Perjalanan menuju negeri di atas awan Wae Rebo

Perjalanan menuju negeri di atas awan Wae Rebo



Perjalanan dari Moni menuju Ruteng pada mulanya baik – baik saja. Tapi setibanya di Ruteng sekitar jam 10 malam, satu permasalahan muncul. Aku dan Arinta sempat rebut dan beradu mulut. Bermula aku menghubungi salah satu teman perempuan yang bekerja di Ruteng. Dulu aku mengenalnya pada saat tidak sengaja kami berada di Sumba. Aku meminta ijin untuk menumpang menginap di tempatnya. Karena aku memikirkan Arinta seorang perempuan dan kami benar – benar capek sekali.


Maka aku memutuskan sepihak untuk menginap di tempatnya. Lain hal yang ada di pikiran Arinta. Ia merasa tidak enak kepada bang Ical, sebab kami telah berjanji akan ke wae Rebo bersama dan akan menginap di tempatnya. Aku pun merasa bersalah dan serba tidak enak, di satu sisi aku tidak enak untuk menumpang di tempat bang Ical karena disana banyak saudara dan keluarganya, disatu sisi aku salah tidak berdiskusi terlebih dahulu dengan Arinta untuk memutuskan dimana kami akan beristirahat.


Malam itu kami benar tidak saling tegur sapa, kami sama – sama keras kepala. Namun aku mencoba untuk mengendorkan amarahku, namun malam itu kami tetap memilih untuk menumpang menginap di temanku yang bernama Helmi. Setelah 1 jam kami perang mulut, Helmy datang untuk menjemput kami. Sebelum menuju rumah, kami sempat diajak makan malam bersama Helmy. Meski suasana diantara kami sedang canggung, tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa aku dan Arinta berselisih paham.


Seberes makan kami langsung menuju ke tempat Helmy. Kondisi kota Ruteng yang kecil, kemudian suhu dingin khas daerah ketinggian. Jalanan sepi dan membuat malam itu semakin mencekam, alih – alih membicarakan untuk besok, Aku pun sudah tak mampu berpikir lagi. Hanya ingin beristirahat dan segera merebahkan badan di tempat yang hangat. Biarlah masalah ini kami selesaikan besok pagi. Di tengah kota yang sepi dan dingin menyelimuti malam itu, akhir aku terlelap.


Hari sudah terang, namun aku tetap merasa dingin dan menggigil. Helmy nampaknya sibuk sedang mempersiapkan sarapan. Aku langsung merasa tidak enak karena merepotkan di sela – sela kesibukannya di kantor. Segera aku turut merapikan tempat tidurku dan mencoba membantunya. Terlihat Arinta sudah bangun dan menemani Helmy sedari pagi.


Kami bertiga sarapan bersama, seperti tidak ada kejadian apa – apa, aku dan Arinta sudah mengobrol seperti biasa. Meski aku masih tidak enak karena kejadian malam tadi, aku mencoba menghilankan prasangka – prasangka itu. Seberes sarapan, bang Ical dan temannya telah datang menjemput kami. Akhirnya kami berempat berangkat menuju Wae Rebo  menggunakan motor.


Perjalanan selanjutnya adalah Ruteng menuju Denge. Aku dan Arinta hanya mengikuti jalan dari bang Ical dan temannya. Mulai dari jalanan sempit, menurun terjal dan menanjak diantara bukit, hingga menyisir di pinggiran pantai yang sepi dan perjalanan menaiki bukit kembali. Sungguh perjalanan panjang dan cukup melelahkan. Kira – kira perjalanan dari Ruteng menuju Denge kurang lebih sekitar 3 – 4 jam.


Denge adalah desa terakhir sebelum kami menuju ke Wae Rebo. Kami di uji kembali, karena ada jembatan putus, kami harus turun dan membawa motor melintasi batuan sungai dan jalan menanjak terjal. Sembari berjalan kaki , aku membawa motor yang melompat menghindari jalanan yang tak bisa kita lalui dengan sempurna. Sampailah kami di sebuah rumah, kami memarkir motor dan memberitahukan akan menuju ke desa Wae Rebo.


Bang Ical memimpin perjalanan kami siang itu. Di pos 1 hawa dingin sudah mulai terasa diantara lebatnya hutan. Dari pos 1 kami berjalan mengikuti jalur yang cukup menanjak. Sesekali Nafas kami memburu di tengah badan yang panas, namun merarasakan dingin. Terlihat dari asap yang keluar dari mulut. Hal itu kami jadikan bahan candaan untuk mengusir rasa lelah. Di pos 2 kami bisa melihat desa Denge dari kejauhan. Diantaranya terlihat kabut tipis menggantung, sungguh pemandangan yang luar biasa.


Dari pos 2 kami terus mekanjutkan perjalanan, hingga kami melihat adanya perubahan vegetasi dari hutan lebat berpindah memasuki perkebunan kopi warga Wae Rebo. Setelah jalan menanjak, perlahan jalan berubah dan mulai menurun. Sebelum kami memasuki Desa Wae Rebo, kami mampir di sebuah rumah kasih ibu. Konon sebelum memasuki desa, kita diharuskan untuk membunyikan kentongan. Kentongan itulah yang menandakan bahwa ada tamu yang akan berkunjung ke desa Wae Rebo.


Setelah membunyikan kentongan, kami berjalan menurun dan memasuki desa Wae Rebo. Perjalanan kami tempuh sekitar kurang lebih 3 jam. Kami beristirahat sejenak dan menikmati pemandangan sekitar. Terlihat kabut mulai turun mengelilingi desa. Nafas telah kembali normal, kami di persilahkan untuk melaksanakan upacara adat terlebih dahulu di salah satu rumah adat.

Sebelum masuk perkampungan di Wae Rebo


Seberes upacara kami di persilahkan menuju rumah tamu dan membayar registrasi sebesar Rp200.000 perorang. Itu adalah harga pengunjung apabila tidak menginap, jika menginap kita akan dikenakan biaya sebesar Rp350.000 perorang. Kami memutuskan tidak menginap. Kemudian kami diberi hidangan makanan, kopi, dan teh. Benar – benar perjalanan yang menguras tenaga dan penuh perjuangan menuju ke desa Wae Rebo. Sampai – sampai permasalahan antara aku dan Arinta seolah sudah selesai dan baik – baik saja.

Makan bersama di rumah adat wae rebo



Seberes makan kami pun meminta ijin untuk keluar dan menikmati suasana khas dari desa Wae Rebo. Kabut pun mulai lenyap dan berganti rintikan air. Hening nan damai bisa kurasakan ketika melihat ke sekliling. Di ujung terlihat seorang bapak sedan berlari masuk rumah menghindari serbuan air yang jatuh. Disisi lain terlihat adik – adik kecil yang girang bermain menyambut hujan.

photo bersama di depan rumah adat wae rebo

meneduh berhimpitan di depan rumah



Kami benar – benar puas dengan apa yang kami dapat di desa Wae Rebo. Benar – benar setimpal dengan perjuangan untuk bisa sampai disini. Namun sayang sekali kami tidak bisa menikmatinya untuk lebih lama. Sebab waktu sudah menunjukan jam 4 sore, dan kami pun bergegas berpamitan untuk segera kembali turun. Kami tidak ingin terjebak gelap pada saat melintasi hutan.


Arinta bersama warga lokal

selfie sebelum kabut datang di wae rebo



Meski masih terasa lelah aku dan Arinta pun cukup puas dengan perjalanan dan kamipun telah berbaikan dan melupakan kesalah pahaman. Berkat bang Ical dan temanya, kami bisa damai dan niatanku untuk menemani Arinta berlibur pun berakhir dengan bahagia. Kami sampai di rumah dimana kami memarkirkan motor jam 7 malam. Meski terjebak malam di tengah perjalanan, kami tiba dengan selamat hingga di Ruteng. Kami pun berpisah, sebab besok pagi aku dan Arinta ingin mengejar jadwal mobil travel yang menuju ke Labuan Bajo. Sungguh perjalanan luar biasa menuju negeri di atas awan Wae Rebo. 

1 comment:

  1. Ada beberapa teman saya yang kemarin-kemarin main ke Wae Rebo ini. Dan persis sama fotonya dipenuhi kabut.

    Apakah kalau berkunjung kesana ada bagian khusus (dari warga lokalnya) yang menyambut tamu?

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.