Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat

Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat

Seminggu sudah langit gelap tak bercahaya, tak ada celah sedikit pun untuk menerangi tahah Marapu ini. Tiada yang menyangka aku bisa rutin berkunjung ke Sumba dalam kurun waktu 3 tahun berturut -  turut. Apalagi selalu di awali di bulan yang sama setiap tahun nya. Tentunya kedatanganku bukan tanpa alasan, kecuali bertepatan dengan Festival adat Pasola mengawali petualanganku.

Cerita kali ini seperti kisah waktu pertama kali aku melihat langsung Pasola. Namun bedanya hanya ada 2 orang pemeran dalam keseruan. Kedua sosok yang mengisi cerita dengan berbagai kejutan. Perjalan pun di mulai setelah aku selesai menemani teman – teman menjelajah Sumba. Aku mendapat pesan singkat dari uda Guri. Ia mengetahui aku Sedang di Sumba dan berencana mengajakku untuk menonton Pasola kembali.

Semua sudah kami sepakati akan berangkat bersama dan aku menunggu di Sumba barat hingga ia datang ke tempat kediaman saudara angkat kami. Hari – hari pun cepat berlalu, sore sehari sebelum acara, bang Guri datang dengan 2 ransel yang menyembunyikan badan nya. Namun sosok yang dahulu kini telah berubah, rambut pendek, rapi, bertopi, dan tentunya kini kondisi berbalik. Aku yang tetap acak -  acakan dan berpenampilan layaknya preman.

Berambut gondong, baju ala kadarnya, dan seperti biasa, kumis panjang yang melekat membuat siapa saja mudah mengingatnya. Ucapan selamat datang mengawali obrolan kami. Mungkin, ia sudah 2 tahun tidak menginjakkan kaki di Sumba setelah kedatangan nya dulu pertama bersamaku yang berangkat dari Labuan Bajo.

Sehari sebelum acara di gelar, kami menyempatkan memungut beberapa kenangan di sekitar kota Waikabubak. Terutama ketika berkunjung ke Kampung Tarung untuk melihat kondisi rumah warga setelah terbakar. Tentunya ajang bertatap muka dan bertegur sapa, saling melempar senyum kemudian berbagi cerita.

Perbincangan serta kegiatan menghabiskan sore bersama anak – anak menjadi penutup. Hari itu di lepas dengan guratan jingga senja yang terlihat dari balik perbukitan nan jauh disana.

Lantas kami segera beranjak untuk menarik diri dan kembali pulang ke tempat kediaman bang Mujis dan bang Aswar. Saat dirumah pun kami mulai bercerita tentang Pasola Lamboya yang akan kami hadiri esok hari.

Berbekal pengalaman menghadiri acara Adat pasola selama 2 Tahun berturut – turut, aku mulai terbiasa dengan suasana nya. Mulai dari Pasola di Sumba Barat Daya seperti Kodi, Wainyapu, Sumba Barat seperti di Lamboya, dan Wanukaka. Belum lagi seperti ritual di hari sebelum Pasola Wanukaka di gelar seperti Pajura ( tinju traditional di Pantai pada malam hari ) Pasola Pantai telah ku saksikan. Begitu terasa Aura berbeda, begitu khusyuk nan unik.

Obrolan terus berlanjut jingga malam semakin larut, seperti tiada kata untuk menyudahinya. Bersama bang Aswar, bang Guri, kami asyik mengawal gelap malam dengan secangkir kopi jahe Sumba. Pada akhirnya setelah seperempat malam kami segera beristirahat, karena besok aku dan bang Guri akan berangkat sepagi mungkin.

Matahari masih malu – malu muncul ke permukaan, namun di rumah sudah sibuk. Beberapa kali terdengar dari balik pintu memanggil namaku untuk segera bangun. Mataku masih terasa berat dan badanku cukup sulit berdiri. Doyong dan melangkah pelan, aku segera menuju kamar mandi.

Sekejap badanku langsung segar saat air dingin melapisi setiap jengkal kulit, dan aku menemukan kesadaran serta bergegas untuk bersiap berangkat. Pun bang Guri telah siap dengan mengeluarkan beberapa peralatan yang akan kami bawa. Bersyukur kami mendapat pinjaman motor trail milik bang Mujis. Perjalanan kali ini semakin di mudahkan saja, batinku dalam hati.

Suara bising knalpot menandakan kami telah siap untuk menuju lapangan Pasola. Kali ini bang Guri yang berada di joki sekaligus ia ingin mengingat kembali jalanan dengan kenangan beberapa waktu lalu. Sedangkan aku, berada dibelakang bersama beberapa alat perang seperti Ransel berisi Drone dan beberapa perlengkapan kamera.

Usai berpamitan dengan orang di rumah, motor kami segera keluar dan melesat membelah pagi yang menyisakan kabut tipis menggantung diantara hutan. Dari arah kota Waikabubak tidak terlihat orang yang ingin menuju lapangan Pasola. Kami begitu santai menikmati perjalanan, hingga di dekat persimpangan Wanukaka dan Lamboya, baru lah terlihat beberapa kuda yang di tunggangi oleh pemiliknya dengan balutan hiasan yang menandakan mereka turut memeriahkan Pasola Lamboya.


Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Jalanan semakin menyempit, berkelok, dan dari aspal mulus sedikit demi sedikit mulai rusak dan bergelombang. Begitu juga dengan orang – orang yang mulai terlihat berjalan bahkan menaiki kendaraan. Semua berbondong – bondong menuju satu tujuan. Dari lansia hingga balita pun tak ketinggalan ingin menyemarakan pesta masyarakat Sumba.

Semakin dekat dengan lokasi Pasola, kecepatan motor kami mulai pelan, serta nyaris tak bisa bergerak. Di saat seperti inilah kami bisa melihat berbagai elemen masyarakat hadir untuk menyasikan Pasola. Begitu juga dengan beberapa anggota keamanan seperti Polisi, Satpol PP dan beberapa petugas lainya sudah di sibukan dengan kemacetan jalan.



Bang Guri dengan mahir mengendarai motor menghindari motor dan mobil yang parkir di badan jalan. Kami mengawasi lokasi paling aman untuk menyimpan motor pinjaman agar tidak menjadi imbas akibat kekacauan yang biasanya terjadi ketika acara mulai memanas.



Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Kemudian ada salah satu rumah warga yang berada di ujung, memperbolehkan kami menyimpan motor di pekarangan rumahnya. Perasaan kami lega setelah mendapatkan tempat cukup aman. Dari kejauhan terlihat manusia telah membanjiri bagian luar lapangan. Mungkin ribuan yang hadir. Benar – benar suasana berbeda seperti hari biasa yang kadang sepi dan sangat jarang sekali terlihat.

Ratusan pasang kaki berjalan beriringan dan mencari tempat terbaik untuk melihat lebih dekat para penunggang kuda Pasola. Kami lebih memilih menuju bagian Timur, karena lokasi tersebut lebih luas dan tinggi sekaligus menjadi lokasi favoritku ketika menonton pasola Lamboya. Berbagai macam warna kuda, hiasan, serta dari berbagai daerah terlihat mengelilingi lapangan.

Tak jarang anak kecil pun ikut andil membawa kuda peliharaan nya. Suara lonceng di leher kuda saling bersahutan, nyanyian – nyanyian dari beberapa kubu telah berkumandang. Nampaknya hari ini Tuhan menginjinkan Pasola di gelar dalam keadaan cerah.

Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Setelah sambutan dari Bupati dan di teruskan oleh Rato atau ketua adat, terlihat kuda dan penunggang nya mulai berlarian melakukan pemanasan. Membawa lembing serta meneriakan semangat untuk segera memulai pertempruan.

Matahari semakin naik begitu juga dengan terik nya tak mampu di halau. Para penunggang kuda Pasola pun kian memadati lapangan. Seperti biasa, jika Pasola Lamboya ada 4 daerah yang memeriahkan acara. Posisinya terbagi 2 di bagian Barat 2kubu dekat tribun dan 2 lagi di bagian timur.

Melihat para penunggang kuda Pasola sudah mulai berbaris dan melakukan pemanasan, kami segera mendekat di pinggir lapangan. Kondisi barisan tumpang tindih dengan para penonton lainya mengingatkanku saat momen Pasola pertamaku di Kodi yang hampir membuatku binasa.


Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Teriak demi teriakan saling bersahutan, kuda berlari beriringan, para penunggang mulai mengangkat lembing dan telah bersiap untuk bertempur. Tanpa ada aba – aba, beberapa gerombol kuda di hadapanku mulai maju bersamaan. Begitu pula dari arah sebaliknya, para penunggang kuda tiba – tiba keluar dengan kecepatan tinggi. Sekejap lembing di lepaskan tepat mengarah lawan.

Adegan saling serang dan tangkis menjadi aktraktif berkat keahlian dari masing – masing penunggang kuda Pasola. Ada momen menajubkan saat 2 kuda saling berhadapan dengan jarak dekat. Para penunggang saling melempar lembing, kemudian salah satu penunggang terpaksa turun demi menghindari lembing yang hampir mengenai kepalanya.

Aku pun terperangah dan melupakan untuk mengabadikan nya. Lebih baik aku pandang puas – puas momen langka seperti ini. Kondisi di dalam lapangan kian memanas, baik dari kubu yang di bagian barat maupun di bagian timur. Semua saling menjual beli serangan di bawah sengatan matahari yang dapat menambah tensi pertempuran kian meningkat.

Momen seperti ini membuat bang Guri antusias dan ingin segera menerbangkan Drone nya untuk merekam momen keriuhan Pasola Lamboya dari atas. Segera kuberikan ransel berisi Drone dan ia mulai merangkainya. Setelah selesai, kini giliranku membawa kamera dan bang Guri berjalan jauh ke belakang untuk menerbangan Drone nya.

Aku mencoba berjalan dan mencari celah dan menemukan sudut pandang yang bagus untuk beberapa momen yang akan ku abadikan. Tak mendapat celah sedikit pun, hingga aku rela merangkak dan mencari celah dari sela – sela kaki penonton yang berdesakan di bagian depan.  Bersamaan pertunjukan di lapangan kian memanas aku mencoba membidik beberapa gambar. Tiba – tiba ada salah satu penunggang kuda yang terjatuh dan ketika di tanah mendapat serangan lembing. Sontak membuat penonton dari para penunggang lain nya geram.


Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Akibat itulah kericuhan tersulut dan membuat para penonton bersembur di bagian Timur. hampir saja kamera terlempar dan badanku tersungkur akibat ada pertikaian kecil. Tangan kiriku memeluk kamera begitu erat dan menyembunyikan nya dari balik badanku. Ah sial! Jangan sampai terjadi ricuh lagi. Rasa jengkel ku ucapkan saja dalam hati. Syukur keributan tidak berjalan lama dan bisa di redam.


Tak lama kemudian setelah berisitirahat sejenak dan meredam emosi para penonton dan para penunggang kuda Pasola, akhirnya pertempuran di gelar kembali. Di bawah terik matahari begitu menyiksa kepala dan seluruh lapisan kulit mampu menyulut amarah siapapun. Melihat kondisi yang mulai tak kondusif, bang Guri menurunkan Drone nya. Kemdudian kami bertukar peralatan kembali, namun kini kami menyebar. Aku berjalan di dekat mobil Brimob dan bang Guri berkeliling untuk mencari momen dari sudut yang lain.

Kulihat jam sudah menunjukan tepat di angka 12, pantas saja semua mudah tersulut emosinya meskipun itu masalah sepele. Tak ingin terjebak dalam keributan lagi, aku mulai menjaga jarak dan lebih berhati – hati kali ini.

Kali ini di bagian Barat lima lawan lima, para penunggang kuda Pasola saling bertempur jarak dekat. Lembing sili berganti berterbangan dengan kecepatan tinggi. Beberapa ada yang bisa menangkis. Namun ada kejadian yang membuat pertempuran semakin memanas. Salah satu penunggang kuda Pasola terjatuh setelah lembing telak mengenai badan nya.

Badan nya pun langsung ambruk dan terdiam, kejadian itu sempat membuat seluruh penonton kaget dan dari kubu sebelah meneriakin nya. Para petugas medis langsung menghampiri dan segera menolongnya. Aku pun hanya bisa terdiam dan kaget melihat momen seperti itu. Sebab, pengalaman melihat pasola adalah hal yang menegangkan.

Biasanya lembing tumpul yang di pakai acara Pasola bisa menancap di badan para penunggang kuda. Para penunggang mempunyai akurasi dan tenaga luar biasa. Sehingga lembing tumpul pun bisa membahayakan penunggang lainya bahkan penonton yang bisa saja jadi sasaran.

Beberapa menit kemudian sang penunggang kuda Pasola mampu berdiri dan beranjak menaiki kudanya kembali. Hal itu membuat pertunjukan semakin bersemarak dan kian memanas. Aku masih tidak percaya saja, lembing yang mengenai tubuh begitu kencang melesat dan sempat menancap tapi ia masih bisa bangkit dan bermain kembali.

Di dalam arena kini semakin tak terkendali, lembing berterbangan kesana kemari, teriakan penyemangat dan provokasi kian menjadi. Tidak lama setelah itu, ada lembing yang mengarah ke penonton utara. Entah berasal dari mana lembing itu terbang, namun hal itu yang memicu terjadinya kerusuhan.


Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Aku yang berada di bagian belakang langsung kalang kabut melarikan diri ke arah mobil brimob yang terparkir tidak jauh dariku. Kini benar – benar pecah dan kerusuhan tak terkendali.
Sialnya lagi kerusuhan terjadi di dekatku, begitu paniknya diriku berlari menabrak motor dan orang yang ada di depanku. Kini tak lagi lembing, melainkan hujan batu seukuran kepalan orang dewasa kesana kemari. Aku semakin panik dan berusaha menyembunyikan diri di antara celah mobil.

Beberapa saat kemudian hujan batu semakin deras, dan Tok!!! Sebuah batu mengenai ransel Drone yang ku kenakan. Begitu kaget dibuatnya, syukur saja posisi kepalaku berada di bawah body mobil Brimob. Begitu juga orang – orang tersembur kesana kemari saling menyelamatkan diri.

Syukurlah para petugas mampu meredam kerusuhan tersebut. Kedua kubu dapat di redam emosinya, dan beruntung juga tidak ada korban luka maupun jiwa. Kerusuhan seperti ini selalu membayangi siapa saja yang pernah menonton dan mengalaminya.

Setelah reda, aku mencoba keluar dan melihat keadaan di sekitar. Terlihat para aparat sudah siap siaga dengan senjata gas air mata dan membatasi jarak kedua kubu agar tidak saling berdekatan. Rato pun ikut turun tangan dengan memberi instruksi agar jangan sampai terjadi kerusuhan, jika tidak akan menimbulkan efek tidak bagus bagi para penonton baik dari Sumba sendiri atau wisatawan luar daerah.

Pada akhirnya, Acara Adat Pasola kembali di gelar dan bisa berakhir dengan damai. Aku masih saja tidak percaya, selama 3 tahun berturut – turut dalam menonton Pasola selalu saja ada kejutan yang membekas dalam memori ingatan.


Kejutan menegangkan Pasola Lamboya, Sumba Barat


Dari lapangan Pasola Lamboya kami segera menarik diri karena takut ada keributan lagi. Kemudian kami menghabiskan hari di Pantai Watu Bela yang terletak tidak jauh dari Lapangan Pasola di Sumba Barat. Mungkin cerita tentang Destinasi Pantai Watu Bela bisa kutuliskan dalam cerita berikutnya.

Mungkin perlu di ketahui, terkadang kejadian dalam acara Pasola banyak yang belum mengetahuinya. Namun disini aku benar – benar menceritakan pengalamanku. Mungkin juga bagi kalian yang pernah menghadiri Pasola sendiri hingga usai bisa memberikan pendapat atas apa yang pernah kualami. Tapi tidak semua berakhir rusuh, ada juga yang berakhir dengan damai serta duduk dan makan bersama di dalam lapangan.


Semoga cerita dan pengalaman kali ini tentang Pasola bisa bermanfaat, dan tidak membuat kalian takut untuk datang melihat langsung bagaimana kemeriahannya.
Tabik!

2 comments:

  1. serunya. aku kira tadi si penunggang bakalan mati. untung bisa bangkit lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hampir aja, kalo benar nancap dalam lembing nya bisa meninggal kak

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.