Mengintip Keindahan Pulau Diyonumo di Gorontalo

Malam semakin membawa kami dalam obrolan santai dan semakin serius. Entah sudah berapa batang rokok kami tabur kedalam asbak yang menjadi teman melewatkan kesunyian malam di Kota Gorontalo.

Cerita tentang sejarah sepertinya sudah hamper habis kami bahas. Tanpa menunggu komando, pembahasan beralih tentang tempat wisata yang wajib di kunjungi. Kebetulan malam itu baru datang bang @bolangdekil dari Jakarta yang kebetulan sedang ada tugas di Gorontalo. Kedatangannya pun di ikuti oleh bang Arigato, Yusni, Reska. Sedangkan aku sudah sedari sore Bersama bang Steve, dan bang Imen.



Berhubung bang @bolangdekil mempunyai sehari lagi di Gorontalo, ia meminta rekomendasi tempat wisata mana yang harus dikunjungi. Semua saling memberi rekomendasi tempat, dan menjelaskan lokasi, akses, dan keindahan alamnya. Walau dibawa dalam obrolan santai, pemilihan tempat yang akan di kunjungi memunculkan debat kecil yang di susul tawa memecah hening malam.



Hingga sepertiga malam, Destinasi yang telah disetujui adalah Pulau Diyonumo. Itu pun setelah mempertimbangkan jarak, kemudian kondisi yang sedang tidak mendukung dengan intensitas hujan yang masih tinggi.



Bang Bolang pun menawariku untuk ikut, setelah berpikir dan tidak ada kegiatan besok, aku menyetujui ajakanya.  Sedangkan Bang Imen, Yusni, dan bang Ari sedang ada kegiatan di Pulau Cinta, sehingga tidak dapat menemani kapi pergi ke pulau Diyonumo di Gorontalo Utara.


Hari semakin pagi, Kami segera pulang untuk istirahat karena takut kesiangan karena begadang dan membuat rencana hanya jadi wacana belaka.



Aku berpikir jika tertidur, maka aku akan lupa dengan waktu dan melewatkan kesempatan mengunjungi Pulau Diyonumo.  Tapi apa daya, aku kalah dengan mata yang semakin berat menyembunyikan kedua mataku ke dalam mimpi.



Jam 12 siang Handphoneku berdering kencang, mataku masih terasa berat saat meraih dan melihat siapa yang menghubungiku. Ternyata bang Reska menelpon, 15 menit mereka akan sampai di Limboto. Sontak aku langsung duduk dan menjawab akan bersiap – siap. Hampir saja aku kelolosan waktu dan gagal. Segera aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.



Bersamaan dengan selesai aku merapikan diri dan mempersiapkan barang, Handphoneku sudah berbunyi berkali – kali. Ternyata mereka sudah ada di depan rumah bang Anto. Aku langsung menjawab untuk menunggu sebentar, karena aku akan ijin kepada orang rumah dimana tempat aku menumpang selama berada di Gorontalo.



Beberapa menit kemudian, aku sudah dalam mobil yang disewa oleh bang Bolangdekil. Mobil segera melesak mengejar waktu yang sedikit tersisa untuk kami. Dari Limboto perjalanan yang kami tuju adalah Pulau Diyonumo. Berlokasi di Desa Deme II, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara. Waktu yang kami tempuh sekitar 2 jam lebih dengan jarak kurang lebih 120Km Jarak dari kota Gorontalo.



Perjalanan melintasi langskap hijau, sesekali melintasi ladang warga, meliuk – liuk mengikuti jalan membelah perbukitan, dan jejeran pohon Kelapa yang banyak mendominasi. Setelah melintasi 2 tikungan tajam, sekitar 10Km kami tiba di tempat penyebrangan. Di kejauhan terlihat jelas Pulau Diyonumo tegak ditengah laut.

penyebrangan ke Pulau Diyonumo




Berkat pengalaman bang Reska yang pernah ke Diyonumo, ia pun langsung mencari pemilik perahu. Di sekitar Pulau Diyonumo tidak ada fasilitas penyebrangan umum. Melainkan menyebrang menggunakan kapal warga yang mata pencariaannya sebagai Nelayan. Biaya untuk menyebrang adalah Rp20.000/orang untuk PP ke Pulau Diyonumo.



Jarak tidak terlalu jauh membuat perjalanan menyebrang hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Dari kejauhan gradasi air biru gelap berubah menjadi tosca saat kapal semakin dekat dengan bibir pantai. Ketika kakiku turun dan menginjak pasir Pulau Diyonumo untuk pertama kali, pasir putih lembut memberi ucapan selamat datang kepadaku. Air yang begitu jernih di sektar pulau benar menentramkan.



Kemudian kualihkan perhatian, pandangan kusapu ke sekitar pulau. Terlihat pohon kelapa mendominasi pulau. Disela – sela terdapat beberapa bangungan menyerupai tempat berjualan warga namun sedang tutup karena siang itu hanya kami yang sedang mengunjungi pulau Diyonumo. Sedangkan di tengah – tengah pulau terlihat sebuah bukit yang di selimuti ilalang berwarna hijau segar.



Aku yang terlalu terbawa suasana pun ingin menikmati lebih lagi keindahan Pulau Diyonumo. Kami pun bergegas menuju jalan ke atas pulau. Jalan yang ada hanyalah tangga – tanga kecil dari tanah. Sepertinya warga yang membuat untuk memudahkan pengunjung pergi ke atas. Di bagian kana nada beberapa bambu menjadi pengaman sekaligus pegangan ketika berjalan.



Kondisi jalan pun cukup terjal, sudut kemiringan nya lumayan menguras tenaga, meskipun tidak terlalu tinggi, tapi mampu membuat mengeluarkan keringat. Setelah sampai diatas, ku hela nafas dan menghirup udara segar dari laut.

lanskap dari atas Pulau




Semilir angin, nyanyian ranting, mampu menghilangkan rasa penat ketika menaiki bukit. Ku kira perjalanan sudah berakhir, ternyata kami harus berjalan lagi ke ujung untuk menuju ke bagian tertinggi di pulau. Tak terlalu jauh, sekitar 3 menit dengan kondisi landau dan disuguhkan pemandangan dari ketinggian membuat siapapun akan melupakan jalan tanah yang cukup licin.



Akhirnya kami sampai di atas bukit yang berada di tengah – tengah pulau. Nafas kami saling memburu, seketika ku lemparkan badanku ke atas tanah untuk istirahat sejenak. Sedangkan bang Bolangdekil dan Reska berjalan keliling sembari mengabadikan setiap sudut Pulau Diyonumo yang indah ini.

Bang @bolangdekil dan Reska 




Aku hanya mengeluarkan sebotol air mineral, memutar musik  dari We Lost The Sea dan perlahan kupejamkan mata. Sebab, suasana dan iring – iringan lagu yang cocok dengan momen menjelang sore itu. Tak ingin terhanyut dengan suasana, aku segera bangkit dan menghampiri mereka yang ada di sisi balik pulau.




Ternyata kondisi di balik pulau pun sangat indah, seperti tidak pernah di jamah oleh manusia karena sangat bersih dan terlihat menentramkan jiwa. Kami pun sempat bergantian mengabadikan momen di sisi balik pulau. Merasa sudah cukup banyak foto, kami segera kembali ke posisi semula untuk menikmati sunset yang bersembunyi diantara barisan bukit di seberang.

menjadi duta iklan shampoo

Kami bertiga duduk menghadap matahari dengan bersyukur mendapat kesempatan melihat keindahan Pulau Diyonumo dalam kondisi cerah. Tak terasa waktu cepat berlalu memberi isyarat kepada kami. Diawali dengan hembusan angina yang berubah dingin dan bersamaan matahari yang meluncur bebas kebalik bukit dengan cepat. 

Menandakan kami harus segera pamit dan meninggalkan pulau. Kami langsung berjalan menuruni bukit dan menuju bibir pantai untuk menyebrang kembali. Menurutku Pulau Diyonumo adalah salah satu tempat indah yang wajib di kunjungi jika berlibur ke Gorontalo.



Tips Jika Berkunjung ke Pulau Diyonumo

  • Bawalah bekal dari rumah atau membeli di warung sebelum ke tempat penyebrangan. Karena warung disana tidak selalu buka, hanya pada saat weekend atau hari libur saja. 
  • Jika ingin menyebrang, carilah dan bertanya kepada warga sekitar, sebab tidak semua warga yang melayani sewa kapal. 
  •  Usahakan datang tidak akhir pekan atau hari libur, Sebab tingkat keramaian pulau Diyonumo hanya pada saat hari – hari tertentu. 
  • Jika Ingin Camping, cobalah untuk bertanya kepada warga, sepertinya bisa. Tapi disana belum ada air tawar untuk membilas badan atau untuk di minum. Usahakan membawa air dari darat sesuai kebutuhan.

Seperti itulah cerita pengalamanku mengunjungi dan melihat keindahan pulau Diyonumo di Gorontalo Utara. Semoga tulisan ini bermanfaat jika ada tips atau sesuatu yang belum sempat kutuliskan, mohon tinggalkan pesan di kolom komentar. 

Tabik 

12 comments:

  1. Salam hangat mas, Semoga sukses jadi duta iklan samponya. hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenak juga mas, makasih sudah mau mampir dan mebaca
      Semoga saja bisa bersanding dengan mbak anggun dan raline shah hahah

      Delete
  2. Halo...mas :) Salam kenal yach... Wah, ternyata untuk menyeberang ke Pulau Diyonumo PP per orang dikenakan tarif Rp 20.000. Lumayan lah murah juga daripada berenang hihihihihi. Dari Kota Gorontalo ke sana ternyata yaa...lumayan juga ya 2 jam. Tapi terobati dengan bisa melihat pemandangan ciptaan-Nya yang luar biasa indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga kak :)
      Iya perjalanan lumayan jauh dari kota gorontalo menuju Gorut(gorontalo utara) tapi menurutku perjalanan selama 2 jam tak akan bodan dengan lanskap alam yang begitu indah.

      Iya biaya untuk menyebrang murah kak, ksrena belum tersedia fasilitas widata yang dikelola pemerintah. Sealin itu kapal menggunakan milik warga, hal itu bisa membantu perekonomian warga sekitar akan wisata diyonumo :)

      Delete
  3. wah salfok sama "menjadi duta sampo" saingannya mba anggun :D

    mantap ih keren banget viewnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awas mbak jangan salah fokus entar jatuh hahaha
      Iya di diyonumo salah satu tempat indah dan paling wajib di kunjungi jika ke gorontalo

      Delete
  4. Wow, petualangan banget kalau mau ke sini ya. Pemandangannya keren banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pemandangan yang disajikan indah sekali kak, kapan kapan kalo main ke gorontalo wajib datang ke pulau ini ya :)

      Delete
  5. Jos banget panorama laut dari atas bukitnya..
    Tapi adoh banget jaraknya.. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya keren bang, kalo dari jarak deket ah, masih bisa naik pesawat kan? hehhe

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.