete
  16. aaah, senang sekali menyimak napak tilas perjalananmu di tahun 2017 Jooo.
    senang juga bisa bertemu denganmu yang tadinya hanya lewat sosmed.

    eh eh memangnya Pasola sudah mulai Februari? bukannya Maret, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo Yuki!!! senang sekali bisa kenal dengan kalian semua. banyak pelajaran dan ilmu yang bisa kudapat.
      ayo maret ke Pasola

      Delete
  17. Kadang kepengiiiin banget bisa full jadwal traveling tiap bulan mas :D. Apa daya krn jatah cuti dr kantor terbatas, jadinya ga bisa sering2 begitu jalan2nya :(.. Seru banget flashback travelingmu..

    Kalo aku mah, yg paling berkesan pas bisa menjajal rollercoaster tercuram no2 di dunia, takabisha, di jepang february 2017 kemarin :D. Udh lama bgt pgn naik itu.. Sayangnya rollercoaster yg terpanjang no 1 , steel dragon, dan tercepat no 2, dodonpa sedang maintenance pas aku dtg. Jd artinya tahun depan hrs ke jepang lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah kamu kak selalu bermain dengan dunia yang extreme. Belum tentu aku berani seperti dirimu

      Delete
  18. What a fun and beautifl Journey

    Kok aku mono banget ya gitu gitu aja huhu
    Pengeeeeennnn kayak ginii jugaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo dong kak, ga flat banget kok, buktinya sering jalan kemana mana juga kan hehe

      Delete
  19. Saya tertarik dengan cerita donasi bukunya. Harga buku kalau dihitung-hitung tidak jauh berbeda dengan biaya paket ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. harga ekspedisi yang lebih mahal dari buku. Sedihnya terkadang kita dicurigai sebagai penjual buku

      Delete
  20. salut banget saya sama semangatnya masyaAllah :)
    salam kenal ya bang, maafkan baru bisa mampir balik karena ngisi blog sendiri pun sedang rada kesusahan :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan kak :)
      Salam kenal
      semangat kak buat terus berbagi informasi ya :)

      Delete
  21. Keren memoarnya,pantas kalau disimpan dan dibagikan di blog. Bisa untuk obat rindu suatu hari nanti dan bisa ditunjukkan pada generasi penerusnya nanti. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, semoga pengalaman ini bisa bermanfaat untuk semuanya

      Delete
  22. Waah keren sudah melanglang buana kemana-mana...semoga selalu diberikan kesehatan sehingga bisa terus berkarya dan melanglang buana...

    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh masih disini sini saja kak
      amin, termia kasih. semoga bisa berkelana juga kak
      salam kenal

      Delete
  23. Kalo di lihat Foto foto nya jadi ingat zaman Old..keren Informasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi inget perjalanan nya dulu ya? hehe selamat mengenang kak
      terima kasih sudah berkunjung

      Delete
  24. Tahun yang luar biasa, Mas. Semoga tahun ini bisa menjelajah lebih banyak tempat lagi.
    Btw saya yang tinggal di Sulsel saja belum pernah ke Ramang-ramang. Hiks :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah tahun dimana banyak pelajaran yang didapat kak. amin
      wah ayo dong sempetin main ke ramang ramang, mumpung masih dekat dengan rumah

      Delete
  25. mupeng banget kalau bisa ke sumba :( aku pengen menikmati aktivitas bersama warga.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.