Perjalanan penuh kejutan menuju ke Danau Kelimutu

https://www.ranselusang.com/
Danau Kelimutu


Perjalanan menyusuri pulau Sumba selama 10 hari telah selesai. Bertepatan juga dengan rencana awal kami ( aku dan Arinta ) seberes dari Sumba akan melanjutkan menuju Ende, Flores. Kami berangkat dari kota Waingapu Sekitar jam 10 malam. Beruntung banf Dex, bang Dhasa dan beberapa teman lainnya bersedia mengantar dan menemani kami di pelabuhan Waingapu. Setelah membeli tiket kapal Pelni dari Waingapu menuju Ende seharga Rp68.000 perorang, kami kembali duduk bercerita sembari menanti kapal untuk berangkat.

Hingga sepertiga malam, tanda – tanda kapal berangkat pun belum menemui kepastian. Akhirnya teman – teman menngundurkan diri dan pamit untuk kembali kerumah. Begitu juga dengan kami, setelah berpamitan, kami segera bergegas menaiki kapal dan menunggu di dalam deck kapal. Sembari meluruskan badan dan merencanakan perjalanan nanti setelah sampai di Ende.

Hari semakin pagi, namun aku tetap saja terjaga. Meski kapal sudah mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, tapi aku masih berkutat di tempat istirahat. Bagaimana tidak, kondisi di dalam kapal yang lembab membuat serangga hidup bahagia.

Sehingga membuat aku untuk mengamati dan sesekali mengusir beberapa serangga yang berseliweran. Hal itu membuat Arinta tidur tidak nyaman. Dengan menahan kantuk aku sesekali mengusir serangga serta menjaga barang bawaan kami.

Aku dan Arinta membagi tugas menjaga barang secara bergantian. Sebab perjalanan dari Waingapu menuju Ende sekitar 14 jam. Pun dengan kondisi perairan sedang tidak bersahabat membuat kami mual dan bermalas – malasan di dalam deck kapal. Syukur di dalam kapal Pelni kami mendapat jatah makan, jadi kami mampu mengisi perut yang mual akibat gelombang dan membantu menghemat biaya pengeluaran. Ya meski makanannya pun tidak mewah, tapi cukup mengganjal perut hingga ke daratan nanti.

Hari semakin sore dan dari kejauhan terlihat daratan semakin lama semakin jelas. Tak beberapa lama kapal perlahan merapat ke sisi dermaga. Para penumpang mulai turun dan naik bergantian. Setelah melihat suasana cukup lengang, kami pun mulai menuruni tangga gantung dan menuju pintu keluar dermaga.

Setelah melewati kerumunan orang, aku dan Arinta duduk sejenak di tepi dermaga. Kami menikmati sore pesisir kota Ende sembari menunggu bang Ical datang menjemput. Sehari sebelum kami berangkat, aku telah memberitahukan kepada beliau bahwa kami akan singgah sejenak di Ende. Waktu pun cepat berlalu dan hari mulai meredup. Beruntungnya bang Ical datang menjemput kami.

Berbekal jalinan pertemananku di Sosial media, akhirnya kami bisa langsung bertatap muka. Setelah berbincang sejenak, kami langsung di ajak menuju kediaman saudara bang Ical yang terletak di pusat kota.  Sesampainya di rumah, kami langsung segera beristirahat. Membilas badan, meluruskan kaki, dan kami bertiga menikmati makan malam bersama dengan obrolan perjalanan yang telah kami berdua lalui.

Makan bersama di kediaman keluarga bang Ical


Seberes makan, kami sempat menceritakan rencana perjalanan kami yang selanjutnya menuju Moni. Aku mencoba mencari jalan alternatif agar biaya perjalanan kami bisa di tekan. Namun di Moni baik aku ataupun bang Ical tidak mempunyai kenalan atau kerabat yang bisa kami tuju untuk sekedar singgah beberapa malam.

Berbagai rencana dan estimasi menuju Moni dan Danau Kelimutu aku hitung sangat detail. Hingga kemungkinan – kemungkinan terburuk aku tulis. Agar nanti jika terjadi sesuatu hal buruk, kami bisa langsung mengatasinya. Hari semakin larut dan kami segera beristirahat dan berencana berangkat pagi agar tidak terjebak gelap di perjalanan menuju Moni.

Tak terasa matahari sudah muncul ke permukaan. Kami saja baru bangun dan bersiap – siap berangkat menuju Moni. Berawal dari rencana mencari tumpangan cukup riskan, akhirnya kami memustuskan untuk menunggu bus yang lewat menuju Moni. Kami berjalan kaki menuju jalan utama, sebab jaraknya tak begitu jauh, hanya beberapa ratus meter saja. Kami menyempatkan singgah di minimarket untuk membeli bekal di perjalanan.


Kami masuk dan belanja beberapa perbekalan untuk berada di Moni. Setelah kami merasa cukup, aku pun bergegas menuju kasir. Saat hendak membayar, kami berpapasan dengan bapak – bapak yang hendak membayar juga. Tiba – tiba ia pun bertanya kepadaku “ mau kemana mas ? kok bawa tas sebesar itu”. Aku pun langsung menjawab, kami ingin pergi ke Moni untuk berkunjung ke Danau Kelimutu. Seketika bapak tersebut menawarkan tumpangan kepada kami. Kebetulan ia juga sedang melintas ke Moni.

Kesempatan itu tak kami sia – siakan. Seberes membayar, kami pun di persilahkan untuk masuk ke dalam mobilnya. Saat itu juga aku dan Arinta berpamitan kepada bang Ical dan akan bertemu kembali di Ruteng untuk menuju desa Wae rebo bersama – sama.

Perjalanan dari Ende menuju Moni kurang lebih sekitar 1 jam. Di sepanjang perjalanan kami berbincang tentang cerita perjalanan kami dari Lombok menyisir NTB hingga Sumba dan mendarat di Ende. Ia pun sangat antusias tentang perjalanan liburan kami. Jarang – jarang ada yang berlibur dengan durasi lama dan dengan biaya yang seadanya, kata bapaknya. Di sepanjang perjalanan menuju Moni, cuaca begitu cepat berubah. Ende yang cukup terik seketika berubah dingin saat perjalanan meliuk – liuk menuju Moni.

Sesampainya di Moni, kami pun di bantu mencari penginapan yang terjangkau dan menyediakan sepeda motor yang bisa di sewa. Cukup alot kami bernegosiasi untuk harga motor yang akan kami sewa. Namun kami tidak ingin berdebat terlalu lama dan harga motor yang kami dapat adalah Rp150.000/hari. Cukup mahal, namun tidak ada pilihan lagi, karena kami tidak memiliki waktu lagi untuk mencari tempat penyewaan motor yang lainnya.

Kemudian kami beristirahat setelah makan malam sebelum besok subuh kami bergerak menuju Danau Kelimutu. Sekitar jam 5 subuh kami bangun dan mempersiapkan diri dengan jaket dan perbekalan.

Motor kami kendarai begitu pelan menerjang kabut dan gelap malam. Jalan yang meliuk – liuk bagaikan ular, dingin yang menusuk selama 13 Km cukup membuat kami menahan segala rasa dingin dan kantuk saat menuju pintu masuk. Sekitar 20 menit mengendarai motor, akhirnya kami sampai. Kemudian kami membayar retribusi sebesar Rp5.000/orang dan motor Rp5.0000 untuk biaya parkir.

Perjalanan akhirnya kami mulai. Perjalanan dalam gelap melintasi jalanan yang berkelak kelok hingga kami sampai di tiket masuk Rp5.000 untuk motor dan Rp5.000 perorang karena kami bertepatan pada akhir pekan setelah itu kami menuju tempat parkir dan kami melakukan trekking kurang lebih 45 menit.


Tapak kaki terasa dingin dan melangkah begitu pelan sembari melewati anak tangga. Dari gelap hingga langit mulai bercahaya. Samar – samar di kejauhan terlihat senter yang masih menyala. Kuamati dengan seksama, ternyata di atas sana menjadi tempat untuk menikmati momen matahari terbit.


Aku dan Arinta segera bergegas menuju atas sana demi tak ingin ketinggalan momen tersebut. Sampai – sampai kami berdua lari dan mengabaikan rasa dingin dan lelah. Beberapa saat kemudian, nafas yang memburu, keringat yang mulai membasahi muka, penat yang datang tiba – tiba seakan sirna. Matahari pun muncul dari balik awan yang beberapa waktu lalu betah dan enggan menghilang menutupi jalannya.

Sunrise di Danau Kelimutu


Wajahku mulai terpapar hangat dari sinarnya. Begitu lembut menyapu seluruh wajahku yang terasa kaku. Arinta pun juga sama, seketika ia pun mematung melihat keindahan dari matahari terbit di Danau Kelimutu. Ini adalah pertama kalinya ia berkunjung ke Danau Kelimutu dan mendapatkan yang setimpal dengan perjuangan perjalanannya. Mulai dari mendapatkan tumpangan singgah di Ende, tumpangan mobil menuju desa Moni, dan ditutup pemandangan indah di Danau Kelimutu. Sungguh perjalanan yang luar biasa.


Sunrise di Danau Kelimutu



Dua danau yang berbeda warna terlihat jelas, dan disusul danau yang satunya mulai tersorot oleh sinar mentari. Aku sangat senang, karena dalam kunjunganku kali ini aku dan Arinta bisa mendapatkan hari yang cerah untuk melihat keindahan 3 danau di Kelimutu ini.


Sunrise di Danau Kelimutu



Sunrise di Danau Kelimutu



Beberapa menit kemudian kami menyempatkan beberapa kali mengabadikan foto dan setelah itu kami kembali untuk mengejar bus yang menuju ke Ruteng. Sebab, kami sudah berjanji kepada bang Ical akan bertemu di Ruteng setelah dari Danau Kelimutu.


Arinta Selfie di dua Danau Kelimutu


Matahari tertutup awan saat sunrise

Kami kembali menuju hotel dan segera berbenah. Perjalanan berikutnya pun masih tak ada kepastian dengan menanti bus menuju Ruteng. Beberapa jam masih menunggu hingga matahari tepat diatas kepala. Namun semua berjalan dengan lancar menuju Ruteng untuk menemani Arinta mengunjungi Wae rebo. 


1 comment:

  1. rejeki backpacker ada aja ya, salah satunya dpt tumpangan gratis ke moni ... tapi sewa motornya mahal cyin. haha..

    asik ya dapet sunrise.. aku ke sana udah naik mataharinya..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar untuk memberi semangat terus menulis.

Tunggu aku berkunjung ke Rumah berjalanmu.
Barangkali kita akan bertemu di Dunia Nyata dan Berbagi cerita

Jika Bermanfaat silahkan di bagikan

Salam Hangat
Ranselusang

Powered by Blogger.